
Malam harinya, istana mengadakan pesta dansa untuk sang pemenang. Sang pemenang akan menjadi pasangan dansa putra mahkota dan yang memenangkan kompetisi berburu itu adalah Patrizia karena ia mendapatkan seekor rusa sedangkan peserta lain hanya mendapatkan seekor kelinci bahkan banyak juga peserta yang tidak mendapatkan apa-apa.
Sebelum pesta dansa di mulai terjadi sedikit ketegangan karena Patrizia menolak berdansa dengan putra mahkota.
"Maafkan saya Yang Mulia Raja, saya menolak berdansa dengan Yang Mulia putra mahkota." ujar Patrizia seraya menunduk.
"Apa alasan Lady Letizia menolak berdansa dengan putra mahkota? Bukankah itu sudah menjadi hak lady sebagai pemenang."
"Maaf Yang Mulia Raja, saya tidak bermaksud menghina Yang Mulia putra mahkota hanya saja saya tidak pandai berdansa. Jika Yang Mulia tidak keberatan, Sienna yang akan berdansa dengan putra mahkota menggantikan saya."
"Baiklah, jika putra mahkota tidak keberatan lady Sienna bisa berdansa dengan putra mahkota."
Viggo menatap Patrizia yang tidak mau menatapnya. Ya, gadis itu sedang marah padanya hanya karena serigala jelek itu.
FLASH BACK ON
Saat kembali ke istana Patrizia melihat Viggo yang tengah mengamuk di taman istana. Pria itu menghajar semua pengawalnya sampai pingsan.
Yang membuat Patrizia marah adalah ketika Viggo melukai serigala putih peliharaannya. Viggo tidak sengaja melakukan itu. Viggo melempar pedangnya ke sembarang arah karena dirinya sangat marah, ia tidak bisa menemukan Patrizia di mana pun dan sialnya pedang itu menancap di perut serigala peliharaan Patrizia yang tengah rebahan karena kekenyangan.
Patrizia yang melihatnya pun murka, ia menghampiri serigala itu dan langsung mengobatinya untung saja para pengawal putra mahkota dalam keadaan pingsan jadi mereka tidak melihat aksi Patrizia yang mengeluarkan kekuatan sihirnya. Situasi taman pun sepi karena tidak ada yang berani mendekat saat putra mahkota sedang marah.
Viggo tersenyum melihat Patrizia ada di hadapannya, pria itu langsung memeluk Patrizia yang baru saja selesai dengan kegiatannya.
"Dari mana saja hm? Kau tahu aku sangat mengkhawatirkan diri mu." Viggo melepas pelukannya, pria itu menatap Patrizia dalam.
Sedangkan Patrizia menatap Viggo tajam, tanpa menjawab pertanyaan Viggo, Patrizia pergi begitu saja dengan sihir teleportasinya. Viggo melongo melihat itu sedangkan Steve berusaha untuk menahan tawanya.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Viggo bingung.
"Ck! Dasar tidak peka!"
"Apa? Aku hanya mengkhawatirkannya saja, bukankah itu hal yang wajar?"
Steve menghela napasnya lelah. "Apa kau tidak sadar? Kau sudah melukai hewan peliharaannya."
"Serigala jelek itu?"
"Hm."
"Jadi, Letizia marah karena aku melukai serigala jelek itu?" Viggo menatap serigala itu penuh permusuhan sedangkan serigala itu menatap malas Viggo.
Di sisi lain Patrizia sudah berada di salah satu kamar di istana. Patrizia merasa sangat lelah dan tak lama gadis itu sudah masuk ke alam mimpinya.
Tapi sebelum itu Patrizia mengirim pesan pada Steve lewat telepati.
Steve jangan biarkan tuan bodoh mu itu menemui ku. Aku ingin istirahat. Katakan padanya jika dia nekat menemui ku, aku tidak akan pernah mau menemuinya lagi.
Steve menghela napas setelah mendapat pesan dari Patrizia.
"Di mana Letizia? Aku akan menemuinya dan meminta maaf."
__ADS_1
"Dia ada di kamarnya tapi-."
Sebelum Steve menyelesaikan ucapannya, Viggo langsung pergi tetapi langkahnya terhenti saat mendengar lanjutan ucapan Steve.
"..jika kau berani menemuinya saat ini, dia tidak akan pernah mau menemui lagi. Jangan ganggu dia, biarkan dia beristirahat setelah tenang kau bisa menemuinya."
Malam harinya saat Patrizia berjalan menuju aula, Viggo mecegatnya dan langsung membawa Patrizia ke kamarnya.
"Apa mau mu?" tanya Patrizia datar.
"Maafkan aku, aku tidak berniat untuk melukai serigala jelek itu. Aku tidak sengaja melakukannya, aku sungguh minta maaf, maafkan aku."
Patrizia diam.
"Jangan marah, tolong maafkan aku. Aku akan melakukan apa pun yang kau minta dan menuruti semua keinginan mu, aku berjanji"
"Berdansalah dengan adik ku, Sienna."
"Apa? Tidak! Aku tidak mau!" tolak Viggo. "Aku tidak akan pernah mau berdansa dengan perempuan lain selain diri mu."
"Ya sudah." Patrizia membalikkan badannya dan hendak pergi dari kamar Viggo tapi sebelum itu terjadi dengan cepat Viggo menahan tangannya.
"Baiklah, aku akan melakukannya."
Gotcha.. Patrizia tersenyum smirk. Sudah di bilang bukan, Patrizia itu gadis yang sangat licik dan penuh dengan rencana.
FLASH BACK OFF
Sienna menerima uluran tangan Viggo. "Tentu Yang Mulia putra mahkota."
Mereka pun mulai berdansa di tengah aula.
"Ku rasa sihir pemikat itu sudah berfungsi dengan semestinya." batin Sienna tersenyum senang.
"Bersenang-senanglah adik ku tersayang." batin Patrizia menyeringai.
"Apa yang kau rencanakan?" tanya Steve yang berdiri di sebelah Patrizia.
"Tidak ada."
Mata Steve menyipit. "Aku tidak yakin soal itu."
Viggo dan Sienna selesai berdansa.
Sienna menghadap pada Raja Edgar. "Maaf Yang Mulia Raja, apakah saya bisa mengusulkan sesuatu."
"Katakan, apa itu?"
"Apakah kakak saya bisa menunjukkan bakatnya di hadapan kita semua? Anggap saja ini sebagai pengganti karena kak Letizia tidak berdansa dengan Yang Mulia putra mahkota. Bukankah sang pemenang harus menampilkan sesuatu?"
"Bagaimana lady Letizia? Apa kau menerimanya?"
__ADS_1
Patrizia menghadap Raja Edgar, gadis itu berdiri di samping Sienna yang tersenyum lebar.
"Kali ini kau akan kalah kakak ku tersayang. Kau akan di permalukan di hadapan semua orang." batin Sienna.
"Tikus sudah masuk perangkap saatnya menunjukan Villainess yang sebenarnya." batin Patrizia.
Patrizia memasang raut wajah sedih kemudian gadis itu berlutut di hadapan Raja. "Maafkan saya Yang Mulia, bukannya saya menolak perintah Raja hanya saja saya gadis bodoh yang tidak memiliki bakat. Saya sedari kecil hidup terkurung tanpa pernah melihat dunia luar. Saya tidak tahu caranya menari, berdansa, menyanyi dan yang lainnya. Saya tidak bisa melakukan semua itu Yang Mulia."
"..Maaf atas ketidak mampuan saya Yang Mulia, saya siap menerima hukumannya."
Semua orang tertegun mendengar pengakuan Patrizia. Bukannya menghina Patrizia seperti yang Sienna harapkan, semua orang malah merasa simpatik pada Patrizia. Mereka semua memaklumi bahkan mereka bangga pada Patrizia karena tidak malu mengakui ketidak mampuannya.
Sienna mengepalkan tangannya seraya menatap benci Patrizia. "Sial! Kenapa jadi begini?" gumamnya.
Viggo menghampiri Patrizia kemudian membantunya berdiri. "Bangunlah, kau tidak seharusnya berlutut."
"..maaf Yang mulia Raja, ku rasa pesta cukup sampai di sini, saya akan mengantar lady Letizia ke kamarnya."
"Pergilah."
Patrizia menyeringai rencananya berhasil kini semua orang bersimpatik padanya.
Patrizia sengaja menolak berdansa dengan Viggo dan meminta Sienna untuk menggantikannya karena alasan tidak pandai berdansa. Patrizia yakin jika Sienna akan memanfaatkan situasi itu untuk mempermalukan dirinya dan perkiraan Patrizia lagi-lagi benar. Sienna masuk dalam rencananya.
...🍃🍃🍃...
Viggo mengantar Patrizia ke kamarnya.
"Aku fikir kau benar-benar marah pada ku ternyata kau hanya sedang menjalankan rencana mu. Ini ke dua kalinya kau memanfaatkan ku."
Patrizia terkekeh. "Ku kira kau tidak akan menyadarinya."
"Awalnya memang begitu tapi saat kau berlutut dan memulai drama, aku sadar kau hanya sedang bersandiwara."
"..lain kali jika kau ingin melibatkan ku dalam rencana mu kau katakan saja langsung pada ku, aku akan membantu mu. Jangan seperti ini, kau tahu aku sangat takut jika kau benar-benar marah pada ku." lanjutnya.
"Hm."
"Hanya itu, kau sama sekali tidak merasa bersalah pada ku?"
"Tidak."
Viggo menghela napasnya lelah. "Lupakan itu, yang penting sekarang kau sudah tidak marah lagi pada ku." Viggo memeluk Patrizia.
"Karena kau sudah membohongi ku kau harus di hukum dan hukumannya adalah.."
Patrizia menatap Viggo malas.
"Tidurlah dengan ku malam ini."
"MAU MATI?!"
__ADS_1