
Zia terjadi wabah penyakit di ibu kota kerajaan Archon. Setiap detiknya banyak rakyat yang kehilangan nyawa. Cepat lah datang Zia.
Pagi tadi Patrizia mendapat pesan dari Steve. Setelah nya gadis itu langsung saja mengumpul kan sekitar 500 kesatria Black Rose di lapangan untuk di bawanya ke kerajaan Archon. Patrizia memberikan ramuan pada 500 kesatria itu agar mereka tidak tertular wabah penyakit.
"BLACK ROSE." teriak Patrizia.
"BLACK ROSE HERE."
"Kali kita akan melakukan misi kemanusiaan. Prioritas utama kita adalah menghentikan penyebaran wabah itu. Kalian mengerti?"
"Mengerti lady."
...🍃🍃🍃...
Ibu kota kerajaan Archon.
Saat ini keadaan ibu kota benar-benar kacau. Suara tangisan terdengar di setiap penjuru kota. Mereka menangisi keluarga mereka yang tiada. Ada yang kehilangan orang tuanya, kehilangan saudara, kehilangan pasangan.
Patrizia menatap gerbang ibu kota kerajaan Archon yang menjulang tinggi di hadapan nya. Dua orang kesatria membuka gerbang itu lebar setelah nya Patrizia berjalan memasuki ibu kota dengan para kesatria Black Rose yang berjalan di belakang nya. Di sepanjang jalan banyak sekali mayat yang tergeletak begitu saja.
Patrizia menghentikan langkah nya saat ia melihat seorang anak perempuan yang usia nya sekitar 5 tahun itu tengah menangis di hadapan tubuh ibu nya yang sudah tidak bernyawa dan yang lebih miris nya anak itu tidak tahu jika ibunya sudah tiada.
"Ibu hiks bangun. Kenapa ibu tidur di bawah? Ibu hidung ibu berdarah hiks." anak perempuan memangku kepala ibunya yang sudah tidak bernyawa. Anak itu menyeka darah yang keluar dari hidung sang ibu dengan tangan mungil nya. "Ibu hiks aku takut. Ibu bangun lah hiks ibu hiks ibuuu ibuuuu."
Patrizia memaling kan wajahnya, ia tidak sanggup melihat adegan memilukan itu kemudian Patrizia meminta kesatria nya untuk membawa anak perempun itu ke tempat yang lebih aman.
"Bawa anak itu ke tempat yang lebih aman dan jangan lupa berikan anak itu ramuan nya."
"Baik lady." seorang kesatria membawa anak perempuan itu pergi dengan susah payah karena ia tidak ingin meninggal kan ibunya sendiri.
"Kumpul kan mayat-mayat itu, perlakukan mereka dengan hormat."
"Mengerti lady." para kesatria itu menyebar untuk mengumpul kan mayat-mayat itu.
Patrizia kembali berjalan tetapi baru beberapa langkah gadis itu kembali menghenti kan langkah nya.
Patrizia melihat ke arah kanan nya, di sana terlihat seorang kakek yang tengah menggenggam erat tangan istrinya yang sudah tidak bernapas.
"Tunggu lah aku uhuk uhuk uhuk." kakek itu terbatuk-batuk mengeluar kan banyak darah. "Kita uhuk akan pergi bersama uhuk uhuk." setelah nya kakek itu juga menghembus kan napas terakhir nya.
Adegan di hadapan nya itu berhasil membuat air mata Patrizia keluar tanpa permisi. Gadis itu mengepal kan tangan nya erat.
"Tenang kan diri mu, Patrizia." ucap Oliver yang entah sejak kapan berdiri di samping Patrizia.
__ADS_1
Pria itu berpakaian seperti para kesatria Black Rose lengkap dengan topeng yang menutupi seluruh wajah nya begitu pun juga dengan Patrizia.
Memang di setiap kali kesatria Black Rose menjalan kan misi nya mereka mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan topeng yang menutupi seluruh wajah nya. Identitas kesatria Black Rose memang sangat di rahasiakan. Belum pernah ada satu pun orang yang melihat wajah para Kesatria itu.
...🍃🍃🍃...
Istana kerajaan Archon.
"Ayah, dia adalah pemimpin kesatria Black Rose yang akan membantu kita menangani masalah wabah ini." ucap Viggo.
"Salam hormat kami kepada Yang Mulia Raja dan Ratu, semoga Yang Mulia Raja dan Ratu di berkati umur panjang." ucap Patrizia seraya menunduk kan kepala nya memberi hormat pada raja dan ratu.
"Maaf atas kelancangan saya Yang Mulia raja dan ratu, tetapi saya harus pergi karena ada hal yang ingin saya bicarakan dengan kepala tabib."
"Pergi lah." ucap Edgar seraya tersenyum. Edgar sangat tahu siapa orang yang berbicara dengan nya itu. Walau pun memang wajah nya tertutup topeng dan suara nya berbeda tetapi raja yakin jika orang di hadapan nya itu adalah Letizia si gadis pemilik sihir suci. Tidak mungkin gadis pemilik sihir suci itu terbunuh begitu saja.
Patrizia pergi setelah memberi hormat pada raja dan ratu.
...🍃🍃🍃...
"Benar lady, wabah penyakit itu berasal dari air sumur. Rakyat yang meminum air itu akan langsung mengeluar kan darah dari hidung, mulut dan telinga. Karena sudah banyak rakyat yang yang meminum air sumur itu penyebaran nya menjadi sangat cepat terlebih wabah itu bisa menular lewat air liur yang tersebar di udara." jelas kepala tabib.
"Apa rencana mu untuk menghentivkan penyebaran wabah itu?" tanya Viggo.
"Tentu."
"Dan untuk kalian berdua." Patrizia melihat ke arah Oliver dan Viggo secara bergantian. "Bantu mengobati rakyat yang masih bisa di selamat kan."
Kedua pria itu mengangguk.
Hutan.
"Steve, kita mulai sekarang." ucap Patrizia.
"Iya."
Mereka berdua mulai merapal kan mantra tak lama setelah itu ramuan yang tadi nya ada di sebuah wadah kini mulai berubah menjadi partikel-partikel kecil di udara angin pun menerbang kan partikel-partikel itu menyebar ke seluruh penjuru kerajaan Archon.
Patrizia dan Steve tersenyum melihat itu.
...🍃🍃🍃...
Di sebuah ruangan gelap itu terlihat seorang wanita tengah menatap seorang pria yang menunduk di hadapannya.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya si wanita.
"Mereka berhasil menghenti kan penyebaran wabah itu." jawab si pria.
"Sudah ku duga, gadis pemilik sihir suci itu masih hidup. Cari informasi mengenai pemimpin kelompok kesatria Black Rose dan lapor semua nya pada ku, secepatnya."
"Baik." pria itu menghilang di telan asap setelah memberi hormat pada si wanita.
Wanita itu menyeringai. "Kau pikir aku bodoh? Kau tidak bisa menipu ku semudah itu."
...🍃🍃🍃...
Setelah berhasil menyelesai kan misi kelompok kesatria Black Rose kembali ke hutan Linch.
"Kalian semua beristirahat lah." ucap Patrizia.
"Baik lady."
"Lady."
"Ada apa Imel."
"Lady kedatangan tamu."
"Siapa?"
"Tuan Argus."
"untuk apa raja iblis itu menemui ku?" batin Patrizia.
"Baiklah aku akan segera menemui nya."
Ruang tamu.
"Kau sungguh luar biasa lady." puji Argus.
"Terimakasih atas pujian nya tuan Argus. Apa yang ingin kau sampai kan?"
Argus terkekeh gadis di hadapan nya ini memang berbeda. "Penyihir hitam itu kembali menemui paman ku. Kau sendiri sudah tahu kekuatan sihir hitam yang di miliki penyihir itu berasal dari paman ku. 17 tahun yang lalu, kekacauan yang terjadi di kota Alodia itu adalah ulah mereka, penyihir itu mengorban kan seratus gadis dari kota Alodia untuk membangkit kan kekuatan sihir hitam itu."
"Ya aku tahu. Untuk apa penyihir itu menemui paman mu?"
"Gerhana bulan merah akan terjadi satu bulan lagi. Mereka akan kembali mengorban kan para gadis untuk ritual mereka bulan depan. Dan satu lagi lady, mereka tahu jika gadis pemilik sihir suci itu masih hidup tapi mereka belum tahu siapa orang nya. Lady bersiap lah cepat atau lambat mereka pasti mengetahui nya."
__ADS_1
Patrizia tersenyum. Gadis itu senang karena akhirnya semua ini akan segera berakhir. Hanya tinggal satu bulan lagi semua nya selesai.