
Enam bulan berlalu sejak Patrizia kembali ke dunianya dan kini Patrizia sudah kembali sibuk dengan aktivitasnya sebagai anggota mafia.
Srek
Bugh
Bugh
"Cepat katakan siapa tuan mu atau kau lebih memilih mati di tangan ku?"
"Bunuh saja aku karena sampai mati pun aku tidak akan memberitahu mu."
Dor
Habis sudah kesabaran Patrizia. Timah panas itu bersarang tepat di jantung pria itu yang membuatnya tewas seketika.
"Zia, ada apa dengan mu? Semenjak kau terbangun dari koma tingkah mu sangat aneh. Kau menjadi lebih mudah marah," ucap seorang gadis yang sedari tadi hanya diam melihat kebrutalan Patrizia menghabisi musuhnya.
"Maaf Queen," sesal Patrizia menatap gadis yang sangat di hotmatinya itu.
"Sudahlah, kita pulang sekarang."
"Baik Queen."
Patrizia menghela napasnya dalam. "Sial! Kenapa dengan diri ku? Fokus Zia, lupakan semua itu."
...🍃🍃🍃...
"Zia, kau pergilah ke hutan bagian barat. Antarkan senjata ini pada klien," titah Queen seraya meletakan dua tas hitam besar berisikan senjata laras panjang. "Berhati-hatilah, ajak Zack bersama mu."
"Iya Queen."
Saat ini Patrizia bersama Zack sudah berada di hutan bagian barat namun sudah satu jam lebih menunggu tidak ada orang yang datang.
"Zia, apa benar ini tempatnya?" tanya Zack yang sudah mulai bosan.
"Iya."
"Kenapa lama sekali?"
"Entahlah."
"Sial! Apa ini jebakan?"
__ADS_1
Mata Patrizia membola mendengar itu. "Cepat hubungi Queen."
Saat Zack akan menghubungi Queen tiba-tiba saja datang sepuluh mobil mewah berwarna hitam. Salah satu mobil hitam itu berhenti tepat di hadapan Patrizia dan Zack.
Terlihat seorang dengan pakaian serba hitam keluar dari pintu depan samping kemudi jelas sekali jika ia adalah seorang bodyguard kemudian bodyguard itu membuka pintu belakang seraya menundukkan badannya sopan.
Seperti adegan slow motion keluarlah seorang pria tampan berwajah tegas. Jaa hitam itu nampak pas sekali di tubuh gagahnya. Pria itu berjalan kemudian berdiri tepat di hadapan Patrizia.
Patrizia terpaku.
Tidak.
Patrizia tidak terpaku karena terepesona dengan ketampanan pria itu, Patrizia terpaku karena kalimat yang di ucapkan pria itu berhasil membuat jantung Patrizia berdetak sangat cepat.
"Apa kabar.. Lady? Kau tak merindukan tunangan mu ini?"
"Rex? Bagaimana bisa?" kaget Patrizia.
Oliver terkekeh melihat ekspresi terkejut Patrizia. Sangat menggemaskan. "Tentu bisa sayang."
"Apa yang terjadi?" Patrizia masih belum bisa percaya.
"Ikutlah dengan ku, aku akan menceritakan semuanya," dengan Lembut Oliver memegang tangan Patrizia.
"Tunangan? Zia apa itu benar?" tanya Zack tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Apa?"
Pekikan Zack berhasil mengembalikan kesadaran Patrizia dari rasa terkejutnya.
"Tidak! Itu tidak benar!" ralat Patrizia.
Oliver menyeringai. "Kau menyangkalnya? Tunggu hukuman untuk mu sayang."
Tanpa aba-aba Oliver menggendong Patrizia ala bridal style melihat itu sontak Zack langsung menodongkan senjatanya pada Oliver. Begitu juga dengan para bodyguard Oliver, melihat tuannya di todong senjata semua bodyguard itu pun balik menodongkan senjatanya pada Zack.
"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" marah Patrizia.
"Tidak! Kau ikut aku sekarang."
"Tuan turunkan rekan saya jika tidak peluru ini akan bersarang di kepala mu," ancam Zack.
Oliver terkekeh sinis. "Sebelum itu terjadi kau yang akan mati terlebih dahulu."
__ADS_1
"Jangan kau sentuh dia! Aku akan sangat membenci mu Rex," peringat Patrizia tajam.
"Asal kau ikut dengan ku rekan mu itu akan selamat."
Patrizia menghela napasnya. "Hm."
Setelah mendengar jawaban Patrizia Oliver langsung saja membawa Patrizia masuk ke dalam mobilnya. Tetapi sebelum mobil itu pergi Patrizia berbicara pada Zack lewat kaca jendela mobil yang di buka.
"Kembalilah, aku akan menyusul nanti. Jangan mengkhawatirkan diri ku, aku mengenalnya."
"Baiklah, jaga diri mu."
"Tentu."
...🍃🍃🍃...
"Jelaskan semuanya," ucap Patrizia yang saat ini sudah berada di mansion megah milik Oliver lebih tepatnya berada di kamar pria itu.
"Nanti saja aku masih ingin memeluk mu," Oliver menduselkan wajahnya ke ceruk leher Patrizia. Posisinya mereka sedang tiduran seraya berpelukan.
"Jelaskan atau aku pergi sekarang juga."
"Ck! kau ini, sudah enam bulan kita tidak bertemu. Apa kau tidak merindukan ku?"
"Rex," desis Patrizia tajam.
"Baiklah akan aku jelaskan tapi nanti setelah aku puas mencium mu."
Hah
Otak Patrizia tiba-tiba saja berhenti berfungsi saat Oliver tiba-tiba saja menciumnya. Ciuman yang awalnya lembut itu kini berubah menjadi sangat bergairah.
Oliver melepaskan lumatanya kala sadar Patrizia mulai kesulitan untuk bernapas. Tangannya menyentuh bibir merah yang membengkak karena ulahnya itu. Oliver terkekeh melihat wajah Patrizia yang memerah bak kepiting rebus. Senyum itu tak luntur menghiasi wajah tampannya kala menyadari jika tadi Patrizia membalas ciumannya.
Apa itu artinya sang gadis juga merindukannya?
"Hari sudah malam, tidurlah. Besok aku kan menjelaskan semuanya pada mu," ucap Oliver seraya mempererat pelukannya.
"Hm," hanya itu respon yang di berikan Patrizia. Gadis itu sangat malu. Malu-malu meong.
Cup
Oliver mengecup dahi Patrizia penuh cinta. "Aku mencintai mu."
__ADS_1
Oliver tersenyum kecut saat tak mendapat jawaban dari Patrizia.
Tak lama kedua sejoli itu pun masuk ke alam mimpinya masing-masing. Mereka tidur sambil berpelukan. Sangat nyaman.