The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 27


__ADS_3

Ruang kerja Patrizia.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Patrizia.


"Lady, ratu sedang merencanakan sesuatu untuk lady."


"Rencana apa?"


"Pertunangan."


Mata Patrizia memicing. "Dengan pangeran Zello?" tebak Patrizia.


Vincent menganggukkan kepalanya. "Iya lady. Ratu ingin melanjutkan pertunangan antara lady dengan pangeran Zello yang dulu sempat tertunda."


"Baiklah, lakukan satu hal untuk ku."


"Katakan lady."


"Bantulah tangan kanan ku, Samuel untuk memasarkan secara luas emas dan berlian milik ku ke seluruh benua."


"Hah?"


"Kau tidak ingin membantu ku?"


Vincent menggeleng cepat. "Tidak lady, aku akan membantu mu. Akan aku pastikan emas dan berlian mu laku keras di pasaran nanti."


"Baiklah, jika kau berhasil aku akan memberi mu bagian yang sangat besar nanti."


Mata Vincent berbinar. Sudah di bilang bukan Vincent adalah orang yang tamak akan kekayaan. "Benarkah lady?"


"Tentu saja."


"Saya akan melakukan yang terbaik lady."


"Aku menunggu hasilnya."


"Maaf lady, bagaimana dengan rencana pertunangkan itu? Ratu Andora sudah membicarakan ini dengan Raja dan juga Marquess Wilson bahkan Raja dan juga Marquess Wilson sudah menyetujuinya."


Patrizia tersenyum smirk. "Aku sudah memiliki rencana untuk menggagalkan pertunangan itu."


Patrizia, kau mengingkari janji mu. Ini sudah lebih dari sepuluh menit.


Patrizia berdecak kesal saat mendengar suara Oliver. Dirinya lupa akan hal itu.


"Lady, apa ada masalah?" tanya Vincent yang melihat perubahan di wajah Patrizia. Wajah gadis itu tadi terlihat sangat antusias tapi sekarang terlihat sangat kesal. Entah apa yang di pikirkannya?


"Tidak, kau pergilah."


"Baik lady. Kalau begitu saya permisi." ucapnya seraya menunduk hormat kemudian pria itu pergi dari ruang kerja Patrizia dengan berteleportasi.


Patrizia menghela napasnya berkali-kali untuk menenangkan dirinya. Setelahnya gadis itu berteleportasi ke kamarnya.


Kamar Patrizia.


Patrizia di sambut dengan tatapan aneh yang di berikan Oliver padanya.


Oliver menyeringai. "Kau mengingkari janji mu Patrizia dan kau harus terima hukumannya."


Patrizia menghela napasnya lelah.


FLASH BACK ON


Di kalung dimensi.


Jangan terlalu tegang Steve nikmatilah drama yang ada di hadapan mu itu.


Setelah mengatakan itu Patrizia keluar dari kalung dimensi. Mata yang tertutup itu perlahan terbuka menampilkan iris biru yang sangat indah.

__ADS_1


"Lepas!" ucap Patrizia datar.


Bukannya melepas pelukannya, Oliver malah semakin erat memeluk pinggang ramping Patrizia dengan mata yang masih tertutup. "Biarkan seperti ini untuk sementara waktu Patrizia, aku menyukainya."


"Sementara waktu kau bilang? Apa kau tidak sadar? Sudah satu minggu kau memeluk ku! Sekarang singkirkan tangan mu itu dari pinggang ku!"


Oliver menatap Patrizia dengan tatapan polos. "Benarkah? Aku tidak menyadarinya. Waktu berlalu begitu cepat saat aku bersama mu."


Patrizia memutar bola matanya malas. "Lepas!"


"Kau sendiri yang bilang jika sudah seminggu aku memeluk mu alhasil sekarang tangan ku sakit dan tidak bisa di gerakan. Aku butuh sesuatu untuk mengobatinya."


"Katakan."


Oliver tersenyum penuh kemenangan, gadisnya ini memang sangat peka. "Selama 24 jam kedepan waktu mu itu hanya untuk ku."


"Baiklah. Sekarang singkirkan tangan mu itu dari pinggang ku."


"Tidak semudah itu sayang."


"Apa lagi yang kau inginkan? Bukankah aku sudah menyetujui syarat mu."


"Aku akan melepaskan mu dan membiarkan mu menemui para bedebah i-"


Patrizia memotong ucapan Oliver, gadis itu menatapnya tajam. "Jaga ucapan mu! Di sana juga ada kakak ku."


"Iya, maaf." sesal Oliver.


Oliver lupa jika Patrizia sangat menghormati kakaknya itu. Walau pun bukan saudara kandung Oliver tahu Patrizia sudah menganggap Reonal sebagai kakak kandungnya jadi mulai sekarang ia juga harus menganggap Reonal sebagai kakak iparnya. Oliver tidak boleh melupakan itu.


"..kau boleh menemui mereka tapi tidak lebih dari sepuluh menit jika lebih kau akan mendapat hukuman dari ku." Oliver tersenyum menggoda. "Kau pasti sudah bisa mebebak, hukuman apa yang akan aku berikan pada mu?"


"Dua puluh menit." nego Patrizia. Gadis itu tahu tidak akan ada gunanya melawan Oliver karena tentu saja dirinya akan kalah sekalipun ia menggunakan kekuatan sihirnya.


Oliver terkekeh. "Sepuluh menit, itu penawaran terakhir. Jika tidak ya sudah kita langsung saja pergi menghabiskan 24 jam kebersamaan kita."


"Berjanjilah."


Patrizia menghela napasnya dalam. "Iya, aku berjanji. Kau puas? Sekarang singkir kan tangan mu itu!"


Oliver tersenyum puas setelahnya ia melepas pelukannya. Patrizia bangun dari tidurnya, gadis itu mendengar pembicaraan para pria yang ada di ruang tamu kemudian menjawab semua pertanyaan mereka.


FLASH BACK OFF


"Terimalah hukuman mu, Patrizia." Oliver menyeringai.


"Mari bertunangan."


Ucapan tiba-tiba Patrizia itu membuat jantung Oliver berdetak sangat cepat, ia seperti terkena serangan jantung. Mendadak Oliver terdiam seperti patung bahkan matanya saja tidak berkedip. Ingatkan pria itu untuk bernapas.


"Rex, apa kau mendengar ku?"


Oliver tersadar. "A-apa yang baru saja kau katakan?"


"Mari bertunangan."


"Aku tidak salah dengar bukan? Kau yakin?"


Patrizia tersenyum smirk. "Rex, kau sangat mengenal diri ku. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak menguntungkan untuk ku."


Bahu Oliver turun, ia sedikit kecewa karena Patrizia mengajaknya bertunangan bukan karena punya perasaan padanya tapi karena ada tujuan lain. Walau begitu tetap saja Oliver akan menerimanya, mana mungkin ia bisa menolak keinginan gadisnya.


"Ya, aku tahu itu. Tapi aku tidak peduli apa pun alasan mu itu." Oliver menggenggam kedua tangan Patrizia seraya menatapnya dalam. "Mari kita bertunangan.. Hari ini juga. Bukankah lebih cepat lebih baik."


"Terserah lah. Lakukan semau mu."


"Kau bersiaplah, aku yang akan mengurus semuanya. Malam ini kita akan bertunangan."

__ADS_1


"Hm."


"Sekarang ikut aku." seru Oliver


"Kemana?"


"Meminta restu pada kakak mu."


Mereka pun berteleportasi ke ruang tamu. Reonal, Viggo, Steve, Edoardo dan Felix masih ada di sana.


Rahang kelima pria itu terjatuh saat melihat Patrizia dan Oliver bergandengan tangan.


"Kau bohong Zia." lirih Steve.


"Apa yang terjadi?" tanya Steve.


"Kenapa mereka bergandengan tangan?" tanya Felix.


"Berani sekali Grand Duke itu menggandeng tangan lady Letizia!" geram Edoardo.


"Bisa kau jelaskan apa arti semua ini Zia." ucap Reonal.


"Malam ini kita akan bertunangan." ucap Oliver lantang kemudian pria itu melihat ke arah Reonal seraya tersenyum. "Aku meminta restu mu kakak ipar."


"APA?!" pekik kelima pria itu bersamaan.


"Zia, apa itu benar?" tanya Reonal.


Patrizia mengangguk. "Iya kak, itu benar."


"Bagaimana dengan ayah dan ibu? Apa kau sudah memberitahu mereka?"


"Kau tenang saja kakak ipar, aku yang akan mengurus semua itu."


"..pertunangannya akan di adakan di kediaman ku malam nanti. Aku mengundang kalian semua untuk hadir di acara pertunangan ku."


Zia, apa ini termasuk rencana mu? Batin Steve.


Tepat sekali.


Bibir Steve berkedut menahan senyum. Sudah ku duga. Apa yang ratu rencanakan?


Wanita itu ingin melanjutkan pertunangan ku dengan Zello yang sempat tertunda dulu.


Dulu kau terbebas dari pertunangan itu karena kemunculan Viggo saat hari penobatan Zello menjadi putra mahkota. Karena penobatan itu gagal rencana pertunangan itu pun tertunda. Tadinya aku berfikir jika pertunangan itu di lanjutkan Viggo lah yang akan menggantikan posisi Zello tapi ternyata Ratu masih teguh dengan pendiriannya. Ratu menginginkan kau menjadi menantunya. Ku rasa tindakan mu sekarang sangatlah tepat untuk kembali menggagalkan rencana Ratu karena tidak ada orang yang berani menentang Grand Duke termasuk Raja.


Patrizia hanya tersenyum menanggapinya.


...🍃🍃🍃...


Kabar pertunangan antara Grand Duke Oliver dan lady Letizia pun sudah tersebar ke seluruh penjuru kerajaan Archon. Dari kalangan bangsawan, para pelayan, rakyat biasa, mereka semua tak henti-hentinya membicarakan acara pertunangan itu.


Dan tentu saja sang ratu pun sudah mengetahui kabar pertunangan itu.


Kamar ratu.


"Bagaimana itu bisa terjadi? Apa kau sudah memeriksa kebenarannya? Bisa saja kabar pertunangan itu hanya kabar burung." marah Andora.


"Saya sudah memeriksanya ratu, bahkan saat ini kediaman Grand Duke tengah sibuk mempersiapkan acara pertunangan itu. Beredar cerita juga di kalangan para pelayan jika kakak ku itu pernah bermalam di kediaman Grand Duke." jelas Sienna seraya menahan amarahnya. Gadis itu sangat membenci kakaknya.


"Apa yang kita lewatkan? Sepertinya mereka sudah mengenal sejak lama?"


"Saya juga berfikir begitu ratu."


"Kau temui kakak mu. Cari informasi sebanyak mungkin mengenai hubungan mereka, siapa tahu kita mendapatkan sesuatu untuk bisa menggagalkan pertunangan itu. Waktu kita hanya 8 jam sebelum acara pertunangan itu di laksanakan."


"Baik ratu."

__ADS_1


__ADS_2