The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 12


__ADS_3

"Apa kau perlu bantuan cantik?"


Mendengar itu sontak Patrizia membalikkan badannya. Patrizia menatap datar Viggo, pria itu berdiri di belakang orang yang mengintai Patrizia seraya mencekiknya.


Patrizia berdecak. "Itu buruan ku!"


"Apa kau tidak mau berbagi dengan ku?"


Patrizia berjalan ke arah Viggo kemudian ia memegang sebelah tangan Viggo yang menganggur setelah itu dalam sekejap mereka sudah berada di hutan kematian.


Viggo mengedarkan pandangannya, sebelah tangannya masih setia mencekik orang yang hampir saja mencelakai adiknya itu. "Tempat apa ini?"


"Neraka."


"Apa yang kau lakukan?" tanya Viggo seraya memalingkan wajahnya yang memerah. Saat ini wajahnya dengan wajah Patrizia sangat dekat.


Patrizia memutar bola matanya. Entah apa yang di pikirkan pria di hadapannya itu? Padahalkan Patrizia hanya ingin membisikkan sesuatu pada si pengintai yang memang posisinya ada di depan Viggo.


Mengabaikan Viggo, Patrizia menyebutkan satu nama yang langsung membuat tubuh si pengintai itu menegang.


"Jadi, bedebah ini mengincar mu bukan Celia?" tanya Viggo terkejut mendengar ucapan Patrizia.


Viggo sudah mengetahui siapa pemilik sihir hitam dari Steve. Viggo juga membantu Patrizia untuk mengawasi para sekutu pemilik sihir hitam itu.


"Hm. Kau uruslah dia, perlihatkan pada ku tontonan yang menarik."


Viggo terkekeh. "Sesuai keinginan mu lady."


Dengan sekali gerakan Viggo mematahkan tulang leher orang itu kemudian mengeluarkan belati dari balik bajunya.


Akh


Teriakan kesakitan itu terdengar bagai alunan melodi yang sangat indah dan menenangkan. Patrizia sangat menyukainya.


Akh


Teriakan itu terdengar semakin merdu yang membuat senyum terbit di wajah cantik Patrizia. Gadis itu memejamkan matanya.


Viggo yang melihatnya terkekeh. Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada gadis psikopat itu?


Teriakan kesakitan itu terus saja terdengar kala Viggo menyiksa si pengintai. Tak lama mata Patrizia kembali terbuka karena ia sudah tidak mendengar suara lagi. Patrizia sedikit tersentak karena entah sejak kapan Viggo berdiri di hadapannya.


"Untuk mu." ucap Viggo seraya menunjukkan sepasang bola mata berwarna coklat gelap di tangannya.


"Matanya indah tapi aku tidak mau menyimpannya, aku tidak suka pemiliknya."


"Baiklah, aku akan memberi mu mata yang lebih indah nanti." Viggo menjatuhkan mata itu dari tangannya kemudian menginjak mata itu sampai hancur.


Patrizia melihat kondisi mayat orang itu, sangat mengenaskan. Kepala dan badannya terlepas, kulit bagian wajahnya tidak ada, tangan dan kakinya sudah menjadi daging cincang dan yang utuh hanya bagian perutnya saja.


"Aku sisa kan bagian perutnya untuk mu." ucap Viggo.


"Tidak, aku tidak berminat lagi."


Patrizia menepuk tangannya dua kali dan tak lama datang empat ekor harimau. Patrizia membiarkan harimau-harimau itu menikmati makananya.


Patrizia, aku juga ingin makan, aku lapar. Batin Ruben.


Bukankah tadi di pasar kau sudah makan?


Itu kan tadi sekarang beda lagi.


Rakus!


"Sebaiknya kita kembali." ucap Patrizia.


"Iya."

__ADS_1


Patrizia memegang tangan Viggo kemudian mereka menutup matanya dan setelah itu mereka sudah berada di kastil tempat tinggal Patrizia.


Viggo berdecak kagum melihat keindahan kastil megah itu. "Apa aku boleh menginap di sini?"


"Terserah!" Patrizia langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Viggo pergi ke kamar tamu di antar samuel sedangkan Ruben, kucing itu kini tengah mengisi perutnya di temani Imelda.


...🍃🍃🍃...


Keesokkan harinya, Viggo sudah kembali ke istana dan Patrizia kini tengah menghadiri jamuan mimum teh di kediaman Duke Chester.


Patrizia menyeruput teh chamomile dan sesekali menimpali pembicaraan para lady lainnya. Dari wajahnya terlihat sangat jelas jika gadis itu merasa bosan, di tengah kebosanannya tiba-tiba saja terdengar suara Ruben. Hanya suaranya saja karena Ruben berada di tempat lain bersama Imelda dan pelayan lady lainnya sedangkan jamuan teh itu di adakan di taman.


Drama akan segera di mulai.


Dan benar saja tak lama setelah Ruben mengatakan itu, terdengar suara teriakan.


"Akh.. Panas, hiks panas." rintih sang protagonis, Sienna. Tangan gadis itu terkena tumpahan teh panas milik Iren sang antagonis.


Irene Chester, gadis yang berusia 16 tahun itu sangat tidak menyukai Sienna karena menurutnya Sienna adalah orang yang sudah merebut kasih sayang kakaknya. Di dunia ini Irene hanya memiliki kakaknya yaitu Felix. Orang tua mereka sudah meninggal. Irene sangat tidak menyukai persahabatan antara Felix dan Sienna karena itu juga hubungan antara kakak beradik itu renggang.


Di novel, Irene sangat mencintai Zello sang sahabat tapi lagi-lagi Sienna merebutnya karena itu Irene semakin membenci Sienna. Puncaknya Irene berencana untuk membunuh Sienna dengan racun tapi sebelum itu terjadi Zello yang saat itu sudah menjadi putra mahkota mengetahui rencananya. Sama seperti novel lainnya di mana akhir hidup yang tragis menanti sang antagonis, itu juga yang terjadi dengan Iren di akhir hidupnya ia mati di penggal oleh Zello, orang yang sangat di cintainya.


Dan sekarang alur sudah berubah kebencian Irene pada Sienna masih dalam batas wajar. Tapi tetap saja mereka akan selalu terlibat konflik jika bertemu.


"Hiks lady Irene, kenapa kau menumpahkan teh itu ke tangan ku? Rasanya sangat perih hiks hiks."


Para lady lainnya hanya diam, mereka tidak mau ikut campur. Irene terkenal sebagai antagonis yang sangat kejam karena itu mereka tidak ingin mencari masalah dengan Irene. Mereka lebih memilih diam dan memperhatikannya saja, mereka sudah terbiasa melihatnya karena ini sudah sering kali terjadi. Mereka hanya tinggal menunggu sang Duke datang menyelamatkan protagonis.


Sedangkan Patrizia tersenyum remeh menatap Sienna. Patrizia jelas tahu kejadian yang sebenarnya.


Bukankah adik mu itu sangat tidak kreatif, ia memakai trik yang sama ketika memfitnah mu dulu. Suara Ruben terdengar lagi.


Bodoh!


"IRENE!!" suara bariton itu terdenger bak guntur di siang hari.


Felix menatap marah Irene. "Minta maaf pada Sienna."


"Untuk apa aku minta maaf padanya? Aku tidak bersalah, dia yang menabrak ku." ucap Irene santai.


"Tapi kau yang menumpahkan teh panas itu ke tangan Sienna."


"Aku tidak peduli!"


"IRENE!!"


Irene mengepalkan tangannya menahan rasa sesak di dada ketika Felix membentaknya. Gadis itu menatap benci Sienna dan berlalu pergi dari sana.


Felix menghampiri Sienna. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.


"Hiks tangan ku terbakar, ini sangat sakit." rintih Sienna dengan air mata yang terus mengalir.


Tanpa aba-aba Felix langsung menggendong Sienna lalu membawanya ke kamar tamu. Felix juga meminta pelayan untuk memanggilkan tabib.


Ruben, apa Felix juga terkena sihir pemikat itu?


Kau benar.


Pergilah ke kalung dimensi, ambil cincin penangkal sihir itu.


Lima puluh ekor ikan bakar, cincin itu akan ada di tangan mu dalam waktu sepuluh detik.


Hm.


Jangan bohong! Aku akan menagihnya nanti.

__ADS_1


Ck! Cepatlah!


Sepuluh detik kemudian Ruben berlari ke arah Patrizia yang masih berada di taman sedangkan lady lainnya sudah pergi.


Patrizia berjongkok untuk mengambil cincin yang di gigit Ruben kemudian gadis itu pergi menemui Felix.


Patrizia melihat Felix berdiri di depan salah satu kamar, wajah pria itu terlihat sangat khawatir.


"Tuan Duke." panggil Patrizia saat sudah berada di depan Felix.


"Hah.. Iya, lady Letizia ingin bertemu dengan Sienna?"


"Hm."


"Lady tunggulah sebentar, Sienna sedang di obati oleh tabib."


"Terimakasih." Patrizia menatap Felix. "Kau sudah melindungi adik ku."


"Tidak perlu berterimakasih, sebagai sahabat sudah seharusnya aku melindungi Sienna."


"..maafkan sikap adik ku, dia terlalu kekanak-kanakkan." lanjutnya setelah terdiam untuk beberapa saat.


"Tidak apa." Patrizia memberikan cincin pada Felix. "Anggap saja itu hadiah pertama dari ku sebagai rekan kerja. Aku sangat berterimakasih pada mu karena kau, aku mendapatkan banyak uang."


Felix terkekeh. Gadis di hadapannya ini memang berbeda.


"Pakailah, aku harap kau menyukainya."


"Tentu saja aku menyukainya, terimakasih lady." Felix memakai cincin itu. Setelahnya, pria itu nampak linglung. Patrizia menyeringai melihatnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Felix bingung.


"Ikutlah, aku akan menjelaskan semuanya."


...🍃🍃🍃...


Saat ini Patrizia dan Felix berada ruang kerja Felix. Pria itu merasa sangat bersalah pada Irene setelah Patrizia menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya.


"Pantas saja selama ini aku merasa bingung, kenapa aku bersikap kasar pada Irene? Padahal aku sangat menyayanginya. Setelah aku memarahi Irene aku selalu bertanya, apa alasan aku memarahinya? Aku sama sekali tidak mengerti, kenapa aku bersikap seperti itu? Dan sekarang aku mengerti semuanya."


Felix tertunduk lesu. "Maafkan kakak Irene, maaf."


"Temuilah adik mu itu, tangan dia juga terluka bahkan lukanya lebih para dari luka yang Sienna dapatkan."


Felix menatap Patrizia. Ia takut jika Irene menolak kehadirannya.


"Pergilah, dia sedang menunggu mu."


Felix mengangguk dan berlalu pergi menemui Irene di kamarnya.


Kamar Irene..


Felix membuka pintu kamar Irene dengan perlahan sementara sang pemilik kamar tidak menyadarinya karena ia tengah menangis, gadis itu menutup seluruh badannya dengan selimut berharap suara tangisannya itu tidak terdengar.


Hati Felix sangat sakit ketika melihat adik kecilnya itu menangis.


Tanpa menutup pintu, Felix langsung menerjang tubuh Irene yang tertidur di ranjang, memeluknya erat. Felix merasakan tubuh adiknya itu menegang.


Dengan perlahan Irene membuka selimut yang menutupi wajahnya. "Kakak." lirihnya dan langsung membalas pelukan Felix.


"Maaf, maafkan kakak sayang. Kakak memang kakak yang buruk."


"Tidak, jangan berkata seperti itu, kakak adalah kakak terbaik di dunia."


Felix melepas pelukannya kemudian ia menghapus jejak air mata di pipi adiknya. Irene bangun dari tidurnya, ia menatap kakaknya dengan senyum yang mengembang. Kakak beradik itu kembali berpelukkan.


Di sisi lain, Sienna mengepalkan tangannya erat melihat adegan itu. Ternyata sedari tadi Sienna mengintip di depan pintu kamar Irene yang tidak tertutup.

__ADS_1


"Sialan!" geram Sienna kemudian pergi dari sana.


Patrizia tersenyum miring melihat raut kesal di wajah Sienna.


__ADS_2