
Saat ini Patrizia dan Steve tengah berada di tengah hutan. Mereka sedari tadi mengikuti ratu Andora yang meninggal kan acara di istana dengan mengendap-endap.
Ratu Andora berdiri di depan seseorang yang mengenakan jubah hitam yang menutup seluruh tubuh nya. Walau begitu Patrizia sangat tahu siapa orang di balik jubah hitam itu.
Penyihir hitam.. Batin Patrizia menyeringai.
Ini pertarungan terakhir kita, Patriza. Selesai kan tugas mu dengan baik. Suara Ruben terdengar.
Tentu.
"Kau siap?" tanya Steve.
"Hm. Kau tunggu lah di sini."
"Tapi.."
"Percaya lah pada ku. Dan ingat pesan ku, jangan biarkan siapa pun mendekat ke sana."
Steve menghela napas dalam. "Hm. Berhati-hatilah."
Patrizia keluar dari persembunyian nya. Kaki nya melangkah mendekat ke arah ratu Andora dan penyihir hitam itu. Setelah Patrizia pergi Steve menuruti keinginan Patrizia, pria itu membuat benteng transparan dengan sihir nya.
Steve kembali mengingat pembicaraan nya dengan Patrizia beberapa saat lalu.
"Steve, saat aku menghadapi penyihir hitam nanti pasti kan tidak ada seorang pun yang membantu ku, termasuk juga diri mu. Aku akan menghadapi penyihir hitam itu seorang diri karena ini pertarungan ku. Berjanjilah, setelah aku pergi nanti kau harus menjaga semua orang di dekat ku jangan sampai mereka berbuat hal di luar nalar. Aku tidak ingin ada yang terluka di sini. Biarkan aku pergi dengan mengingat kenangan indah saat bersama kalian. Aku tidak ingin ada pertumpahan darah."
"Zia, biarkan aku membantu mu."
"Berjanji lah, Steve." Patrizia menatap Steve dalam. Untuk pertama kali nya Steve mendapat kan tatapan itu dari Patrizia. Tatapan lembut dan menenang kan.
Steve menghela napas kasar kemudian pria itu menatap Patrizia. "Baik lah, aku berjanji." putus Steve akhir nya. Walau hati nya tidak setuju tapi ia menghargai keputusan Patrizia.
...🍃🍃🍃...
"Rupa nya kita kedatangan tamu yang tak di undang di sini." ujar penyihir hitam.
Penyihir hitam, ratu Andora dan beberapa pengikut nya tengah melakukan ritual. Mereka semua duduk melingkar. Patrizia berdiri lima langkah tepat di belakang penyihir hitam.
"Apakah aku perlu undangan untuk menemui orang terdekat ku.." Patrizia menjeda ucapan nya. "..bukan begitu.. Ibu." lanjut Patrizia menyeringai.
Haa.. Haa.. Haa..
Suara tawa menggema di tengah hutan yang sepi itu. Penyihir hitam yang di panggil ibu oleh Patrizia perlahan membalik kan tubuh nya menghadap ke arah Patrizia.
Ya.. Penyihir hitam itu adalah Sevira, ibu Letizia.
Patrizia mengetahui hal itu saat bertemu dengan Letizia di alam bawah sadar nya.
GILA
Kata itu yang Patrizia sematkan untuk menggambar kan sosok Sevira. Demi obsesi nya wanita itu tega membunuh Letizia hanya karena gadis itu mengetahui rahasia besar nya.
"Sudah ku duga kau adalah gadis pemilik sihir suci itu dan kau masih hidup." ujar Sevira. "Tetapi sekarang akan aku pastikan kau tidak akan selamat, Letizia. Jangan harap kau bisa keluar dari hutan ini dalam keadaan hidup. Aku akan mengirim mu langsung bertemu ibu kandung mu yang bodoh itu."
__ADS_1
Mata Patrizia membola saat mendengar perkataan Sevira. "Hah? Apa yang ibu kata kan? Apa maksud nya?"
Hentikan lah Patrizia, itu sangat menggeli kan. Suara Ruben terdengar.
Diamlah! Kau mengganggu konsentrasi ku!
"Ck! Berhentilah berpura-pura menjadi gadis bodoh." sarkas Sevira.
"Sungguh aku tidak mengerti apa yang ibu bicara kan. Apa salah ku? Aku putri mu, bu." Patrizia sangat mendalami peran nya. "Hentikan lah semua ini bu. Jangan korban kan para gadis yang tidak bersalah itu. Aku berjanji jika ibu berhenti aku akan mengampuni nyawa ibu."
Sevira menggeram marah mendengar ucapan Patrizia. Penyihir hitam itu mengeluarkan aura yang sangat kuat. "Gadis bodoh! Berani sekali kau! Kau akan mati dengan cara yang sangat menyakitkan. Aku akan menyiksa mu sampai kau sendiri yang meminta kematian mu pada ku."
"Ibu, kenapa kau sangat kejam pada ku? Aku putri kecil mu bu. Putri kecil yang ibu racuni hingga membuat ku di asingkan oleh keluarga ku sendiri."
"Diam!!"
"Kenapa bu? Kenapa kau melakukan itu? Itu sangat menyakitkan. Aku putri mu, bu. Aku putri mu."
"Diam!! Kau bukan putri ku! Dan aku bukan ibu mu! Berhentilah memanggil ku dengan sebutan ibu!"
"Jika aku tidak memanggil mu ibu lantas aku harus memanggil ibu dengan sebutan apa? Wanita jahat? Penyihir hitam? Oh atau.. iblis." Patrizia menatap lembut Sevira yang tengah menatap nya tajam. "Katakan pada ku, bu. Aku harus memanggil mu apa?"
Uhuk.. Uhuk..
Patrizia terbatuk hingga mengeluarkan darah segar dari mulut nya saat Sevira menyerang nya dengan sihir secara tiba-tiba.
Sial!! Umpat Patrizia dalam hati.
Ini semua karena kau! Kenapa kau meminta ku untuk tidak menyerang nya terlebih dulu? Dan malah meminta ku untuk memancing emosi nya. Kesal Patrizia.
Bersabarlah, kita semua akan segera sampai.
Hah? Apa mak-
Belum sempat Patrizia menyelesaikan ucapan nya, gadis itu mendapat pesan dari Steve yang berjarak beberapa meter dari tempat Patrizia.
Zia, mereka semua ada di sini. Anggota kerajaan, para bangsawan bahkan rakyat biasa.
Patrizia tersenyum setelah mendengar pesan dari Steve, sekarang gadis itu tahu alasan kenapa Ruben meminta nya untuk tidak menyerang penyihir hitam itu terlebih dahulu.
Apa aku harus menjelas kan apa yang harus kau lakukan selanjut nya Patrizia?
Kau pikir aku bodoh!
Kau manusia yang paling menyebalkan yang pernah aku temui. Kesal Ruben.
...🍃🍃🍃...
"Zia!!"
"Lady!!"
Pekikkan itu terdengar saling bersahutan saat mereka semua melihat bagaimana kejam nya seorang ibu yang tega menyerang putri nya sendiri.
__ADS_1
Orang terdekat lady Letizia berlari berniat untuk menyelamat kan gadis yang tengah terbatuk hingga mengeluarkan darah itu tetapi mereka semua terpental karena menabrak benteng transparan yang di buat Steve.
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka semua ada di sini?" tanya Steve entah pada siapa. Setelah nya pria itu langsung mengirim pesan pada Patrizia lewat telepati.
Di tengah kebingungan nya tatapan Steve bersibobrok dengan tatapan Viggo yang menyiratkan kekhawatiran di sana. Viggo langsung berlari menghampiri Steve.
"Steve, kau yang melakukan semua ini bukan? Cepat lah hancur kan benteng itu, kita tidak punya banyak waktu." ucap Viggo tak sabaran.
"Maaf yang mulia, saya tidak bisa."
Bugh
Satu bogeman mentah dari Viggo mendarat di pipi mulus Steve.
"Apa maksud mu Steve? Kau tidak lihat di sana, Zia membutuhkan bantuan kita." geram Viggo.
"Ini yang di ingin kan Zia, yang mulia. Dia tidak ingin ada yang membantu nya."
Bugh
Kali ini Steve mendapat kan satu bogeman mentah dari sang jenderal, Edoardo.
"Apa kau ingin melihat lady Letizia terluka parah! Cepat hancur kan benteng itu atau aku akan menghancur kan mu saat ini juga."
"Maaf Jenderal."
Steve menutup mata nya, pria itu siap menerima pukulan yang akan di layangkan Edoardo pada nya lagi, tetapi sudah beberapa detik pukulan itu tak kunjung datang lantas Steve membuka mata nya. Pria itu melihat tangan Edoardo mengambang di udara karena di tahan oleh tangan sang grand duke, Oliver.
"Jika kau menyakiti nya, Zia akan sangat marah pada mu. Kita harus menghargai keputusan Zia." ujar Viggo datar.
"Tapi-"
"Kau tidak lupa siapa lady Letizia yang sebenar nya bukan? Dia adalah gadis pemilik sihir suci. Dia akan baik-baik saja. Kau percaya pada nya bukan?"
Edoardo menghela napas nya kasar. "Kau benar, aku sangat mempercayai nya."
"Grand duke, apa yang terjadi? Kenapa kalian semua bisa ada di sini?" tanya Steve setelah beberapa saat terdiam.
"Aku di tugas kan untuk membawa mereka semua ke sini." jawab Oliver tanpa melihat Steve karena pria itu sibuk menatap gadis pujaan nya. Walau terlihat sangat tenang tapi percayalah jantung Oliver saat ini berpacu sangat cepat, ia sangat mengkhawatir kan tunangan nya.
"Tugas? Tugas dari siapa?"
"Kau tak perlu tahu. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah membantu Patrizia menyelesaikan tugas terakhir nya. Kau sudah tahu semua nya bukan?"
"Iya, sudah. Mmm.. grand duke, apa kau akan mencegah pergi?"
"Tidak, aku tidak akan mencegah nya tapi.." Oliver menggantung kan ucapan nya.
"Tapi.."
"Aku yang akan menyusul ke dunia nya."
"HAH? APA?"
__ADS_1