The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 46


__ADS_3

"Zia!!"


"Lady!!"


Pekikkan itu terdengar saling bersahutan saat mereka semua melihat bagaimana kejam nya seorang ibu yang tega menyerang putri nya sendiri.


"Uhuk.. Uhukk.. Apa salah ku bu? Kenapa kau tega melukai putri mu sendiri?" Patrizia memulai sandiwaranya di dapan semua orang.


"Sudah ku katakan jangan memanggil ku ibu! Aku bukan ibu mu!"


"Apa yang ibu katakan? Kau ibu ku, ibu Sevira."


"Haa.. Haa.. Berhentilah bersandiwara gadis bodoh. Kau sudah tahu aku bukan Sevira, ibu mu."


"Apa maksudnya? Jika kau bukan ibu Sevira, siapa kau sebenarnya? Kenapa wajah mu sama dengan wajah ibu ku?"


"Tentu saja wajah kita sama, karena aku dan ibu mu terlahir kembar."


"Jadi kau bibi Eva dan itu artinya yang meninggal adalah ibu ku?" Patrizia menyeka air matanya kemudian gadis itu menatap Sevira dengan wajah menyedihkan. "Kenapa kau melakukan itu bibi? Kenapa kau berpura-pura menjadi ibu ku?"


"Karena aku membenci ibu mu! Sangat membencinya! Harusnya aku yang menjadi Marchioness Wilson karena memang sedari awal aku yang di jodohkan dengan Albert Wilson tapi karena ramalan sialan yang mengatakan jika aku tidak akan bisa memilki keturunan itu posisi ku di gantikan oleh Sevira. Awalnya aku mencoba menerima semua itu tapi ketika aku melihat kehidupan rumah tangga Sevira dan Albert sangat harmonis aku menjadi marah seharusnya aku yang hidup bahagia bersama Albert bukan Sevira."


"Apakah kau juga yang telah meracuni ku bibi? Aku ingat sekarang, hari itu aku tidak sengaja mendengar saat kau berbicara pada lukisan ibu ku. Saat itu juga aku tahu ternyata kau bukan ibu ku dan ketika aku hendak memberitahu ayah kau mengetahuinya dan kau dengan teganya mendorong ku hingga terjatuh dari tangga yang mengakibatkan aku kehilangan ingatan ku. Bukan hanya itu, saat ingatan ku sudah kembali kau sengaja memberi ku racun sehingga ayah terpaksa mengasingkan ku dan kau melakukan itu semua hanya karena kau tidak ingin rahasia mu terungkap. Kau jahat sekali bibi! Kau sangat jahat!" Patrizia menyeka air matanya.


"Berhentilah bersikap seakan kau yang paling tersakiti di sini, aku muak melihat wajah menyedihkan mu itu. Jika kau ingin menyalahkan seseorang salahkan ibu mu yang serakah itu. Aku melakukan semua ini karena ibu mu merebut apa yang sudah menjadi milik ku."


Dalam sekejap wajah menyedihkan Patrizia berubah menjadi datar.


"Sebagai balasan atas apa yang telah kau lakukan pada Letizia dan ibu Sevira, aku sudah mempersiapkan kejutan untuk mu, bibi. Lihatlah ke belakang."


Sevira a.k.a Eva memutar badannya dan betapa terkejutnya ia saat melihat semua rakyat termasuk keluarga kerajaan Archon dan keluarganya ada di sana. Ia terlalu fokus untuk menghabisi Patrizia jadi ia tidak menyadari keadaan sekitar.


Patrizia tersenyum remeh. "Bagaimana bibi? Apa kau menyukai kejutan dari ku?"

__ADS_1


"Sial! Jadi kau sengaja melakukan ini?"


"Selamat atas kebodohan mu bibi. Kejahatan mu sudah terbongkar di hadapan semua orang dan kau sendirilah yang membongkarnya. Kini aku tidak akan segan untuk membunuh mu."


Uhuk.. Uhuk..


Sevira muntah darah berwarna hitam akibat serangan tiba-tiba Patrizia. Patrizia menyeringai melihat itu.


Pertarungan antara Patrizia dan Sevira tak terelakan lagi. Pertarungan itu sangat seimbang karena mereka sama kuatnya. Mereka menyerang dengan kekuatan sihir masing-masing tanpa henti hingga tubuh mereka perlahan melemah.


Patrizia melihat ke arah bulan yang berwarna merah, gadis itu tersenyum. "Ini saatnya."


Patrizia melihat ke arah keluarganya, gadis itu tersenyum manis menatap ayah dan kakaknya. Kemudian Patrizia melihat ke arah para pria yang selama ini membantunya.


Steve, sampaikan terimakasih ku pada mereka. Aku menyayangi kalian semua. Selamat tinggal.


Steve tidak mampu membalas pesan telepati dari Patrizia, pria itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Mata indah Patrizia menatap Duke Oliver yang sedari tadi hanya diam.


Tunggu aku, sayang.


Hah ap-


Akh


Patrizia memegang dadanya yang terasa sangat sesak akibat serangan dari Sevira a.k.a Eva.


"Matilah kau gadis bodoh!"


Sevira mengerahkah seluruh kekuatan sihir hitamnya untuk menyerang Patrizia. Asap hitam keluar dari tubuh Sevira. Begit pun juga dengan Patrizia, gadis itu dengan sisa-sisa tenaganya mengeluarkan seluruh kekuatan sihir sucinya. Asap putih keluar dari tubuh Patrizia.


Kedua asap itu bertabrakan di udara di iringi dengan suara ledakan yang keras. Ketika asap-asap itu menghilang tubuh Patrizia dan Sevira tumbang. Patrizia melihat tubuh Sevira yang perlahan hancur dan melebur menjadi abu. Sihir penghalang yang di buat Steve pun hancur akibat ledakan itu.

__ADS_1


Ruben, aku pamit. Terimakasih atas semuanya.


Jaga diri mu, Zia. Titipkan salam ku pada Queen mu itu.


Tentu. Selamat tinggal.


Kesadaran Patrizia mulai menghilang tapi ia masih bisa merasakan pelukan hangat dari sang tunangan. Ia juga masih bisa mendengar ucapan tunangannya itu.


"Aku mencintai mu, Patrizia Cane. Berjanjilah saat kita bertemu lagi nanti kau akan menjawab ungkapan cinta ku."


Cup


Grand Duke Oliver mengecup kening Patrizia. Pria itu menatap Patrizia penuh cinta.


Patrizia mengedarkan pandangannya melihat semua orang. Gadis itu tersenyum tulus yang membuat semua orang tak tahan untuk mengeluarkan air matanya.


Napas Patrizia mulai tersenggal di sisa-sisa kesadarannya gadis itu melihat sebuah tulisan MISI BERHASIL Patrizia tersenyum melihatnya dan kemudian semuanya gelap.


Inilah akhirnya. Kekuatan sihir hitam hanya bisa di kalahkan oleh kekuatan sihir suci itu artinya siapa pun yang memiliki kekuatan sihir suci harus rela berkorban nyawa demi untuk mengalahkan sihir hitam dan ini yang di lakukan Patrizia.


Patrizia hanya berharap setelah ini kerajaan Archon menjadi aman damai dan kehidupan semua rakyatnya sejahtera.


Tanpa semua orang sadari kucing peliharaan Patrizia berubah wujud menjadi seorang pria yang sangat tampan dengan pakaian serba hitam. "Misi ini selesai dan itu artinya tugas ku juga selesai."


"Ruben sang malaikat maut akan kembali menjalankan tugasnya," Ruben menghela napasnya. "Semoga Dewa berbaik hati bersedia memperbaiki tongkat ku. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi."


"Sampai bertemu lagi Patrizia Cane." Ruben tersenyum melihat jiwa asli Patrizia melayang di udara.


Setelah jiwa asli Patrizia menghilang. Ruben mengeluarkan sayapnya yang berwarna hitam. Di kepakkan sayap berwarna hitam itu kemudian Ruben terbang menuju langit hingga akhirnya menghilang.


...🍃🍃🍃...


Suara dari mesin EKG terdengar begitu nyaring di dalam ruang ICU. Ruangan di mana seorang wanita masih tertidur dengan banyak selang yang menempel pada tubuhnya. Terlihat ada pergerakan di jemari wanita itu. Perlahan namun pasti kelopak mata itu mulai terbuka.

__ADS_1


"Aku kembali," lirihnya.


__ADS_2