
Satu bulan kemudian.
Patrizia menghela napas nya dalam. "Besok malam.. Besok malam adalah pertarungan terakhir ku."
"Persiapkan diri mu Patrizia. Pertarungan itu tidak lah mudah."
Petrizia menatap Ruben. "Terimakasih."
Ruben tersenyum. "Aku hanya menjalan kan tugas ku, Patrizia. Kita bisa bertahan sampai di sini itu semua karena kerja keras mu."
"Ada hal yang ingin aku sampai kan pada mu."
"Hal apa?" tanya Ruben penasaran.
Patrizia memposisi kan tubuhnya hingga sejajar dengan kucing itu kemudian gadis itu membisik kan sesuatu pada Ruben.
Patrizia terkekeh saat melihat ekspresi Ruben yang beragam antara terkejut dan tidak percaya.
...🍃🍃🍃...
"Patrizia berjanji lah pada ku, kau akan baik-baik saja." ujar Oliver menatap dalam Patrizia. Pria itu sangat mengkhawatir kan Patrizia, ia tidak ingin kehilangan gadis nya.
Patrizia tersenyum. "Firasat ku mengata kan, aku tidak akan baik-baik saja."
"Kau akan meninggal kan ku sendiri di sini?" tanya Oliver lirih.
"Kau tahu Rex, ini bukan dunia ku. Cepat atau lambat aku pasti akan kembali ke dunia ku. Kita tidak bisa mencegah itu."
Oliver menggenggam kedua tangan Patrizia. "Aku ingin bertanya satu hal pada mu dan kau harus menjawab nya dengan jujur."
"Katakan."
"Apa yang kau rasakan saat kita bersama selama beberapa bulan ini?"
"Tidak ada."
Oliver menghela napas nya. "Patrizia.."
Patrizia terkekeh. "Rex, kau tahu. Sejak kecil aku tidak tahu seperti apa rasa nya di sayangi oleh orang tua sendiri, kau pun sudah tahu bagaimana kehidupan ku bukan? Aku tidak terbiasa dengan hal seperti itu. Aku tidak tahu bagaimana cara nya mengungkap kan perasaan ku sendiri dan yang aku tahu, aku merasa nyaman saat bersama mu. Hanya itu yang aku rasa kan, aku tidak tahu apa artinya itu."
Senyum Oliver mengembang mendengar itu kemudian pria itu membawa Patrizia masuk ke dalam pelukan nya.
Oliver melepas pelukan itu tangan nya terulur megusap pipi Patrizia. Pria itu menatap manik mata Patrizia kemudian Oliver menyatukan kening nya dengan kening Patrizia. Kedua nya bisa merasakan hembusan napas masing-masing.
Cup
Oliver menempel kan mulut nya dengan mulut Patrizia. Hanya menempel tapi itu sukses membuat jantung Patrizia hampir saja terjatuh. Mendapat serangan mendadak seperti itu Patrizia sangat terkejut. Matanya nyaris saja keluar. Gadis itu sontak mendorong tubuh Oliver.
__ADS_1
"Yak! Apa yang kau lakukan?"
"Mencium mu. Lagi pula kita sudah sering berciuman sebelum nya. Tadi itu baru menempel, kau malah langsung mendorong ku, aku ingin lebih dari pada itu." rengek Oliver, pria itu seperti anak kecil yang kehilangan mainan nya.
"REX!!!" Patrizia menatap nyalang pria di hadapan nya itu.
"Kita memang sudah sering berciuman sebelum nya tapi entah kenapa setiap kali Rex mencium ku jantung ku ini berdetak sangat cepat dan rasa nya seperti akan meledak. Huft.. Ini sangat mendebar kan." batin Patrizia seraya menyentuh dada nya.
"Kenapa kau sangat marah? Bukan kah tadi kau bilang kau nyaman saat bersama ku? Itu artinya kau mencintai ku. Jadi, tidak salah bukan jika aku mencium mu?"
"Iya aku memang bilang begitu tapi aku belum mencintai mu."
Oliver tersenyum menggoda. "Belum mencintai.. Itu artinya kau akan mencintai ku suatu saat nanti."
Patrizia menutup mata nya erat. Gadis itu merutuki kebodohan nya sendiri. Kenapa ia bisa salah berbicara seperti itu?
"Maksud ku bukan belum mencintai tapi tidak mencintai mu. Aku salah bicara tadi." ralat Patrizia.
"Kau tidak bisa menarik kembali kata-kata mu Patrizia. Apa yang di ucap kan mu tadi itu adalah kejujuran dari dalam hati mu bukan karena salah bicara."
Patrizia menghela napas nya kasar. "Terserah." setelah nya gadis itu berteleportasi ke kamar nya meninggal kan Oliver yang terus saja tersenyum seraya menatap para Kesatria yang tengah berlatih.
"Aku tidak akan membiarkan mu pergi dari hidup ku, Patrizia. Kita akan terus bersama di dunia ini atau pun di dunia mu." gumam Oliver.
...🍃🍃🍃...
Patrizia dan Oliver sudah berada di mansion Oliver di ibu kerajaan Archon. Para kesatria Black Rose juga sudah berada di sana.
"Bagaimana?" tanya Patrizia.
"Mereka akan melakukan ritual terakhir mereka tepat jam dua belas malam nanti. Meraka akan melakukan ritual itu di istana dan yang akan mereka korban kan adalah para gadis yang tengah merayakan acara debutante nya nanti malam di istana." jelas Steve.
Patrizia menyeringai. "Sudah ku duga."
Patrizia menatap Oliver. "Rex, kau sudah mendapat kan semua bukti nya?'
"Tentu saja sayang."
"Baguslah."
Oliver mendengus kesal. "Ck! Hanya itu yang kau kata kan? Zia, kau sendiri tahu selama satu bulan ini aku berusaha keras untuk mendapat kan semua bukti itu dan kau hanya mengata kan 'baguslah'. Kau bahkan tidak berterimakasih pada ku."
Patrizia tersenyum paksa. "Terimakasih Rex."
"Ciuman nya? Kemarin kau mendorong ku dan sekarang kau harus membayar ciuman gagal itu sejuta kali lipat."
"Jangan membuat ku marah Rex." peringat Patrizia.
__ADS_1
"Baiklah jika tidak mau, aku akan membakar bukti-bukti itu." ancam Oliver.
Steve yang sedari tadi hanya diam menyaksikan perdebatan dua orang di hadapan nya itu memutar bola mata nya jengah. Setelah nya pria itu pergi begitu saja tanpa pamit pada Patrizia. Ia tidak ingin melihat pemandangan yang nanti nya akan membuat jiwa jomblo nya meronta-ronta karena iri. Seperti nya Steve juga harus segera mencari pasangan hidup nya.
Kembali lagi pada dua orang yang tengah saling melempar tatapan tajam nya itu.
Ikuti saja keinginan nya, Patrizia. Anggap saja ini sebagai hadiah perpisahan dari mu untuk nya. Lagi pula dia selama ini sangat membantu kita. Suara Ruben terdengar.
Tidak ingin memperpanjang masalah akhirnya Patrizia mengalah dan..
Cup
Patrizia menempel kan bibir nya pada bibir Oliver dan langsung saja pria itu ******* rakus bibir ranum itu. Patrizia hanya sesekali membalas nya.
Ruben tersenyum penuh arti melihat itu. "Akan ada hari dimana kau akan merasa sangat bahagia hidup di dunia ini Patrizia. Hidup tidak selama nya kejam pada mu."
Malam harinya masih di mansion Oliver.
"Kakak, apa Sienna juga ikut dalam acara Debutante itu? Bukan kah tahun ini Sienna berusia tujuh belas tahun?" tanya Patrizia.
Acara Debutante untuk para gadis di kerajaan Archon ini memang di rayakan saat gadis itu berusia tujuh belas tahun.
"Sienna tidak ikut Zia. Dia tidak pernah keluar dari mansion setelah di nyatakan sembuh. Kau sendiri tahu bagaimana kondisi nya."
Dua bulan lalu Sienna di nyata kan sembuh tetapi wajah gadis itu menjadi hancur. Luka bakar yang di sebab kan oleh racun di wajah nya berbekas dan tidak bisa hilang. Karena itu orang menyebut Sienna sebagai gadis buruk rupa di kerajaan Archon.
"Maaf kan aku kakak, aku tidak bisa menyembuhkan Sienna. Padahal aku bisa dengan mudah nya menyembuh kan luka bakar di wajah Sienna dengan kekuatan sihir ku tapi aku tidak bisa melakukan ini." tutur Patrizia pura-pura sedih.
"Jangan sedih Zia, setelah malam ini kau bisa menyembuhkan Sienna. Kakak yakin kau bisa mengalah kan penyihir hitam itu."
"Terimakasih karena kakak sudah sangat menyayangi ku." Patrizia memeluk Reonal erat. "Aku tidak akan pernah melupakan kak Reo." lanjut gadis itu dalam hati nya.
"Tentu saja kakak sangat menyayangi mu, kau adik ku."
"Bagaimana jika aku bukan adik mu?" tanya Patrizia.
Reonal menatap Patrizia dengan tatapan Rumit.
"Aku bukan Letizia. Aku Patrizia, jiwa asing yang menempati tubuh adik mu, Letizia." jelas Patrizia.
Pecah sudah tawa Reonal. "Hentikan Zia, kau tidak akan pernah bisa menipu kakak."
Patrizia ikut tertawa.
Apa kau lega sekarang? Tanya Ruben.
Ya. Walau pun kak Reo tidak mempercayai ucapan ku setidak nya aku sudah mengatakan yang sebenar nya.
__ADS_1