The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 18


__ADS_3

Netra biru laut itu perlahan terbuka.


"Zia."


"Kakak."


"Kau baik-baik saja?"


"Iya, ini di mana?"


"Istana."


Patrizia bangun dari tidurnya kemudian bersandar di kepala ranjang.


"Sudah kakak bilang jaga diri mu sekarang kau malah membahayakan diri mu demi menyelamatkan nyawa putra kaisar dari panah beracun." omel Reonal.


"Ck! Kakak tahu racun itu tidak berpengaruh pada tubuh ku."


"Terus kenapa kau pingsan?"


"Aku hanya berpura-pura, eh malah ketiduran."


Reonal menghela napasnya dalam, adik perempuannya yang ini memang unik. Tidak tahu apa jika dirinya sudah membuat panik seisi istana karena ia datang bersama kaisar dalam keadaan pingsan bahkan sang kaisar memerintahkan banyak tabib untuk memeriksa keadaannya.


Dan tentu saja semua itu hanya sia-sia karena tubuh Patrizia bisa mengalahkan racun itu dengan sendirinya terlebih para tabib juga sudah mengetahui identitas Patrizia sebagai gadis pemilik sihir suci. Para tabib itu hanya bersandiwara seperti Patrizia, mereka merawat Patrizia seperti layaknya merawat pasien yang terkena racun, bahkan para tabib itu terkekeh saat menyadari jika Patrizia hanya tertidur bukannya pingsan.


"Bagaimana dengan Sienna?" tanya Reonal.


Patrizia tersenyum miring. "Dia berada di tempat dan bersama orang yang tepat."


"Apa maksud mu?"


"Aku akan ceritakan nanti."


Ekhem


Patrizia dan Reonal melihat ke arah Viggo yang sedari tadi hanya diam kemudian pria itu duduk di sisi ranjang setelahnya ia mengelus kepala Patrizia lembut.


"Singkirkan tangan mu itu dari kepala ku." sinis Patrizia.


Bukannya menurut Viggo malah memeluk Patrizia erat. "Biarkan seperti ini sebentar saja, aku sangat merindukan mu."


Patrizia mendengus tidak mungkinkan ia menyerang putra mahkota terlebih ini di istana, bisa gempar semua orang. Biarkan saja untuk kali ini, ia akan membalasnya nanti. Kalau ingat!


Sementara itu, Argus tengah menatap pemandangan yang membuatnya ingin tertawa. Bagaimana tidak tertawa? Lihatlah keadaan Sienna dan para antek-anteknya, sangat mengenaskan. Mereka semua terjerumus masuk ke dalam sebuah kubangan besar dan dalam yang penuh dengan lumpur. Kubangan itu di buat oleg Argus dengan kekuatannya. Setelah itu Argus kembali ke kastil Patrizia dengan berteleportasi.


...🍃🍃🍃...


Malam harinya, pesta penyambutan kaisar pun di adakan di aula istana. Semua mata tertuju pada sang kaisar saat pintu itu terbuka.


"Ya Dewa, kaisar sangat taman."


"Beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya."


"Kaisar jadikan aku selir mu."


"Eh.. Siapa perempuan yang menggandeng tangan putra mahkota?"


"Bukankah itu..


..Lady Letizia."

__ADS_1


Patrizia menghela napas mendengar ucapan terakhir itu. Kenapa ia harus terjebak dengan kaisar dan putranya?


FLASH BACK ON


"Bagaimana keadaan mu, lady?" tanya kaisar Jerome.


Jerome Troye Clinton, 25 tahun, sang kaisar dari kekaisaran benua timur. Jerome adalah seorang duda beranak satu, istri Jerome meninggal saat melahirkan Liam Troye Clinton, putra mereka lima tahun lalu.


"Sudah jauh lebih baik kaisar."


"Terimakasih."


Ucapan kaisar itu membuat orang yang mendengarnya menganga tak percaya.


Patrizia tersenyum. "Iya kaisar, saya hanya melakukan apa yang memang harus saya lakukan."


Jerome mengernyit, ia tidak mengerti maksud dari ucapan gadis di hadapannya itu dan saat Jerome akan menanggapi tiba-tiba saja pengasuh putra mahkota datang dengan tergesa-gesa.


"Maaf Yang Mulia." ucap sang pengasuh seraya menunduk.


"Ada apa?"


"Putra mahkota mengalami demam Yang Mulia."


Mendengar sang putra sakit, Jerome langsung pergi menemui putranya itu.


Hati Jerome berdenyut saat ia mendengar tangisan putranya, entah apa yang terjadi tiba-tiba saja Liam mengalami demam tinggi dan terus saja menangis padahal tabib sudah memberikan ramuan untuk menurunkan demamnya.


Jerome menggendong Liam mencoba menenangkan putranya itu tapi Liam terus saja menangis.


Patrizia menghela napasnya kasar, gadis itu sedari tadi berdiri di ambang pintu dan tidak ada yang menyadarinya karena semua orang yang ada di dalam kamar itu hanya fokus pada Liam.


Patrizia masuklah, hanya kau yang bisa menenangkan putra kaisar.


Ck! Iya.


Dengan langkah lebar Patrizia masuk dan langsung mengambil Liam dari gendongan Jerome tanpa mengatakan apa pun. Mari beri tepuk tangan atas keberanian Patrizia itu.


"Tenanglah." ucap Patrizia seraya menepuk-nepuk punggung Liam dan seketika itu juga tangisan Liam berhenti.


Liam mengenali suara dan pelukan itu, anak berusia lima tahun itu menatap Patrizia seraya tersenyum. "Ibu.."


Eh..


Bukan hanya Patrizia yang terkejut mendengarnya semua orang yang ada di ruangan itu juga terkejut termasuk sang kaisar.


"..ibu dari mana saja, Liam rindu ibu." lanjut Liam seraya memeluk Patrizia erat.


Patrizia mengerjabkan matanya berkali-kali, situasi macam apa kah ini?


Ruben, apa yang terjadi?


Bocah itu menganggap mu sebagai ibunya.


Hah?


Saat kau menyelamatkannya tadi, bocah itu merasakan kenyamanan yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun ketika kau memeluknya karena itu ia menganggap mu sebagai ibunya.


"Ibu, ibu kenapa? Apa ibu sakit?"


Patrizia diam.

__ADS_1


Liam kembali menangis. "Maafkan Liam ibu, karena Liam ibu kesakitan. Hiks maafkan Liam ibu." tubuh Liam bergetar.


Patrizia kenapa kau diam saja? Tenangkan dia, anggap saja ini sebagai latihan sebelum kau menjadi seorang ibu yang sesungguhnya.


Ck! Diamlah!


"Tidak, i-ibu baik-baik saja." ucap Patrizia kaku, sangat kaku.


Patrizia membaringkan Liam di ranjang. "Liam harus istirahat supaya cepat sembuh." Patrizia menarik selimut untuk menutupi tubuh mungil Liam. "Liam tidur ya."


Liam mengangguk. "Tapi Liam ingin tidur bersama ibu."


Patrizia ikut berbaring di sebelah Liam, anak itu langsung saja memeluk Patrizia erat. Tak lama mereka pun masuk ke alam mimpinya masing-masing.


Sang pengasuh yang usianya di atas 50 tahun itu menyeka air mata di sudut matanya. "Yang Mulia, saya rasa putra mahkota menganggap lady Letizia sebagai ibunya. Sedari tadi memang putra mahkota selalu bertanya di mana ibunya sampai putra mahkota demam tinggi, saat itu saya tidak mengerti tapi sekarang saya mengerti."


"..ini pertama kalinya saya melihat putra mahkota dekat dengan orang asing, sebelumnya jangankan bisa memeluknya, putra mahkota bahkan tidak pernah menatap orang-orang di sekitarnya, putra mahkota anak yang sangat tertutup."


"..saya rasa ini sudah waktunya Yang mulia membuka hati, putra mahkota butuh sosok ibu dalam hidupnya."


Jerome menatap Rina, pengasuh anaknya yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Rina juga yang mengasuh Jerome saat ia kecil.


"Haruskah?"


...🍃🍃🍃...


"Eughh.." Patrizia membuka matanya, ia tersenyum menatap Liam yang tertidur sangat nyenyak dalam pelukannya. Wajah Liam saat tertidur sangat menenangkan.


Patrizia merasa ada orang yang menatapnya, gadis itu membulatkan matanya saat menyadari jika Jerome berbaring seraya menatapnya di sisi lain Liam. "Kaisar!" pekiknya.


"Sttt.." Jerome menaruh telunjuknya di bibir ceri Patriza. "Pelankan suara mu, Liam bisa terbangun, dia sangat sensitif."


Dan benar saja apa kata Jerome, Liam terbangun dari tidurnya. "Ibu." ucapnya ceria seraya mengecup pipi Patrizia. Demam Liam sudah turun bahkan sekarang anak itu terlihat sangat sehat.


Patrizia melotot. Apakah dia baru saja di lecehkan seorang bocah? Pipinya sudah tidak suci lagi.


Jerome yang melihat itu pun merasa kesal. Bisa-bisanya ia kalah start dari bocah yang sialnya itu adalah anaknya sendiri.


Setelah mendengar omongan dari Rina tadi, Jerome sudah memutuskan jika hanya Patrizia lah yang akan menjadi permaisuri sekaligus ibu dari anaknya.


"Sebaiknya kita bersiap untuk menghadiri acara malam nanti."


"Baiklah, kalau begitu saya pamit kaisar."


"Hm bersiaplah, aku akan menjemput mu, kita akan datang bersama malam nanti."


"Apa?"


FLASH BACK OFF


"Ibu."


Suara lembut itu menyadarkan Patrizia dari lamunannya. Kini ia dan Liam tengah duduk bersama Reonal sedangkan Jerome sedang berbicara dengan raja dan ratu.


"Iya."


"Aku mengantuk." ucap Liam seraya mengucek matanya.


"Pergilah Zia, kakak yang akan memberitahu kaisar."


"Iya kak, terimakasih."

__ADS_1


Patrizia dan Liam pun meninggalkan pesta itu.


Sienna yang melihat kedekatan Patrizia dan putra mahkota Liam pun mengepalkan tangannya menahan amarah. "Harusnya aku yang ada di posisi itu! Bukan kakak ku yang tidak berguna! Lihat saja kakak hidup bahagia mu itu akan segera berakhir! Tunggulah kehancuran mu!"


__ADS_2