The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 17


__ADS_3

"Siapa nama mu?" tanya Patrizia seraya mengobati luka pria bermata merah itu. Saat ini mereka sudah berada di kediaman Patrizia sedangkan Celia sudah kembali ke istana.


"Argus."


"Lebih tepatnya. "Patrizia menyeringai seraya menatap Argus. "Argus Filch sang raja iblis. Benar atau benar?"


Raja iblis itu tersenyum manis versi dirinya sedangkan orang yang melihatnya akan bergidik ngeri.


"Saat pertama aku melihat mu di hari berburu itu aku sudah tahu, kau sangat berbeda tidak, bukan berbeda tapi menarik."


"Kau sudah mengawasi ku sejak saat itu rupanya."


"Dan kau sudah mencari ku sejak lama." Argus menyeringai. "Tapi kau tidak sadar jika orang yang kau cari ada di dekat mu dan selalu mengawasi mu."


"Jika kau sudah tahu, kenapa kau tidak tunjukkan diri mu itu lebih cepat? Membuang waktu ku saja.


Argus terkekeh. "Sekarang kau sudah menemukan ku, katakan apa mau mu?"


Patrizia berdecak. "Bukankah kau sudah tahu apa mau ku?"


"Entahlah, hanya ada dua jenis orang yang ingin bertemu dengan ku. Pertama, orang yang serakah dan yang ke dua gadis pemilik sihir suci."


"Berhentilah berpura-pura tidak mengetahui apa pun." ucap Patrizia dengan meninggikan nada suaranya.


"Gadis pemarah."


Patrizia menghela napasnya kasar. Kenapa pria di sini ini tidak ada yang waras.


"Baiklah, aku akan membantu membangkitkan kekuatan sihir hitam dalam diri mu itu jika hanya kau mengizinkan ku tinggal bersama mu."


Patrizia menatap Argus datar. "Lakukan apa yang kau mau."


Argus tersenyum smirk. "Jika seperti itu, puaskan aku di ranjang."


Patrizia menatap tajam Argus, gadis itu mengeluarkan aura yang negatif dan tanpa di sadarinya iris biru laut itu berubah menjadi merah darah. Argus menyeringai melihat itu. Pancingannya berhasil.


"Aku hanya bercanda, tekanlah aura negatif mu itu jika tidak kau akan kehilangan pengawal dan pelayan pribadi mu itu."


Patrizia melihat ke arah Samuel dan Imelda yang tengah kesakitan. Kedua orang itu memegang leher seperti tengah menahan sesuatu yang mencekiknya, mereka kesulitan bernapas.


Patrizia menutup mata lalu membukanya kembali, iris matanya kembali berwarna biru laut. Seketika itu juga Imelda dan Samuel jatuh pingsan.


"Apa yang terjadi?" tanya Patrizia bingung.


"Kau baru saja mengeluarkan aura negatif dari sihir hitam dalam tubuh mu."


"Sihir hitam?"


"Ya, aku sudah membangkitkan sihir hitam dalam tubuh mu, tapi kau harus mengendalikan kekuatan mu itu jika tidak, ya kau sendiri lihat akibatnya, tanpa kau sadari kau akan membunuh orang yang ada di sekitar mu."

__ADS_1


"Kenapa tubuh ku rasanya lelah sekali?"


"Setiap kali kau menggunakan kekuatan sihir hitam kau akan kehilangan banyak mana karena itu kau harus terus berlatih." jelas Argus.


"..sebaiknya kau istirahat di kamar mu, aku yang akan mengurus mereka."


"Hm."


...🍃🍃🍃...


Satu minggu kemudian..


Prang


Suara pedang yang di lemparkan Patrizia menggema di ruangan itu. Ini yang ke 37 kalinya gadis itu memenggal kepala penyusup selama satu minggu ini. Setiap harinya ada saja orang yang menyusup ke kastil, mereka semua berniat untuk membunun Patrizia tapi tidak ada satu pun yang berhasil.


Awalnya memang hanya satu orang yang mencoba membunuhnya dalam sehari tapi tiga hari belakangan ini jumlah itu bertambah. Sekitar empat sampai tujuh orang mencoba untuk membunuh Patrizia setiap harinya.


"Sam.."


Samuel mengangguk kemudian memasukkan bagian tubuh yang sudah di cincang itu ke dalam wadah lalu membawanya untuk di berikan pada Rex.


Patrizia menghela napasnya. "Ini sangat membosankan." ucapnya seraya mendaratkan bokongnya di sofa.


"Maaf lady, ini ada surat dari panglima Reonal." Imelda memberikan surat itu pada Patrizia.


"Hm." Patrizia menerima surat itu.


Patrizia membaca surat itu.


Untuk adik ku tersayang..


Apa kabar Zia, maaf dalam waktu dekat ini kakak tidak bisa mengunjungi mu, kau sendiri tahu dua minggu lagi kerajaan kita ini akan kedatangan tamu Yang Mulia Kaisar dari kekaisaran benua timur, kakak sangat sibuk mengurus semuanya.


Ada hal yang ingin kakak sampaikan dalam surat ini. Kakak ingin memberitahu soal Sienna, adik kecil kita itu merencanakan sesuatu yang buruk untuk Yang Mulia Kaisar tapi maaf Zia, kakak tidak tahu apa rencananya. Hanya itu saja yang kakak tahu, semoga itu bisa membantu mu.


Jagalah diri mu Zia, kakak sangat merindukan mu. Kakak tunggu kamu di istana dua minggu lagi, kau harus datang kakak menunggu mu.


Salam dari kakak yang sangat menyayangi mu.


"Bagaimana aku bisa melupakan bagian terpenting itu?"


Patrizia kembali mengingat alur novel di mana Sienna akan bertemu dengan Kaisar dari kekaisaran benua timur untuk pertama kalinya. Menurut Novel, Sienna akan menyelamatkan putra dari kaisar yang akan terkena panah beracun.


"Ruben, apa bagian itu alurnya juga berubah?"


Entahlah, ku rasa tidak.


"Setelah aku melihat sifat asli Sienna, aku ragu dia dengan suka rela menyelamat putra kaisar. Kurasa serangan itu adalah rencana Sienna."

__ADS_1


Kau benar. Dan tugas mu sekarang, menggagalkan rencana Sienna. Jangan sampai dia mendapatkan dukungan dari kaisar.


"Hm."


...🍃🍃🍃...


Dua minggu kemudian..


Kini Patrizia sudah berada di tengah hutan, gadis itu sedang menunggu rombongan dari kekaisaran benua timur.


"Ck! Kenapa lama sekali. Aku sudah lama menunggu. Kaki ku sangat pegal." keluh Patrizia.


Ruben memutar bola matanya malas. Apa katanya? Lama sekali? Ck! Padahal ini baru lima menit.


Patrizia mendapat pesan dari Argus lewat telepati.


Zia, aku sudah mengurus Sienna, adik mu itu sudah terjebak dalam rencana ku.


"Raja Iblis itu ternyata sangat berguna."


Patrizia lihat arah jam 12.


Patrizia melihat ke arah yang di sebutkan Ruben. Seringai muncul di bibir tipisnya. Di sana terlihat rombongan kereta kuda dari kekaisaran benua timur di cegat oleh pasukan bertopeng. Setelahnya pertarungan pun tak bisa di hindari. Kekuatan pasukan kekaisaran jelas lebih unggul dari pasukan bertopeng itu, terlebih kaisar sendiri juga ikut dalam pertarungan itu. Kaisar dari benua timur itu adalah seorang tiran, ia bisa menghabisi banyak musuh hanya dengan sekali mengayunkan pedangnya saja, sangat mengagumkan.


Patrizia hanya menonton pertarungan itu dengan santai. Tapi tetap mata elangnya mengawasi seseorang dari pasukan bertopeng itu yang bersembunyi di balik pohon.


Orang itu memegang sebuah busur dan anak panah yang akan di targetkan untuk sang putra kaisar yang berada di dalam kereta kuda bersama pengasuhnya.


Perlahan orang itu mengangkat busur dan kemudian melepaskan anaknya. Anak panah itu meluncur dengan sangat cepat ke arah kereta kuda dan..


Ctass..


Anak panah itu menancap dengan sempurna di lengan seseorang yang ada di dalam kereta kuda itu.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Patrizia sebelum seraya menahan sakit.


Ya, orang yang terkena panah itu adalah Patrizia. Anak panah itu memang meluncur sangat cepat tapi tidak secepat kekuatan teleportasi yang di lakukan Patrizia.


Setelah orang itu melepaskan anak panahnya, Patrizia langsung berteleportasi masuk ke dalam kereta kuda itu. Patrizia memeluk seorang anak laki-laki berusia lima tahun itu dengan erat.


Akh


Teriakan yang terdengar dari dalam kereta kuda itu berhasil menghentikan gerakan kaisar yang akan menebas kepala pria bertopeng di hadapannya, tanpa membuang waktu sang kaisar langsung berlari menuju kereta kuda.


Degup jantungnya berdetak tak karuan, ia sangat mengkhawatirkan keadaan putra semata wayangnga.


Kaisar sampai di kereta kuda dan langsung masuk ke dalam. "Apa yang ter-"


Bruk

__ADS_1


Ucapan kaisar terpotong karena tiba-tiba saja ada seseorang yang menubruk tubuh tegapnya, orang itu adalah Patrizia. Posisinya sekarang Patrizia berada di pelukan kaisar. Mereka saling tatap sebelum kegelapan menghampiri Patrizia, gadis itu pingsan.


"Cantik."


__ADS_2