
Aula Istana.
Raja Edgar baru saja membuka acara Debutante untuk para gadis itu. Acara nya sangat ramai. Ada dua ratus lima puluh tiga gadis yang meraya kan acara Debutante nya tahun ini.
Sementara itu Patrizia, Oliver, Reonal, Viggo, Edoardo, Felix dan Steve berada di ruang kerja Viggo.
Patrizia menatap ke enam pria yang berdiri di hadapan nya dengan tatapan yang sulit di artikan yang membuat ke empat pria itu tersipu kecuali Reonal dan Steve.
"Kenapa Zia?" tanya Reonal memecah keheningan.
Patrizia tersenyum. "Tidak ada kak."
Patrizia menghela napas nya dalam. "Semua nya sudah siapa?" tanya nya.
"Iya Zia." jawab Steve.
"Sebelum semua ini berakhir, aku ingin berterimakasih pada kalian semua karena sudah banyak membantu ku dan aku juga meminta maaf atas semua perlakuan ku. Ku harap kalian tidak akan pernah melupakan ku." ujar Patrizia.
Semua nya terdiam mendengar ucapan Patrizia, mereka sibuk dengan pikiran nya masing-masing.
"Kenapa dia berbicara seperti itu? Seakan itu adalah ucapan perpisahan." batin Viggo.
"Apa pun yang terjadi kau harus selamat Lady." batin Felix.
"Firasat ku sangat buruk ku harap semua nya baik-baik saja." batin Edoardo.
"Zia, kau gadis tangguh. Aku sangat yakin kau bisa memenang kan pertarungan terakhir ini." batin Steve.
"Patrizia, kau tidak bisa meninggal kan ku." batin Oliver.
"Kakak sangat percaya pada mu, Zia. Kau pasti selamat." batin Reonal.
"Kenapa kalian semua diam?" tanya Patrizia.
"Sudah lah Zia kita henti kan pembicaraan ini. Setelah semua ini berakhir nanti kita akan berbicara sepanjang hari dan berpesta tentu nya." ucap Reonal.
Patrizia tersenyum. "Baiklah."
"Itu tidak akan terjadi kakak karena setelah semua ini berakhir aku akan pergi. Ku harap saat aku pergi nanti kalian semua akan baik-baik saja." batin Patrizia.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Acara Debutante itu berlangsung sangat meriah dan kini para gadis yang tengah merayakan Debutante nya itu sedang berdansa bersama ayah atau pun kakak laki-laki nya tetapi ada juga yang berdansa bersama laki-laki yang di cintai nya.
Viggo berdansa dengan Celia dan juga Felix berdansa dengan Irene sementara yang lain nya bersiap di posisi nya masing-masing.
Reonal dan Edoardo mengawasi ratu Andora sedangkan Steve dan Patrizia menunggu di halaman belakang istana.
"Patrizia." ucap Steve.
Patrizia menatap Steve. "Kau tahu?"
"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mu dan Duke Oliver." Steve menghela napas nya. "Apa itu benar?" tanya nya kemudian.
Patrizia mengkerut kan kening nya bingung. "Apa?"
"Kau akan pergi?"
"Hmm. Tugas ku di sini hampir selesai setelah nya aku akan kembali ke dunia ku."
"Sejak kapan kau menempati tubuh lady Letizia?"
"Sejak lady Letizia bangkit dari kematian."
"Jadi, saat pengulangan waktu yang kakek lakukan itu bukan jiwa lady Letizia yang kembali melainkan jiwa mu yang tertarik ke dunia ini?"
"Saat kau kembali nanti apa jiwa lady letizia akan kembali ke tubuh nya?"
"Tidak, dia sudah mati."
"Ini bencana. Apa yang akan terjadi di sini setelah kau pergi nanti? Mereka pasti akan mengamuk." Steve bergidik ngeri ketika membayang kan kekacauan yang akan di lakukan para laki-laki yang mencintai Patrizia.
Bukan kah sudah pasti saat lady letizia di nyata kan mati nanti para laki-laki itu akan mengamuk. Semoga saja dunia ini tidak hancur itu pikir Steve.
"Zia, apa kau tidak mencintai salah satu dari mereka?"
"Tidak."
"Duke Oliver? Kau tidak mencintai nya?"
"Tidak."
Steve menjatuh kan rahang nya setelah mendengar jawaban Patrizia. "Kau serius Zia? Kau tidak merasakan apa pun saat bersama dengan Duke Oliver?"
__ADS_1
Patrizia terdiam entah apa yang ada di pikiran gadis itu.
"Zia."
Patrizia masih diam.
"ZIA!" teriak Steve tepat di telinga Patrizia. Patrizia tersentak dan langsung menatap tajam Steve.
Steve menelan saliva nya susah payah sungguh aura yang di keluar kan Patrizia sangat mengerikan. Oksigen di sekitar seakan menghilang hingga Steve kesulitan untuk bernapas.
"Zia, kau ingin membunuh ku?" tanya Steve tersendat-sendat.
Patrizia menutup mata nya kemudian menghela napas nya berkali-kali setelah nya gadis itu kembali membuka mata.
Hah
Akhirnya Steve bisa kembali bernapas dengan normal. Pria itu tidak ingin mati sekarang. Ia masih ingin menikah dan punya anak.
"Kau memang kejam, Zia. Hampir saja kau membunuh ku." kesal Steve.
"Itu salah mu, kenapa membuat ku terkejut." Patrizia tidak mau di salah kan.
"Kau sendiri kenapa melamun? Apa yang sedang kau pikir kan?"
"Tidak ada."
"Kau pikir aku percaya?"
Patrizia menatap tajam Steve.
Steve mendengus kesal. "Baiklah aku tidak akan bertanya lagi."
Patrizia menatap langit bibir ceri itu menyeringai saat melihat bulan yang hampir sepenuh nya berwarna merah. Itu artinya waktu Patrizia di dunia ini hanya tinggal beberapa jam saja.
Melihat Patrizia menatap langit Steve juga melihat ke arah yang di tatap Patrizia. "Apa kau tidak bisa tetap di sini?"
"Ini bukan hidup ku Steve."
"Ya aku tahu tapi.."
"Ck! Diamlah! Sedari tadi kau terus saja bertanya." kesal Patrizia memotong ucapan Steve.
__ADS_1
Steve menyengir. "Maaf."
"Aku akan sangat merindukan mu, Patrizia. Kau sudah seperti adik ku. Aku berharap di kelahiran selanjut nya kau terlahir sebagai adik ku. Aku akan selalu mengingat mu." batin Steve.