
"Patrizia sampai kapan kau akan tetap di sini?" tanya Ruben jengah.
Ini sudah hari ke tiga Patrizia berada di kalung dimensi.
"Kau menghindari Rex?" tanya Ruben lagi.
"Tidak."
"Jika tidak, kenapa kau tidak ingin bertemu dengannya? Apa kau takut hati mu itu akan goyah."
"Tidak."
"Maka buktikanlah. Temui dia."
Patizia memutar bola matanya malas. "Ck! Aku tidak keluar dari kalung dimensi bukan karena aku menghindari Rex tapi emang karena aku sedang fokus berlatih sihir. Kau tahu sendiri bukan? Aku masih belum bisa mengendalikan kekuatan sihir hitam dalam diri ku." jelas Patrizia.
"Jadi kau tidak menghindari Rex?"
"Untuk apa aku menghindarinya?"
"Iya juga, untuk apa kau menghindarinya?"
"Dasar tidak jelas. Sudahlah pergi sana jangan mengganggu ku."
"Iya, maaf Patrizia."
"Hm." Patrizia pun kembali berlatih.
Sementara itu di kamar Patrizia, Oliver masih setia menunggu mata gadisnya itu terbuka. Selama tiga hari itu Oliver tidak pernah meninggalkan Patrizia sedetik pun. Pria itu ikut tertidur di samping Patrizia seraya memeluknya sangat erat seakan gadis di pelukannya itu akan menghilang jika ia melepaskannya.
Oliver termenung, ia teringat kembali pembicaraan Patrizia dan kucing peliharaannya. Walau pun dirinya tidak mengerti apa yang kucing itu katakan tapi ia mendengar dengan sangat jelas ucapan Patrizia.
"Ruben, apa aku kasih tahu saja kak Reo tentang diri ku yang sebenarnya?"
"Tapi jika aku kasih tahu kak Reo, apa dia akan percaya? Apa dia akan menerima ku sebagai adiknya? Atau dia akan mengabaikan ku seperti orang tua ku di sana?"
"Aku tidak tahu bagaimana reaksi kak Reo saat dia tahu jika adiknya sudah meninggal dan sosok adik yang selama ini bersamanya hanya jiwa asing yang masuk ke dalam raga kosong adiknya hanya untuk menjalankan sebuah misi, setelah misi itu selesai jiwa asing itu akan kembali ke dunianya." Patrizia tersenyum miris. "Bukankah itu sangat kejam?"
Oliver juga kembali mengingat pembicaraannya dengan Patrizia saat dirinya menjadi Rex dulu.
Apa maksud dari ucapan mu itu?
"Ucapan yang mana?"
Saat kau mengatakan jika kau hanyalah jiwa asing yang masuk ke dalam raga kosong lady Letizia.
"Ya seperti yang aku katakan. Aku hanya jiwa asing yang masuk ke dalam tubuh Letizia." Patrizia menatap Rex. "Aku bukan Letizia tapi Patrizia"
Rex diam.
Patrizia terkekeh. "Kau pasti tidak mempercayai ku tapi itu kenyataannya."
Serigala itu menggelengkan kepalanya cepat. Aku percaya. Aku mempercayai semua yang kau katakan.
Patrizia tertawa melihatnya. "Kau sangat lucu."
Oliver menghela napasnya dalam, pria itu menatap tubuh Patrizia yang tengah tertidur. "Aku tidak tahu siapa diri mu sebenarnya? Dari mana asal mu? Misi apa yang kau kerjakan sampai kau datang ke dunia ku? Aku tidak tahu semua itu tapi yang aku tahu aku mencintai mu. Aku jatuh cinta pada mu saat pertama kali kita bertemu di hutan waktu itu." Oliver terkekeh, ia mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Patrizia.
"..kau gadis yang sangat berani, jika itu orang lain sudah pasti orang itu akan langsung berlari ketakutan atau bahkan mungkin pingsan saat bertemu dengan serigala tapi kau dengan beraninya menantang ku, kau juga mengatakan jika kau sangat menyukai mata ku dan ingin mengoleksinya."
__ADS_1
"..apa kau tahu? Kau sangat menarik di mata ku saat itu." Oliver membelai pipi Patrizia lembut.
"..aku ingin suatu hari nanti kau tidak hanya menyukai mata ku saja tapi kau juga menyukai diri ku bahkan mencintai ku. Aku menunggu hari itu tiba Patrizia."
"..aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi dari hidup ku. Aku tahu kau akan pergi dari dunia ini suatu hari nanti dan saat hari itu tiba, hari di mana kau kembali ke dunia mu maka saat itu juga aku akan pergi ke dunia mu, bagaimana pun caranya. Aku akan mencari mu dan akan menemukan mu di mana pun kau berada. Setelah aku kembali mendapatkan mu, tidak akan aku biarkan kau pergi lagi dari hidup ku. Itu sumpah ku pada mu Patrizia dan aku siap menerima apa pun resikonya asalkan aku bisa memenuhi sumpah itu."
Cup
Oliver mengecup kening Patrizia penuh cinta. "Aku mencintai mu."
Setelahnya pria itu menelusupkan kepalanya di ceruk leher Patrizia menghirup rakus aroma tubuh yang sangat menenangkan di sana.
...🍃🍃🍃...
Sudah satu minggu Patrizia berada di kalung dimensi, gadis itu terus berlatih tanpa jeda dan di hari ke tujuh ini kerja kerasnya itu membuahkan hasil, Patrizia sudah bisa mengendalikan kekuatan sihir hitam dalam dirinya. Patrizia tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Tetapi kondisi tubuh Patrizia kini sangat lemah, gadis itu sudah terlalu banyak mengeluarkan mana-nya untuk berlatih.
"Kau sungguh luar biasa Patrizia, tidak salah jika Letizia memilih mu untuk menggantikannya."
"Tidak biasanya kau memuji ku. Aneh rasanya."
Zia apa kau sudah selasai dengan latihan mu? Jika sudah cepatlah keluar dari kalung dimensi jika tidak, bisa aku pastikan kastil mu ini akan hancur dalam dua jam kedepan.
Suara frustasi Steve terdengar yang langsung membuat Patrizia terkekeh.
"Ada apa dengan Steve? Kenapa suara terdengar sangat frustasi?" tanya Patrizia.
"Bagaimana tidak frustasi? lihatlah."
Di hadapan Patrizia muncul sebuah layar hologram yang menampilkan suasana tegang yang terjadi di ruang tamu kediamannya. Entahlah bagaimana caranya Ruben melakukan itu.
Patrizia menatap layar hologram itu antusias, ia seperti melihat adegan film secara langsung.
Sementara itu di ruang tamu Patrizia sudah ada enam pria tampan yang entah bagaimana ceritanya mereka bisa datang secara bersamaan ke kastil Patrizia. Mereka adalah Reonal, Viggo, Steve, Edoardo, Felix dan Vincent.
Steve menggelengkan kepalanya lemah. "Dia tidak membalasnya. Mungkin latihannya belum selesai." balas Steve yang juga ikut berbisik.
"Apa sesulit itu berlatih ilmu sihir?"
"Tentu saja terlebih saat ini adik mu itu tengah berlatih mengendalikan sihir hitam dalam dirinya dan itu sangat sulit karena kekuatan sihir hitam itu sangat besar dan berbahaya."
"Apa, Zia akan baik-baik saja?" tanya Reonal khawatir.
"Apa kau tidak percaya pada kemampuan adik mu?"
"Aku percaya, tapi tetap saja mana ada seorang kakak yang senang mengetahui adik kecilnya dalam bahaya?"
"Iya, aku mengerti."
Saat Reonal dan Steve sibuk berbisik keempat pria itu malah saling melempar tatapan tajam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Jangan terlalu tegang Steve nikmatilah drama yang ada di hadapan mu itu
"Zia!!" pekik Steve tak sadar. "Akhirnya kau membalas pe-"
Ucapan Steve terhenti saat ia merasakan banyak tatapan tajam tertuju padanya, pria itu mengedarkan pandangannya dan benar saja keempat pria itu menatap tajam ke arahnya termasuk juga Reonal.
"Steve, bagaimana keadaan adik ku? Apa dia baik-baik saja?" tanya Steve.
Steve katakan pada kakak ku, aku baik-baik saja dan aku sangat merindukannya
__ADS_1
"Katanya dia baik-baik saja dan sangat merindukan mu."
"Steve, apa Zia sudah menyelesaikan latihannya? Kapan dia akan kembali?" tanya Viggo.
Katakan padanya, iya aku sudah menyelesaikan latihan ku dan akan kembali setelah dia pergi.
Steve terkekeh. "Katanya, iya dia sudah menyelesaikan latihannya dan akan kembali setelah kau pergi."
"Jaga ucapan mu Steve! Jangan berbohong!" kesal Viggo.
"Ya sudah jika tidak percaya."
Viggo mendengus kesal. Ia bingung, kenapa Patrizia selalu saja mengusirnya?
"Kesatria Steve bisa anda sampaikan pada lady Letizia jika saya ingin bertemu dengannya. Ada hal yang ingin saya sampaikan, ini penting." ucap Vincent.
Katakan pada Panglima Vincent, aku akan segera menemuinya.
"Dia akan menemui mu nanti."
Sementara itu Edoardo dan Felix masih mencerna situasi yang terjadi.
Steve melihat ke arah Edoardo dan Felix secara bergantian. "Kalian tidak ingin menyampaikan sesuatu pada Zia?"
Viggo, Reonal dan Vincent terkekeh melihat wajah bodoh kedua pria itu.
"Ternyata kalian masih belum tahu." ucap Steve.
"Apa?" bingung Felix.
"Zia, apa aku bisa memberitahu mereka?"
Tentu, tapi biar aku yang memberitahu mereka secara langsung.
Setelah mengatakan itu Patrizia langsung berteleportasi ke ruang tamu, gadis itu duduk di antara Edoardo dan Felix yang memang duduk di sofa yang sama.
Mata Edoardo dan Felix membola saat melihat Patrizia yang tiba-tiba saja duduk di antara neraka. Entah dari mana datangnya gadis itu.
"Sihir teleportasi." ucap Edoardo dan Felix secara bersamaan.
"Steve yang akan menjelaskannya. Aku percaya pada kalian." setelah itu Patrizia melihat ke arah Vincent. "Panglima Vincent, ikuti saya. Kita berbicara di ruang kerja saya."
Vincent menunduk hormat. "Baik lady."
Setelah itu Patrizia melangkahkan kakinya pergi ke ruang kerjanya di ikuti Vincent yang berjalan di belakangnya.
...🍃🍃🍃...
"Jadi, lady Letizia adalah gadis pemilik sihir suci yang di ralamkan ada di kerajaan Archon itu?" tanya Edoardo.
"Iya." jawab Steve.
"Itu artinya kota Alodia kembali indah juga karena sihir lady Letizia?" tanya Felix. Pria itu mengingat keindahan kota Alodia saat ia datang ke kastil Patrizia untuk pertama kalinya. Saat itu ia ingin melihat tambang emas dan berlian milik Patrizia.
"Apa menurut mu setelah kebakaran hebat itu kota Alodia akan kembali indah seperti semula dengan sendirinya?" tanya Steve.
Felix menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Lady Letizia mempercayai kalian karena itu ia memberitahu kalian rahasia ini. Jadi jangan rusak kepercayaannya." ucap Steve.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan menjaga kepercayaannya." ucap Edoardo.
"Aku tidak akan mengkhianati kepercayaan yang lady berikan pada ku." ucap Felix.