The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 48


__ADS_3

FLASH BACK ON


Hari itu duke Oliver tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja. Tiba-tiba saja ia di kejutkan dengan datangnya si kucing Ruben yang malah dengan santainya duduk di meja kerja Oliver.


Oliver ingin sekali memenggal kepala kucing itu tapi tidak bisa mengingat kucing di hadapannya itu adalah kucing kesayangan gadisnya.


"Pergilah kau kucing jelek! Mengganggu pekerjaan ku saja."


"Siapa yang kau panggil jelek, bodoh?"


Oliver tersentak ketika mendengar suara berat pria yang berasal dari kucing yang ada di hadapannya itu.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Oliver menahan marah. Tentu saja marah. Jadi selama ini wujud asli kucing kesayangan gadisnya itu adalah seorang pria.


Oliver menatap tajam Ruben yang kini sudah merubah wujudnya menjadi seorang pria tampan.


Ruben terkekeh melihat wajah penuh amarah Oliver. Ia sangat tahu alasan kemarahan pria di hadapannya itu.


"Apa kau sangat mencintai Patrizia?" tanya Ruben mengacuhkan pertanyaan Oliver sebelumnya. Ruben tersenyum tipis saat tidak mendapat jawaban dari Oliver.


"Aku bisa membantu mu pergi ke dunia Patrizia."


"Bagaimana caranya?"


Ruben tertawa saat Oliver cepat sekali merespon ucapannya. Tatapan penuh amarah pria itu hilang entah kemana dan kini di gantikan dengan tatapan penuh harapan.


"Berhentilah tertawa dan cepat jawab pertanyaan ku!" Amarah pria itu kembali lagi.


"Ck! Dasar pemarah!"


"Jangan bermain-main dengan ku sialan! Atau kau akan mati di tangan ku saat ini juga."


"Kau tidak akan bisa membunuh ku karena aku adalah ma-"


Belum sempat Ruben menyelesaikan ucapannya, Oliver terlebih dahulu menusuk Ruben tepat di jantungnya menggunakan pedang.


"-Malaikat maut," Ruben menghela napasnya kemudian pria itu dengan santainya mencabut pedang yang masih menancap di jantungnya.


Oliver sangat terkejut melihat itu. Mulutnya menganga dan bola matanya nyaris saja keluar. Tapi itu hanya hayalan Ruben saja karena kenyataannya Oliver hanya menatap Ruben datar.


"Aku tidak peduli kau malaikat maut atau apa pun itu. Cepat katakan bagaimana caranya?"


Ruben lagi-lagi menghela napasnya. Menghadapi psikopat gila di hadapannya itu memang harus banyak-banyak sabar.


"Kau harus biarkan Zia mati di dunia ini. Jangan mengorbankan diri mu untuk menyelamatkannya."


"Bagaiamana aku bisa melakukan itu? Aku tidak sanggup melihat gadis ku mati di hadapan ku."


"Kau harus bisa karena itu satu-satunya cara. Biarkan Zia kembali ke dunianya setelah itu aku akan membantu mu pergi menyusul Zia ke dunianya."


"Hm baiklah."


"Ada satu tugas lagi untuk mu."


"Katakan."


"Malam ini adalah gerhana bulan merah kau tahu artinya bukan?"


Oliver menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Saat Zia dan Steve pergi ke hutan bongkarlah kejahatan Ratu Andora dan Sevira. Berikan bukti-bukti yang sudah kau kumpulkan pada Raja Edgar dan Marquess Wilson setelah itu bawa mereka semua ke hutan."


"Apakah setelah semua ini selesai aku akan bersama gadis ku selamanya?" tanya Oliver.


"Tentu karena kalian memang di takdirkan untuk bersama."


Saat acara debutante di mulai Oliver terus saja mengawasi Patrizia. Mata yang biasanya menatap tajam itu terlihat sendu ketika melihat Patrizia dan Steve meninggalkan tempat acara menuju hutan.


"Patrizia Cane. Tunggu aku sayang. Kita pasti akan bersama lagi di dunia mu nanti."


Setelah Patrizia dan Steve pergi Oliver langsung saja menghentikan acara Debutante itu. Tanpa basa basi Oliver memberikan berkas-berkas yang menjadi bukti kejahatan marchiones Sevira dan ratu Andora pada raja Edgar dan marquess Wilson.


"Apa ini maksudnya grand duke Oliver?" tanya Albert menahan amarah.


"Kita tidak punya banyak waktu, nyawa putri mu dan para gadis lainnya dalam bahaya. Kita harus segera pergi ke hutan."


"Ayo kita pergi," ucap Edgar datar.


FLASH BACK OFF


Patrizia menatap Oliver yang baru saja selesai bercerita. "Jadi Ruben yang membantu mu pergi ke dunia ku?"


"Iya sayang."


"Apa kau di sana sudah mati?"

__ADS_1


"Entahlah aku tidak tahu. Dua minggu yang lalu tiba-tiba saja aku sudah terbangun di raga pria ini. Untung saja kau banyak cerita tentang dunia mu jadi aku bisa beradaptasi dengan cepat."


"Bagaimana kau bisa menemukan ku di dunia ini? Kau tahu dunia ini sangat luas."


Oliver tersenyum seraya mengelus kepala Patrizia. "Kamu lupa, bukankah dulu kamu pernah menceritakan tentang organisasi mafia mu itu."


"Ah iya. Mm Rex, siapa nama mu di sini?"


"Oliver Demort. Pengusaha nomor 1 di dunia. Kamu pasti pernah mendengar tentangnya."


"Hm sedikit," Patrizia menatap Oliver intens.


"Kenapa menatap ku seperti itu? Jatuh cinta?" goda Oliver.


"Ck! Bukan seperti itu hanya saja aku baru sadar wajah pria ini sangat mirip dengan wajah mu dulu yang membedakan hanya warna rambut dan iris matanya saja."


"Kau benar mungkin pria ini adalah reinkarnasi ku di masa depan."


"Buku ini?" kaget Patrizia saat Oliver memberikan buku novel yang sama seperti yang di temukannya dulu sebelum dirinya masuk ke dunia novel. "Dari mana kau dapat novel ini?" tanyanya kemudian.


"Buku itu ada di tangan ku saat pertama kali aku terbangun di dunia ini," jelas Oliver.


...🍃🍃🍃...


Patrizia tersenyum puas setelah selesai membaca kembali novel tua yang di temukannya di gubuk. "Queen Of Archon" itulah judul yang dulu tertulis di novel tua itu tapi kini judul novel tua itu berubah menjadi "The Villainess Lady".


"Apa kau puas dengan akhir ceritanya?" tanya Oliver.


"Tentu saja. Semua pengorbanan ku selama ini tidak sia-sia."


Akhir cerita novel "The Villainess Lady".


Raja Edgar menghukum mati ratu Andora dan semua pengikutnya termasuk Sienna. Setelah itu raja Edgar memutuskan untuk menyerahkan tahtanya pada Viggo. Di bawah pimpinan Viggo Kerajaan Archon menjadi kerajaan yang paling makmur dan subur. Semua rakyatnya hidup bahagia. Viggo pun kembali melanjutkan hidupnya dengan menikahi putri mahkota dari kerajaan thone. Mereka hidup bahagia dengan di karuniai dua orang anak satu pria dan satu perempuan.


Begitupun jendral Edoardo dan duke Felix. Edoardo menikah dengan seorang jenderal wanita dari kekaisaran benua timur. Mereka di karuniai seorang anak perempuan yang sangat tangguh. Sedangkan Felix berpasangan dengan seorang Lady bernama Diana. Lady Diana adalah teman satu akademi Irene. Status mereka masih bertunangan dan akan segera menikah.


Semua orang sudah memiliki pasangan hidupnya masing-masing kecuali Steve dan Reonal. Doakan saja semoga jodoh mereka segera sampai. Ada yang ingin mendaftar? Silahkan saja hubungi Ruben.


Patrizia tersentak saat tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Queen


Melihat nama si penelphone langsung saja Patrizia mengangkatnya.


" ... "


"Iya, aku baik-baik saja."


" ... "


"Aku akan segera kesana," Patrizia mengakhiri panggilannya.


"Apa dia Queen yang kau ceritakan pada ku?" tanya Oliver.


"Hm. Rex aku akan ke markas, Queen memanggil ku."


"Aku akan mengantar mu."


"Aku bisa sendiri."


"Tidak ada penolakan sayang."


...🍃🍃🍃 ...


"Kenapa kau menceritakan itu pada dia, dia pasti tidak akan mempercayai ucapan mu, sayang," ucap Oliver setelah Patrizia selesai menceritakan kisahnya yang bertransmigrasi ke dalam novel pada Queen sang ketua mafia.


"Aku percaya karena aku pernah mengalaminya sendiri bahkan sekarang aku harus hidup di raga orang lain karena raga ku sudah menjadi abu," ucap Queen.


"Sungguh?" kaget Oliver.


"Hm. Ck! Ini semua karena malaikat maut bodoh sialan itu!" kesal Queen.


"Malaikat maut?" beo Oliver seraya menatap ke arah Patrizia. Patrizia yang mengerti arti tatapan Oliver pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum geli.


"Apa yang kalian sembunyikan dari ku?" tanya Queen curiga.


"Mm Queen," ucap Patrizia.


"Apa?"


"Seseorang menitipkan salam pada mu."


"Siapa?"


"Ruben."

__ADS_1


"Ruben? Ruben malaikat maut bodoh itu?"


"Iya."


"Tunggu, bagaimana kau mengenalnya?"


"Karena selama aku di dunia novel, Ruben yang membantu dan menemani ku di sana. Katanya itu adalah hukuman dari dewa untuk dia karena sudah salah mencabut nyawa orang. Selain itu dewa juga merubah wujud Ruben menjadi kucing," jelas Patrizia.


"Ya itu memang hukuman yang pantas untuk nya," Queen terkekeh sinis.


"Apa Queen masih marah pada Ruben?"


Florencia menyeringai. "Tentu saja. Kau sangat mengenal ku Zia, aku orang yang sangat pendendam."


"Ruben kita pasti bertemu kembali saat aku akan menemui ajal ku dan akan ku pastikan saat itu juga kau akan menemui ajal mu."


Patrizia meringis. "Semoga hidup mu tenang Ruben."


Florencia Grizelda. Kalian masih mengingat nama itu?


Ya orang yang di panggil Queen selama ini oleh Patrizia adalah Florencia sang ketua mafia Valuenz yang bertransmigrasi ke tubuh seorang istri yang di campakan suaminya akibat kecerobohan dari sang malaikat maut bernama Ruben.


Saat Florencia ke Indonesia untuk membalaskan dendamnya Patrizia tidak ikut serta karena harus menjalankan misi di Italia. Setelah Florencia berhasil menyelesaikan balas dendamnya dan kembali ke Italia ia mendapat kabar buruk jika salah satu anggotanya itu terjatuh ke jurang saat menjalankan misi.


Florencia menyebar seluruh anggotanya untuk menemukan Patrizia. Setelah beberapa jam akhirnya Patrizia berhasil di temukan dalam keadaan sekarat dan langsung di bawa ke rumah sakit. Dokter berhasil menyelamatkan nyawa Patrizia tetapi gadis itu mengalami koma dan setelah satu tahun akhirnya Patrizia siuman.


"Zia, bukankah dia gadis yang sangat menyeramkan. Selama ini ku pikir kau gadis yang paling menyeramkan tapi ternyata masih ada gadis yang lebih menyeramkan dari mu," cetus Oliver berbisik di telinga Patrizia.


"Stttt diamalah! Queen bisa marah nanti," peringat Patrizia.


...🍃🍃🍃...


"Kau menyukainya?" tanya Oliver.


"Hm, ini sangat indah."


Saat ini Patrizia dan Oliver tengah berada di tepi pantai duduk di atas batu karang seraya menikmati indahnya senja.


"Zia, apa kau mencintai ku?"


"Hm."


"Hah? Apa?"


Patrizia menatap Oliver datar.


Grep


Oliver memeluk Patrizia tak lama ia melepas pelukan itu tangan nya terulur megusap pipi Patrizia. Pria itu menatap manik mata Patrizia kemudian dengan perlahan ia mengikis jarak di antara mereka. Wajah Oliver dan Patrizia kini hanya tersisa jarak beberapa senti saja. Kedua nya bisa merasakan hembusan napas masing-masing.


Cup


Oliver mengecup bibir Patrizia kemudian di elusnya bibir ceri yang sedari tadi sudah sangat menggoda nya itu. Oliver kembali mencium bibir Patrizia kali ini dengan ******* lembut yang membuat Patrizia sontak menutup mata nya dan membalas ciuman Oliver. Ciuman itu berlangsung lama.


Oliver menyeka bibi Patrizia yang basah. Napas kedua nya yang memburu menyapu wajah mereka.


"Aku mencintai mu, Patrizia Cane," bisik Oliver di telinga Patrizia dengan deep voicenya yang membuat tubuh Patrizia meremang.


"Aku juga mencintai mu, Oliver Nerithone."


Mendengar ungkapan cinta untuk yang pertama kalinya terlontar dari gadis pujaannya itu membuat garis bibir Oliver melengkung sempurna. Pria itu tidak bisa menutupi rasa bahagianya yang teramat sangat. Melihat Oliver tersenyum Patrizia juga ikut tersenyum.


Entah sejak kapan rasa cinta untuk pria di hadapannya itu hadir dan tanpa ia sadari cinta itu sudah bersarang di hatinya begitu dalam. Patrizia akui sekarang ia memang sangat mencintai pria di hadapannya itu.


"Besok kita akan menikah."


"Hah?"


"Tidak ada penolakan sayang."


"Ck! Kau ini!"


Mereka berdua tertawa. Sorot bahagia terpancar jelas dari mata mereka. Oliver membawa tubuh mungil Patrizia ke dalam pelukan hangatnya. Patrizia membalas pelukan itu dengan eratnya.


"Aku telah percaya suatu hal, yaitu kamu adalah segalanya. Kamu telah mengganti mimpi buruk ku dengan mimpi indah, kegelisahan ku dengan kebahagiaan, dan ketakutan dengan sebuah cinta."


"Terimakasih karena kau telah hadir dalam hidup ku dan memberi ku begitu banyak cinta. Semoga cinta kita abadi sampai maut memisahkan."


THE END


Terimakasih yang udah ngikutin kisah ini dari awal sampai akhir. Terimakasih juga atas semua dukungannya. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam segi apa pun.


Sampai ketemu lagi di kisah kisah yang akan saya tulis selanjutnya. Terimakasih semuanya.


Salam hangat dari author HYUNJI KIM.

__ADS_1


__ADS_2