
Keesokkan harinya.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Patrizia.
Viggo tersenyum menggoda. "Apa kau mengkhawatirkan diri ku?"
Patrizia menatap datar Viggo.
Viggo tersenyum. "Aku baik-baik saja Zia."
"..kau akan pergi?" tanyanya saat melihat Patrizia bangun dari duduknya.
"Hm."
"Kau meninggalkan ku sendiri? Bagaimana jika nanti aku membutuhkan sesuatu? Tubuh ku masih lemah Zia."
"Apa aku pelayan mu?"
"Ck! Setidaknya kau lakukan itu demi teman mu."
"Aku bukan teman mu." setelah mengatakan itu Patrizia langsung pergi dari kamar Viggo.
"Apa itu artinya dia menganggap ku lebih dari sekedar teman?" Viggo tersenyum lebar.
...🍃🍃🍃...
"Aku tidak ingin pulang ayah, aku ingin bersama ibu." rengek Liam.
"Kita harus kembali Liam, nanti kita akan bertemu lagi dengan ibu."
Hari ini Jerome dan Liam akan kembali ke benua timur, Jerome tidak bisa meninggalkan istananya terlalu lama.
"Bisakah ibu ikut bersama kita ayah?"
Jerome menghela napasnya. "Baiklah. Kita akan bertanya pada ibu."
...🍃🍃🍃...
Patrizia tengah menikmati teh chamomile sembari menatap indahnya bunga lavender di taman istana bersama Celia.
"Kakak apa kau tahu?"
"Apa?"
"Kak Zello dan lady Irene sudah meresmikan hubungan mereka."
"Benarkah?"
"Iya. Tapi, ini rahasia."
"Jika rahasia kenapa kau memberi tahu ku."
Celia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kakak jangan beritahu siapa-siapa ya, bisa di penggal kepala aku sama kak Zello nanti."
Patrizia terkekeh.
"Ibu." teriak Liam.
Anak itu berlari menghampiri Patrizia dan langsung memeluknya. Jerome berjalan di belakangnya. Patrizia dan Celia memberi hormat pada Jerome.
"Maaf jika kedatangan kami mengganggu." ujar Jerome.
"Tidak apa Yang Mulia." ucap Patrizia.
__ADS_1
"Ibu, apakah ibu bisa ikut pulang bersama ku?" tanya Liam.
"Hah?" bingung Patrizia, ia melihat ke arah Jerome meminta penjelasan.
"Hari ini kami akan kembali ke benua timur, Liam ingin lady ikut bersama kami." jelas Jerome. "Bagaimana? Apa lady bisa?" tanyanya kemudian.
"Tidak bisa."
Bukan, itu bukan suara Patrizia tapi suara Oliver yang entah datang dari mana, tiba-tiba saja pria itu sudah ada di samping Patrizia.
Jerome mengepalkan tangannya saat melihat tangan Oliver melingkar di pinggang ramping Patrizia.
Rex, apa yang kau lakukan? Lepas! Batin Patrizia.
Diamlah atau aku akan membongkar rahasia mu itu pada Reonal.
Patrizia menatap tajam Oliver. Oliver tersenyum membalas tatapan tajam Patrizia.
"Maaf Yang Mulia kaisar, anda tidak bisa mengajak kekasih-"
"Kekasih?" tanya Jerome memotong ucapan Oliver.
Jerome tentu terkejut mendengar ucapan Oliver setaunya Patrizia sedang tidak menjalin hubungan asmara dengan siapa pun.
"Iya, kami baru saja meresmikan hubungan kami tadi malam." Oliver menatap Patrizia. "Iya kan, sayang?" Oliver semakin merapatkan tubuhnya pada Patrizia.
"Benarkah yang di katakan Grand Duke, Lady?" tanya Jerome.
"Itu-"
Aku tidak main-main dengan ucapan ku tadi.. Patrizia. Bukankah itu nama asli mu?
"..iya itu benar Yang Mulia."
Jerome menghela napas lesu. Raut kecewa terlihat jelas di wajah tampannya tapi pria itu berusaha menutupinya dengan senyuman.
"Terimakasih Yang Mulia." ucap Oliver seraya menatap Patrizia penuh cinta.
"Kalau begitu saya permisi." pamit Jerome seraya menggendong Liam setelahnya mereka pergi dari sana.
"Kalian sungguh memiliki hubungan?" tanya Celia yang sedari tadi diam, gadis itu masih tidak percaya dengan apa yang sudah di dengarnya.
Kemarin ia mendapat kabar jika kakaknya, Zello menjalin hubungan dengan lady Irene dan sekarang ia mengetahui hubungan antara idolanya, Patrizia dan sang Grand Duke yang misterius.
"Apa aku harus membuktikannya?" tanya Oliver.
Celia menganggukkan kepalanya.
Cup
Oliver mengecup bibir Patrizia. "Apa itu sudah cukup?"
Celia kembali menganggukkan kepalanya kaku. Semburat merah muncul di pipinya, ini pertama kalinya ia melihat adegan seperti itu secara langsung. Celia malu dan juga iri di saat yang bersamaan. Dirinya juga ingin seperti itu.
"K-kalau begitu s-saya pamit." ucap Celia gugup setelahnya gadis itu pergi dari sana dengan berjalan cepat.
"Bernapaslah." bisik Oliver di telinga Patrizia dengan suara seraknya.
"KAU!"
Cup
Oliver kembali mengecup bibir Patrizia. Setelahnya pria itu menghilang begitu saja dari hadapan Patrizia.
__ADS_1
Patrizia menghela napasnya kasar.
Zia, datanglah ke kamar Viggo.
Patrizia langsung berteleportasi setelah mendapat pesan dari Steve.
Kamar Viggo.
"Kenapa?" Viggo yang melihat wajah kesal Patrizia.
"Apa?"
"Kau terlihat sangat kesal."
"Tidak. Lupakan itu, kenapa memanggil ku?"
"Ratu Andora berencana untuk membunuh gadis pemilik sihir suci lebih tepatnya pengemis yang menyembuhkan putra mahkota kemarin. Saat ini mereka tengah mencari di mana keberadaannya." jelas Steve.
Patrizia menyeringai. "Baiklah. Aku akan membatu mereka menemukan pengemis itu."
"Apa yang akan kau lakukan? Apa rencana mu?" tanya Viggo.
"..jangan membahayakan diri mu, Zia." lanjutnya khawatir.
Patrizia tersenyum smirk.
...🍃🍃🍃...
Saat ini raja dan ratu berada di kamar Viggo.
"Bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Edgar.
"Sudah jauh lebih baik ayah."
"Istirahatlah."
"Iya."
"..ayah, siapa pelakunya?" tanyanya kemudian.
"Masih dalam penyelidikan, kita akan segera menangkapnya."
Viggo melihat ke arah ratu Andora yang terlihat sangat tenang. Seakan dia tidak pernah melakukan kesalahan padahal sudah jelas dia lah pelakunya. Raja pun sudah mengetahui itu tapi ia tidak bisa berbuat apa pun tanpa adanya bukti.
Ratu Andora sangatlah licik raja sudah tahu itu sejak dulu karena itu ia tidak pernah ingin menikahi Andora. Tapi, karena kelicikannya Andora berhasil menikah dengan Edgar walau hanya menjadi selir. Andora tidak puas akan hal itu karenanya ia merencanakan pembunuhan sang ratu dengan memberinya racun ke dalam tehnya. Racun itu akan menghabisi nyawa ratu secara perlahan.
Andora meracuni ratu selama 10 tahun hingga akhirnya ratu meninggal. Andora memanipulasi kematian ratu, ratu pun di nyatakan meninggal karena sakit bukan karena racun.
Setelah dirinya naik tahta menjadi ratu, Andora juga menginginkan putranya, Zello menjadi putra mahkota. Karena itu Andora juga meracuni Viggo. Andora tidak berencana untuk membunuh Viggo dengan racun itu, racun itu hanya membuat tubuh Viggo lumpuh total. Jika Viggo lumpuh, apa ia masih pantas menjadi putra mahkota? Tentu saja jawabannya tidak. Karena nantinya rakyat akan meragukan kemampuan Viggo. Dirinya saja lumpuh, bagaimana bisa ia memimpin kerajaan ini? Mungkin itu yang akan di pikirkan rakyat nantinya.
Setelah Viggo lumpuh, Andora hanya tinggal menghasut para petinggi kerajaan untuk mencabut tahta Viggo sebagai putra mahkota lalu memberikan tahta itu pada Zello. Rencananya nyaris saja berhasil tapi harus gagal di saat terakhir.
Viggo mengetahui jika ibunya meninggal karena di racuni oleh Andora dari pelayan pribadi ibunya. Satu bulan sebelum meninggal, Ibunya Viggo tahu jika dirinya di racuni oleh Andora dan tentu saja itu sudah terlambat. Ia menceritakan semua itu pada pelayan pribadinya, mereka pun berusaha keras mencari bukti tapi tidak menemukannya. Ratu tidak bisa menuduh Andora tanpa adanya bukti hingga akhirnya ia meninggal tanpa ada yang tahu jika Andora lah yang sudah membubuhnya.
Viggo juga tahu Andora adalah orang yang sudah meracuni dirinya hingga lumpuh. Tapi Viggo juga tidak bisa berbuat apa-apa tanpa adanya bukti. Selama ini ia berusaha keras untuk mendapatkan bukti itu tapi sangat sulit karena Andora sangat lah licik.
"Apa yang kau pikirkan? Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Andora yang sedikit terusik dengan tatapan tajam yang di berikan Viggo untuknya.
Viggo berdehem. "Tidak ada. Maaf ratu jika saya membuat anda tidak nyaman."
"Tidak apa." Andora tersenyum menatap Viggo. "Beristirahatlah putra mahkota, semoga lekas sembuh."
"Lagi-lagi kau selamat. Akan lebih baik jika mata mu itu tertutup untuk selamanya." batin Andora.
__ADS_1
Viggo tersenyum. "Terimakasih sudah mau repot-repot menjenguk saya ratu."
"Dia pandai sekali bersandiwara. Berpuas-puaslah tersenyum seperti itu Andora sebelum Zia merobek mulut busuk mu itu." batin Viggo.