The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 37


__ADS_3

Keesokkan harinya.


Patrizia, Samuel, Imel dan yang menggendong Ruben sudah berada di hutan kerajaan Linch.


Hutan kerajaan Linch ini memang terkenal menakutkan karena di dalam hutan itu ada banyak bandit yang bersembunyi di sana jumlahnya mungkin sekitar ratusan. Para bandit itu berasal dari beberapa kerajaan. Mereka berkumpul semua di sana dan membangun permukiman untuk mereka tinggal karenanya hutan itu mendapat julukan 'sarang bandit'.


Tidak ada yang berani masuk ke dalam hutan itu karena setiap kali ada orang yang masuk ke sana maka orang itu tidak akan pernah kembali.


"Lady sepertinya ada yang mengawasi kita sedari tadi." ujar Samuel.


"Kau benar Sam."


"Lady, apa mereka para bandit itu?"


"Iya."


Aaa


Teriak Imelda saat anak panah itu nyaris saja menembus jantungnya. Jika saja Patrizia tidak menangkapnya Imelda akan langsung tewas saat itu juga.


"Kau baik-baik saja."


Imelda mengangguk kan kepalanya lemah.


Patrizia memberi jarak pada Imelda dan Samuel, Patrizia membaca mantra dan muncul kah sebuah bola besar transparan yang melindungi Samuel, Imelda dan Ruben.


"Kalian tunggu lah di sini, aku akan segera kembali."


"Tapi lady-" ucap Samuel terpotong.


"Aku bisa menjaga diri ku, jangan khawatir." Setelahnya Patrizia menghilang dari sana.


Patrizia kini berada di tengah hutan tepatnya di tempat permukiman para bandit. Dengan langkah lebar Patrizia menghampiri sekumpulan bandit yang tengah minum. Ada tujuh bandit di sana.


Patrizia tahu sekumpulan bandit itu adalah bandit yang paling kuat. Jika mereka ada dalam genggamannya maka Patrizia akan dengan mudah mengendalikan bandit lainnya.


"Permisi."


Suara itu terdengar sangat lembut di telinga para bandit. Para bandit itu menatap Patrizia lapar.


"Ada apa nona?" tanya salah satu bandit, bandit itu berjalan mendekat ke arah Patrizia. Bandit itu berjalan mengitari Patrizia dan saat berada di belakang tubuh Patrizia, bandit itu menghirup aroma rambut Patrizia. Patrizia mengepal kan tangannya erat.


"Aku tersesat, apa kalian bisa membantu ku keluar dari hutan ini?"


Para bandit itu melihat satu sama lain kemudian senyum smirk pun terbit dari wajah mereka.


"Tentu saja nona, kita akan membantu mu ke luat dari hutan ini. Sebelum itu apakan nona ingin beristirahat sejenak di sini, nona pasti lelah setelah berjalan jauh."


"Iya aku sangat lelah, kaki ku juga sangat sakit. Apa aku boleh beristirahat di sini."


Bandit itu menyeringai. "Tentu saja nona, mari ikut saya."


Patrizia berjalan mengikuti bandit itu. Mereka kini berada di depan tenda yang cukup besar.


"Masuklah, nona bisa beristirahat di sana."


Patrizia tersenyum palsu. "Terimakasih."


Saat Patrizia akan masuk ke dalam tenda datang bandit lainnya dengan membawa nampan berisikan makanan dan minuman.


"Nona pasti lapar, saya menyiapkan makanan dan minuman ini untuk nona."


Patrizia tersenyum lebar. "Aku memang sangat lapar, terimakasih."


Patrizia masuk ke dalam tenda itu seraya membawa nampan berisikan makanan dan minuman.


Kedua bandit itu menyeringai saat Patrizia masuk ke dalam tenda.

__ADS_1


"Dia terjebak."


"Gadis bodoh."


Di dalam tenda itu ada ranjang berukuran sedang, lemari kecil, meja dan dua kursi.


Patrizia menyimpan nampan iti di atas meja kemudian gadis itu duduk di kursi yang terbuat dari batang pohon itu.


Patrizia jangan sentuh makanan dan minuman itu. Suara Ruben terdengar.


Kau pikir aku bodoh? Patrizia masih kesal dengan Ruben.


Aku hanya mengingat kan.


Ternyata dia masih marah pada ku. Batin Ruben yang tidak bisa di dengar oleh Parrizia.


Dengan sihirnya Patrizia menghilangkan makanan dan minuman itu.


Setelah beberapa menit kedua bandit itu kembali, mereka menyeringai saat melihat Patrizia yang kepanasan.


"Nona, apa kau baik-baik saja?"


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuh ku, rasanya.."


Kedua bandit itu tersentak saat melihat raut wajah Patrizia, awalnya gadis itu terlihat sangat gelisah tapi sekarang gadis itu terlihat sangat mengerikan. Patrizia menatap tajam kedua bandit itu.


"..aku ingin membunuh kalian berdua."


Haa haa haa


Tawa bandit itu pecah, mereka semakin menatap lapar Patrizia. Gadis di depannya ini sangat menarik.


"Kenapa kalian tertawa? Aku sedang tidak bercanda."


"Lakukan apa mau mu, nona. Kita akan bersenang-senang hari ini."


Argh


Argh


Patrizia munusuk paha kedua bandit itu dengan belati yang ada di kedua tangannya secara bersamaan. Belati itu Patrizia dapat kan dari dalam lemari yang ada di tenda itu.


Sebelum kedua bandit itu datang Patrizia memeriksa apa yang ada di tenda itu dan saat ia memeriksa lemari di sana ada banyak senjata tajam seperti belati, pedang dan busur lengkap dengan anak panahnya. Patrizia pun mengambil dua belati.


"Kenapa kalian berteriak? Apa kalian tidak menyukainya? Katanya tadi ingin bersenang-senang."


"Sialan! Kenapa kau menusuk paha ku?"


"Gadis gila!!"


"Ya, aku memang gila."


Argh


Argh


Patrizia menarik kedua belati yang masih tertancap di paha itu hingga paha itu robek.


...🍃🍃🍃...


Sementara itu di luar tenda banyak bandit yang tengah menunggu giliran. Mereka bisa mendengar dengan sangat jelas suara dari dalam tenda itu.


"Nona, apa kau baik-baik saja?"


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuh ku, rasanya.."


"..aku ingin membunuh kalian berdua."

__ADS_1


Haa haa haa


"Dia gadis yang sangat menarik."


"Aku jadi semakin tidak sabar ingin bermain dengannya."


Para bandit di luar terus mendengarkan suara dari dalam tenda.


"Kenapa kalian tertawa? Aku sedang tidak bercanda."


"Lakukan apa mau mu, nona. Kita akan bersenang-senang hari ini."


"Tentu, kita akan bersenang-senang hari ini."


Argh


Argh


Para bandit semakin bersemangat setelah mendengar teriakan dari dalam tenda. Para bandit itu pikir teriakan itu adalah teriakan kenikmatan.


"Kenapa kalian berteriak? Apa kalian tidak menyukainya? Katanya tadi ingin bersenang-senang."


Mendengar itu para bandit di luar semakin tidak sabar menunggu giliran. Rasanya mereka ingin langsung menerobos ke dalam.


"Gadis- bukan, wanita itu sepertinya sangat berpengalaman."


"Kau benar, aku sudah tidak sabar menikmati tubuh indahnya itu."


"Sialan! Kenapa kau menusuk paha ku?"


"Gadis gila!!"


"Ya, aku memang gila."


Suara dari dalam terdengar lagi, kernyitan muncul di dahi para bandit itu.


"Paha siapa yang tertusuk?"


"Pahanya tertusuk apa?"


"Apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana? Permainan seperti apa yang sedang mereka lakukan?"


"Sebaiknya kita periksa?"


Para bandit yang ada di luar itu masuk ke dalam tenda saat Patrizia menarik belatinya dari kedua paha bandit di hadapannya. Kini di dalam tenda itu ada Patrizia dan tujuh bandit.


"Apa yang kau lakukan?" tanya salah satu bandit.


"Bersenang-senang."


"Tangkap dan ikat dia. Kita beri dia pelajaran sampai dia memohon meminta kematiannya."


Saat para bandit itu akan mendekat ke arah Patrizia tiba-tiba saja mereka kesulitan untuk bernapas. Leher mereka seperti tercekik.


"Kenapa kalian menatap ku?"


"Kau, a-pa yang kau akh l-laku-kan? A-aku ti-akh-dak bisa ber-nap-askh."


"Si-hir akh ga-dis i-itu me-akh me-miliki keku-a-tan akh sihir?


"Ber-henti la-akh, ku mo-hon akh hen-ti-kan i-ini."


"Dengan satu syarat."


"Ka-akh-ta-kan."


"Hidup kalian. Berikan hidup kalian untuk ku."

__ADS_1


Patrizia menatap bandit itu satu per satu. "Mengabdi lah pada ku." gadis itu menyeringai.


__ADS_2