
Setelah dari kediaman Felix, Patrizia kembali ke istana kekaisaran benua timur.
"Bagaimana?" tanya Patrizia.
"Semuanya sudah siap lady." ucap Imelda.
"Kalian akan pergi sekarang?" tanya Jerome.
"Iya Yang Mulia." jawab Patrizia.
"Ibu akan pergi?" tanya Liam.
"Iya Liam, nanti kita bertemu lagi."
"Janji."
"Janji." Patrizia memeluk Liam lalu mencium pipinya. Liam juga membalas mencium pipi Patrizia.
"Jaga diri mu, lady."
"Iya. Terimakasih atas kerjasamanya Yang Mulia."
"Kapan pun lady membutuhkan bantuan ku, datang lah kekaisaran benua timur."
"Tentu. Kami pamit Yang Mulia."
Patrizia, Samuel dan Imelda yang menggendong Ruben pergi dari istana kekaisaran benua timur dengan berteleportasi setelah memberi hormat pada Jerome.
...🍃🍃🍃...
Kerajaan Linch.
Patrizia dan Imelda kini tengah berada di toko roti sedangkan Samuel dan Ruben tengah membeli ikan.
"Lady, anda ingin membeli roti apa?"
"Beli saja semua untuk persiapan."
"Baik lady."
Benar saja Imelda memborong semua roti dari toko itu. Dan tak lama ia kembali bersama seorang wanita paruh baya.
"Maaf lady, nenek ini adalah pemilik toko roti ini. Katanya ingin bertemu dengan lady, nenek ingin berterimakasih karena lady memborong semua rotinya."
Patrizia tersenyum seraya sedikit menunduk kan kepalanya menyapa nenek itu. Nenek itu mengulur kan tangannya dan Patrizia pun menyambutnya dengan hangat.
Patrizia mengernyit saat merasakan tubuh nenek itu menegang setelah bersalaman dengannya. "Nenek apa yang terjadi? Kau baik-baik saja."
"Nenek itu menatap Patrizia dengan tatapan Rumit. "Sihir suci. Jiwa asing."
Kini giliran tubuh Patrizia yang menegang setelah mendengar ucapan nenek itu.
Haa haa haa
Patrizia tertawa canggung untuk menutup rasa gugupnya.
Ruben, siapa nenek ini? Kenapa dia bisa tahu aku jiwa asing.
Patrizia berdecak saat tidak mendapat kan jawaban dari Ruben. Kenapa kucing itu tidak merespon?
Ruben!
RUBEN!
__ADS_1
Nenek itu tersenyum hangat pada Patrizia. "Terimakasih lady karena sudah mau singgah di toko roti sederhana saya ini dan terimakasih juga karena sudah memborong semua roti saya."
"..sebagai ucapan terimakasih mohon terima lah hadiah kecil dari saya ini." nenek itu memberikan sebuah gelang pada Patrizian. Gelang tali berwarna putih dengan bandul bulat kecil berwarna hitam.
Patrizia menerima gelang itu. "Iya nek terimakasih."
Nenek itu kembali mengambil gelangnya dari tangan Patrizia kemudian memakaikannya di tangan kanan Patrizia. "Pakai lah terus gelang ini lady, jangan sampai hilang." ucapnya.
"Iya tentu nek, saya akan terus memakai gelang ini."
"Semuanya akan segera berakhir lady, bersabarlah." nenek itu terkekeh saat melihat raut kebingungan di wajah Patrizia. "Tunggu sebentar lady." setelahnya nenek itu pergi dan tak lama kembali dengan membawa sebuah buku tua kemudian memberikan nya pada Patrizia.
Bola mata Patrizia nyaris saja keluar dari tempatnya setelah membaca tulisan yang tertulis di cover buku tua itu 'Queen Of Archon' dan setelah di lihat lebih teliti lagi buku itu adalah buku yang sama yang Patrizia temukan di guguk sebelum dirinya jatuh ke jurang.
"Lady baik-baik saja? Kenapa lady berkeringat sangat banyak? Apa lady sakit? Ya Dewa.. Bagaimana ini? Saya akan mencari tabib untuk memeriksa keadaan anda, lady."
"Tidak usah Imel, saya baik-baik saya."
"Lady yakin?"
"Hm."
Imelda menghela napasnya lega.
"Imel bisa kamu cari dimana Samuel dan Ruben. Kita harus pergi sekarang, hari juga mulai gelap."
"Baik lady." Imelda menunduk hormat pada Letizia setelahnya ia pergi untuk mencari Samuel dan Ruben.
Patrizia menatap nenek di hadapannya itu. "Bisa nenek jelas kan semua ini?"
"Kejahatan pernah menang sekali tapi tidak untuk yang kedua kalinya." nenek itu tersenyum. "Jangan sia-sia kan pengorbanan nya. Berjuang lah sampai kebaikan menang melawan kejahatan. Dunia ini ada di tangan mu, lady."
"Pengorbanan siapa?"
"Lady."
Suara itu menyadarkan Patrizia dari lamunan nya. Patrizia mengedarkan pandangannya saat tidak melihat nenek itu di hadapannya.
"Dimana nenek itu?"
"Apa yang sedang lady pikirkan sampai tidak sadar jika nenek tadi sudah pergi?"
"Nenek itu pergi?"
"Iya lady. Katanya dia ingin membuat roti lagi."
"Lupa kan itu, dimana Samuel dan Ruben?"
"Kita di sini lady." ucap Samuel yang baru saja memasuki toko roti dengan Ruben yang berjalan di sampingnya.
Patrizia menatap Ruben tajam. Kau harus jelaskan semua ini, Ruben.
Ruben menggesek kan badannya dengan kaki Imelda, Imelda pun membawa Ruben dalam gendongannya.
Patrizia menghela napasnya kasar. "Samuel cari tempat penginapan di sekitar sini, aku sudah sangat lelah."
"Baik lady."
...🍃🍃🍃...
Patrizia kini sudah berada di penginapan. Seharusnya malam ini ia membangun kastil di hutan Linch dengan sihirnya tapi tidak jadi karena mood gadis itu sangat buruk.
"Jadi ini alasan mu meminta ku untuk memborong semua roti di toko itu?" tanya Patrizia.
__ADS_1
"Iya."
"Nenek tadi membahas soal pengorbanan, pengorbanan siapa yang dia maksud?"
"Soal itu tanyakan saja pada Steve. Aku mengantuk ingin tidur. Selamat malam Patrizia." setelahnya tubuh Ruben menghilang begitu saja dari hadapan Patrizia, kucing itu masuk ke dalam kalung dimensi dengan raganya.
Patrizia menghela napasnya kasar. Kemudian itu mengirim pesan lewat telepati pada Steve.
Steve datang lah ke penginapan dekat hutan Linch sekarang juga.
Tak lama setelah itu Steve pun datang.
"Ada apa?" tanya Steve.
Patrizia menunjuk kan buku tua yang di dapatnya tadi dari si nenek.
"Kau sudah bertemu dengan nenek itu?"
"Hm. Bisa kau jelaskan?"
"Mungkin ini sudah waktunya kau tahu."
Patrizia menatap intens Steve menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.
"..kehidupan yang sekarang kita jalani ini adalah kehidupan kedua kita."
"Apa maksud mu?"
"Di kehidupan sebelumnya kejahatan telah mengalah kan kebaikan. Dunia ini hancur. Rakyat sangat menderita, kejahatan terjadi di mana-mana."
"..semua yang terjadi di kehidupan sebelumnya tertulis di buku itu. Kakek yang menulisnya."
Patrizia terkekeh memang benar di cerita novel Queen Of Archon yang bahagia hanya lah kedua pemeran utamanya sedangkan semua rakyat menderita. Saat Zello di nobatkan menjadi raja, ia tidak menjalankan tanggung jawabnya itu dengan baik, yang ia lakukan hanyalah menuruti semua keinginan Sienna. Sienna benar-benar menyetir kehidupan Zello.
"..sesorang yang memiliki kekuatan sihir hitam dan ramalan tentang gadis pemilik sihir suci memang sudah ada di kehidupan sebelumnya tapi gadis pemilik sihir suci itu terbunuh sebelum kakek menemukannya karena itu lah kakek tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengalahkan pemilik sihir hitam itu. Kau juga sudah tahu, pemilik sihir hitam itu hanya bisa di kalahkan oleh kekuatan sihir hitam yang di miliki gadis pemilik sihir suci."
"..sampai pada suatu ketika ada seorang wanita yang datang menemui kakek ku. Wanita itu bertanya pada kakek 'Apa kita bisa mengulang kehidupan ini untuk menghidupkan kembali gadis pemilik sihir suci?' kakek menjawab bisa."
"..dengan sihirnya kakek mengulang kembali kehidupan lima tahun sebelum gadis pemilik sihir suci itu terbunuh tetapi tentu saja akan ada pengorbanan untuk itu."
"Wanita itu mengorbankan dirinya sendiri untuk menghidupkan kembali gadis pemilik sihir suci itu?" tebak Patrizia.
"Kau benar." Steve menghela napasnya berat. "Setelah kehidupan kembali tiba-tiba saja kesehatan kakek memburuk. Karena tentu saja memerlukan banyak mana untuk kembali mengulang kehidupan. Dan belum sempat kakek memberitahu nama gadis pemilik sihir suci itu, Dewa terlebih dulu memanggil kakek."
"..setelah kakek tiada ada seorang nenek yang menemui ayah ku, nenek itu adalah seorang peramal. Nenek itu memberikan sebuah kalung dimensi. Ia mengatakan, kalung dimensi itu milik gadis pemilik sihir suci dan Kalung dimensi itu akan bersinar saat bertemu dengan pemiliknya. Nenek itu juga mengatakan jika gadis pemilik sihir suci itu berada di kerajaan Archon."
"Itu artinya nenek yang aku temui tadi adalah nenek yang sama yang menemui ayah mu? Nenek itu seorang peramal?" tanya Patrizia.
Steve mengangangguk kan kepalanya.
"Setelah itu aku datang ke kerajaan Archon. Aku bertemu dengan Viggo saat di akademi dan dia menjadikan ku sebagai kesatria pribadinya. Dan setelah lima tahun akhirnya aku berhasil menemukan gadis pemilik sihir suci itu."
"Steve, apa kau tahu siapa wanita yang mengorban kan dirinya itu?"
"Aku tidak tahu."
"Apa mungkin wanita itu-"
"Aku juga memikirkan hal yang sama Zia."
"Steve, kita harus segera mendapat kan bukti itu."
"Aku sedang berusaha."
__ADS_1
Ruben tersenyum di ruang dimensi, sedari tadi kucing itu mendengar pembicaraan Patrizia dan Steve. "Kau berhasil Patrizia."