The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 38


__ADS_3

Para bandit itu menyetujui syarat yang di berikan Patrizia. Patrizia pun melepas kan sihir yang mencekik para bandit itu. Para bandit itu kini menganggap Patrizia sebagai pemimpin mereka.


"Aku akan membuat katil yang sangat indah." gumam Patrizia.


Patrizia menutup matanya seraya menggumamkan sebuah mantra dan dalam hitungan detik cahaya terang melingkupi hutan itu lalu ketika cahaya itu menghilang sebuah kastil yang sangat megah sudah berdiri kokoh di hadapannya. Di sisi kiri Kastil megah itu terdapat sebuah bangunan besar untuk para bandit itu tinggal dan sisi sebelah kanannya terdapat lapangan yang sangat.


Patrizia tersenyum puas melihat karyanya itu.


"Ini sangat indah lady." ucap Imelda.


"Lady." ucap Samuel.


"Kenapa?"


"Lihat lah ke belakang."


Patrizia dan Imelda pun melihat ke arah belakang mata keduanya pun membola saat melihat ratusan bandit itu pingsan karena terlalu syok melihat keajaiban yang Patrizia ciptakan.


"Sam, kau urus mereka. Aku akan beristirahat."


"Baik lady." Samuel pun pergi setelah memberi hormat pada Patrizia.


"Dan untuk kau Imel, buat kan aku makanan yang lezat."


"Baik lady."


...🍃🍃🍃...


Eungghhh


Iris biru itu perlahan terbuka. Patrizia melihat ke arah luar jendela. Langit yang tadinya terang itu kini menjadi gelap, hari sudah malam.


"Berapa lama aku tertidur?"


Eh


Patrizia merasakan ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya.


"Aku merindukan mu."


Patrizia sangat mengenali suara itu, siapa lagi kalau bukan Oliver si manusia serigala. Entah sejak kapan pria itu berada di kamarnya.


"Lepas Rex, aku ingin mandi."


"Nanti saja, aku masih ingin memeluk mu."


"Rex." ucap Patrizia datar.


Oliver dengan terpaksa melepas pelukan itu, padahal kan dirinya baru dua jam memeluk Patrizia, itu belum cukup untuknya. Jika bisa ia akan memeluk patrizia sepanjang hari.


...🍃🍃🍃...


Patrizia dan Oliver baru saja selesai makan malam. Kini mereka berada di ruang tamu.


"Imel, di mana Sam? Apa dia masih mengurus para bandit yang pingsan itu?" tanya Patrizia pada Imelda yang tengah memberi Ruben makan.

__ADS_1


"Mm.. Itu anu-"


"Sudah lah sayang mungkin Sam sedang pergi. Kenapa juga mencari pria lain di saat tunangan mu yang tampan ini ada bersama mu."


Patrizia menatap Oliver tajam."Diam lah Rex."


"Apa yang ingin kau katakan tadi?"


"Itu lady, Sam sedang meng-


"Sayang aku mengantuk, kita tidur saja, ini juga sudah larut malam."


Mata Patrizia memicing seraya menatap Oliver. "Kenapa kau terus memotong ucapan Imel? Apa yang sedang kau sembunyikan."


"Tidak, memangnya apa yang bisa aku sembunyikan dari mu?"


"Entahlah. Tapi jika kau berbohong, aku akan sangat marah."


Oliver menelan ludahnya susah payah. Apa yang harus dirinya lakukan untuk bisa lolos dari amukan gadisnya ini. Oliver menyesal. Kenapa juga ia melakukan hal itu?


Oliver menghela napasnya dalam kemudian pria itu mulai menceritakan kejadian yang terjadi tiga jam yang lalu. Tepatnya saat ia baru sampai ke kastil baru Patrizia.


FLASH BACK ON


Oliver pergi ke kastil baru Patrizia dalam wujud serigalanya. Serigala itu berjalan di area kastil. Saat akan merubah wujudnya kembali menjadi manusia tiba-tiba saja ada puluhan anak panah yang di lesakkan para bandit pada tubuh serigala itu.


Para bandit itu mengira jika serigala itu adalah serigala liar dari hutan karena itu mereka memburunya.


Oliver tidak bisa menahan amarahnya kemudian ia menyerang para bandit itu secara brutal. Awalnya memang hanya ada sekitar empat bandit yang memburunya tapi semakin lama bandit itu semakin banyak hingga semua bandit itu kini berkumpul mengurung Oliver.


Samuel yang berada di dalam kastil mendengar suara keributan dari luar karena penasaran Samuel pergi ke luar untuk memeriksanya dan betapa terkujutnya ia saat melihat Rex, serigala Patrizia yang hilang itu tengah di buru oleh para bandit. Samuel ingin menghentikan para bandit itu tapi keadaan sudah sangat kacau, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Mata Samuel nyaris saja keluar dari tempat nya saat serigala itu berhasil mengalah kan puluhan bandit itu dengan sangat cepat. Untung saja para bandit itu tidak mati, mereka hanya mengalami luka cakaran yang tidak terlalu dalam.


"Bagaimana itu mungkin?"


"Sam, suara keributan apa itu?" tanya Imelda yang baru saja datang. Imelda tengah memasak di dapur saat mendengar keributan dari luar kastil karena penasaran Imelda pun pergi ke luar untuk memeriksanya.


"Lihatlah."


"Rex! Sam, bukankah itu Rex?" tanya Imelda.


"Iya itu Rex."


"Ya Dewa.. Kenapa dengan para bandit itu? Kenapa mereka semua terluka?" kaget Imelda.


"Itu karena Rex, Rex yang melakukannya."


"Aku akan membangun kan lady."


Dan saat Imelda akan pergi ke kamar Patrizia tiba-tiba saja serigala itu berubah menjadi sosok pria yang sangat tampan.


"Grand Duke." ucap Samuel dan Imelda secara bersamaan


Oliver berjalan ke arah Samuel dan Imelda.

__ADS_1


"Rex- Eh Grand Duke." Samuel memberi hormat pada Oliver begitu juga dengan Imelda.


"Gadis ku ada di mana?" tanya Oliver. Pria itu bersikap biasa saja sekan tidak terjadi apa-apa.


"Di kamar, lady sedang beristirahat Grand Duke." jawab Imelda.


"Obati mereka."


"Baik Grand Duke." ucap Samuel.


"Kalian tidak melihat apa pun, jangan sampai gadis ku tahu aku yang melukai mereka."


"Mengerti Grand Duke." ucap Samuel dan Imelda secara bersamaan.


Setelah itu Oliver pun pergi ke kamar Patrizia, pria itu membaring kan tubuhnya di ranjang lalu membawa Patrizia ke dalam pelukannya. Sedangkan Samuel di bantu Imelda mengobati para bandit yang terluka.


FLASH BACK OFF


"Kau melukai puluhan bandit itu?" tanya Patrizia menatap Oliver tajam.


"Hanya luka kecil sayang tidak parah."


"Tetap saja kau melukainya."


"Maaf."


"Imel, Sam masih mengobati para bandit itu?"


"Iya masih lady."


Patrizia melihat ke arah Oliver. "Kau bantu aku obati mereka."


"Sudah lah biarkan saja Sam yang mengobati mereka, kita pergi ke ka-" ucapan Oliver terhenti saat Patrizia menghilang dari hadapannya, pria itu menghela napasnya kasar. "Dia lebih memilih mengobati bandit itu dari pada menghabis kan waktu bersama tunangannya. Tenang kan diri mu, Oliver. Jangan sampai kau membantai para bandit itu." setelahnya Oliver pun menyusul Patrizia dengan berteleportasi meninggal kan Imelda yang tengah menahan senyumnya.


"Apakah tadi itu Grand Duke sedang merajuk?"


...🍃🍃🍃...


Baru saja puluhan bandit itu selesai di obati oleh Patrizia, Oliver dan Steve. Para bandit yang tidak ikut bertarung pun membantu mengobati bandit yang terluka.


"Maaf Lady, manusia serigala itu siapa-"


Tawa Patrizia hampir saja meledak saat mendengar ucapan bandit itu. "Dia-


"Kami pasangan suami istri. Pemimpin kalian ini adalah istri saya." Oliver memotong ucapan Patrizia, pria itu melingkar kan tangannya di pinggang ramping Patrizia.


"..kalian semua dengar ini. Dilarang untuk kalian menatap dan berdekatan dengan istri saya. Jika kalian ingin berbicara dengannya, kalian harus menunduk kan pandangan kalian dan kalian jug harus menjaga jarak darinya. Jika sampai di langgar detik itu juga kalian akan mati dengan cara yang sangat menyakit kan."


Patrizia menghela napasnya lelah menghadapi sikap posesif Oliver. Gadis itu pun berteleportasi ke kamarnya.


"Dia meninggal kan ku lagi, kau akan terima hukumannya sayang." batin Oliver.


Oliver menatap semua bandit itu tajam. "Kalian mengerti?"


"Mengerti tuan."

__ADS_1


Setelah nya Oliver pergi menyusul Patrizia ke kamar dengan berteleportasi. Begitu pun dengan Samuel, pria itu pergi kembali ke kastil tentunya dengan berjalan kaki, sangat melelahkan.


__ADS_2