The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 31


__ADS_3

Oliver membawa Patrizia ke hutan tempat di mana pertama kali mereka bertemu. Saat ini mereka tengah memakan buah apel seraya duduk bersandar di pohonnya.


"Kenapa kau membawa ku kesini?" tanya Patrizia.


"Aku hanya ingin mengenang pertemuan pertama kita."


"..sebenarnya saat itu aku aku sudah memperhatikan mu saat kuda yang kau tunggangi itu mengamuk dan aku juga melihat ada orang lain yang memperhatikan mu, orang itu adalah Panglima Vincent."


"..saat Panglima Vincent pergi tiba-tiba saja kuda itu berhenti mengamuk. Saat itulah aku tahu jika kau bisa berkomunikasi dengan hewan. Karena penasaran aku terus mengikuti mu sampai akhirnya kau dan kuda itu berhenti di pohon apel."


Oliver tersenyum. "Kau terlihat sangat lucu saat itu, mata mu berbinar hanya karena melihat buah Apel."


"..dan saat kau membantu rusa yang kesakitan, aku fikir kau akan membatu rusa itu dengan tulus tapi ternyata kau malah membuat kesepakatan. Kau pun mendapatkan hewan buruan tanpa harus bekerja keras." Oliver terkekeh.


"..setelah itu kau pun kembali ke pohon apel, memakan beberapa buah apel lalu tertidur." Oliver berdecak. "Selain licik kau juga ceroboh. Bagaimana bisa kau tidur begitu saja di tengah hutan? Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada mu saat itu?"


"..karena khawatir aku pun mendekat ke arah mu, wajah mu itu terlihat sangat polos saat kau tertidur."


Cerita Oliver terhenti saat mendengar suara dengkuran halus, pria itu terkekeh saat menyadari jika Patrizia tertidur di pelukannya. "Jika kau tertidur dengan siapa aku berbicara tadi?"


Oliver berteleportasi kembali ke kamarnya dengan Patrizia yang tertidur dalam pelukannya.


Dengan perlahan Oliver membaringkan tubuh Patrizia ke ranjang miliknya, menutupi tubuh kecil gadis itu dengan selimut tebal.


Cup


Oliver mengecup kening Patrizia, setelahnya pria itu pergi dari sana.


...🍃🍃🍃...


Eunggghh


Patrizia terbangun dari tidurnya. Gadis itu mengernyit bingung saat menyadari jika dirinya berada di kamar Oliver, bukankah tadi dirinya berada di hutan? Dan juga, sejak kapan ia tertidur? Memikirkan itu membuat kepala Patrizia berdenyut.


"Kau sudah bangun?" tanya Oliver yang baru saja datang. "Bersihkan diri mu, aku akan membawakan mu makan malam."


"Makan malam?" bingung Patrizia. Saat di hutan tadi masih siang hari dan sekarang sudah malam, berapa lama dirinya tertidur.


"Iya, makan malam."


"Berapa jam aku tidur?"


"Tidak lama hanya empat puluh delapan jam."


"Apa? Empat puluh delapan jam? Dua hari? Bagaimana bisa aku tertidur selama itu? Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Tenanglah Patrizia, tidak ada yang terjadi. Tabib bilang kau hanya kelelahan. Bukankah belakangan ini kau terus berlatih?"


"Iya, kau benar."


"Pergilah mandi, aku akan membawa makanan untuk mu."


"Hm."


Setelah mandi Patrizia pun makan makanan yang di bawakan Oliver untuknya setelah itu mereka menikmati indahnya langit malam di balkon kamar.


"Gerhana bulan merah.." ujar Patrizia.

__ADS_1


Oliver menatap Patrizia intens, pria itu menunggu kelanjutan ucapan gadisnya.


"..aku akan kembali ke dunia ku saat itu. Saat gerhana bulan merah terjadi kekuatan sihir hitam akan jauh lebih kuat dan saat itulah pemilik sihir akan melakukan ritual terakhir untuk menyempurnakan kekuatan sihir hitamnya. Dan aku harus menggagalkan ritual terakhir itu. Jika berhasil aku akan kembali ke dunia ku."


"Bagaimana jika kau gagal?"


"Tentu saja aku akan mati di tangan penyihir itu."


"PATRIZIA!!" sentak Oliver, pria itu menatap Patrizia tajam. "Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi, kau akan selamat dan akan aku pastikan itu."


"Jika aku selamat itu artinya aku berhasil dalam misi ku dan setelah itu aku akan kembali ke dunia ku."


"Selamat atau pun tidak pada akhirnya aku akan tetap meninggal kan mu jadi menyerah lah Rex jika di teruskan hanya luka yang akan kau dapatkan. Nikmatilah hidup mu, jangan membuang waktu mu yang berharga hanya karena diri ku. Kau ber-hmptt."


Ucapa Patrizia terhenti saat Oliver dengan buasnya ******* bibir ceri Patrizia. Patrizia terengah saat Oliver melepas ciumannya.


"KAU GILA!!" sentak Patrizia.


"IYA AKU GILA!! Gila kerena mu Patrizia."


Grep


Oliver memeluk Patrizia erat, sangat erat. Setelahnya terdengar suara isakan.


Patrizia mengernyit. "Kau menangis?" tanyanya tidak percaya.


"Tidak." suara Oliver terdengar serak.


Patrizia melepas pelukannya, Oliver pun dengan cepat menghapus air matanya.


"Aku tidak menangis. Seorang Grand Duke Oliver menangis? Itu tidak mungkin."


"Ck! Tinggal mengaku saja apa susahnya. Kenapa juga dia menangis?"


Patrizia tidak peka.


...🍃🍃🍃...


Keesokkan harinya.


Suasana di rumah salah satu rakyat yang ada di dekat perbatasan mendadak menjadi mencekam karena ada sekelompok pemberontak yang jumlahnya sebelas orang bersembunyi di sana. Para pemberontak itu menyandera pemilik rumah dan seluruh keluarganya.


Tak lama pasukan kesatria Grand Duke datang melakukan oprasi penyelamatan. Para kesatria itu masuk ke dalam rumah yang di pimpin oleh seseorang yang memakai topeng.


Kemudian orang yang memakai topeng itu menyerang kelompok pemberontak seorang diri sedangkan para kesatria Grand Duke menyelamatkan sandera.


Orang yang memakai topeng itu adalah Patrizia.


Suara pedang yang saling berbenturan itu terdengar sangat nyaring. Bau anyir darah menguar bercampur dengan udara. Topeng yang menutupi wajah Patrizia pun penuh dengan darah.


Tak membutuhkan waktu lama Patrizia berhasil mengalahkan seluruh pemberontak yang jumlahnya sebelas orang. Patrizia tidak langsung membunuh para pemberontak itu, dirinya ingin bermain-main terlebih dahulu.


Saat sarapan tadi tiba-tiba saja kesatria yang berjaga di perbatasan melapor pada Oliver jika ada pemberontak yang bersembunyi di rumah rakyat yang ada di sekitar perbatasan. Patrizia yang mendengar itu pun sangat bersemangat.


FLASH BACK ON


Patrizia dan Oliver tengah menikmati sarapan mereka masing-masing. Suasana terlihat sangat canggung. Sebenarnya yang canggung itu hanya Oliver sedangkan Patrizia tidak sama sekali, gadis itu bersikap seperti biasanya.

__ADS_1


"Sial! Kenapa ini sangat canggung? Kenapa juga aku menangis di hadapan Patrizia kemarin? Itu sangat melakukan!" batin Oliver.


"Hormat saya Grand Duke. Maaf atas kelancaran saya. Ada hal penting yang harus saya sampaikan." ujar kesatria. Kesatria itu terpaksa mengganggu sang Grand Duke yang tengah sarapan bersama gadisnya.


"Katakan." ujar Oliver.


"Ada sekelompok pemberontak yang bersembunyi di rumah rakyat yang ada di perbatasan. Para pemberontak itu menyandera pemilik rumah dan juga seluruh keluarganya."


"Siapkan pasukan terbaik kita."


"Ba-"


"Tidak perlu menyiapkan pasukan, diri ku saja sudah cukup untuk menghabisi para pemberontak itu." ucap Patrizia seraya menyengir.


"Siapkan pasukan terbaik kita." ulang Oliver.


"Baik Grand Duke." kesatria itu pergi setelah memberi hormat pada Oliver dan Patrizia.


"Rex."


"Aku akan segera kembali."


"Kau mengabaikan ku, Rex?"


"Itu berbahaya Patrizia."


"Kau meragukan kemampuan ku?"


Oliver menghela napasnya dalam. "Baiklah."


Patrizia tersenyum lebar.


FLASH BACK OFF


Setelah para kesatria membawa sandera keluar dari rumah, Patrizia mulai menyiksa para pemberontak yang sudah tidak berdaya itu.


Patrizia menyeringai melihat hasil karyanya, gadis itu mengukir bunga mawar di perut pria yang tengah merintih kesakitan di hadapannya. Bunga mawar adalah karya ketiga yang Patrizia ciptakan. Sebelumnya gadis itu mengukir pedang dan kucing di paha dan wajah pemberontak yang lain.


"Rex bagaimana? Indah bukan?" tanya Patrizia.


Oliver terkekeh. Pria itu sedari tadi hanya diam menyaksikan kegilaan gadisnya itu seraya duduk di sofa single. "Sangat bagus." pujinya.


Setelah puas mengukir di perut para pemberontak itu kini Patrizia tengah mencabut semua kuku tangan dan kaki para pemberontak itu secara bergantian.


Suara teriakan dan rintihan itu terus terdengar seperti sebuah alunan musik yang terdengar sangat merdu. Patrizia sangat menyukainya.


Setelah selesai mencabut semua kuku pemberontak itu Patrizia mulai memotong satu persatu anggota tubuh para pemberontak itu. Patrizia juga mengeluarkan semua organ dalamnya.


Patrizia mengeluarkan satu ginjal dan menunjukannya pada Oliver. "Di dunia ku banyak sekali orang yang menjual ginjalnya untuk bertahan hidup."


"Kenapa begitu?" tanya Oliver.


"Karena mereka tidak memiliki barang berharga untuk di jual karena itu mereka menjual ginjalnya."


Setelah mengatakan itu Patrizia kembali melanjutkan kegiatannya. Kali ini gadis itu mencongkel satu persatu mata pemberontak itu. Sebagai sentuhan terakhir Patrizia menebas kepala para pemberontak hingga kepala itu menggelinding seperti bola.


"Kau sudah puas sekarang?" tanya Oliver.

__ADS_1


"Sangat puas." Patrizia menyengir di balik topengnya.


Setelah itu Oliver membawa Patrizia kembali ke kastilnya dengan berteleportasi. Oliver seperti seorang ayah yang sedang mengawasi anak gadisnya bermain.


__ADS_2