The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 30


__ADS_3

Setelah dari kediaman Marquess, Oliver membawa Patrizia kembali ke kediamannya. Pria itu kembali mengurung Patrizia di kamarnya dan sialnya Patrizia tidak bisa menggunakan sihirnya untuk berteleportasi kembali ke kastilnya.


Oliver mengurung kastilnya itu dengan kekuatannya sehingga kekuatan sihir tidak bisa di gunakan di sana.


"Kenapa aku tidak bisa berteleportasi?"


"Sial! Dia pasti mengurung kastil ini dengan kekuatannya."


"REX!!" geram Patrizia.


Tubuh Patrizia tersentak saat sebuah tangan kekar tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. "Kenapa hmm?"


"Lepas!" ucap Patrizia datar.


Bukannya melepas pelukannya Oliver malah membalik kan tubuh Patrizia menghadapnya. Pria itu semakin merapatkan tubuh Patrizia dengannya.


"Tinggal lah di sini bersama ku sayang, itu adalah hukuman mu." Oliver mendekatkan wajahnya dengan wajah Patrizia hingga hidung keduanya bersentuhan.


"..istirahat lah, kau membutuhkan tenaga lebih untuk 24 jam ke depan. Kau tidak lupakan sayang waktu 24 jam mu ke depan adalah milik ku."


Setelah mengatakan itu Oliver menghilang begitu saja dari hadapan Patrizia.


Patrizia menghela napasnya kasar setelahnya gadis itu langsung tertidur dan jiwanya masuk ke dalam kalung dimensi.


Patrizia masuk ke dalam kamarnya di sana, gadis itu mengambil sebuah buku yang di simpannya di laci nakas. Patrizia membuka buku itu lalu membacanya. Di sana tertulis dengan sangat rapih hal-hal penting yang terjadi dalam novel dan juga nama-nama para tokoh dalam novel lengkap dengan peranannya.


Entah kenapa perasaan Patrizia tiba-tiba saja sangat aneh? Gadis itu merasa ada hal besar yang akan terjadi.


"Kau sedang apa?" tanya Ruben yang baru saja datang.


Patrizia menatap Ruben dengan pandangan rumit. Ruben tersenyum melihatnya. kucing itu mengerti arti dari tatapan Parizia.


"Apa yang akan terjadi Ruben? Firasat ku sangat buruk." tanya Patrizia.


"Akan terjadi konspirasi besar yang melibatkan diri mu. Kau yang akan menjadi kambing hitam dalam konspirasi itu. Hanya itu yang bisa aku katakan pada mu."


"Ck! Selalu saja seperti itu! Setidaknya kau memberitahu ku, siapa orang yang melakukan konspirasi itu?"


"Gunakan otak mu, Patrizia. Apa kau tidak bisa menebaknya?"


Patrizia terdiam, kernyitan di dahinya semakin terlihat. Setelahnya mata gadis itu melotot hingga nyaris keluar dari tempatnya.


"Jangan bilang-"


"Tepat sekali. Kau harus menggagal kan konspirasi itu."


Patrizia menghela napasnya kasar. "Kali ini apa yang akan di lakukan penyihir sialan itu?"


"Entah lah. Cari tahu saja sendiri."


"RUBEN!!!"


Kucing itu keluar dari kalung dimensi untuk menghindari amukan dari Patrizia. Setelah tenang Patrizia pun keluar dari kalung dimensi. Gadis itu pun tertidur dengan sangat nyenyak di ranjang milik Oliver.


Tak lama Oliver pun masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuh kekarnya di samping Patrizia. Oliver mengecup kening Patrizia setelahnya ia bawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya.


"Aku mencintai mu." Oliver menelusup kan kepalanya di ceruk leher Patrizia setelahnya pria itu pun tertidur dengan sangat nyenyak.


Kesokkan harinya.


Mata beriris biru itu perlahan terbuka. Patrizia mengerjap kan matanya beberapa kali.

__ADS_1


"Pagi sayang."


Suara bariton terdengar sangat jelas di telinganya. Patrizia harus terus biasa dengan itu mulai sekarang. Patrizia juga harus mulai terbiasa dengan yang satu ini..


Cup


Ciuman, pria di sampingnya itu selalu saja menciumnya tanpa permisi.


Patrizia menyingkirkan tangan Oliver yang melingkar di perutnya setelahnya gadis itu pergi ke kamar mandi tanpa membalas ucapan dan ciuman Oliver.


Oliver terkekeh. "Ya seperti itu lah gadis ku, sangat kasar. Tapi aku menyukainya."


...🍃🍃🍃...


Ruang tamu kediaman Grand Duke.


"Ada apa?" tanya Patrizia.


"Zia, saat malam pertunangan mu, mereka semua berkumpul tapi mata-mata kita tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan." jelas Steve.


"Mereka membuat sebuah konspirasi untuk menjebak ku."


"Apa?"


"Hm. Tapi aku tidak tahu konspirasi seperti apa yang mereka rencanakan. Kau terus awasi mereka. Segera beritahu aku jika terjadi sesuatu."


"Iya. Tapi kenapa mereka mengincar mu? Apa mereka tahu jika kau-"


"Tidak, bukan itu. Mereka belum mengetahui identitas ku. Entahlah kenapa mereka mengincar ku? Tapi sepertinya mereka akan menjadikan ku sebagai kambing hitam dalam konspirasi itu."


"Seperti konspirasi yang mereka lakukan pada Viggo?" tanya Steve.


Mata Patrizia membola mendengar pertanyaan Steve itu. Gadis itu tersenyum lebar.


"Terimakasih Steve."


"Hah? Kenapa kau berterima kasih pada ku? Apa yang aku lakukan?" bingung Steve.


Ruben, apa yang aku pikirkan itu benar?


Iya, mereka akan melakukan konspirasi yang sama seperti yang pernah mereka lakukan pada Viggo.


Dan yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah siapa yang akan mereka korbankan?


Itu yang harus kau pikirkan.


"Zia, ada apa? Kenapa kau melamun?" tanya Steve.


"Tidak ada. Siapa yang melamun?"


Steve menatap Patrizia datar. "Kau tadi melamun Zia."


"Sudahlah lupakan itu, sekarang kau-"


"Pergi dari sini karena aku akan menghabiskan waktu ku bersama tunangan ku." sambung Oliver yang memotong ucapan Patrizia. Pria itu sedari tadi hanya diam mendengar pembicaraan antara Patrizia dan Steve.


"Baiklah Grand Duke saya pamit." ucap Steve memberi hormat pada Oliver.


Steve berdiri dari duduknya kemudian melihat ke arah Patrizia.


Zia, tunangan mu itu sangat menakut kan. Batin Steve.

__ADS_1


"Terimakasih atas pujiannya kesatria Steve." ucap Oliver.


"Hah?" kaget Steve.


"Dia bisa mendengar suara batin mu, Steve." ucap Patrizia.


"Bagaimana itu mungkin?"


Patrizia terkekeh melihat wajah kebingungan Steve.


"Kau tidak jadi pergi kesatria Steve?"


"I-iya Grand Duke saya akan pergi." setelah mengatakan itu Steve menutup matanya kemudian merapalkan sebuah mantra tapi saat matanya kembali terbuka pria itu terkejut karena masih berada di kediaman Grand Duke.


Steve menatap bingung pada Oliver kemudian melihat ke arah Patrizia yang tengah tertawa. Steve terlihat seperti orang bodoh.


"Kau masih di sini kesatria Steve? " tanya Oliver lagi.


"Saya tadi berteleportasi tapi entah mengapa saya masih berada di sini?"


"Jika tidak bisa berteleportasi kenapa kau tidak lari saja?"


Steve menelan salivanya susah payah ketika di tatap tajam oleh Oliver. "Iya, anda benar Grand Duke." Steve pun pergi dari kediaman Grand Duke setelah memberi hormat pada Oliver.


"Bodoh." umpat Oliver. Pria itu sangat kesal pada Steve karena sudah mengganggu waktu kebersamaannya dengan Patrizia.


Lady, saya berada di gerbang kediaman Grand Duke. Suara Vincent terdengar.


Oliver menatap Patrizia. "Sayang, hama itu sudah pergi. Ini waktunya kita ber-"


Ucapan Oliver terhenti saat Patrizia bangkit dari duduknya. "Kau mau kemana?" tanyanya.


"Menemui seseorang."


"Dimana?"


"Gerbang."


"Tetap lah di sini."


Saat Patrizia akan marah tiba-tiba saja Oliver menghilang dari hadapannya dan tak lama pria itu kembali bersama Vincent.


"Waktu kalian hanya lima menit." peringat Oliver tegas.


"Hiraukan saja dia." ucap Patrizia.


Vincent mengangguk. "Lady mereka membuat konspirasi besar dan akan menjadikan lady sebagai kambing hitam dalam konspirasi itu."


Vincent pun menjelaskan secara detail konspirasi itu pada Patrizia. Patrizia hanya diam mendengarkan.


Setelah selesai Vincent pun pergi dari kediaman Grand Duke.


"Apa rencana mu?" tanya Oliver.


"Tidak ada, aku hanya akan mengikuti alurnya saja." Patrizia menyeringai.


Oliver menghela napasnya dalam. "Aku tidak yakin soal itu."


Aaa


Teriak Patrizia saat Oliver tiba-tiba saja menggendongnya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Rex? Turunkan aku!"


"Tidak. Ini waktunya kita bersama sayang." Oliver menatap Patrizia dengan tatapan yang sulit di artikan.


__ADS_2