The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 32


__ADS_3

Setelah kembali ke kastil Oliver, Patrizia langsung saja pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Patrizia membuka topeng yang menutupi wajah cantiknya, ia menatap wajah itu. "Hai Letizia." Patrizia terkekeh. Mata gadis itu berkaca-kaca.


Setiap kali menatap wajah itu di cermin Patrizia merindukan kehidupannya dulu. Patrizia ingin hidup di dalam tubuhnya sendiri bukan tubuh orang lain. Kenapa takdir begitu kejam padanya?


"Ruben, kenapa takdir begitu kejam pada ku?" tanya Patrizia yang masih menatap cermin.


Ruben yang tengah makan ikan bakar di kastil Patrizia langsung berhenti makan saat mendengar suara Patrizia. Ruben tidak tahu harus menjawab apa.


"Kanapa kau diam? Jawab Ruben! Kau kan malaikat, kau tahu semuanya."


Ruben masih terdiam.


Patrizia terkekeh miris. "Kau tidak bisa menjawabnya."


Patrizia dengar, jangan terlalu menyalahkan takdir ketika kehidupan kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tetapi sebaliknya percayalah pada takdir karena takdir akan membawa kita pada tujuan hidup kita sebenarnya dan jangan terlalu membenci takdir yang kejam karena kita tidak pernah tau kebaikan apa yang ada di balik takdir yang kejam itu.


Dengan adanya kau di tempat ini, itu membuktikan jika memang ada kebaikan di balik takdir yang kejam. Kau sendiri tahu seharusnya kau sudah tiada saat kau terjatuh ke dasar jurang. Tapi takdir memberi mu kesempatan kedua untuk kembali hidup. Dan kau pun kembali hidup, kau hanya perlu menyelesai kan misi mu di sini setelah itu kau akan kembali ke dunia mu. Kau bisa kembali menjalan kan kehidupan asli mu.


Bersabarlah sebentar lagi Patrizia, hanya tinggal beberapa bulan lagi. Dan sekarang aku ingin memberi kejutan.


Kejutan?


Iya, lihatlah ke depan.


Di hadapan Patrizia muncul sebuah layar hologram yang menampil kan suasana ruangan yang serba putih. Di ruangan itu terdapat satu ranjang dan banyak peralatan medis. Ruangan itu adalah ruang ICU rumah sakit. Di ranjang itu terlihat seorang gadis yang tengah berbaring lemah dengan banyak alat medis yang menempel di tubuhnya.


Butiran bening itu mengalir deras saat dirinya melihat wajah gadis yang tengah berbaring itu. Itu adalah dirinya, itu tubuhnya, gadis yang berbaring lemah itu dirinya, dirinya masih hidup, raganya juga masih utuh.


Ruben i-itu..


Itu adalah tubuh mu, kau masih hidup Patrizia tapi kau mengalami koma. Kau benar, Queen mu itu menemukan tubuh mu sebelum hewan liar di hutan memakan tubuh mu.


Tangis Patrizia pecah saat melihat tubuhnya sendiri. Dirinya masih hidup. Queen kembali menyelamat kan hidupnya.


Tanpa Patrizia sadari Oliver berdiri di pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat. Awalnya Oliver hanya ingin mengambil baju miliknya tapi karena pintu kamar mandi tidak tertutup rapat Oliver bisa mendengar suara Patrizia yang entah sedang berbicara dengan siapa karena penasaran pria itu pun mengintip. Untung saja Patrizia masih memakai pakaian lengkap jika tidak entah apa yang akan terjadi nanti.


Pria itu mendengar semua yang di katakan Patrizia. Bahkan Oliver sangat terkejut saat Patrizia mengatakan jika Ruben adalah malaikat. Oliver juga melihat wajah asli Patrizia, wajah itu sangat cantik tidak jauh berbeda dengan wajah Letizia hanya saja warna kulit Patrizia sedikit lebih gelap. Menurut Oliver Wajah Letizia itu cantik imut sedangkan Patrizia cantik sexy. Jujur Oliver lebih menyukai wajah asli Patrizia, lebih menggoda.


Malam harinya.


Patrizia dan Oliver baru saja selesai makan malam. Setelah itu mereka pun pergi ke kamar.


"Patrizia tutup mata mu." titah Oliver.


"Apa yang akan kau lakukan? Jangan macam-macam!"


Akh


Pekik Patrizia saat Oliver menyentil dahinya.


"Buang jauh-jauh pikiran kotor mu itu. Aku hanya ingin memberi mu hadiah karena itu aku meminta mu untuk menutup mata." jelas Oliver.


"Ck! Sudahlah jika ingin memberi hadiah langsung saja tidak usah menutup mata."


Oliver menatap Patrizia datar. Pria itu hanya ingin membuat momen romantis bersama gadisnya tapi kenapa selalu saja gagal.


"Ulurkan tangan mu."


Patrizia mengulurkan tangannya kemudian Oliver menaruh sebuah pedang di sana.


Mata Patrizia membola. "Eoh, bukankah ini pedang-" patrizia menatap tajam Oliver. "Jadi kau pria waktu itu?"


"Iya itu aku."


Pedang yang di berikan Oliver itu adalah pedang yang sama yang mereka rebutkan saat di pasar waktu itu. Pedang dengan ukiran pheonix itu.


"Simpan lah pedang itu."


"Jika sekarang kau memberikannya pada ku kenapa dulu kau mencurinya dari ku?" kesal Patrizia.

__ADS_1


"Maaf sayang."


...🍃🍃🍃...


Satu minggu kemudian.


Patrizia kembali ke kastilnya setelah satu minggu tinggal di kastil Oliver. Hari ini Patrizia akan menghabiskan waktunya sendiri tanpa adanya pengganggu.


Kini Patrizia tengah menikmati teh chamomile seraya menikmati keindahan bunga tulip di taman kastilnya.


"Lady, ada kiriman undangan." ujar Imelda yang baru saja datang dengan membawa sebuah undangan.


Imelda memberi kan undangan itu pada Patrizia. Patrizia menerimanya lalu membaca undangan itu.


Patrizia menyeringai setelah membaca undangan itu. "Besok kita akan pergi ke kaisaran benua timur, persiapkan semuanya."


"Baik lady." Imelda pun pergi setelah memberi hormat pada Patrizia.


Keesokkan harinya.


Hari ini Patrizia di temani Imelda dan Samuel akan pergi ke kaisaran benua timur untuk menghadiri acara ulang tahun putra mahkota Liam yang ke enam tahun. Acara ulang tahun itu akan di adakan satu minggu lagi dan butuh waktu empat hari dari kerajaan Archon untuk sampai ke istana kekaisaran benua timur. Patrizia berangkat lebih awal karena permintaan langsung dari Kaisar Jerome tidak mungkin kan ia menolak perintah Kaisar.


Patrizia melakukan perjalanan panjang dan juga melelah kan itu dengan menaiki kereta kuda karena tidak mungkin dirinya pergi ke sana dengan berteleportasi.


Patrizia kini sudah berada di dalam kereta kuda.


Patrizia, kau sudah pergi ke kaisaran benua timur? Suara Oliver terdengar.


Iya.


Aku akan menyusul setelah pekerjaan ku selesai nanti.


Lakukanlah pekerjaan mu, tidak usah terburu-buru.


Jaga diri mu, Patrizia. Aku mencintai mu.


Hari pertama perjalanan menuju kekaisaran benua timur kereta kuda Patrizia baru saja sampai di gerbang masuk kerajaan Archon.


Saat akan kembali melanjut kan perjalanan Patrizia terlebih dahulu pergi ke pasar untuk membeli kan Liam hadiah.


"Apa yang harus aku beli? Kau ada saran?" tanya Patrizia.


"Sebaiknya lady membeli barang yang di sukai putra mahkota Liam."


"Barang yang Liam sukai?"


"..aku tahu apa yang harus aku beli untuk Lian." ucap Patrizia setelah beberapa saat terdiam.


Kini Patrizia, Imelda dan Samuel berada di toko pedang. Ya, Patrizia akan membeli pedang untuk hadiah ulang tahun Liam.


Patrizia menyusuri satu persatu rak yang berjejer, berbagai macam jenis pedang terpajang di sana.


Patrizia mengambil sebuah pedang yang ukurannya pas untuk Liam. Di bagian pegangan pedang itu berbentuk kepala burung elang sangat indah.


"Itu sangat indah lady, putra mahkota Liam pasti sangat menyukainya." ucap Samuel.


"Ku harap juga begitu."


Setelah membeli pedang itu mereka pun kembali melanjut kan perjalanan.


Hari ketiga perjalanan, kereta kuda Patrizia sampai di hutan kekaisaran benua timur hanya tinggal beberapa jam lagi kereta kuda itu sampai ke istana kekaisaran benua timur.


Hari pun sudah mulai gelap, kereta kuda itu terus berjalan menyusuri hutan sampai pada akhirnya tiba-tiba saja kereta kuda itu berhenti.


"Sam, ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Patrizia pada Samuel memang dalam perjalanan ini mereka hanya pergi bertiga dan tentu saja dengan si kucing Ruben, jadi Samuel yang menjadi kusir kereta kuda itu.


"Ada sekelompok orang-orang berbaju hitam menghenti kan kereta kuda kita Lady." jelas Samuel.


"Bagaimana ini lady? Apakah mereka para bandit yang akan merampok kita." tanya Imelda takut.


Ruben, siapa mereka? Tanya Patrizia menatap Ruben yang ada di gendongan Imelda.

__ADS_1


Pembunuh bayaran.


Lagi? Apa orang itu tidak bosan mengirimkan pembunuh bayaran untuk melenyapkan ku.


Dia akan terus melakukan itu sampai kau mati Patrizia.


Patrizia menghela napasnya lelah. "Kurasa mereka bukan bandit."


"Jika bukan bandit, siapa mereka lady?" Imelda beringsut memeluk Ruben dalam gendongannya, tubuh pelayan itu bergetar.


Patrizia menyeringai. "Pembunuh bayaran."


Samuel masuk ke dalam kereta kuda. "Lady benar, mereka pembunuh bayaran."


"APA?" pekik Imelda. "Bagaimana ini lady? Kita dalam bahaya!"


"Bukan kita yang dalam bahaya tapi mereka. Kalian berdua tetaplah di dalam kereta kuda ini, jangan pernah berani keluar. Kalian mengerti?"


"Mengerti." ucap Imelda dan Samuel secara bersamaan.


Patrizia keluar dari kereta kuda langsung di sambut dengan puluhan anak panah yang di lesakkan secara bersamaan ke arah tubuhnya. Saat akan mengenai tubuh Patrizia panah-panah itu terjatuh begitu saja. Para pembunuh bayaran itu melotot melihat itu.


"Bagaimana itu mungkin?"


"Sihir?"


"Gadis itu memiliki ilmu sihir."


"Serang dia!"


Patrizia menatap lima orang pembunuh bayaran itu malas. Di tangan mungil gadis itu sudah bertengger pedang yang di berikan Oliver tempo hari.


Suara pedang yang saling berbenturan itu terdengar sangat nyaring di tengah hutan yang sepi. Tak lama Patrizia sudah melumpuh kan para pembunuh barayan itu. Mereka belum mati, Patrizia hanya memberikan luka ringan untuk ke limanya.


Steve, aku butuh bantuan mu. Datanglah ke hutan kekaisaran benua timur. Sekarang juga!


Setelah memberi pesan itu pada Steve, Patrizia langsung menebas kepala pembunuh bayaran itu satu persatu.


Prok prok prok


Terdengar suara tepuk tangan dari arah belakang, Patrizia sontak membalik kan badannya dan di sana sudah ada Steve.


"Gerakan yang sempurna." puji Steve saat melihat bagaimana gesitnya Patrizia menebas kepala pembunuh bayaran itu dengan sangat cepat. Pria itu kemudian berjalan mendekat ke arah Patrizia.


"Steve, kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?"


"Hm. Aku akan mengurusnya."


Steve menghela napasnya kasar kemudian menatap Patrizia dengan tatapan rumit. "Zia, apa itu mungkin?" tanyanya.


"Kau tidak mempercayai ku?"


"Bukan begitu tapi rasanya itu-" Steve kembali menghela napasnya kasar. "Apa kau sudah memberitahu Reonal yang sebenarnya?" tanyanya kemudian.


"Aku akan memberitahu kak Reo setelah masalah konspirasi itu selesai."


"Baguslah."


"Steve, apa kak Reo akan mempercayai ku?"


"Mungkin awalnya akan sulit tapi kau tidak usah khawatir Reonal orang yang bijaksana dia akan menerima semuanya."


"Ku harap juga begitu."


"Semua akan baik-baik saja Zia, percayalah."


"Hm. Aku akan melanjutkan perjalanan ku."


"Pergilah Zia, jaga diri mu."


"Kau juga."

__ADS_1


Setelah itu kereta kuda milik Patrizia pun mulai meninggal kan tempat itu.


__ADS_2