
Istana kekaisaran benua timur.
Setelah empat hari akhirnya Patrizia sampai di istana kekaisaran benua timur. Perjalanan selama empat hari itu benar-benar sangat melelahkan.
"Ibu." pekik kan itu terdengar menyambut kedatangan Patrizia.
Liam, anak itu berlari menghampiri Patrizia yang baru saja turun dari kereta kudanya. Jerome berjalan di belakangnya. Patrizia, Imelda dan Samuel memberi hormat pada Jerome.
Grep
Liam memeluk Patrizia erat. "Aku merindukan mu, ibu."
Patrizia tersenyum, gadis itu harus kembali bersandiwara. "Iya, ibu juga merindu kan mu."
"Maaf lady, saya sudah memberitahu Liam untuk tidak memanggil mu 'ibu' tetapi anak itu sangat keras kepala, dia tidak menurutinya dan terus memanggil mu 'ibu'. Maaf jika jika itu membuat lady risih." ujar Jerome.
"Tak apa yang mulia, biarkan saja Liam memanggil ku seperti yang dia mau, saya tidak keberatan."
"Terimakasih lady." Jerome meliha ke arah Liam. "Liam antar ibu ke kamarnya."
"Iya ayah." Liam menggenggam tangan Patrizia. "Ayo ibu, aku sudah menyiap kan kamar yang sangat indah untuk ibu, ibu pasti menyukainya."
Liam dan Patrizia yang menggendong Ruben pun pergi ke kamar yang sudah di siapkan Liam untuk dirinya. Empat pelayan dan dua kesatria mengikuti mereka.
"Kalian juga beristirahat lah." ucap Jerome seraya melihat ke arah Imelda dan Samuel.
"Terimakasih Yang Mulia Kaisar." ucap Imelda dan Samuel secara bersamaan seraya menunduk.
"Pelayan bantu mereka." titah Jerome pada pelayan istana.
"Baik Yang Mulia."
Setelah itu Jerome pun menyusul Patrizia dan Liam.
Kamar Istana.
"Ibu istirahat lah, ibu pasti lelah."
"Iya, terimakasih." Patrizia mengelus kepala Liam lembut.
Patrizia membaringkan tubuhnya di ranjang. Gadis itu melihat ke arah Liam yang duduk di sebelahnya.
Ruben, kenapa anak itu tidak pergi? Apa yang dia ingin kan? Tanya Patrizia.
Tidak ada, dia hanya ingin bersama mu saja. Jawab Ruben yang juga tengah mencari posisi yang nyaman untuk tidur.
Patrizia menutup matanya dan tak lama gadis itu sudah masuk ke alam mimpinya. Begitu juga dengan Ruben. Sementara Liam masih terus menatap Patrizia dalam diam. Senyum terus terpatri di wajah tampannya.
Tok tok tok
Jerome masuk ke dalam kamar. "Ibu sudah tidur?" tanyanya.
"Iya ayah, baru saja ibu tertidur."
"Kita keluar sekarang, biarkan ibu beristirahat."
"Tidak ayah, aku ingin terus bersama ibu."
"Baiklah tapi jangan ganggu tidur ibu."
"Iya ayah."
Jerome pun pergi untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
__ADS_1
...🍃🍃🍃...
Eungghh
Iris biru itu perlahan terbuka.
"Ibu sudah bangun?" tanya Liam.
Patrizia tersentak saat melihat Liam masih di tempat yang sama sebelum dirinya tertidur tadi.
"Liam masih di sini?"
"Iya." Liam tersenyum.
Patrizia ikut tersenyum kali ini senyuman itu tulus. Jujur Patrizia sangat tersentuh dengan apa yang di lakukan Liam, anak itu tulus menyanyanginya.
Ruben, aku akan merubah rencana ku.
Kenapa?
Aku tidak ingin melihatnya kesakitan.
Dia tidak akan merasa kesakitan sedikit pun Patrizia, dia hanya akan tertidur selama beberapa jam saja.
Tapi tetap saja.
Itu yang terbaik Patrizia jika kita merubah rencana takutnya itu malah akan membahayakan dirinya. Mereka bisa saja melukainya dengan cara lain.
Patrizia menghela napasnya. Kau benar.
...🍃🍃🍃...
Malam harinya.
"Selamat atas pertunangan mu bersama Grand Duke Oliver, lady."
"Terimakasih Yang Mulia."
Pembicaraan mereka pun berlanjut sampai larut malam. Setelah itu Patrizia kembali ke kamarnya. Di sana ada Liam yang sudah tertidur dengan sangat pula. Patrizia menyelimuti Liam dengan selimut kemudian berbaring di samping Liam dan tak lama gadis itu pun tertidur.
Keesokkan harinya.
Patrizia dan Liam berada di tempat latihan kesatria. Mereka tengah berlatih pedang lebih tepatnya hanya Liam yang berlatih sedangkan Patrizia hanya menungu seraya duduk santai di temani segelas teh dan beberapa camilan manis.
Setelah selesai berlatih anak itu langsung menghampiri Patrizia. Patrizia memberi kan Liam minum kemudian menyeka keringatnya dengan handuk kecil.
"Kau sangat hebat." puji Patrizia.
"Terimakasih ibu."
Patrizia menatap pedang yang di sodorkan Jerome padanya. "Menurut Jenderal Edoardo, lady adalah petarung yang sangat hebat. Apa saya bisa melihat kehebatan itu, lady?"
Patrizia terkekeh. "Tentu."
Mereka pun berjalan ke tengah lapangan yang luas itu. Tanpa basa basi Patrizia langsung menyerang Jerome.
Semua kesatria kagum melihat kemampuan berpedang Patrizia begitu juga dengan sang kaisar. Patrizia bisa mengimbangi kecepatan Jerome. Mereka terus saling menyerang sampai pada akhirnya Patrizia menemukan celah dan langsung saja gadis itu menyerang Jerome secepat kilat.
Sret
Patrizia berhasil melukai lengan kiri Jerome. Patrizia tersenyum melihat itu.
"Aku akui kekalahan ku lady. Benar apa kata Jenderal Edoardo, kau petarung yang hebat."
__ADS_1
"Terimakasih atas pujiannya Kaisar."
...🍃🍃🍃...
Tak terasa sudah dua hari Patrizia berada di istana kekaisaran benua timur. Malam ini adalah malam perayaan ulang tahun putra mahkota Liam.
Perayaan ulang tahun putra mahkota Liam sangat meriah saat siang hari di adakan festival untuk rakyat. Dan puncak acara itu di rayakan di istana pada malam harinya.
Banyak para petinggi kekaisaran maupun kerajaan yang hadir di acara itu.
Pintu itu terbuka setelah pengawal mengumum kan kedatangan kaisar dan putra mahkota. Kaisar dan putra mahkota berjalan beriringan memasuki aula. Mereka terlihat sangat gagah dan menawan.
Acara pun di mulai. Pertunjukan tari dan musik membuka acara itu. Patrizia duduk sendiri seharusnya Oliver menemaninya tatapi pria itu tidak jadi menghadiri acara itu karena terjadi pemberontakan besar-besaran di perbatasan. Bahkan tidak ada perwakilan yang datang dari kerajaan Archon, karena keadaan di sana benar-benar sangat kacau.
Setelah pertunjukan itu selesai kini saatnya pemberian hadiah pada putra mahkota. Para tamu undangan saling bergantian memberikan ucapan dan hadiah pada Liam.
Kini giliran Patrizia yang memberikan hadiah pada Liam. Anak itu tersenyum lebar ke arah Patrizia.
"Terimakasih ibu. Apa aku bisa melihat hadiahnya sekarang?"
"Bukalah."
Mata Liam berbinar saat melihat hadiah itu kemudian Liam mengeluar kan pedang itu dari dalam kotak.
"Apa kau menyukainya."
"Iya ibu, ini sangat indah, aku menyukainya. Mulai sekarang aku akan berlatih dengan pedang ini."
Bruk
Tiba-tiba saja Liam terjatuh, anak itu pingsan. Jerome langsung memberi perintah pada pengawal untuk memanggil kan tabib. Liam pun di bawa oleh Austin sang panglima kekaisaran ke kamar untuk segera di obati.
Sedangkan Jerome langsung menodongkan pedangnya ke arah leher Patrizia.
"Siapa tuan mu?" tanya Jerome dingin.
"Apa maksud yang mulia? Saya tidak melakukan apapun."
"Jika kau tidak melakukan apapun, kenapa putra mahkota pingsan?"
"Saya tidak tahu Yang Mulia, saya juga terkejut saat melihat putra mahkota pingsan."
"Bekerja sama lah dengan ku maka aku akan meringan kan hukuman mu."
"Hukuman? Hukuman apa Yang Mulia? Saya tidak bersalah. Saya tidak melakukan apapun."
Suasana di aula yang tadinya penuh suka cita itu dalam sekejap berubah menjadi sangat mencekap. Aura yang di keluarkan sang Kaisar benar-benar sangat menakut kan.
Jerome menatap tajam Patrizia. "Siapa tuan mu?" tanyanya lagi.
Patrizia terdiam, gadis itu menatap Jerome bingung. Kenapa Jerome sangat marah? Apa pria itu menyalah kan Patrizia atas pingsannya putra mahkota. Yang benar saja! Kenapa Patrizia yang harus di salah kan padahal dirinya tidak melakukan apapun.
"Yang Mulia ini-"
"Kau sudah berani melukai anak ku maka terima lah hukuman mu."
Sret
Akh
Tanpa basa basi Jerome langsung memenggal kepala Patrizia di hadapan semua orang.
Jerome menyeringai saat melihat kepala Patrizia yang tergeletak di lantai aula.
__ADS_1