The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 24


__ADS_3

Patrizia menghela napasnya dalam, baru saja kereta kuda rombongan kaisar kerajaan timur meninggalkan istana. Setelah itu Patrizia juga ikut pamit pada raja dan ratu.


Setelah berpamitan Patrizia langsung menaiki kereta kudanya bersama Imelda yang menggendong Ruben sedangkan Samuel mengawal dari depan dengan kudanya. Rombongan Patrizia pun peninggalkan istana.


Membutuhkan waktu dua hari dari ibu kota untuk sampai di kota Alodia. Saat ini rombongan Patrizia berada di tengah hutan ibu kota.


"Kenapa berhenti lady?" tanya Samuel.


"Ada hal yang harus saya lakukan, lanjutkan lah perjalanan kalian."


"Baik lady." jawab Samuel dan Imelda kompak.


Setelah itu Patrizia berteleportasi kembali ke istana tepatnya ke kamar Viggo sedangkan Imelda, Samuel dan Ruben melanjutkan perjalanan mereka kembali ke kota Alodia.


...🍃🍃🍃...


Kamar Viggo.


"Lakukan sekarang."


"Baiklah. Jaga diri mu, Zia." ucap Viggo.


"Hm."


Dalam sekejap mata Patrizia menghilang dari hadapan Viggo dan Steve. Setelahnya Steve keluar dari kamar Viggo, pria itu pergi untuk menemui kepala tabib.


Steve berjalan menyusuri lorong istana dan di ujung lorong sudah ada kepala tabib yang menunggunya. Steve menyeringai saat ia melihat mata-mata ratu mengikutinya.


"Di mana dia? Putra mahkota ingin menemuinya." ucap Steve setelah berdiri di hadapan kepala tabib itu.


"Mari ikut saya kesatria Steve."


Steve menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kemudian mereka pun pergi keluar istana.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam dengan menunggangi kuda akhirnya mereka sampai di kuil suci.


"Gadis pemilik sihir suci itu ada di dalam kesatria Steve." ujar kepala tabib.


Steve pun berjalan memasuki kuil suci itu. Tawanya hampir saja meledak saat ia melihat Patrizia. Pria itu menghela napasnya dalam.


"Salam nona, bisakah nona ikut bersama kami ke istana? Putra mahkota ingin bertemu dengan nona." ujar Steve.


Patrizia menatap Steve dengan tatapan polos. "Untuk apa putra mahkota ingin menemui pengemis seperti saya?" tanyanya.


Wow.. Zia, kau sangat luar biasa. Batin Steve.


Fokuslah Steve, kau hampir saja tertawa tadi. Jika sampai terjadi kesalahan, aku akan merobek mulut mu hingga kau tak bisa tertawa lagi.


Iya, maaf Zia.


"Putra mahkota ingin berterimakasih pada nona karena nona telah menyembuhkannya." jelas Steve.


"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya mengikuti arahan dari kepala tabib saja."


"Tetap saja nona yang sudah menyembuhkan putra mahkota. Mari nona, putra mahkota sudah menunggu."


Patrizia menganggukkan kepalanya. Mereka pun pergi dari kuil suci itu. Begitu juga dengan mata-mata ratu yang langsung pergi menemui tuannya untuk melaporkan informasi yang di dapatnya.


...🍃🍃🍃...


Kamar Andora.


"Bagaimana? Kau sudah menemukannya?" tanya Andora.


"Iya ratu, gadis pemilik sihir suci itu tengah menuju ke istana karena putra mahkota memanggilnya." jelas mata-mata Ratu.


"Dimana kepala tabib itu menyembunyikannya?"

__ADS_1


"Di kuil suci, ratu."


"Pantas saja aku tidak bisa merasakan mana gadis pemilik sihir suci itu."


"..lakukan rencana kita malam ini juga." titahnya kemudian.


"Baik ratu." mata-mata itu memberi hormat pada ratu setelahnya ia menghilang di telan asap.


Andora menyeringai. "Setelah Gadis pemilik sihir suci itu lenyap, tidak akan ada yang bisa menggagalkan rencana ku. Dalam beberapa bulan lagi semuanya selesai, dunia ini akan ada dalam genggaman ku." Andora tertawa jahat.


Sementara itu Patrizia tengah menikmati apel merah di kamar Viggo. Setelah menghabiskan dua apel Patrizia mulai mengantuk.


"Aku akan tidur, aku membutuhkan banyak tenaga untuk nanti malam. Bangunkan aku setelah hari sudah gelap."


Patrizia menguap dan tak lama gadis itu sudah masuk ke alam mimpinya. Patrizia sangat nyaman tidur di ranjang Viggo seakan itu ranjang miliknya.


Melihat Patrizia tertidur Viggo pun ikut tidur di samping Patrizia. Viggo memeluk pinggang Patrizia membawa gadis itu dalam pelukannya. Patrizia tidak terusik sama sekali, ia tidur dengan sangat nyenyak.


"Aku juga akan tidur, aku baru saja terkena racun dan harus banyak beristirahat untuk memulihkan tubuh ku. Kau berjagalah dan jangan lupa bangunkan kita nanti." ucap Viggo menatap Steve yang tengah menatapnya tajam.


"Kau berani menolak perintah putra mahkota?"


Steve tersenyum paksa. "Tidak Yang Mulia, anda beristirahatlah saya yang akan berjaga dan akan membangunkan Yang Mulia saat hari sudah malam nanti."


Viggo terkekeh kemudian pria itu menutup matanya.


"Jika saja kau bukan sahabat ku, aku akan membunuh mu sekarang juga." geram Steve.


"Aku bisa mendengar mu Steve." ucap Viggo dengan mata tertutup. Ia belum sepenuhnya tidur.


Steve berdecak kesal kemudian mendaratkan bokongnya di sofa dengan kasar. Sangat tidak berperasaan! Steve juga ingin seperti itu tapi apalah daya ia tidak memiliki pasangan.


Malam harinya.


Patrizia dan Steve baru saja sampai di kuil suci.


"Iya terimakasih kesatria Steve sudah mau repot-repot mengantar saya. Berhati-hatilah saat di perjalanan."


"Iya nona, saya permisi." Steve pergi dari kuil itu.


Saat akan masuk ke dalam kuil tiba-tiba saja ada yang membekap Patrizia. Patrizia tersenyum miring dan tak lama kegelapan menghampirinya, gadis itu pingsan.


...🍃🍃🍃...


Perlahan netra itu terbuka memperlihatkan iris biru laut yang menenangkan. Patrizia mencoba untuk menggerakkan tangannya tapi tidak bisa dan ternyata tangannya itu sudah di rantai bukan hanya tangan, kaki bahkan lehernya juga di rantai. Patrizia sudah seperti penjahat yang akan di eksekusi.


Patrizia mengedarkan pandangannya namun tidak ada yang bisa di lihatnya ruangan itu sangat gelap hanya ada sedikit cahaya sinar rembulan yang masuk lewat celah kecil di ruangan itu.


"Akh sial! Apa aku ini hewan? Jika Queen melihat ini, ia akan sangat marah dan langsung menghabisi para tikus sialan itu."


"..hahh aku jadi merindukan Queen. Kapan semua ini berakhir? Aku merindukan mereka semua di sana."


Zia, kau baik-baik saja? Suara Steve terdengar.


Iya, aku baik-baik saja.


Dengan kekuatan sihirnya rantai yang melilit tangan, kaki dan leher Patrizia hancur. Gadis itu memegang pergelangan tangannya yang sedikit memar.


Tak lama pintu besi itu terbuka, terlihat seorang pria dengan pakaian serba hitam lengkap dengan topengnya masuk ke ruang gelap itu. Netra pria itu melotot saat melihat rantai yang mengikat tubuh Patrizia hancur.


"Bagaimana itu mungkin? Bukankah gadis itu belum menyadari kekuatannya?" batin pria itu tidak percaya.


"Kau akan terus menatap ku?" tanya Patrizia datar kemudian netranya tertutup dan tak lama terbuka kembali, iris biru laut itu berubah menjadi merah marah.


Tubuh pria itu bergetar ketakutan saat melihat iris merah darah itu. "Apa? Dia bahkan sudah membangkitkan kekuatan sihir hitam dalam dirinya." gumamnya.


"Terkejut?" Patrizia tersenyum miring.

__ADS_1


Netra pria itu nyaris saja keluar dari tempatnya saat melihat gadis pengemis di hadapannya itu berubah menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Siapa yang tidak mengenali gadis tercantik di kerajaan Archon ini.


"L-lady.. Letizia." tubuh pria itu mundur beberapa langkah ke belakang.


Pria itu menutup matanya kemudian merapalkan sebuah mantra tapi saat matanya kembali terbuka pria itu terkejut karena masih berada di tempat yang sama.


Pria itu tidak bisa berteleportasi karena Patrizia mengurung ruangan gelap itu dengan sihirnya.


Patrizia terkekeh. "Kenapa? Kau tidak bisa berteleportasi? Oh Dewa.. Bukankah itu masalah besar? Jika kau terjebak di sini lantas bagaimana caranya diri mu memberitahu ratu Andora tentang kebenaran ini?"


Tubuh pria itu menegang. "Kau tahu jika ratu-"


"Aku tahu semuanya." Patrizia memotong ucapan pria di hadapannya itu.


Ratu, kau dalam bahaya. Gadis pemilik sihir suci itu ternyata-


Arghh


Suara erangan kesakitan itu keluar dari mulut pria itu saat Patrizia mencekik lehernya dengan sihir. Tubuh pria itu melayang, kakinya menendang-nendang udara dan tangannya memegang lehernya yang tercekik.


"Le-pas-kan a-ku, a-ku ber-jan-ji ti-dak a-kan m-mem-be-ri ta-hu r-ratu.." ucapnya terbatanya.


Bruk


Tubuh pria itu terjatuh begitu saja setelah Patrizia melepas sihirnya.


"Kau akan langsung tiada saat kau membuka mulut mu." Patrizia menatap tajam pria itu. "Bukan hanya kau yang tiada ibu, ayah ahh tidak maksud ku seluruh keluarga mu akan habis di tangan ku. Bahkan aku akan merusak citra keluarga mu itu di mata rakyat, bukankah ayah mu itu seorang pedagang?"


"Tidak jangan lakukan itu lady. Iya, saya berjanji tidak akan memberitahu ratu tentang semua ini."


Pria yang terduduk di bawah itu beringsut mendur saat Patrizia berjalan mendekat ke arahnya.


"Panglima Vincent Wallace."


Topeng yang menempel di wajah pria itu terlepas begitu saja.


Mata-mata ratu itu adalah seorang Panglima, ia bernama Vincent Wallace 29 tahun, anak seorang Baron. Vincent adalah orang yang sangat tamak akan harta dan kekuasaan karena itu ia bekerja sama dengan ratu. Vincent juga memiliki kekuatan sihir hitam yang berasal dari cincinnya. Cincin itu tentu saja di berikan oleh ratu.


"Bagaimana kau akan memberitahu ratu jika kau mati sekarang?"


"Tidak! Saya mohon jangan bunuh saya. Saya akan melakukan apapun yang lady minta."


"Apa aku harus mempercayai ucapan mu itu? Bagaimana jika nanti kau mengkhianati ku?"


"Saya tidak akan pernah mengkhianati lady." ucapnya tegas.


"Apa jaminannya?"


"Nyawa saya dan nyawa seluruh keluarga saya."


"Bersumpahlah." Patrizia memberikan Vincent sebuah buku yang entah sejak kapan ada di tangannya. "Letakkan tangan mu di atas buku itu lalu ucapkan sumpah mu."


Vincent mengambil buku itu dari tangan Patrizia lalu meletakkan sebelah tangannya di atas buku itu.


"Saya Vincent Wallace bersumpah akan selalu setia pada lady Letizia dan jika saya ingkar seluruh keluarga Wallace akan menjadi abu."


Setelah Vincent mengucapkan sumpahnya buku mengeluarkan cahaya putih setelahnya buku itu menghilang di telan cahaya putih itu.


Vincent berlutut di hadapan Patrizia. "Hormat saya lady, berikan perintah anda."


Patrizia tersenyum lebar kemudian gadis itu memberitahu Vincent apa yang harus di lakukannya.


"Di mengeri lady."


"Pergilah."


Vincent pergi dari ruangan itu setelah memberi hormat pada Patrizia.

__ADS_1


__ADS_2