The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 35


__ADS_3

Seorang wanita tengah menatap kotak besar di hadapannya. Perlahan tangannya terulur membuka kotak itu. Saat kotak itu terbuka tubuh wanita itu mundur beberapa langkah. Tangannya terkepal dengan erat. Dadanya naik turun menahan amarah. Di dalam kotak itu terdapat lima kepala manusia.


"Sial! Gadis itu lagi-lagi selamat."


Wanita itu menyeringai. "Kau selamat dari pembunuh bayaran itu tapi kau akan tetap mati. Berita kematian mu itu pasti sebentar lagi akan tersebar."


Haa haa haa


Wanita itu tertawa jahat, suaranya itu menggema di ruangan gelap itu.


"Letizia, memang seharusnya kau sudah mati dari dulu."


...🍃🍃🍃...


Perbatasan kerajaan Archon.


Oliver, Reonal, Viggo, Edoardo dan Steve bekerja sama untuk mengalah kan para pemberontak itu.


Para pemberontak yang jumlah ratusan itu sudah berhasil di kalah kan. Dan kini rakyat di perbatasan bisa kembali hidup dengan damai.


Saat ini mereka semua berada di rumah salah satu rakyat. Mereka semua tengah menikmati kudapan yang di siapkan rakyat sebagai ucapan terimakasih.


"Semalam saya tidak melihat Grand Duke." tutur Viggo.


"Saya pergi sebentar putra mahkota, ada urusan penting." Oliver melihat ke arah Reonal. "Panglima Reonal bisa kita bicara?" tanya nya.


"Tentu Grand Duke, kita bicara di luar."


Mereka pun pergi ke luar.


"Ada apa Grand Duke?" tanya Reonal.


"Zia sudah tiada."


"Jangan bermain-main Grand Duke." Reonal menatap Oliver tajam.


"Kau tidak mempercayai ku?"


"Iya."


Oliver terkekeh. "Akan ada berita tentang kematian adik mu itu tapi kau tidak usah khawatir dia baik-baik, dia akan menemui mu nanti."


"Apa ini bagian dari rencananya?"


"Hm."


"kau sudah tahu hal yang tidak boleh kua lakukan bukan?"


"Iya Grand Duke, anda tidak usah khawatir. Saya tidak akan memberitahu siapa pun termasuk keluarga ku."


"Jangan kecewakan Zia, dia sangat menyayangi mu."


"Saya tidak akan pernah membuat Zia kecewa."


"Walau pun dia bukan adi mu?" pertanyaan itu hanya bisa di ucapkan Oliver dalam hatinya.


...🍃🍃🍃...


Berita kematian lady Letizia sudah tersebar luas di seluruh kerajaan Archon untuk yang kedua kalinya. Yang pertama berita itu mengatakan jika Lady Letizia tiada karena penyakit kulit yang di deritanya tapi berita itu ternyata tidak benar Lady Letizia masih hidup dan sekarang berita kematian Lady Letizia kembali tersebar kali ini berita itu mengatakan jika Lady Letizia tiada karena di penggal oleh kaisar benua timur saat mencoba menghabisi putra mahkota. Ada yang percaya ada juga yang tidak percaya dengan berita itu.


Di istana kerajaan Archon lebih tepatnya di ruang kerja Viggo. Sang putra mahkota itu tengah menatap tajam kesatrianya. Tadi, saat baru sampai di istana Viggo mendapat kabar jika Lady Letizia sudah tiada di tangan kaisar Jerome dan tentu saja Viggo tidak mempercayai berita itu.


"Jelaskan pada ku, Steve."


Steve menghela napasnya dalam kemudian mulai menceritakan rencana Patrizia pada Viggo.


Brak


Viggo menggebrak meja kerjanya.

__ADS_1


Steve memegang dadanya, pria itu sangat terkejut. "Jantung aman kan?" gumamnya.


"Kenapa kau tidak memberitahu?" tanyanya tajam.


"Bagaimana aku memberitahu di saat kau sendiri selama beberapa hari belakangan ini mengurung diri di ruang kerja. Kau bahkan menghirau kan keberadaan ku."


"Itu karena.." Viggo terdiam, ia tidak melanjutkan ucapannya.


"Aku mengerti."


"Dimana Zia sekarang?"


"Aku tidak tahu mungkin masih di istana kekaisaran benua timur."


Viggo meraup wajahnya kasar.


Brak


Tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan sangat keras. Viggo dan Steve melihat ke arah pintu di sana terlihat ada Edoardo yang tengah mengatur napasnya.


"Aku tahu berita itu tidak benar. Dimana Lady Letizia sekarang?" tanya Edoardo.


Zia kau dimana?


...🍃🍃🍃...


Kediaman Duke.


Felix tersenyum seraya menatap seorang gadis di hadapannya. "Aku tahu kau masih hidup."


"Aku tidak akan mungkin mati semudah itu Duke." ucap Patrizia.


Felix menatap Patrizia dengan tatapan rumit. Jujur Pria itu masih tidak rela Patrizia di miliki oleh pria lain tapi dirinya tidak mungkin melawan sang Gran Duke yang kejam itu.


"Duke Chester."


"Apa yang sedang kau pikirkan sampai tidak fokus seperti itu?"


"Maaf lady."


"Tidak apa."


"Ada perlu apa lady menemui saya?"


"Aku mengambil bagian ku."


"Tentu lady, akan aku siap kan."


Felix pergi dan tak lama kembali bersama banyak pengawal yang membawa puluhan kantung berisikan koin emas dan perak.


Mata Patrizia berbinar melihat itu. "Ternyata banyak juga."


"Ini baru sebagian lady."


"Sebanyak itu?"


Felix terkekeh. "Ini semua karena panglima Vincent lady setelah panglima bergabung, penjualan emas dan berlian milik tambang Lady mendapat kan untung berkali-kali lipat dari sebelumnya."


Patrizia memasuk kan semua kantung itu ke kalung dimensinya.


Zia kau dimana? Suara Steve terdengar.


Di kastil Duke Chester.


Tak lama setelah itu Steve, Viggo dan Edoardo sudah ada di hadapan Patrizia.


"Kenapa kalian datang ke sini?"


"Entah, tanya mereka berdua." ucap Steve.

__ADS_1


Patrizia melihat ke arah Viggo dan Edoardo meminta jawaban.


"Aku ingin bertemu dengan mu Zia. Apa kau baik-baik saja?" tanya Viggo.


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja."


"Apa rencana mu sekarang?"


"Aku akan membangun kastil di hutan kerajaan Linch."


"Jangan lady, di sana berbahaya." ujar Edoardo.


"Aku tahu."


"..oh iya Steve, apakah kau sudah kirim hadiah ku itu?" tanya Patrizia.


"Sudah Zia."


"Kerja bagus. Baiklah, urusan ku di sini sudah selesai, aku akan pergi." pamit Patrizia.


"Tunggu." cegah Viggo.


"Kenapa?"


"Jaga diri mu."


"Iya, aku boleh pergi sekarang?"


"Hm."


Setelah itu Partizia pun pergi dengan berteleportasi.


...🍃🍃🍃...


Kediaman Grand Duke.


Oliver baru memulai sandiwaranya. Setelah mendapat berita kematian Patrizia, Oliver mengamuk. Pria itu membantai para kesatria dan juga menghancurkan seluruh isi kastilnya.


Tak lama setelah itu tiba-tiba saja sikap sang Grand Duke itu berubah. Pria itu seperti melupakan kejadian buruk yang baru saja di alaminya. Setelah itu ia menyuruh para pelayan untuk memasak makanan kesukaan Patrizia.


Para pekerja mengira jika sang Grand Duke itu mengalami gangguan kejiwaan. Mereka pun memanggil tabib untuk memeriksa keadaannya.


Setelah di periksa tabib mengatakan jika memang benar Grand Duke Oliver mengalami gangguan kejiwaan.


Berita sang Grand Duke yang kejam mengalami gangguan kejiwaan setelah mengetahui tunangannya tiada itu pun tersebar sangat cepat. Mereka semua terkejut mendengar itu. Mereka tidak menyangka cinta sang Grand Duke pada tunangannya itu begitu besar.


Sementara itu ada orang yang mengamuk karena rencananya kembali gagal. Ratu Andora, awalnya sang ratu sangat yakin jika konspirasi yang di lakukannya itu akan berhasil. Dari awal semua sudah berjalan seperti apa yang di rencanakan nya tetapi semuanya hancur karena perkiraannya salah.


"Panglima Vincent, apa berita tentang Grand Duke mengalami gangguan kejiwaan itu benar?" tanya Andora.


"Iya ratu itu benar. Saya sudah memeriksanya."


"Sial! Perkiraan ku ternyata salah. Ku pikir Grand Duke akan membalas kematian tunangannya tetapi dia malah kehilangan kewarasannya. Jika seperti itu, bagaimana perang akan terjadi?"


Tanpa Andora sadari panglima Vincent tersenyum melihat raut frustasi di wajah sang ratu. "Setelah ini kau yang akan kehilangan kewarasan mu ratu karena lady Letizia akan terus menggagal kan semua rencana mu itu." batinnya.


...🍃🍃🍃...


Kediaman Marquess Wilson.


"Semua ini hanya rumor kan Zia? Ayah percaya kau masih hidup. Seperti sebelumnya kau akan muncul di hadapan ayah dengan senyuman manis mu itu. Kembali lah Zia, ayah menunggu mu." lirih Albert. Pria paruh baya itu berada di kamar Patrizia yang ada di kastilnya.


Di ruangan lain tepatnya di kamar Sienna, Sevira terus saja menangis tanpa henti. Wanita paruh baya itu menggenggam tangan Sienna yang masih tak sadarkan diri.


"Jangan tinggal kan ibu, Sienna. Ibu sudah kehilangan kakak mu, Jika kau pun pergi meninggal kan ibu, untuk apa lagi ibu hidup. Ibu lebih baik mati menyusul putri-putri ibu." lirih Sevira.


Tanpa Sevira sadari Reonal berdiri di balik pintu yang tidak tertutup rapat. Pria itu menyeka air matanya.


"Maaf kan aku ibu, aku tidak bisa memberitahu ibu. Tapi ibu tidak usah khawatir, Letizia baik-baik saja, aku akan menjaganya. Setelah semua ini selesai, aku akan membuat keluarga kita berkumpul kembali. Kita akan hidup bahagia sebagai satu keluarga. Aku berjanji pada mu, ibu." batinnya.

__ADS_1


__ADS_2