The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 40


__ADS_3

3 bulan kemudian.


Selama tiga bulan ini Patrizia melatih para bandit- bukan bandit tapi kesatria. Dalam waktu tiga bulan para bandit itu menjelma menjadi seorang kesatria yang sangat tangguh. Patrizia menamai pasukan kesatria nya itu dengan nama 'Black Rose'.


Patrizia tersenyum puas melihat hasil kerja keras nya selama tiga bulan ini. Lebih tepatnya hasil kerja keras semuanya karena yang melatih para bandit itu bukan hanya Patrizia saja, Oliver, Viggo, Edoardo, Steve, Reonal dan juga Samuel ikut melatih mereka semua.


"Kau berhasil Patrizia." ucap Oliver.


"Ini hasil kerja keras kita semua."


Oh ya, kini hutan kerajaan Linch sudah resmi menjadi milik Patrizia karena saat terjadi pemberontakan besar di kerajaan Linch 2 bulan yang lalu Patrizia mengirim kan 30 kesatria Black Rose untuk membantu kerajaan Linch mengusir pemberontak itu.


Mengusir pemberontak dari kerajaan Linch merupakan misi pertama yang di lakukan kesatria Black Rose dan mereka berhasil menyelesaikan misi nya itu dengan sangat sempurna. Dan sebagai hadiah nya raja Linch memberikan hutan Linch pada pemimpin Black Rose.


Setelah itu banyak kerajaan yang meminta bantuan kesatria Black Rose untuk membantu kerajaan mereka saat berperang atau pun mengusir para pemberontak.


Semua misi yang di kerjakan kesatria Black Rose selalu berhasil karena itu nama Black Rose menjadi sangat terkenal di seluruh kerajaan maupun kekaisaran.


"Lady 85 kesatria Black Rose yang di kirim ke kaisaran benua selatan sudah kembali." ucap Samuel.


"Di mana mereka?"


"Di lapangan lady."


"Baiklah, aku akan menemui mereka."


Lapangan.


Patrizia, Oliver dan Samuel berdiri di hadapan para kesatria Black Rose.


Di saat seperti ini Patrizia selalu mengingat kelompok mafia nya.


"Kau mengingat kelompok mafia mu lagi bukan?" tanya Oliver.


"Hm."


"BLACK ROSE." teriak Patrizia.


"BLACK ROSE HERE."


Patrizia tersenyum lebar mendengar itu. Gadis itu semakin merindukan kelompok mafia nya.


"Terimakasih untuk kerja keras kalian semua kita kembali berhasil menyelesaikan misi kita. Malam ini kita akan makan besar."


Patrizia pergilah ke hutan di dekat perbatasan kerajaan Archon. Di tengah hutan itu ada gubuk Celia ada di sana, gadis itu dalam bahaya. Suara Ruben terdengar.


Celia dalam bahaya? Apa maksud mu?


Ck! Cepatlah pergi sekarang! Sudah tidak ada waktu!


Iya.


Patrizia menatap Oliver. "Rex."


"Aku ikut bersama mu."


"Sam, aku akan pergi. Kalian bersenang-senang lah."


"Baik lady."


Steve pergilah ke hutan di dekat perbatasan kerajaan Archon. Di tengah hutan itu ada gubuk Celia ada di sana, gadis itu dalam bahaya. Aku dan Oliver akan pergi ke sana, kalian cepat lah menyusul.


...🍃🍃🍃...


Istana kerajaan Archon.


"Apa? Bagaimana bisa Celia kabur dari istana ini?" geram raja Edgar.


"Maaf Yang Mulia." ucap para kesatria pribadi Celia seraya menunduk dalam.


"Apa kalian seorang kesatria? Kalian tidak pantas di sebut sebagai seorang kesatria menjaga seorang gadis saja kalian gagal!"


"Ayah tenang lah, kemarahan tidak akan membuat Celia kembali." ucap Viggo menenang kan sang raja.


"Ayah gagal Viggo, ayah gagal menjaga putri ayah sendiri. Jika saja ayah tidak menjodohkan nya, Celia tidak akan berbuat nekat seperti ini."


"Ini bukan salah ayah, ayah melakukan itu untuk kebaikan Celia."


"Tapi dia mencintai pria lain Viggo, jika ayah merestui mereka, Celia tidak akan pergi."


Viggo mengepal kan tangan nya erat. "Ayah melakukan tindakan yang benar untuk tidak merestui hubungan mereka karena pria bajingan itu tidak pantas bersanding dengan adik ku. Ayah tenang saja aku pasti akan membawa Celia kembali."


"Ayah percaya pada mu, Viggo."

__ADS_1


"Aku akan pergi mencari Celia."


"Kakak aku ikut." ucap Zello.


"Baiklah."


"Kalian berdua berhati-hati lah. Saling menjaga satu sama lain. Jangan sampai ada yang terluka." ucap Edgar.


"Iya ayah." ucap Viggo dan Zello secara bersamaan.


"Steve, siapkan pasukan. Kita akan pergi mencari Celia."


"Baik."


"Kakak kita akan cari Celia kemana?" tanya Zello.


"Kita sebaiknya berpencar."


Steve pergilah ke hutan di dekat perbatasan kerajaan Archon. Di tengah hutan itu ada gubuk Celia ada di sana, gadis itu dalam bahaya. Aku dan Oliver akan pergi ke sana, kalian cepat lah menyusul.


"Jangan berpencar kita semua pergi ke hutan di dekat perbatasan, Celia ada di sana." ucap Steve.


"Zia?" tanya Viggo.


"Iya."


"Zello kau pergi bersama para kesatria lewat jalan biasa, kakak dan Steve akan melewati jalan pintas. Kita bertemu di sana nanti." jelas Viggo.


"Iya kak."


Zello dan para kesatria itu pun pergi.


"Kita akan pergi lewat jalan pintas mana?" tanya Steve.


"Apa ini waktunya bercanda?"


"Maaf."


"Ck! Cepatlah gunakan sihir teleportasi mu itu."


"Jangan di sini, kita cari tempat sepi."


Viggo dan Steve pergi ke halaman belakang istana yang sepi kemudian Steve memegang lengan Viggo dan dalam sekejap mereka pun menghilang. Dan jalan pintas yang Viggo maksud ternyata berteleportasi.


...🍃🍃🍃...


"Jhon, kau mau membawa ku ke mana?" tanya Celia pada kekasihnya.


Jhon Chollins, 22 tahun seorang anak baron. Celia dan Jhon bertemu untuk yang pertama kalinya di pasar dua bulan lalu, saat itu Celia dan Jhon secara tidak sengaja saling bertabrak kan. Setelah pertemuan itu, mereka saling bertukar pesan. Semakin lama hubungan mereka pun semakin dekat hingga akhirnya mereka meresmikan hubungan mereka satu bulan yang lalu.


Celia berencana membawa Jhon ke istana, ia ingin memperkenal kan orang yang di cintainya itu pada ayah dan kakaknya tapi di saat yang bersamaan Celia mendapat kabar jika dirinya akan di jodoh kan dengan putra mahkota dari kerajaan Linch.


Mendengar itu Celia sangat marah dengan keras ia menolak perjodohan itu. Celia mengatakan pada ayahnya jika ia mencintai pria lain dan ingin menikahinya tetapi ayahnya tidak merestui hubungan itu karena suatu hal.


Dan ternyata bukan cuma ayahnya saja yang menentang hubungan nya kakaknya pun sama, Viggo sangat menentang hubungan itu bahkan ia pernah mengurung Celia di dalam kamar supaya adik nya itu tidak bertemu dengan kekasih nya.


Viggo selalu mengatakan pada Celia jika Jhon itu seorang bajingan tapi Celia tidak mempercayai ucapan Viggo karena selama mereka bersama Jhon sangat baik padanya selalu membuat nya tertawa dan Celia merasa sangat nyaman ketika bersamanya.


"Kita akan pergi dari kerajaan ini sayang dan kita akan hidup bahagia bersama selamanya."


Celia tersenyum manis. "Aku mencintai mu, Jhon."


"Aku juga mencintai mu, Celia."


Sudah setengah jam mereka menunggangi kuda.


"Jhon apa tempatnya masih jauh?"


"Sudah dekat sebentar lagi sampai."


"Tapi entah kenapa sepertinya kita sedari tadi hanya berputar-putar saja?"


"Tidak Celia, mungkin karena pohon nya sama jadi terlihat seperti berputar-putar di situ saja."


"Kau benar."


"Celia, apa aku boleh bertanya."


"Iya boleh, ingin bertanya apa?"


"Kenapa kau memilih?"


"Karena aku mencintai mu."

__ADS_1


"Bagaimana dengan keluarga mu?"


"Aku tidak peduli dengan mereka lagi pula mereka juga tidak peduli pada ku."


"Celia, apa kau merasa lelah?"


"Sedikit."


"Kalau begitu kita istirahat sejenak di gubuk itu." Jhon menunjuk gubuk tua yang jarak nya beberapa meter di depan mereka.


"Baiklah."


Mereka pun pergi ke gubuk tua itu. Setelah sampai mereka langsing masuk ke dalam gubuk itu.


"Minum lah." Jhon memberikan minuman yang di dapatnya dari dalam guci di gubuk itu.


Celia menerima minuman itu lalu meminumnya sampai habis.


Beberapa saat kemudian. Jhon menyeringai saat melihat Celia yang mulai gelisah.


"Celia, ada apa? Kenapa kau terlihat gelisah." tanya Jhon.


"Aku tidak tahu Jhon, rasanya sangat panas."


"Jika merasa panas, buka saja gaun mu itu. Kau tidak usah khawatir, kau percaya pada ku bukan?"


"Iya, aku sangat percaya ah pada mu." ucap Celia seraya membuka gaun nya. Gadis itu kini hanya memakai pakaian dalam nya saja.


Melihat keindahan di hadapan nya itu, Jhon menelan saliva nya susah payah, sesuatu di bawah sana mulai bereaksi.


"Sial! Tubuh nya sangat indah. Aku tidak bisa menahannya lagi."


Tanpa basa-basi Jhon langsung melihat bibir itu dengan buas, pria itu seperti orang kesetanan.


Celia mencoba untuk menolak tapi tubuhnya bereaksi lain, tubuh nya menyukai semua sentuhan yang di berikan kekasihnya.


Jhon membuka pakaian nya dengan sangat tegesa. Yang di bawah sana juga sudah sangat siap untuk bertempur. Jhon dalam kondisi naked. Pria itu menatap tubuh mulus Celia lapar.


"Ahh Jhon.."


Celia mendesah saat tangan nakal itu menyentuh area sensitifnya yang masih terhalang selembar kain. Tangan besar itu mulai masuk lalu..


Bugh


Jhon tersungkur di lantai setelah mendapat tendangan dari Oliver.


Di sisi lain Patrizia mematung karena gadis itu masih syok melihat sesuatu yang menggantung di bawah sana.


"PATRIZIA TUTUP MATA MU!!!"


"KAU JUGA TUTUP MATA MU REX, CELIA TIDAK MEMAKAI GAUN."


"JIKA AKU MENUTUP MATA KU BAGAIMAN AKU BISA MENGHABISI PRIA BAJINGAN INI?"


"GUNAKAN LAH INSTING SERIGALA MU ITU, JANGAN BANYAK ALASAN."


Di tengah perdebatan itu Viggo dan Steve muncul.


"Kenapa kalian ber- Wahh"


Steve tidak melanjutkan ucapan nya, pria itu menelan salivanya susah payah saat melihat dua gunung kembar yang tengah di mainkan pemilik nya itu.


"SIAL! STEVE TUTUP MATA MU." Teriak Viggo.


Bruk


Tiba-tiba saja Celia menerjang tubuh Steve.


"SIALAN KAU STEVE! MENJAUH LAH DARI ADIK KU! JANGAN MENCARI KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN!"


"SIAPA YANG MENCARI KESEMPATAN? APA KAU TIDAK MELIHAT NYA? DIA YANG MENDEKATI KU!"


"Bantu aku, aku sudah tidak kuat ah." Celia semakin merapatkan tubuh nya pada tubuh Steve.


Patrizia menutup mulut Celia saat gadis itu akan mencium bibir Steve. "Kalian semua keluar lah, aku yang akan mengurus Celia."


"Tapi, Zia-" ucap Viggo.


"CEPAT KELUAR!!"


Ketiga pria itu pun keluar dari gubuk dengan Jhon yang kakinya di seret Oliver.


Patrizia menghela napasnya kasar kemudian gadis itu menghilang kan pengaruh ramuan perangsang dari dalam tubuh Celia.

__ADS_1


__ADS_2