The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 29


__ADS_3

Prok prok prok


Suara tepuk tangan itu bergema di aula tempat berlangsungnya acara pertunangan antara Grand Duke Oliver Nerithone dan Lady Letizia Alova Wilson. Mereka baru saja saling menyematkan cincin di jari satu sama lain.


Cup


Oliver mengecup tangan Patrizia. "Kau sudah resmi menjadi milik ku, Patrizia."


"Rex, jangan memanggil ku dengan nama itu saat kita berada di tempat yang ramai." peringat Patrizia.


"Iya, maaf sayang." Oliver mengelus lembut pipi Patrizia.


Semua orang yang ada di ruangan itu menjatuhkan rahangnya melihat sikap manis sang Grand Duke. Mereka tidak menyangka sang Grand Duke yang kejam itu bisa berubah menjadi menjadi sangat manis saat bersama tunangannya. Para Lady yang melihatnya pun merasa iri. Pupus sudah harapan mereka bersanding dengan pria bak titisan dewa yunani itu.


"Sikap Grand Duke pada lady Letizia sangat manis."


"Grand Duke sangat romantis."


"Mereka pasangan yang sangat serasi."


"Aku ingin menjadi lady Letizia, beruntung sekali dirinya bisa mendapat kan cinta Grand Duke tampan itu."


Suara pekik kan para lady itu semakin heboh ketika Oliver mengulurkan tangan di hadapan Patrizia seraya membungkuk kan badannya. "Berdansa lah dengan ku." ucapnya.


"Aku tidak bisa berdansa Rex. Kau ingin membuat diri ku malu di hari pertunangan ku sendiri?"


Oliver tersenyum. "Jangan berbohong pada ku, sayang. Aku tahu kau bisa berdansa."


Oliver terkekeh saat melihat wajah kesal Patrizia. Dengan terpaksa Patrizia menerima ajakan itu. Mereka pun berjalan ke tengah aula dan mulai berdansa. Para tamu yang hadir pun ikut berdansa dengan pasangannya masing-masing.


"Cantik." puji Oliver di sela-sela dansanya kemudian ia memutar tubuh Patrizia lalu gadis itu menjatuhkan tubuhnya dan dengan sigap Oliver menangkapnya bebarengan dengan suara musik yang berhenti menandakan berakhirnya tarian dansa. Riuh tepuk tangan pun kembali menggema di aula kediaman sang Grand Duke.


Di tengah keriuhan pesta pertunangan itu ada seorang pria yang terus menatap Patrizia dengan tatapan sendu di tangannya terdapat segelas minuman memabukkan.


"Sudah cukup!" cegah Steve saat pria itu akan mengisi gelasnya lagi dengan minuman yang memabuk kan.


"Biarkan aku minum, Steve. Ini akan mengurangi rasa sakit di hati ku. Dada ku sangat sesak hanya untuk bernapas saja rasanya sangat sulit. Seperti ada batu besar yang menimpa dada ku. Steve bantu aku, tolong singkirkan batu besar itu supaya aku bisa kembali bernapas. Ini perintah Steve! Cepat singkir kan batu besar itu!" racau pria itu.


Untuk mencegah hal yang tidak di inginkan terjadi Steve membawa pria itu pergi dari aula. Tidak lucu kan jika putra mahkota mabuk di acara pertunangan gadis yang di cintainya. Ya, pria itu adalah Viggo.


Steve membawa Viggo kembali ke istana. Keadaan Viggo sangat lah kacau, pria itu sudah tidak sadar dan terus saja meracau menyebut nama 'Zia'.


Steve jadi tidak tega melihatnya. Apakah ia memberitahu Viggo saja tentang kebenaran di balik pertunangan itu? Tapi dirinya sudah berjanji pada Patrizia untuk tidak memberitahu siapa pun tentang kebenaran itu.


Steve mengerti tujuan Patrizia menyembunyikan kebenaran itu. Gadis itu tidak ingin memberi harapan palsu pada semua pria yang menyukainya. Steve setuju akan hal itu dan ia sudah memutuskan untuk tidak memberitahu kan kebenarannya pada Viggo. Biarkan saja Viggo dan semua pria yang menyukai Patrizia menganggap jika Patrizia sudah menjadi hak milik pria lain dengan begitu mereka akan menghilangkan perasaannya pada Patrizia.

__ADS_1


Steve hanya bisa berharap setelah ini Viggo akan melupakan Patrizia dan melanjutkan hidupnya.


Ternyata bukan hanya Viggo saja yang kacau, keadaan Edoardo dan Felix juga kacau. Ketiga pria itu menjadi 'Sad Boy' di waktu yang bersamaan.


Di barak kesatria Edoardo menggila, sang Jenderal membantai semua kesatrianya hingga terluka parah. Edoardo melakukan itu untuk mengalihkan rasa sakit di hatinya tapi dirinya malah teringat kembali pertarungannya dengan Patrizia dulu. Edoardo jadi merindukan gadis itu. Butiran bening itu keluar tanpa ada yang melihatnya karena tercampur dengan keringat yang membasahi wajah tampannya. Untuk pertama kalinya Edoardo sang Jenderal menangis karena cinta.


Terjadi kehebohan juga di depan kamar sang Duke. Setelah menghadiri acara pertunangan itu, Irene kembali menggedor kamar sang kakak karena sejak tadi Felix mengurung diri di kamarnya. Tidak ada tanda kehidupan di sana karena kamar itu sangat sunyi dan tidak terdengar suara apa pun dari dalam. Entah apa yang terjadi di dalam sana? Apa yang Felix lakukan di dalam sana? Apakah dia baik-baik saja. Memikirkan itu membuat Irene semakin mengkhawatirkan keadaan kakaknya. Di luar kamar Irene sangat khawatir pada Felix sementara di dalam kamar Felix sedari tadi hanya terdiam, tidak ada hal yang di lakukan Felix selain melamun. Tatapan matanya kosong, pria itu seperti kehilangan semangat hidupnya.


Di tempat lain juga terjadi kekacauan tepatnya di kamar Sienna. Gadis itu terus saja menjerit kesakitan. Wajah gadis itu terbakar dan terus saja mengeluarkan nanan. Sudah banyak tabib di panggil ke kediaman Marquess tapi tetap saja tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Marquess dan Marchioness sangat mengkhawatir kan keadaan putri bungsunya itu bahkan mereka tidak menghadiri acara pertunangan putri tertua mereka karena terus mendampingi Sienna. Hanya Reonal saja yang menghadiri pertunangan itu.


...🍃🍃🍃...


Setelah acara pertunangan itu selesai Patrizia dan Oliver bergegas pergi ke kediaman Marquess bersama Reonal untuk melihat keadaan Sienna.


Ruang tamu.


"Maaf Grand Duke, saya dan istri saya tidak hadir ke acara pertunangan karena kondisi Sienna." ujar Albert.


"Tidak apa Marquess, saya mengerti."


Sevira memeluk Patrizia. "Maaf sayang, ayah dan ibu tidak hadir di acara pertunangan mu, kau pasti sangat kecewa. Kau bisa marah sayang." lirihnya seraya menangis.


"Aku tidak marah ibu, jangan menangis." Patrizia menyeka air mata Sevira. Patrizia kembali berperan menjadi putri yang baik. Sangat melelahkan.


"Bagaimana keadaan Sienna sekarang?" pertanyaan yang di lontarkan Patrizia itu kembali membuat Sevira menangis.


"Ibu." Patrizia memeluk Sevira.


Pertunjukan drama keluarga menyedih kan akan segera di mulai. Suara Ruben terdengar tapi Patrizia mengabaikan itu.


"Kondisi adik kamu sangat parah Zia, semakin lama keadaannya semakin memburuk. Wajahnya rusak, luka bakar di wajahnya itu terus saja mengeluarkan nanah." jelas Albert dengan nada suara lemah.


"Ayah hiks.." Patrizia mulai menangis. "Bagaimana itu bisa terjadi? Kenapa wajah Sienna bisa sampai terkena luka terbakar? Itu pasti sangat menyakitkan ayah hiks hiks."


"Ayah juga tidak tahu sayang, wajah adik mu terluka saat tengah perawatan dan saat di selidiki ternyata lulur yang di pakai adik mu itu sudah tercampur dengan racun."


Tangisan Patrizia semakin keras di peluk kan Sevira. "Hiks hiks siapa yang tega melakukan itu pada adik kecil ku yang polos itu ibu hiks."


Adik kecil ku yang polos?! Itu sangat menggelikan Patrizia. Suara Ruben kembali terdengar.


Bibir Oliver berkedut menahan senyumnya. Sungguh gadisnya itu sangat pandai bersandiwara. Tapi di sisi lain ia juga tidak suka melihat gadisnya menangis sekali pun itu hanya sandiwara


Patrizia hentikan itu, aku tidak suka melihat mu menangis.


Diamlah Rex! Jangan mengganggu ku!

__ADS_1


"Ibu, aku ingin melihat keadaan Sienna."


"Ibu akan menemani mu."


Ibu dan anak itu pergi ke kamar Sienna begitu juga dengan Oliver, Reonal dan Albert.


Kamar Sienna.


Sienna tertidur setelah tabib memberinya ramuan. Benar apa yang di katakan Albert, luka bakar di wajah Sienna itu terus saja mengeluarkan nanah. Patrizia sangat jijik melihat itu.


Tangis Patrizia kembali pecah. Gadis itu menggenggam tangan Sienna. "Hikss Sienna akan baik-baik saja kan?" tanyanya terisak.


"Tentu saja sayang, kau tidak usah khawatir, ayah akan melakukan segala cara untuk menyembuhkan Sienna." ujar Albert.


"Melihat Sienna sekarang aku jadi teringat kondisi ku dulu, sama persis seperti Sienna hanya saja saat itu aku melaluinya seorang diri." Patrizia terkekeh miris. "Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung kalian." Patrizia berlari keluar dari kamar Sienna.


Patrizia menyeringai saat melihat raut penyesalan tercetak jelas di wajah tua Albert.


"Teruslah merasa bersalah seperti itu, ayah. Aku akan selalu mengingatkan mu akan perbuatan keji yang kau lakukan pada Letizia dulu. Rasa penyesalan itu akan menghancurkan mu secara perlahan. Itu adalah hukuman yang pantas kau dapatkan." batin Patrizia.


"Zia." lirih Albert.


Albert kembali teringat perbuatannya pada Letizia dulu. Ia ayah yang sangat kejam. Bagaimana mungkin seorang ayah menelantarkan putri kecilnya yang tengah sakit. Dirinya tidak pantas di sebut sebagai seorang ayah.


"Jangan khawatir mengenai Zia, saya yang akan menghiburnya. Kalian Fokus saja pada kesembuhan Sienna."


"Terimakasih Grand Duke, saya percayakan putri tertua saya pada anda." ucap Albert.


"Saya ingin meminta Izin kalian untuk membawa Zia tinggal di kediaman saya, itu akan jauh lebih aman dari pada ia tinggal sendiri di kastilnya."


"Saya izinkan Grand Duke."


"Baiklah, kalau begitu saya pamit, kita akan kembali lagi nanti."


"Terimakasih atas kunjungannya Grand Duke."


"Hm."


Oliver pun pergi menyusul Patrizia yang sudah menunggunya di kereta kuda. Oliver masuk ke dalam kereta kuda, kereta kuda itu pun mulai berjalan.


"Ck! Kau sangat lamban." gerutu Patrizia.


"Kenapa? Apa kau sudah merindukan ku? Kita baru saja berpisah beberapa menit sayang." goda Oliver.


Patrizia memutar bola matanya malas.

__ADS_1


__ADS_2