
"Sekarang kalian sudah tahu jika aku memiliki kekuatan sihir. Aku harap kalian tidak akan mengkhianati ku di kemudian hari." ucap Patrizia menatap tajam pengawal dan pelayan pribadinya itu.
Sedangkan mereka yang di tatap badannya bergetar karena ketakutan. Sungguh aura yang di keluarkan Patrizia sangat menyeramkan.
"Ti..tidak Lady, kami tidak akan pernah mengkhianati Lady, jika kami berkhianat kami akan dengan suka rela menyerahkan kepala kami." ujar Samuel dan Imelda mengangguki perkataan Samuel.
"Benar Lady, ka..kami bersumpah akan merahasiakannya dan kami tidak akan pernah mengkhianati Lady." timpal Imelda.
Patrizia menghela napasnya dalam.
"Kau tidak usah khawatir, mereka tidak akan mengkhianati mu ." ujar Ruben.
"Bukan itu yang aku khawatirkan, jika mereka berkhianat aku akan langsung menebas kepalanya."
"Jika bukan karena itu, lantas apa yang sedang kau khawatirkan? Setelah berbicara dengan mereka, kau banyak melamun."
"Harta ku?"
"Harta?"
"Iya aku mengkhawatirkan harta ku, bagaimana nasib harta ku jika aku kembali ke dunia ku nanti?"
"Selain psikopat ternyata kau juga pecinta uang."
"Tentu saja, aku sangat menyukai uang."
Ruben menatap malas Patrizia. Saat ini mereka berada di kalung dimensi. Patrizia baru saja selesai berlatih memanah.
"Kapan orang itu akan muncul?" tanya Patrizia.
"Entahlah."
"Ck! Sudahlah katakan saja, aku tahu kau tahu semuanya. Saat Sienna menjebak ku, kau pasti sudah tahu hal itu akan terjadi bukan? Karena itu kau dengan sengaja mendorong ku hingga jatuh ke kubangan lumpur."
Ruben tertawa, ia kembali mengingat wajah kesal Patrizia yang penuh lumpur saat itu.
"Kau benar, aku memang tahu segalanya tapi aku tidak bisa memberitahu mu. Tugas ku di sini hanya menemani mu dan aku hanya akan melakukan beberapa hal yang memang harus aku lakukan." ucap Ruben setelah menghentikan tawanya.
Patrizia menghela napasnya kasar. "Jika kau tahu segalanya kenapa kau tidak langsung beritahu aku saja, supaya misi kita di sini selasai dan kita bisa kembali secepatnya."
Ruben hanya tersenyum menanggapinya dan itu membuat Patrizia mendengus kesal dan langsung keluar dari kalung dimensi.
...🍃🍃🍃...
Keesokkan harinya di tempat Gilda.
"Apa kau yakin?" tanya seorang pria berambut biru tua menatap ragu Patrizia.
"Jika tidak yakin, untuk apa aku datang ke sini? Tuan Duke Chester yang terhormat." tanya Patrizia balik dengan santainya yang membuat pria di hadapannya itu menggeram marah.
Felix Chester, pria berusia 22 tahun itu adalah seorang Duke di kerajaan Archon. Felix juga seorang pemimpin Gilda dan itu tidak ada yang tahu karena identitasnya sangat di rahasiakan bahkan keluarga kerajaan juga tidak ada yang tahu kecuali Viggo tentu saja karena mereka bersahabat.
Patrizia terkekeh. "Buka saja topeng mu itu tuan Duke, Bukankah topeng itu sudah tidak berguna?" tanyanya kemudian.
"Kalau begitu buka juga topeng mu itu nona, aku tidak akan membantu mu jika kau tidak membukanya."
Patrizia dan Felix sama-sama memakai topeng.
"Baiklah."
Sret
Patrizia membuka topeng yang menutupi wajah cantiknya dan detik itu juga Felix terpesona dengan kecantikan Patrizia.
"Duke Chester, kenapa kau menatap ku seperti itu?" tanya Patrizia seraya menatap Felix membeku dan itu sukses membuat Felix merona.
"Oh Ti..dak, tidak apa-apa?" jawab Felix memalingkan wajahnya.
"..dari mana kau tau aku adalah pemimpin Gilda?" tanyanya kemudian untuk mengalihkan pembicaraan.
"Putra mahkota."
Memang sebelum pergi dari istana Patrizia menanyakan tentang siapa pemimpin Gilda dan Viggo langsung memberitahu Patrizia. Patrizia sengaja melakukan itu karena ia tahu Felix akan menanyakan hal itu. Tidak lucu kan jika Patrizia menjawab ia tahu Felix adalah seorang pemimpin Gilda dari novel?
__ADS_1
Felix menganggukkan kepalanya kemudian ia kembali menatap Patrizia. "Bukankah kau putri tertua Marquess? Letizia Alova Wilson?"
"Hm. Jadi bagaimana apa kau mau membantu mengelola tambang milik ku?"
"Aku harus melihat tambang itu terlebih dahulu."
"Baiklah."
...🍃🍃🍃...
Malam harinya di kamar Patrizia.
"Maaf Lady, ada undangan dari putra mahkota, beliau ingin Lady datang ke acara pesta rakyat yang di adakan di ibu kota tiga hari lagi." ujar Imelda.
Kau harus datang ke acara itu karena ada tugas yang menanti mu di sana. Batin Ruben.
Patrizia menatap Ruben yang tengah asik makan. Ck! Merepotkan.
Kau akan bersenang-senang di sana. Percayalah, aku tahu hal yang kau sukai.
Patrizia menyeringai, ia mengerti maksud dari kata bersenang-senang yang Ruben ucapkan.
...🍃🍃🍃...
Tiga hari kemudian..
Alun-alun ibu kota terlihat sangat ramai oleh warga yang menghadiri pesta rakyat. Pesta rakyat di adakan oleh kerajaan untuk merayakan kesembuhan putra mahkota.
Rakyat sangat antusias menghadiri pesta itu semua orang terlihat sangat bahagia. Terdapat banyak gerai makanan, pakaian dan juga aksesoris. Ada juga panggung pertunjukan musik dan tari. Puncak perayaan akan di adakan pada malam hari.
Patrizia menatap tajam Ruben.
Ayolah Patrizia beri aku makan. Ruben memelas.
Kau berbicara seakan aku tidak pernah memberi mu makanan. Lihatlah, kau sudah menghabiskan sepuluh ikan bakar. Kesal patrizia seraya menatap tumpukan tulang ikan.
Baru sepuluh, aku ingin memakan dua puluh ikan bakar.
Terserah!
Puncak perayaan pun tiba. Kereta kuda kerajaan tiba di alun-alun kota. Para pengawal dan kesatria kerajaan membuat brigadir untuk melindungi keluarga kerajaan.
"Apakah itu putra mahkota?"
"Demi Dewa, putra mahkota sangat tampan."
"Ini pertama kalinya aku melihat putra mahkota secara dekat, dia sangat tampan."
"Pengeran Zello juga sangat tampan."
"Begitu juga dengan tuan putri Celia, dia sangat cantik."
Keluarga kerajaan duduk di tempat yang sudah di sediakan. Acara pun di mulai. Banyak seniman musik dan tari yang menampilkan keahlian mereka di depan keluarga kerajaan.
Semua orang menikmati setiap pertunjukan yang di suguhkan tetapi berbeda dengan Patrizia, gadis itu hanya menatap datar para penari yang entah mereka itu sedang menari atau tertiup angin, Patrizia tidak tahu itu. Tapi intinya, sangat membosankan! Bahkan sekarang Patrizia tengah berjuang melawan kantuknya.
Kapan penyusup itu datang Ruben, aku sangat mengantuk.
Penyusup itu sudah ada sejak tadi, dia berada di antara rakyat.
Patrizia menatap Ruben sinis. Kenapa tidak bilang dari tadi?
Kau tidak bertanya. Jawab Ruben santai.
Patrizia menghela napasnya kasar. Kemudian ia mengedarkan pandangannya untuk mencari penyusup itu. Kau tidak berniat membantu ku?
Arah jam sembilan.
Patrizia melihat ke arah kiri dan gotcha.. Ia melihat orang yang mencurigakan berdiri di antara rakyat. Orang itu sangat mencok berdiri di antara rakyat karena hanya dia sendiri yang mengenakan pakaian sederhana sedangkan para rakyat memakai baju terbaik mereka untuk menghadiri pesta itu.
Bodoh. Patrizia menyeringai.
Patrizia menghampiri penyusup itu tapi sebelum itu Patrizia merubah wujudnya menjadi seorang pria dengan kekuatan sihirnya. Patrizia berdiri tepat di belakangnya seraya menodongkan belati di pinggangnya bahkan belati itu sudah tertancap sedikit di sana.
__ADS_1
"Diam dan ikuti aku! Jika tidak belati ini akan menembus jantung mu." bisik Patrizia.
Patrizia dan penyusup itu keluar dari kerumunan rakyat dan saat mereka sampai di tempat sepi, Patrizia membawa penyusup itu ke hutan kematian dengan sihir teleportasinya.
Hutan kematian berada di kota Alodia. Hutan kematian adalah hutan ilusi yang di ciptakan Patrizia sendiri untuk menghabisi buruannya. Hutan kematian sangat gelap, hanya ada pohon-pohon kering dan suara-suara yang sangat mengerikan. Tidak akan ada yang bisa keluar dari hutan itu tanpa seijin Patrizia. Hutan itu sangat membingungkan, semuanya terlihat sama.
"Siapa kau?" tanya penyusup itu.
Patrizia merubah wujudnya kembali menjadi dirinya sendiri.
Penyusup itu tersenyum remeh karena menurutnya Patrizia adalah seorang gadis yang lemah tetapi sedetik kemudian senyuman itu luntur menjadi teriakan menyakitkan.
Arghh
Penyusup itu melayang dengan tangan yang memegang leher seakan ada tangan yang mencekiknya.
Sudah! Dia bisa mati! Kau harus mengintrogasinya terlebih dahulu. Peringat Ruben.
Patrizia menurunkan penyusup itu, bukan menurunkan lebih tepatnya melepaskan hingga penyusup itu terjatuh dari ketinggian.
Uhuk.. Uhuk..
"Siapa tuan mu?" tanya Patrizia dingin.
Mata Patrizia membola saat ia melihat penyusup itu mencoba mengakhiri hidupnya sendiri dengan meminum racun.
"Ck! Menyusahkan."
Patrizia menghampiri penyusup itu kemudian mengeluarkan racun dari tubuhnya dengan kekuatan sihir penyembuhnya.
15 menit kemudian..
Penyusup itu membuka matanya. "Argh.." rintihnya, ia merasakan sakit di kedua kakinya.
"APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak penyusup itu saat ia melihat kedua kakinya yang sudah tidak memiliki jari.
Patrizia menatap penyusup itu polos. "Aku bosan karena menunggu mu siuman jadi aku bermain dengan jari kaki mu, lihatlah." Patrizia menunjuk jari kaki penyusup itu yang sudah halus karena ia cincang.
"..aku sangat lelah, mari kita akhiri ini sekarang juga. Siapa tuan mu?" tanyanya kemudian.
"Bunuh saja aku karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah memberitahu mu."
"Baiklah."
Jleb
Patrizia menancapkan belatinya di paha sebelah kiri penyusup itu kemudian menariknya.
Argh
"Ratu Andora, apakah tebakan ku benar atau benar." tebak Patrizia yang membuat penyusup itu menegang.
Jleb
Patrizia kembali menancapkan belatinya kali ini bagian paha sebelah kanannya.
Argh
"Jawab! Benar atau benar?"
Patrizia menyeringai saat penyusup itu mengangguk. "Baiklah, sekarang kau bisa pergi."
Penyusup itu dengan sekuat tenaganya berlari menjauhi Patrizia.
Patrizia terkekeh. "Berlarilah! Sampai kaki mu itu lelah. Kita akan bertemu lagi nanti."
...🍃🍃🍃...
Sementara itu Ratu Andora tengah menahan marah karena sampai sekarang belum terjadi kekacauan dan seharusnya orang suruhannya itu sudah melakukan tugasnya tapi, apa ini? Viggo masih duduk dengan tenang di singgahsana-nya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang aku lewatkan?" batin Andora.
Patrizia tersenyum senang melihat wajah ratu Andora yang merah padam akibat menahan amarahnya.
__ADS_1
Lihatlah dia, Ruben. Dia seperti akan terbakar.