
Haa Haa Haa
Tawa seorang gadis meledak. Gadis itu menatap Jerome yang baru saja datang.
"Hentikan lah tawa mu itu.. Lady Letizia."
Ya, gadis yang tertawa itu adalah Patrizia dan Patrizia yang di penggal kepalanya oleh Jerome tadi hanya lah ilusi yang di ciptakan Patrizia.
FLASH BACK ON
Ruang kerja Jerome.
"Ada apa lady? Ada hal yang ingin di sampai kan?" tanya Jerome saat melihat raut kegelisahan di wajah Patrizia.
Patrizia menghela napasnya kemudian menatap Jerome. "Liam dalam bahaya."
Mendengar itu seketika tatapan Jerome menjadi sangat tajam, rahang pria itu mengeras. "Jelaskan."
"Ada yang membuat konspirasi untuk memecah peperangan antara kekaisaran benua timur dan kerajaan Archon. Konspirasi itu melibat kan saya dan Liam. Liam akan terbunuh dan saya yang akan menjadi pelakunya. Setelah putra mahkota mati Kaisar akan langsung menghukum mati pelakunya. Setelah pelaku itu mati maka sang Grand Duke Archon akan mengamuk dan terjadi lah peperangan itu." jelas Patrizia.
"Apa rencana mereka untuk membunuh putra mahkota?"
"Mereka akan menaruh racun di hadiah yang akan aku berikan pada Liam. Saat Liam menyentuh hadiah itu dalam waktu satu jam jika tidak di beri penawarnya maka Liam tidak akan selamat."
Jerome mengepal kan tangannya erat, dari sorot mata pria itu terlihat sangat jelas ada kekhawatiran di sana.
"Tidak perlu khawatir Kaisar, kau percaya saya pada gadis ku itu." ucap Oliver yang baru saja datang dengan berteleportasi.
Patrizia memutar bola matanya malas saat Oliver mengedip kan sebelah matanya.
"Grand Duke!" kaget Jerome.
"Hormat saya Yang Mulia Kaisar." Oliver memberi hormat pada Jerome.
"Saya akan menjelas kan semuanya kaisar."
Patrizia pun mulai menjelas kan.
"Jadi, seseorang di balik konspirasi besar itu adalah ratu Andora? Ratu Andora memiliki sihir begitu pun dengan kalian tapi ratu Andora tidak tahu kalian memiliki sihir." Jerome memijit pelipisnya. "Aku tidak peduli soal itu yang terpenting untuk ku hanya keselamatan putra ku."
"Aku akan menjamin keselamatan Liam, Yang Mulia tidak perlu khawatir."
"Baiklah, tapi apa alasan ratu melakukan itu? Bukankah jika peperangan itu terjadi yang akan di rugikan adalah kerajaan Archon. Seperti yang lady tahu para kesatria perang Kekaisaran benua timur adalah yang baik, tidak mudah mengalah kan kami."
Oliver terkekeh. "Aku akui itu Yang Mulia, memang tidak mudah mengalahkan kekaisaran benua timur."
"Alasan ratu melakukan konspirasi itu adalah untuk membuat pangeran Zello naik tahta menjadi putra mahkota."
Jerome mengkerut kan dahinya bingung.
"Saat perang itu terjadi sebagai putra mahkota Viggo akan terlibat langsung dalam perang itu dan saat itulah ratu merencana kan pembunuhan pada Viggo, setelahnya Viggo akan di nyatakan mati dalam perang."
"..dan setelah Viggo meninggal ratu akan menghentikan perang itu."
"Dengan cara?"
"Sihir. Ratu akan memberikan ramuan pada Kaisar dan Grand Duke. Setelah meminum ramuan itu kalian akan langsung menjadi budak ratu."
__ADS_1
"Harus aku akui Ratu Andora memang sangat licik." ujar Jerome.
"Tapi tidak jauh lebih licik dari gadi ku." ucap Oliver.
Patrizia menyeringai. "Apa Yang Mulia akan mengikuti permainan ini?"
"Tentu lady."
FLASH BACK OFF
Oliver menatap tajam Jerome. "Beraninya kau membunuh tunangan ku! Tidak akan aku ampuni kau, Kaisar!"
"Hentikan Rex."
"Iya."
"Bagaimana Liam?" tanya Jerome.
"Dia masih tidur."
Jerome melihat ke arah Liam yang tengah tertidur di ranjang. Kemudian ia mendaratkan bokongnya di sofa tepat di depan pasangan itu duduk. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya kemudian.
"Bukan kita, hanya Grand Duke saja. Bagian kita sudah selesai."
Jerome terkekeh. "Apakah sebentar lagi kita akan melihat sang Grand Duke yang kejam itu akan gila karena cinta?"
Patrizia dan Jerome tertawa.
"Diamlah!"
"Lady setelah ini kau akan tinggal di mana? Kau tidak bisa lagi tinggal di kerajaan Archon atau pun di sini." tanya Jerome.
"Jangan lady, kau tidak bisa tinggal di sana di dalam hutan itu ada banyak bandit yang bersembunyi di sana."
"Itu tujuan ku tinggal di sana Yang Mulia, saya akan menjadikan mereka kesatria yang tangguh."
"Cerdas." Oliver tersenyum bangga pada Patrizia.
"Baiklah tapi jika lady membutuh kan bantuan, katakan saja pada ku." ucap Jerome.
"Tentu." Patrizia melihat ke arah Oliver. "Kau harus kembali sekarang Rex."
"Nanti saja."
"Berita kematian ku akan segera sampai di kerajaan Archon, sebelum itu terjadi kau harus memberitahu kakak ku jika aku masih hidup."
"Iya, sayang."
Cup
Setelah mencium bibir Patrizia, pria itu langsung pergi dengan berteleportasi.
Ekhm
Sial! Patrizia lupa jika di ruangan itu masih ada Jerome.
"Maaf Yang Mulia."
__ADS_1
Jerome tersenyum paksa. "Tidak masalah lady."
Jerome memang sudah merelakan Patrizia bersama Oliver tapi tetap saja jika melihat kemesraan mereka hatinya masih terasa sakit.
"Apa saya bisa meminta bantuan Yang Mulia?"
"Katakan lady."
"Tolong panggil kan Imelda dan Samuel, aku ingin menemui mereka."
"Akan aku panggil kan lady."
"Terimakasih Yang Mulia."
Setelah itu Jerome pun pergi dan tak lama kembali besama Imelda dan Samuel.
Patrizia terkekeh melihat kondisi pelayan dan pengawal pribadinya itu. Mereka terlihat sangat kacau.
"Lady!!" pekik Imelda dan Samuel secara bersamaan. Imelda langsung menerjang tubuh Patrizia. Tangsi kedua orang itu pecah.
"Lady hiks masih hidup! Lady tidak hiks jadi mati!" ucap Imelda terisak
"Aku belum mati Imelda. Orang yang mati di aula itu hanya ilusi yang aku ciptakan."
"..kalian dengar, lady Letizia sekarang sudah mati karena itu aku tidak bisa tinggal lagi di kerajaan Archon."
"..sekarang aku bertanya pada kalian, apa kalian ingin ikut bersama ku atau kembali ke kerajaan Archon itu terserah kalian."
"Kami tidak akan pernah meninggal kan lady, kami akan ikut kemana pun lady pergi." ucap Samuel yang di angguki oleh Imelda.
Patrizia tersenyum. "Kalau bagitu bersiaplah, kita akan pergi besok pagi."
"Baik lady." ucap mereka kompak, mereka pun pergi setelah member hormat pada Jerome dan Patrizia.
Eungghh
Patrizia dan Jerome melihat ke arah Liam yang baru saja terbangun.
"Liam."
"Ibu." ucap Liam lemah.
"Apa yang Liam rasakan?"
"Kepala Liam pusing, ibu."
"Tidak apa, tidurlah lagi, besok pagi pasti sembuh."
"Liam ingin tidur dengan ibu."
"Beristirahat lah lady, saya akan pergi." Jerome pun pergi dari kamar itu.
"Baiklah kita tidur bersama malam ini." Patrizia membaring kan tubuhnya di sebelah Liam, anak itu langsung saja memeluknya erat.
Bukankah hari ini sangat melelahkan? Tanya Ruben
Kau benar, mana ku terkuras habis saat menciptakan ilusi itu.
__ADS_1
Kerja bagus Patrizia. Istirahat lah. Selamat malam.
Hm.