
"Rex?" bingung Celia. "Kakak, nama Grand Duke itu bukan Rex tapi Oliver Nerithone."
"Ha? Iya, maksudnya Oliver, kakak salah bicara tadi." ralat Patrizia tanpa mengalihkan pandangannya dari Grand Duke.
Berhentilah menatap ku seperti itu, aku akan menjelaskannya nanti. Batin Oliver yang masih setia menatap Patrizia.
Patrizia menatap Oliver tajam. Oliver tersenyum tipis melihatnya.
Zia, datanglah ke halaman belakang istana. Suara Steve terdengar.
Setelahnya Patrizia langsung pergi ke tempat sepi untuk berteleportasi.
Halaman belakang istana.
"Ada apa?" tanya Patrizia.
"Kita harus mengubah rencana karena racun itu tidak di campurkan dalam minuman raja tetapi di oleskan dalam cangkirnya." jelas Steve.
"Zia, aku punya rencana." ujar Viggo.
"Katakan."
"Aku yang akan menggantikan posisi raja, aku akan menukar cangkir milik raja dengan cangkir milik ku."
"Viggo jangan gegabah itu terlalu berbahaya." ucap Steve.
"Aku tahu tapi aku tidak khawatir karena Zia ada bersama ku." Viggo tersenyum menatap Patrizia.
"Menurut ku, ini rencana yang sempurna untuk menggagalkan rencana mereka jika putra mahkota yang terkena racun, siapa yang akan tertuduh?" Viggo menyeringai. "Ratu, raja akan mencurigai ratu sebagai pelaku utamanya karena raja sangat mengetahui obsesi ratu yang ingin menjadikan Zello sebagai putra mahkota."
Patrizia tersenyum smirk.
...🍃🍃🍃...
Aula istana.
Saat pesta sedang berlangsung dengan sangat meriah tiba-tiba saja putra mahkota Viggo pingsan dengan mulut yang mengeluarkan banyak darah. Suasana pun menjadi riuh seketika. Viggo di bawa ke kamarnya dan pesta pun di hentikan.
Kamar Viggo.
Para tabib berusaha untuk mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuh Viggo. Racun bunga lily hitam, racun yang sama yang pernah di berikan Sienna pada Patrizia dulu.
"Kesatria Steve, dimana lady Letizia? Keadaan putra mahkota sudah sangat parah. Racunnya sudah menyebar, kita harus segera mengeluarkan racun itu jika tidak nyawa putra mahkota tidak akan selamat." jelas tabib.
Steve meraup wajahnya kasar. Setelah kekacauan yang terjadi di aula tadi Patrizia menghilang begitu saja. Entah kemana Patrizia pergi? Steve mencoba untuk berkomunikasi dengan Patrizia lewat telepati tapi tidak ada tanggapan.
"Berusahalah untuk memperlambat penyebaran racun itu, saya akan mencari lady Letizia."
"Baik, akan kami usahakan kesatria Steve."
Zia kau dimana? Keadaan Viggo sudah semakin parah. Cepatlah datang.
Steve mencari Patrizia ke seluruh penjuru istana. Steve menghela napasnya lega saat melihat Patrizia berada di taman belakang istana.
"Zia." panggil Steve setelah berada di hadapan Patrizia.
Patrizia diam.
"Ada apa dengannya? Apa yang sedang dia pikirkan sampai tidak menyadari kedatangan ku?" batin Steve.
"Zia." panggil Steve lagi seraya menyentuh bahu Patrizia.
Patrizia tersentak. "Kenapa?"
__ADS_1
"Aku yang harusnya bertanya, kau kenapa?"
"Tidak, aku baik-baik saja."
Mata Steve menyipit saat melihat bibir Patrizia yang terlihat berbeda, bibir gadis itu membengkak dan ada luka gigitan di sana.
"Zia, kau tidak baik-baik saja. Kenapa dengan bibir mu itu?"
Patrizia menyentuh bibirnya, ia menggelengkan kepalanya cepat saat bayangan itu terlintas di kepalanya. Bayangan kejadian yang menjadi penyebab bibir Patrizia membengkak.
FLASH BACK ON
Tadi saat Patrizia akan pergi ke kamar Viggo tiba-tiba saja ada yang membekap mulutnya dan tak lama kesadaran Patrizia menghilang setelahnya Patrizia langsung di bawa pergi.
Kini Patrizia tengah berbaring di sebuah kamar yang entah ada di mana. Perlahan netra biru laut itu terbuka, Patrizia mengerjabkan matanya berkali-kali, kepalanya terasa sangat pusing.
"Akh sial! Siapa yang berani melakukan itu pada ku?" geram Patrizia.
Kau sudah bangun? Suara Ruben terdengar.
"Apa kau tidak melihatnya?" Patrizia memijit pelipisnya yang berdenyut. "Siapa pelakunya?" Tanyanya kemudian.
Rex.
"Sudah ku duga tapi, kenapa aku tidak bisa merasakan keberadaannya? Padahal tingkat kepekaan ku sangat tinggi. Bahkan aku juga tidak bisa melawannya, dia mengunci semua gerakan ku."
Rex bukan orang sembarangan, apa kau pikir manusia biasa bisa merubah wujudnya menjadi serigala?
"Apa dia berbahaya untuk misi ku? Apa aku harus menyingkirkannya?"
Dia ada di pihak mu.
"Baiklah, tapi kenapa dia menculik ku?"
Patrizia tersentak saat suara bariton itu terdengar. Entah sejak kapan Oliver duduk di sebelahnya?
Patrizia menatap Oliver tajam.
"Jangan terus menatap ku seperti itu, aku tahu kau sangat menyukai ku."
"Kau-"
Zia kau dimana? Keadaan Viggo sudah semakin parah. Cepatlah datang.
Patrizia menghela napasnya kasar. "Akan ku urus kau nanti."
Oliver tersenyum smirk. "Kenapa nanti? Sekarang saja, aku sudah siap bahkan sangat siap." godanya.
Ok, ternyata Oliver juga tidak waras.
Patrizia mengabaikan perkataan Oliver, gadis itu menutup matanya untuk berteleportasi tapi sebelum Patrizia selesai mengucapkan mantranya tiba-tiba saja..
Bruk
Oliver menindih tubuh Patrizia.
"APA YANG KAU LAKUKAN? MENYINGKIRLAH DARI ATAS TUBUH KU!!" geram Patrizia dengan wajah merah padam.
"Baiklah, tapi sebelum itu kau harus memberikan sesuatu untuk ku." Oliver menyeringai.
Patrizia memutar bola matanya jengah. "Katakan."
"Beri aku satu ciuman."
__ADS_1
"MAU MATI?" tanya Patrizia dingin.
"Ya sudah jika tidak mau, biarkan saja putra mahkota yang lemah itu mati."
Patrizia berusaha untuk melepaskan dirinya dari kungkungan Oliver tapi apalah daya tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Oliver. Patrizia bahkan menggunakan kekuatan sihir untuk membantunya tapi itu tidak berguna. Entah seberapa besar kekuatan pria di hadapannya itu? Patrizia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginannya.
"Berhentilah menggunakan kekuatan sihir mu itu." Oliver membelai wajah Patrizia. "Kau akan lelah nanti."
Wajah Patrizia semakin memerah, wajahnya memerah bukan karena malu tapi karena menahan amarahnya.
"Menyingkirlah! Jangan menguji kesabaran ku."
"Beri aku ciuman setelah itu kau bisa pergi."
Lakukan saja Patrizia. Suara Ruben terdengar sangat menyebalkan.
Kau gila!!!
Apa salahnya? Itu hanya ciuman.
Patrizia terdiam.
Kau tidak akan pernah bisa melawannya Patrizia, jangan membuang waktu mu, Keadaan Viggo sudah semakin memburuk jika kau tidak datang dalam waktu lima menit nyawa Viggo tidak akan selamat.
Ck! Sial!!
Cup
Dengan cepat Patrizia mengecup pipi Oliver yang membuat sang empu terkekeh.
"Apa itu? Aku meminta ciuman bukan kecupan."
Patrizia menatap Oliver tajam.
"Baiklah sekarang giliran ku."
Cup
Oliver mengecup bibir ceri Patrizia. Awalnya memang hanya kecupan tapi kecupan itu berubah menjadi *******. Oliver menutup matanya menikmati ciuman itu, ciuman yang awalnya lembut itu perlahan berubah menjadi sangat kasar. Oliver tidak bisa mengendalikan dirinya, bibir Patrizia sangat memabukkan. Oliver menahan tengkuk Patrizia saat gadis itu mencoba untuk menghindar. Ciuman itu semakin dalam dan menuntut.
Oliver menghentikan ciuman itu saat ia merasa Patrizia mulai kesulitan untuk bernapas.
"KAU GILA!!!" gadis itu mengirup napas rakus.
Oliver menyingkir dari atas tubuh Patrizia setelahnya pria itu berbaring di samping Patrizia seraya menutup matanya. "Pergilah." ucap Oliver dengan deep voicenya.
Tanpa berkata Patrizia langsung pergi dengan berteleportasi.
"INI GILA!!"
"Maafkan aku." sesal Oliver.
FLASH BACK OFF
"Zia."
Panggilan Steve menyadarkan Patrizia dari lumunannya.
"Ada apa dengan mu, Zia? Kau terlihat sangat aneh."
"Aku tidak apa-apa. Aku akan menemui Viggo." setelah mengatakan itu Patrizia langsung berteleportasi ke kamar Viggo.
"Dia sangat aneh." gumam Steve setelahnya ia juga berteleportasi ke kamar Viggo.
__ADS_1