
Setelah urusannya selesai dengan Panglima Vincent, Patrizia kembali ke kota Alodia dengan berteleportasi. Setelah sampai gadis itu langsung tidur karena hari juga sudah larut malam.
Keesokkan harinya di kamar Patrizia.
Eungghh
Patrizia merasakan silau sinar sang mentari menusuk matanya. Perlahan netra itu terbuka.
Selamat pagi Patrizia
Hm.. Pagi
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar dan tak lama Imelda masuk ke dalam kamar Patrizia.
"Ada apa?" tanya Patrizia.
"Di luar ada putra mahkota dan kesatria Steve, lady."
"Hmm, aku akan segera menemui mereka."
Setelahnya Patrizia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Ruang tamu.
"Zia, kenapa tidak langsung membunuhnya saja?" tanya Viggo.
Patrizia tersenyum misterius. "Aku membutuhkan keahliannya."
Ruben yang tengah makan ikan bakar terhenti kemudian kucing itu menatap Patrizia datar. Ruben sangat tahu maksud dari ucapan Patrizia.
"Apa maksud mu?" bingung Viggo.
"Aku ingin penjualan emas dan berlian ku di perluas karena itu aku membutuhkan keahlian panglima Vincent. Bukankah kesuksesan penjualan pedang milik ayahnya, Baron Wallace itu bisa tersebar ke seluruh benua karena campur tangan dari panglima Vincent?"
Viggo terkekeh. "Kau memang berbeda, Zia."
"Tapi, bagaimana jika dia berkhianat?" tanya Steve.
Patrizia menyeringai. "Sebelum dia berkhianat dia akan langsung menjadi abu."
"Buku sumpah?"
"Hmm."
Buku sumpah adalah buku yang sangat keramat. Siapa pun orang yang bersumpah dengan menyentuh buku itu maka jika orang itu ingkar ia akan langsung mati bahkan sebelum ia mengingkari janjinya itu. Intinya jika seseorang sudah bersumpah dengan menyentuh buku itu maka orang itu tidak bisa ingkar.
...🍃🍃🍃...
Kamar ratu.
Haa haa haa
Tawa Andora menggelegar saat Vincent memberitahunya jika gadis pemilik sihir suci itu telah mati.
"Kerja bagus Vincent, kau memang selalu bisa di andalkan."
Vincent menunduk hormat. "Terimakasih atas pujiannya ratu."
"Untuk rencana selanjutnya saya akan memberitahu mu nanti."
"Iya ratu."
Andora terdiam, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. "Panglima Vincent, apa kau semalam memberi pesan pada ku? Saat itu saya sudah tertidur jadi saya tidak bisa mendengar suara Panglima Steve dengan jelas."
__ADS_1
Ratu, kau dalam bahaya. Gadis pemilik sihir suci itu ternyata-
Vincent menelan salivanya susah payah, ia kembali mengingat pesan yang di kirimnya pada Andora lewat telepati semalam. Tetapi untung saja saat itu Andora sedang tidur, jika tidak entah apa yang akan terjadi dengan hidupnya? Jika ia tidak mati di tangan gadis pemilik sihir suci itu maka ia akan mati di tangan sang ratu begitu pun sebaliknya. Posisi Vincent serba salah, rasanya ia ingin menghilang saja dari dunia ini tanpa harus merasakan kesakitan.
"Pesan itu tidak penting ratu, saya hanya mengatakan jika saya sudah menghabisi gadis pemilik sihir suci itu."
"hanya itu? Baguslah. Saya pikir Panglima menyampaikan pesan penting. Saya sempat khawatir semalam."
"iya ratu, hanya itu. Tidak ada yang penting, semua baik-baik saja sekarang. Gadis pemilik sihir suci itu telah mati, tidak akan ada yang bisa menghentikan kita sekarang."
Andora tersenyum. "Kau benar panglima. Kita semakin dekat dengan tujuan kita."
Andora tersenyum puas dan tanpa ia sadari jika dirinya sudah di khianati oleh salah satu orang kepercayaannya. Sungguh miris.
...🍃🍃🍃...
Patrizia, Viggo dan Steve masih berada di kastil Patrizia mereka baru saja selesai makan siang dan kini mereka tengah menikmati secangkir teh di temani beberapa kudapan manis di taman bagian samping kastil Patrizia.
"Zia, apa kau berselingkuh dari ku?" tanya Viggo seraya menatap Patrizia tajam.
Semalam tiba-tiba saja Celia datang ke kamarnya, gadis itu menceritakan tentang kejadian yang terjadi antara Patrizia, Oliver dan Jerome saat di taman istana waktu itu.
"Jangan mempercayai apa pun yang di katakan Celia karena itu tidak benar."
"Jika seperti itu, kenapa Grand Duke mencium mu?" kesal Viggo, pria itu cemburu. Dirinya saja baru memeluk Patrizia tetapi pria itu malah sudah menciumnya.
"Sudahlah jangan membahas itu."
"Kau harus menjelaskan semuanya pada ku, Zia. Ini sangat penting!"
Patrizia melihat ke arah Steve. "Steve, aku akan berlatih."
Steve menahan tawanya, ia mengerti pesan yang Patrizia sampaikan di balik ucapannya. Gadis itu ingin Steve membawa Viggo pergi dari kastilnya. "Pergilah Zia, aku akan mengurusnya."
"Apa?" sarkas Viggo.
Steve memegang bahu Viggo. "Kita pamit Zia." setelahnya kedua pria itu menghilang dari hadapan Patrizia.
Patrizia menghela napasnya dalam kemudian ia melihat ka arah Imelda yang berdiri di belakangnya. "Aku ingin berlatih. Jangan mengganggu ku dan pastikan tidak ada orang yang masuk ke kamar ku."
"Baik lady."
Patrizia pun pergi ke kamarnya dengan berteleportasi setelahnya tubuh gadis itu langsung tertidur tapi jiwanya masuk ke dalam kalung dimensi.
Di kalung dimensi ternyata sudah ada Ruben, kucing itu tengah tertidur lelap. Entah mengapa melihat itu naluri kejahilan Patrizia memanggil, gadis itu tersenyum misterius.
Dengan sihirnya Patrizia mengumpulkan air yang bercampur dengan lumpur hingga berbentuk seperti bola yang cukup besar setelah itu dengan tanpa perasaan Patrizia melempar bola air bercampur lumpur itu ke tubuh Ruben.
Tawa Patrizia meledak saat melihat kucing itu terjatuh dari kursi karena terkejut.
"PATRIZIA!! APA YANG KAU LAKUKAN" geram Ruben.
Patrizia tidak bisa menghentikan tawanya. "Haa haa haa Ruben, kau sangat lucu. Lihatlah diri mu, kau seperti cokelat. Cokelat yang berbentuk kucing."
"PATRIZIA BERHENTILAH TERTAWA!! ATAU AKU AKAN MEMBALAS MU."
Bukannya berhenti suara tawa Patrizia malah semakin kencang, gadis itu tertawa sangat lepas akhirnya ia bisa membalaskan dendamnya pada Ruben.
"Manusia memang sangat menyebalkan." gerutu Ruben. "Aku akan membalas mu nanti, lihat saja."
Setelah puas tertawa Patrizia pun mulai berlatih sihir. Patrizia berlatih mengendalikan tubuhnya saat kekuatan sihir hitam miliknya menguasai tubuhnya.
Lima jam berlalu.
Patrizia menjatuhkan tubuhnya di atas rumput hijau itu. Napasnya memburu, tubuhnya penuh dengan keringat, gadis itu terlihat sangat kelelahan.
__ADS_1
"Hah, ini sangat melelahkan."
"Ruben." panggil Patrizia.
Tidak ada jawaban.
"Ruben." Patrizia berteriak.
Masih tidak ada jawaban.
Patrizia berdecak kesal. "Apa dia masih marah?"
Patrizia bangun dari rebahannya, gadis itu melihat ke sekeliling dan ternyata Ruben ada di kursi yang sama saat tadi Patrizia menjahilinya hanya saja sekarang tubuh kucing itu sudah kembali bersih.
Patrizia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ruben setelahnya gadis itu duduk di sebelah Ruben.
"Kau marah?" tanya Patrizia.
Ruben diam.
"Kenapa kau marah? Aku hanya membalas perbuatan mu dulu. Bukankah sekarang kita impas?"
Ruben menatap Patrizia yang juga tengah menatapnya. "Kau balas dendam?"
"Tentu saja."
"Ternyata kau orang yang pendendam."
"Ya, itulah aku."
Ruben mendengus kesal.
"Kapan gerhana bulan merah itu akan terjadi?" tanya Patrizia dengan pandangan menerawang.
Entah apa yang akan terjadi nanti? Apakah dirinya bisa menyelesaikan misi ini atau tidak? Jika misi ini gagal, apa dirinya akan terjebak selamanya di dunia novel ini?
"Kendalikan diri mu Patrizia, yakinlah kau pasti bisa menyelesaikan misi ini dengan sempurna."
"..aku hanya berpesan satu hal pada mu. Jangan pernah kau melibatkan perasaan mu di sini. Kau tahu, kita hanya sementara di sini. Setelah semuanya usai kita akan kembali dan meninggal semua yang ada di sini." jelas Ruben.
Patrizia terkekeh. "Soal itu, kau tidak usah khawatir. Kau pun tahu aku orang yang seperti apa, itu tidak akan terjadi pada ku." ucap Patrizia yakin.
"Kau yakin?"
"Kau tidak mempercayai ku?"
Patrizia sayang, bangunlah. Aku merindukan mu.
Suara orang yang sangat menyebalkan itu terdengar. Siapa lagi jika bukan suara manusia serigala itu.
Ruben tersenyum menyebalkan. "Entahlah."
Patrizia menatap Ruben tajam. "Kenapa kau tidak memberitahu ku jika Rex itu adalah serigala jadi-jadian?"
Ruben tertawa. "Kenapa? Kau sendiri yang membawanya ke kastil jadi jangan salahkan aku."
"Jika aku tahu Rex itu serigala jadi-jadian aku tidak akan pernah membawanya." kesal Patrizia.
"Kenapa kau kesal? Bukankah kau menyukainya?"
"Aku tidak menyukainya! Aku hanya menyukai matanya saja!" sanggah Patrizia marah.
"Tenanglah Patrizia, kenapa kau marah?"
Patrizia mengabaikan ucapan Ruben, gadis itu kembali berlatih. Ia akan berlatih sampai manusia serigala itu pergi dari kamarnya.
__ADS_1