
Kediaman Grand Duke.
Patrizia berada di kamar Oliver, lebih tepatnya Oliver mengurung Patrizia bersama para pelayan di kamarnya. Kini gadis itu tengah berbaring dengan pasrah menerima semua perawatan wajah dan tubuh yang di lakukan para pelayan itu.
Kau harus tampil cantik malam ini sayang.
Itulah kalimat terakhir yang di ucapkan Oliver sebelum pergi meninggalkan Patrizia.
Tidak ingin mati kebosanan Patrizia lebih baik masuk ke dalam kalung dimensinya. Ia bisa berlatih atau hanya sekedar bersantai seraya menikmati indahnya pemandangan di sana.
Sementara itu Sienna berdiri di luar kamar Oliver memaksa masuk ke dalam tapi kesatria Grand Duke yang berjaga di depan pintu menghalanginya.
"Berani sekali kau pada ku! Kau tidak tahu siapa aku? Aku lady Sienna adik dari lady Letizia! Biarkan aku masuk!" geram Sienna, urat kepala gadis itu terlihat menandakan jika dirinya sangat marah.
"Maaf lady, lady tidak bisa masuk menemui Grand Duchess karena saat ini-"
"APA!" pekik Sienna memotong ucapan salah satu kesatria itu. "GRAND DUCHESS?" Sienna terkekeh tidak percaya.
Baru bertunangan saja orang-orang sudah sangat menghormati kakaknya itu bahkan mereka memanggilnya 'Grand Duchess' Sienna sangat marah mengetahui fakta itu. Kenapa kakaknya itu selalu lebih unggul dari dirinya? Ini tidak bisa di biarkan. Bagaimana pun caranya pertunangan itu harus gagal dan Sienna akan melakukan apa pun untuk menggagalkannya.
"Apa yang akan kau katakan tadi? Maaf aku tadi memotongnya." ucap Sienna seraya tersenyum manis.
Sienna memerankan peran lady yang baik, lugu dan manis di hadapan para Kesatria Grand Duke, ia tidak ingin citranya buruk di hadapan para pekerja Grand Duke itu. Tetapi Sienna tidak tahu jika para kesatria itu sangat paham trik yang Sienna mainkan karena sudah banyak gadis yang melakukan hal seperti itu untuk menarik perhatian sang Grand Duke.
Kesatria itu ikut tersenyum. "Saya tadi ingin mengatakan jika Grand Ducess sedang melakukan perawatan."
"Baiklah jika seperti itu, aku akan kembali lagi nanti. Terimakasih."
"Iya lady."
Sienna pun pergi dari sana.
...🍃🍃🍃...
Oliver masuk ke dalam kamarnya, para pelayan itu menunduk hormat padanya kemudian Oliver menyuruh para pelayan itu keluar dari kamarnya.
Oliver berjalan mendekat ke arah Patrizia yang tengah tertidur tapi Oliver tahu jika yang ada di hadapannya itu hanya raga Patrizia saja sedangkan jiwanya berada di kalung dimensi.
Patrizia, apa kau ingin bermain? Jika iya, keluarlah dari kalung dimensi mu itu. Aku menunggu mu.
Saat Patrizia akan tertidur di kalung dimensi tiba-tiba saja suara Oliver terdengar. Gadis itu penasaran, permainan apa yang di maksud Oliver.
Setelah itu mata Patrizia perlahan terbuka. Dahi gadis itu mengernyit seingatnya sebelum dirinya masuk ke dalam kalung dimensi suasana di ruangan itu sangat ramai tapi kenapa sekarang sangat sepi.
"Kau sudah sangat tidak sabar rupanya bermain dengan ku?" goda Oliver.
Patrizia menatap Oliver tajam.
Oliver terkekeh. "Aku hanya bercanda Patrizia." kemudian pria itu menyodorkan sebuah mangkuk berisi lulur.
Mata Patrizia memicing. "Kau ingin aku membaluri lulur itu di tubuh mu? Jangan pernah bermimpi! Aku tidak akan pernah mau melakukannya!"
Oliver semakin terkekeh. Kenapa pikiran gadisnya itu sangat kotor. "Apa yang kau pikirkan sayang? Apa pun pikiran mu itu lupakan lah. Bukan itu maksud ku."
"..aku hanya ingin meminta pendapat mu." sambungnya setelah beberapa saat terdiam.
"Pendapat apa?"
"Harus aku apakan lulur ini?"
Patrizia menatap Oliver meminta penjelasan.
"Beberapa saat yang lalu adik mu itu mencoba menerobos masuk ke kamar ini, dia terlihat sangat marah dan kau tahu sifat adik mu itu."
__ADS_1
"Dia merencanakan sesuatu untuk menggagalkan pertunangan kita?" tebak Patrizia.
"Kau benar sekali. Dia berencana untuk menggantikan posisi mu. Dia menaruh racun pada lulur ini, jika lulur ini menyentuh kulit mu maka kulit mu itu akan langsung terbakar." jelas Oliver.
FLASH BACK ON
Setelah Sienna pergi dari depan kamar Oliver, kesatria yang berbicara dengannya tadi pergi melapor pada Oliver.
"Ada apa?" tanya Oliver.
"Lady Sienna baru saja datang Grand Duke."
"Kau tidak membiarkan dia masuk menemui gadis ku bukan?"
"Sesuai perintah anda, Grand Duke."
"Terus awasi dia."
"Baik Grand Duke." kesatria itu pergi setelah memberi hormat pada Oliver.
Dan kini kesatria itu berada di dapur, ia menintip apa yang di lakukan Sienna di balik tiang. Kesatria itu memperhatikan Sienna yang tengah memasukkan sesuatu ke dalam salah satu mangkuk lulur yang akan di gunakan untuk perawatan kulit Patrizia.
Setelah Sienna pergi dari dapur kesatria itu keluar dari persembunyiannya, ia mengambil mangkuk lulur yang sudah tercampur racun itu kemudian pergi untuk melapor pada Oliver.
"Untuk apa kau membawa mangkuk lulur itu?" tanya Oliver. Apakah dirinya juga akan melakukan perawatan yang sama seperti Patrizia? Oh tidak itu bencana!
"Lady Sienna menaruh sesuatu pada mangkuk lulur ini Grand Duke."
Oliver menggeram marah, aura yang di keluarkan pria itu sangat mengerikan. "Cepat panggil tabib."
"B-baik Grand Duke." ucap kesatria itu gugup. Melihat sang Grand Duke marah adalah hal yang sangat mengerikan.
Tak lama setelahnya kesatria itu kembali bersama tabib. Tabib pun langsung memeriksa lulur itu.
Kesatria dan tabib itu bergidik ngeri saat melihat mata sang Grand Duke berubah menjadi merah.
FLASH BACK OFF
"Aku tahu apa yang harus di lakukan dengan lulur ini." Patrizia menyeringai.
Oliver terkekeh. "Kita pergi sekarang?"
"Tentu."
...🍃🍃🍃...
Saat ini Patrizia dan Oliver berada di kediaman Marquess Wilson. Tepatnya mereka duduk di atas pohoh yang bisa melihat langsung ke dalam kamar Sienna lewat jendela kamarnya. Sebelumnya Patrizia masuk ke kamar Sienna dengan menyamar sebagai pelayan, gadis itu menukar lulur Sienna dengan lulur yang sudah tercampur racun.
Tawa Patrizia meledak saat ia mendengar suara jeritan kesakitan keluar dari mulut Sienna.
"Sudah puas?" tanya Oliver.
"Lumayan."
"Bisa kita pergi sekarang?"
"Tentu."
Oliver menggenggam tangan Patrizia tak lama mereka pun menghilang dari pohon itu. Oliver membawa Patrizia ke suatu tempat yang sangat indah, tempat itu adalah tempat favoritenya saat masih tinggal di perbatasan.
"Wahh.."
"Kau menyukainya?"
__ADS_1
"Ini sangat indah."
Patrizia berdecak kagum melihat pemandangan luar biasa di hadapannya itu. Saat ini Patrizia dan Oliver berdiri di atas sebuah batu yang letaknya tepat berada di antara dua air terjun.
"Aku baru tahu ada tempat seindah ini." ucap Patrizia.
"Itu karena kau terlalu fokus menjalankan misi mu itu."
Patrizia duduk di batu besar itu. "Kau benar."
Oliver ikut duduk di samping Patrizia. "Boleh bertanya?"
"Apa?"
"Misi mu. Misi apa yang kau kerjakan sampai kau datang ke dunia ku?"
"Apa itu penting untuk mu?"
"Tentu saja, itu sangat penting untuk ku. Aku tidak ingin kau terluka Patrizia."
"Rex, kau sudah tahu, aku tidak berasal di dunia ini setelah misi ku selesai aku akan kembali ke dunia ku. Jadi jangan terlalu berharap pada ku, keinginan mu untuk memiliki diri ku itu hal yang tidak mungkin. Dunia kita berbeda."
"Kau menguji cinta ku, Patrizia?"
"..kau dengar ini. Aku bersumpah akan menjadikan mu milik ku, entah itu di dunia ku atau di dunia mu. Kita pasti akan menjadi milik ku, kita akan hidup bahagia bersama cucu-cucu kita nanti." lanjut Oliver seyara menatap Patrizia dalam.
Patrizia terkekeh. "Bangunlah dari mimpi mu itu Rex."
"Ceritakan tentang diri mu."
"Kau masih belum menyerah rupanya?"
"Ceritakan saja Patrizia."
"Baiklah.."
"..nama ku Patrizia Cane, usia ku 20 tahun. Aku di benci orang tua ku sendiri tapi kau tidak perlu mengasihani ku karena aku memiliki Queen di samping ku.
"Queen? Siapa dia? Apa dia orang yang kau cintai?"
Patrizia melotot pada Oliver. "Kau pikir aku wanita penyuka sesama jenis!"
"Jadi Queen itu adalah perempuan ku pikir dia seorang pria."
"Tentu saja dia perempuan, dia sudah seperti kakak bagi ku. Dia adalah malaikat pelindung ku. Aku bertemu dengannya saat ibu ku sendiri menjual ku ke pria hidung belang. Saat itu Queen menyelamatkan ku dengan membeli diri ku seharga 100 juta Euro."
Patrizia terkekeh saat melihat wajah kebingungan Oliver. Pria itu kebingungan saat mendengar kata Euro. Ia tidak tahu apa artinya itu.
"Kenapa berhenti? Lanjutkan cerita mu."
"Setelah aku tinggal bersama Queen aku mengetahui identitas Queen yang ternyata seorang ketua Mafia."
"Mafia? Apa itu?" tanya Oliver.
"Penjahat."
"Jadi di dunia mu, kau seorang penjahat?"
"Ya, aku sudah terbiasa menghabisi nyawa manusia. Kehidupan ku penuh dengan bahaya, setiap harinya banyak musuh yang mencoba menghabisi ku. Sama seperti di dunia ini, siapa yang terkuat dia yang akan bertahan."
Oliver menatap Patrizia dalam. "Aku jadi semakin mencintai mu, Patrizia."
Patrizia menghela napasnya lelah. "Terserah saja lah."
__ADS_1