The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 39


__ADS_3

TVL 39


Kamar Patrizia.


Patrizia dan Oliver duduk seraya bersandar di ranjang.


"Rex, aku ingin menemui kakak ku besok. Apa kau bisa membawanya kesini?"


"Iya bisa. Tapi kau harus membayar ku."


"Aku meminta bantuan Steve saja kalau begitu."


"Aku akan membawa Panglima Reonal kesini besok. Tidak usah meminta bantuan pria lain."


"..gelang apa itu?" tanyanya kemudian.


Sebenarnya saat Patrizia tertidur tadi Oliver sudah melihat gelang itu. Oliver penasaran gelang apa itu karena seingatnya di pertemuan terakhir mereka, Patrizia tidak memakai gelang itu.


"Entah lah aku juga tidak tahu."


"Bagaimana bisa kau tidak tahu? Kau kan yang memakai gelang itu."


"Ini bukan gelang ku. Seorang nenek yang memberikannya pada ku."


"Seorang nenek?"


"Iya, nenek penjual roti. Dia juga mengatakan aku tidak boleh melepas gelang ini."


"Aku bisa merasakan ada kekuatan besar yang berasal dari gelang itu." ucap Oliver.


"Kau benar, aku juga bisa merasakannya. Setelah aku memakai gelang ini aku merasa daya tahan tubuh ku menjadi lebih kuat."


"Baguslah kalau begitu. Aku sempat khawatir gelang itu berbahaya untuk mu tapi ternyata tidak."


"Kau mengkhawatir kan ku?" tanya Patrizia.


"Tentu saja, kau hidup ku Patrizia. Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatir kan diri mu. Zia, apa aku boleh bertanya."


"Tanya kan saja."


"Kau belum mencintai ku?"


"Iya."


"Ck! Kenapa kau sangat jujur? Apa kau tidak bisa berbohong untuk kebahagiaan ku?"


"Untuk apa bahagia jika itu palsu?"


Oliver menatap Patrizia dalam.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu?"


"Aku lebih menyukai wajah asli mu." ucap Oliver tidak sadar.


"Hah? Apa maksud mu?"


"Iya Patrizia, aku mencintai mu."


"Kau mengalih kan pembicaraan Rex."


"Tidak."


"Jika tidak maka jawab pertanyaan ku."

__ADS_1


"Pertanyaan yang mana?"


"Jika tidak ingin memberitahu ku katakan saja jangan berbelit." setelahnya gadis itu merebahkan tubuhnya lalu menutup matanya.


Patrizia kau masih marah pada ku? Suara Ruben terdengar. Seharian ini kau mengabaikan ku? Aku minta maaf Patrizia, kau sendiri tahu bukan aku tidak bisa memberitahu mu segala nya. Sebagai permintaan maaf ku, aku akan memberitahu mu tentang hal yang tunangan mu itu sembunyi kan.


Katakan.


Ruben tersenyum. Apa itu artinya kau memaafkan ku?


Hm. Cepat katakan.


Oliver sudah melihat wajah asli mu.


"Kau marah?" tanya Oliver setelah beberapa saat terdiam. Pria itu ikut merebahkan tubuh nya di samping Patrizia.


Tidak ada jawaban. Patrizia memikir kan ucapan Ruben tadi, apa katanya? Oliver sudah melihat wajah aslinya.


Oliver memiringkan badan nya menghadap ke arah Patrizia. Patrizia terlihat sudah tertidur tapi Oliver tau gadis itu hanya pura-pura tertidur.


Cup


Oliver mencium dahi Patrizia dan seketika tubuh gadis itu menegang. Oliver terkekeh melihat itu, benar kan gadisnya belum tertidur.


"Buka lah mata mu, aku tahu kau belum tertidur."


Oliver menghela napasnya dalam. "Baiklah aku mengaku pada mu. Saat kau berbicara dengan Ruben di kamar mandi aku-"


"Kau mengintip." Patrizia memotong ucapan Oliver kemudian gadis itu memiringkan badannya menghadap ke arah Oliver. Posisinya sekarang mereka saling berhadapan. "Dan kau melihat wajah asli."


"Kau sudah tahu?" tanya Oliver terkejut.


"Ruben memberitahu ku. Rex, apa yang kau lakukan itu tidak sopan. Bagaimana bisa kau mengintip seorang gadis saat di kamar mandi. Untung saja saat itu aku masih berpakaian leng- tunggu." mata gadis itu melotot. "Kau tidak mengintip saat aku mandi bukan?" tanyanya ragu.


"K-kau tenang saja, aku pergi sebelum kau mandi."


Patrizia menghela napasnya lega.


Oliver kembali memiring kan badannya menghadap ke arah Patrizia. "Maaf Patrizia." sesal Oliver


"Sudah lah tidak usah di bahas lagi."


...🍃🍃🍃...


Keesokkan harinya.


Patrizia berada di pinggir lapangan menatap para bandit itu latihan pedang. Latihan itu di pimpin oleh Samuel. Patrizia tengah menunggu kedatangan Reonal.


Hari ini Patrizia akan memberitahu Reonal tentang siapa dirinya sebenarnya.


"Zia."


Patrizia tersenyum saat mendengar suara yang sangat di kenal nya, gadis itu membalik kan badannya dan langsung memeluk Reonal.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Reonal.


"Aku baik kak."


"Zia, kita bicara di dalam kastil saja." ucap Oliver.


Ruang tamu.


"Apa yang ingin kau bicara kan Zia?" tanya Reonal.

__ADS_1


Patrizia menghela napasnya dalam, gadis itu terlihat sangat gugup.


Tenanglah Patrizia, semuanya akan baik-baik saja. Batin Oliver.


Patrizia mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban kemudian gadis itu menatap Reonal. "Kak Reo."


"Kenapa Zia."


Patrizia diam.


"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan pada kakak? Kenapa kau terlihat gugup Zia?"


"Kakak s-sebenarnya a-aku..


"Sial! Kenapa aku gugup? Tinggal katakan saja Patrizia 'Aku bukan Letizia adik mu' hanya itu, kenapa tidak bisa?" batin Patrizia mencebik kan bibirnya kesal.


Oliver terkekeh mendengar itu. Kenapa gadis sangat menggemas kan? Rasanya pria itu ingin mencium bibir ceri itu.


"Zia."


"Hah? Iya itu aku ingin itu kakak." Patrizia menghela napasnya kasar. "Kenapa tidak bisa?"


"Apanya yang tidak bisa Zia? Kau tinggal kata kan saja apa yang ingin kau kata kan."


Patrizia kau belum siap mengatakan kebenarannya pada Reonal. Jangan paksakan diri mu. Suara Ruben terdengar.


Aku tidak ingin membohongi nya terlalu lama Ruben.


Kau tidak ingin membohongi Reonal tapi kau membohongi diri mu sendiri. Aku tahu Patrizia, di dalam hati mu itu kau tidak ingin Reonal tahu jika kau bukan adiknya.


"Zia, jika kau belum siap jangan katakan sekarang. Kau bisa mengatakan nya nanti saat kau sudah siap."


"Zia, kenapa kau tidak bisa mengatakan nya? Apa kau gugup? Jika kau gugup kenapa tidak bilang biar aku yang mengatakan nya pada kakak mu." ucap Oliver.


Patrizia menggeleng kan kepala nya memberi kode pada Oliver untuk tidak memberitahu Reonal.


"Kakak ipar sebenar nya Zia hmphh-


Ucapa Oliver terhenti saat Patrizia membekap mulut nya kemudian gadis itu tertawa canggung.


"Zia, kenapa bersikap tidak sopan? Singkirkan tangan mu dari mulut Grand Duke." ucap Oliver tegas.


Patrizia menuruti ucapan Reonal. Oliver tercengang melihat itu. Kenapa Patrizia sangat menurut pada Reonal sedangkan pada dirinya gadis itu selalu saja membangkang.


Rex jangan beritahu kak Reo soal aku bukan adiknya. Aku berubah pikiran, aku tidak ingin kak Reo tahu. Batin Patrizia.


Oliver mengabaikan Patrizia. Pria itu menatap Reonal serius. "Kakak ipar..


Rex hentikan!


..sebenarnya Zia..


REX!!! Patrizia menutup matanya rapat.


..dan aku berencana untuk menikah dalam waktu dekat ini. Itu yang ingin Zia katakan tadi. Apa kakak ipar menyetujuinya?"


Mendengar itu sontak mata Patrizia kembali terbuka, gadis itu menatap tajam Oliver.


DASAR GILA!


TIDAK WARAS!


Terimakasih atas pujiannya sayang.

__ADS_1


__ADS_2