The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 22


__ADS_3

"Bodoh! Kalian semua bodoh! Bagaimana bisa cangkir itu tertukar?"


"Maafkan saya ratu, akh.."


Tiba-tiba saja tubuh pengawal itu terpental hingga membentur dinding. Darah segar keluar dari mulutnya.


"Bereskan dia."


"Baik ratu." ujar pengawal lainnya.


Andora duduk seraya menatap cermin kemudian ia memoleskan lipstik berwarna merah darah di bibirnya.


"Ratu."


Suara lembut itu terdengar dari luar pintu.


"Masuklah."


Pintu itu terbuka menampilkan seorang gadis yang selama ini menjadi mata-mata sekaligus rekannya.


Andora tersenyum menatap gadis itu. "Lady Sienna." Andora duduk di sofa.


"Ratu Andora." Sienna tersenyum seraya menunduk hormat setelahnya gadis itu duduk di sofa tepat di hadapan Andora.


"Kau mendapatkan sesuatu?" tanya Andora.


"Tidak ratu tapi mata-mata kita mengatakan jika kakak ku menghilang saat akan pergi ke kamar putra mahkota." jelas Sienna.


"Apa kau yakin kakak mu itu bukan gadis pemilik sihir suci itu?"


"Sangat yakin ratu, kakak ku itu gadis yang sangat lemah, tidak mungkin dia orangnya." Sienna tersenyum remeh.


"Kau terus awasi keadaan Viggo jika dia selamat maka kita akan tahu siapa gadis pemilik sihir suci karena hanya gadis itu yang bisa mengeluarkan racun bunga lily hitam dari dalam tubuh Viggo."


"Baik ratu.


"Apa kau sudah melakukan tugas yang aku minta?"


Sienna menunduk. "Maaf ratu, anak itu sulit untuk di dekati. Jika saja hari itu rencana kita berhasil, anak itu sudah ada dalam genggaman ku."


Andora memberikan sebuah kalung dengan liontin berwarna hitam pekat pada Sienna. "Pakailah."


Sienna menerima kalung itu kemudian memakainya setelah ia melepas kalung yang selama ini di pakainya.


"Aku tidak ingin mendengar kau gagal lagi. Sihir yang ada dalam kalung itu jauh lebih kuat dari sebelumnya dan pastikan anak itu masuk dalam pengaruh sihir mu."


"Baik ratu."


"..ratu, apa kau tidak bisa merasakan mana dari sihir suci itu? tanyanya kemudian."


"Sampai sekarang aku tid-"


"Ada apa ratu?" tanya Sienna yang melihat Andora mematung.


"Sihir suci, aku merasakan mana sihir suci itu di sekitar istana ini."


"Benarkah?"


Cahaya hitam tiba-tiba saja muncul di ruangan itu dan setelah cahaya hitam itu menghilang terlihat seorang pria berpakaian serba hitam setelahnya pria itu menunduk hormat pada Andora. Pria itu adalah mata-mata.


"Katakan."


"Saya sudah mengetahui siapa gadis pemilik sihir suci itu, ratu."


"Siapa dia? Apa dia.. Putri tertua Marquess?"


"Tidak, bukan ratu. Gadis pemilik sihir suci itu adalah seorang pengemis, kepala tabib yang menemukannya."


"Kau yakin?"


"Saya sangat yakin ratu karena saya melihat sendiri gadis itu mengobati pangeran mahkota."


Seketika itu juga tawa Andora dan Sienna meledak.

__ADS_1


"Oh Dewa.. Selama ini aku mencurigai putri tertua Marquees adalah gadis pemilik sihir suci itu tapi ternyata gadis pemilik sihir suci itu hanyalah seorang pengemis."


"..Ini akan sangat menguntungkan untuk kita, aku yakin gadis itu belum menyadari kekuatannya dan sebelum dia menyadarinya.." Andora menatap mata-mata itu. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?" tanyanya menyeringai.


"Mengerti ratu."


"Pergilah."


Mata-mata itu menunduk hormat dan dalam sekejap ia menghilang di telan asap.


"Masalah gadis pemilik sihir suci itu telah selesai. Sebelum dia menghancurkan kita, dia yang akan lenyap terlebih dahulu."


"..kini kita hanya tinggal menyingkirkan ayah dan anak tidak berguna itu setelahnya kerajaan Archon ini akan ada dalam genggaman ku."


"Ratu, kau tidak melupakan janji mu pada ku bukan?"


Andora terkekeh. "Tenang saja calon menantu ku, aku tidak akan pernah melupakan janji ku. Setelah Zello menjadi raja aku akan menikahkan putra ku itu dengan mu."


"..dalam mimpi." lanjutnya dalam hati.


Bukankah sudah jelas, jika sudah mendapatkan kuasa penuh atas kerajaan Archon untuk apa Andora menjadikan Sienna yang hanya anak seorang Marquess sebagai menantunya. Akan lebih baik jika Andora menikahkan putranya itu dengan putri dari kerajaan yang jauh lebih besar sari kerajaan Archon dengan begitu kerajaan Archon akan semakin kuat.


Sienna tersenyum puas. "Saya sangat menantikan hari itu tiba ratu, hari di mana aku akan menjadi ratu dan ratu akan menjadi ibu suri."


"Sebelum hari itu tiba kau akan lenyap di tangan ku. Aku tidak mungkin membiarkan orang yang mengetahui semua rahasia ku hidup, akan sangat merepotkan nantinya." batin Andora tertawa jahat.


"Ratu, bagaimana dengan kakak ku?"


Ratu tersenyum remeh. "Kenapa? Apa kau takut bersaing dengannya?"


"Tidak, bukan seperti itu ratu. Ratu pun tahu jika di bandingkan antara aku dengan kakak ku jelas aku lebih baik dari dia. Aku tidak takut bersaing dengannya." Sienna merasa marah dengan ucapan Andora, ia tidak sudi jika harus di bandingkan dengan kakaknya yang tidak berguna itu.


"Apa kau marah?"


"Tidak ratu."


Andora terkekeh. "Kau tenang saja kakak mu itu juga akan lenyap karena dia bukan gadis sembarang. Selama ini kita berusaha untuk melenyapkan nyawanya dengan mengirim banyak pembunuh bayaran tapi dia masih hidup sampai sekarang. Menurut mu, apakah hal itu tidak mencurigakan?"


"Kakak ku selamat bukan karena dia hebat ratu tapi karena putra mahkota melindunginya, pembunuh bayaran yang kita kirim di habisi oleh para kesatria putra mahkota."


Sienna menganggukkan kepalanya. "Baik ratu, kalau begitu saya permisi." Sienna menunduk hormat dan berlalu pergi dari sana.


Andora tersenyum sinis. "Gadis itu sangat angkuh dan sombong. Dia menganggap dirinya yang terbaik tapi nyatanya dia sangat bodoh."


"..jujur aku sangat tertarik dengan lady Letizia, dia sangat berbeda. Dia terlihat lemah tapi licik." Andora mengingat kejadian dimana Sienna dengan sengaja mempermalukan Patrizia saat pesta dansa perayaan untuk sang pemenang kompetisi berburu tapi dengan mudahnya Patrizia membalikkan keadaan. "Dia bahkan mengakui ketidak mampuannya di hadapan raja dan itu membuat orang yang menghinanya malah berbalik menghina lady Sienna."


"..lady Letizia, apa aku harus menjadikan mu sebagai calon menantu ku?"


...🍃🍃🍃...


"BERHENTILAH TERTAWA!!!"


Bukannya berhenti suara tawa itu malah semakin keras.


Iris biru laut berubah menjadi merah darah dan seketika suara tawa itu tidak terdengar lagi. Keadaan menjadi sangat mencekam, aura yang di keluarkan pemilik mata merah darah itu sangat kuat dan menyesakkan.


"Zia tenang lah, maafkan kami." ujar Viggo dengan napas terengah seraya menyentuh tangan Patrizia.


Patrizia kendalikan emosi mu. Peringat Ruben.


Patrizia menutup matanya, gadis itu menghela napasnya dalam kemudian ia membuka matanya, iris merah itu kembali berubah menjadi biru laut.


Viggo, Reonal dan Steve menghirup udara rakus.


Mata Patrizia membola saat melihat Reonal terbatuk. "Kakak, apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


"Tenanglah Zia, kakak baik-baik saja."


"Maaf." sesal Patrizia.


"Tidak, ini bukan salah mu, kita yang salah, maaf Zia."


Patrizia mengangguk.

__ADS_1


"Sebaiknya kau bersihkan diri mu, setelah itu istirahatlah."


"Iya."


Pftt


Patrizia melotot ke arah Steve yang tengah berupaya keras menahan tawanya tapi gagal.


"Maaf Zia tapi ini sangat lucu." tawa Steve kembali pecah. Beri tepuk tangan untuk keberanian yang Steve tunjukkan.


"..lihatlah diri mu, kau terlihat sangat menyedihkan." lanjutnya setelah berhenti tertawa.


FLASH BACK ON


Saat Patrizia akan mengobati Viggo tiba-tiba saja Ruben memghentikannya.


Ada apa?


Patrizia, cepat rubah diri mu menjadi seorang pengemis.


Hah?


Ck! Cepatlah rubah diri mu, kita tidak punya banyak waktu. Mata-mata ratu akan segera sampai.


Kenapa harus pengemis?


Sudahlah turuti saja jangan banyak tanya.


Dengan malas Patrizia merubah dirinya menjadi seorang pengemis dengan kekuatan sihirnya. Wajahnya penuh dengan jerawat, tubuhnya penuh dengan lumpur dan baju yang di pakainya compang-camping.


Tawa Steve meledak saat melihat Patrizia. "Zia, ada apa dengan mu? Apa yang akan kau lakukan?"


"Ck! Diamlah! Jangan banyak bertanya." Patrizia menatap tajam Steve. "Berhentilah tertawa!"


"Iya, maaf." Steve menghela napasnya berkali-kali. "Fokus Steve." batinnya.


"Mendekatlah."


Steve dan para tabib yang ada di ruangan itu mendekat ke arah Patrizia. Patrizia memberitahu rencananya pada mereka.


"Kalian mengerti?"


Mereka semua mengangguk mengerti.


Steve lakukan sekarang.


Steve mengangguk. "Tabib, apa kau yakin dia adalah gadis pemilik sihir suci?"


"Saya sangat yakin kesatria Steve, saya bisa merasakan mana sihir suci itu dari dirinya."


"Baiklah, cepat kau suruh dia sembuhkan putra mahkota."


"Baik kesatria Steve."


Kepala tabib melihat ke arah Patrizia yang menunduk. "Nona ikuti arahan saya.


Patrizia mengangguk. Kepala tabib pun memberi arahan pada Patrizia dan Patrizia mengikuti arahan itu.


Tak lama asap hitam keluar dari tubuh Viggo, Patrizia berhasil mengeluarkan racun lily hitam itu dari tubuh Viggo.


Patrizia menyeringai saat mata-mata ratu itu menghilang dari kamar Viggo. Tak lama setelah itu Reonal pun Masuk.


FLASH BACK OFF


"Viggo, apa aku boleh memenggal kepala kesatria terbaik mu ini." tanya Patrizia tersenyum smirk.


"Tidak ada yang melarang mu, Zia. Lakukan lah."


"Kakak, apa kau akan marah jika aku menghabisi sahabat terbaik kakak ini." Patrizia memainkan belati di tangannya.


"Kakak tidak akan marah Zia, lakulan lah jika itu membuat mu bahagia."


Steve terkekeh tidak percaya. "Kalian semua.. Jahat!!"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Steve menghilang begitu saja dari kamar Viggo dengan berteleportasi.


__ADS_2