The Villainess Lady

The Villainess Lady
Chapter 15


__ADS_3

"Kakak, kau datang di saat yang tepat." gumam Patrizia yang masih bisa di dengar oleh Reonal yang duduk di sebelahnya.


Saat Reonal datang menemui Patrizia betapa terkejutnya ia ketika melihat adiknya itu tengah sarapan di temani tiga pria berpengaruh di kerajaan dan kini mereka berada di ruang tamu.


"Apa yang terjadi Zia? Kenapa mereka semua ada di sini?" tanya Reonal berbisik.


"Entahlah, aku tidak tahu." Patrizia juga ikut berbisik.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Viggo penasaran, ia tidak bisa mendengar pembicaraan adik kakak itu.


"Jangan ikut campur!" sinis Patrizia.


"Zia, jaga ucapan mu, kau harus bersikap sopan pada Yang mulia putra mahkota." ucap Reonal tegas.


"Tidak apa Panglima, jangan memarahinya." ujar Viggo.


"Kalian pergilah! Aku ingin menghabiskan waktu ku bersama kak Reo." usir Patrizia.


"Zia!"


"Sudahlah kakak mereka juga tidak akan marah." Patrizia menatap ketiga pria di hadapannya itu. "Iya kan?" tanyanya kemudian.


Ketiga pria itu mengangguk dengan kompak.


Perrizia beralih menatap Reonal."Lihatkan, mereka tidak marah."


"Kau ini." Reonal menggelengkan kepalanya.


Jujur Reonal sangat terkejut melihat kedekatan adiknya dengan ketiga pria itu. Reonal sangat tahu sifat ketiganya, ya tidak berbeda jauh dengan dirinya. Entah apa yang di lakukan adiknya itu sampai membuat ketiga pria es itu tertarik padanya.


Patrizia kembali menatap ketiga pria di hadapannya. "Kalian tidak pergi?"


"Aku akan berkunjung lagi nanti." ucap Edoardo.


"Tidak perlu."


"Aku pergi, jangan merindukan ku." ucap Viggo.


Patrizia mendengus.


"Aku juga pergi, aku harus memeriksa emas dan berlian kita yang akan di kirim ke kaisaran barat."


Mandengar emas dan berlian mata Patrizia seketika berbinar. "Bekerjalah dengan, kau harus mendapatkan uang yang banyak untuk ku."


"Sesuai permintaan mu, lady."


Viggo dan Edoardo mendengus kemudian ketiga pria itu pergi meninggalkan kediaman Patrizia.


Patrizia menatap Reonal. "Aku menolak."


Reonal terkekeh, ia tahu pasti adiknya itu sudah membaca pikirannya. "Menolak apa?"


"Ck! Jangan pura-pura tidak paham, kakak tahu aku bisa membaca pikiran dan aku juga sudah tahu tujuan kakak datang ke sini."

__ADS_1


"Ikutlah bersama kakak, kali ini aja."


"Tidak."


"Zia, ayolah. Ayah, ibu, Sienna, mereka merindukan mu. Mereka hanya ingin makan malam bersama mu, kau tega menolaknya?"


"Tapi kak-"


"Tidak ada tapi-tapi, kau harus ikut dengan kakak pulang ke rumah."


Patrizia menghela napasnya pasrah. "Baiklah."


Malam harinya..


Patrizia baru saja selesai makan malam bersama keluarga Letizia. Kini keluarga Marquess itu berkumpul di ruang keluarga seraya menikmati segelas teh.


"Ibu sangat merindukan mu, sayang." ucap Sevira seraya memeluk Patrizia.


"Iya ibu, aku juga sangat merindukan ibu, ayah dan juga Sienna."


"Kakak, menginap lah malam ini." ucap Sienna.


"Tidak, setelah ini kakak akan langsung pulang."


Sienna cemberut mendengar penolakan Patrizia.


"Menginap lah sayang, ibu masih sangat merindukan mu."


"Tapi-"


Patrizia mengangguk. "Baiklah ibu."


"Jangan hanya menginap, tinggal lah di sini, Zia. Apa kau tidak ingin tinggal bersama keluarga mu?" tutur Albert.


"Tidak, bukan seperti itu ayah hanya saja aku sudah nyaman tinggal di sana, terlebih Raja Edgar juga sudah memberikan kuasa penuh atas kota Alodia pada ku. Jadi sudah menjadi tanggung jawab ku untuk memulihkan kembali kota Alodia."


Keluarga Marquess Wilson memang sudah mengetahui jika Raja Edgar memberikan kota Alodia sebagai hadiah pertunangan pada putri tertua Marquess, itu yang keluarga Marquess tahu. Mereka tidak tahu alasan sebenarnya.


"Zia, apa yang terjadi? Zia hey, ada apa dengan diri mu?" tanya Reonal khawatir saat ia melihat Patrizia memegang sebelah dadanya, gadis itu terlihat kesulitan bernapas.


Reonal langsung menahan tubuh Patrizia saat gadis itu tiba-tiba saja pingsan di sampingnya. Reonal langsung membawa Patrizia ke kamar yang Letizia tempati sebelum dirinya di asingkan.


Reonal membaringkan tubuh Patrizia ke ranjang tak lama tabib pun datang. Tabib memeriksa keadaan Patrizia sedangkan keluarganya menunggu di luar.


Sama seperti tabib istana, tabib keluarga Marquess pun terkejut saat melihat Patrizia menyembuhkan dirinya sendiri.


"Sihir suci?"


"Tidak ada yang tahu di keluarga ku selain kak Reo. Aku mempercayai mu tabib."


"Mengerti lady."


Sudah ku katakan bukan? Mereka mulai mencurigai mu sebagai gadis pemilik sihir suci. Berhati-hatilah, Sienna akan terus mengawasi mu. Suara Ruben terdengar, saat ini kucing itu berada di kastil bersama Samuel dan Imelda. Patrizia tidak membawa mereka bersamanya.

__ADS_1


"Kau katakan ini pada keluarga ku." Patrizia memberi tahu tabib apa yang harus di katakan tabib itu pada keluarganya.


"Iya lady."


Sementara itu keluarga Marquess sangat mengkhawatirkan keadaan Patrizia kecuali Sienna.


"Bagaimana keadaan putri saya tabib?" tanya Sevira dengan isak tangisnya.


"Lady Letizia terkena serangan jantung ringan, sekarang keadaan lady sudah jauh lebih baik. Tapi lady harus beristirahat secara total dalam beberapa hari kedepan."


Sienna tersenyum senang mendengar penuturan tabib. "Kak Zia terpengaruh ramuan itu, itu artinya kak Zia bukan gadis pemilik sihir suci. Jika kak Zia gadis pemilik sihir suci ramuan itu tidak akan terpengaruh padanya. Sudah ku duga, mana mungkin kakak ku yang lemah itu adalah gadis si pemilik sihir suci." batin Sienna.


Sebelumnya Sienna mencampur teh Patrizia dengan ramuan, ramuan itu akan membuat dada menjadi sesak akibatnya susah untuk bernapas tapi hanya untuk sesaat. Ramuan itu tidak berbahaya, orang yang meminum ramuan itu akan di anggap terkena serangan jantung ringan. Dan ramuan itu tidak berpengaruh untuk orang yang mempunyai ilmu sihir.


Patrizia tahu jika Sienna menambahkan ramuan semacam itu di tehnya dari Ruben, Ruben juga memberitahu Patrizia apa yang harus di lakukannya setelah meminum teh itu. Jadi, tadi itu Patrizia hanya berakting.


...🍃🍃🍃...


Tiga hari berlalu..


Selama tiga hari ini yang Patrizia lakukan hanya makan dan tidur, Marquess dan Marchioness benar-benar tidak membiarkannya untuk turun dari ranjang. Tabib pun rutin memeriksa keadaan Patrizia ya walau pun itu hanya pura-pura. Bahkan Marquess sendiri lah yang merawat Patrizia.


"Ayah sudah, aku sudah kenyang."


"Baiklah." Albert memberikan mangkuk itu pada pelayan kemudian membantu Patrizia untuk minum.


"Terimakasih ayah. Maaf selama tiga hari ini aku sangat merepotkan ayah."


"Tidak apa sayang, ayah senang melakukannya. Seharusnya ini yang ayah lakukan sedari dulu, bukankah dulu ayah sangat kejam pada mu?"


"Sudahlah ayah jangan di bahas lagi, aku sudah memaafkan ayah."


Albert membawa Patrizia dalam pelukannya. "Terimakasih sayang, kau putri terbaik ayah. Ayah janji akan menebus semua kesalahan ayah dulu."


Drama yang sangat mengharukan. Suara Ruben terdengar lagi.


Ck! Diamlah! Kau mengganggu konsentrasi ku saja.


Patrizia tersenyum miring saat ia melihat Sienna yang diam-diam mengintip di pintu kamarnya.


"Bukan dia ayah tapi aku, Sienna putri terbaik ayah." gumam Sienna menatap benci Patrizia setelahnya gadis itu pergi dari sana.


Kini Sienna berada di kamarnya dengan kondisi kamar yang sudah hancur. Barang-barang berserakan di lantai, pecahan kaca di mana-mana bahkan keadaan Sienna pun jauh dari kata baik. Sienna marah, ia cemburu melihat sang ayah sangat perhatian pada Patrizia. Dulu kasih sayang ayahnya hanya untuk dirinya kini kasih sayang itu harus terbagi. Sienna membenci itu, ia sangat tidak suka jika miliknya di rebut oleh orang lain.


Selama ini ayahnya selalu memuji dirinya dan selalu mengatakan jika dirinyalah putri terbaik ayahnya tapi kini ayahnya malah mengatakan itu pada putri lainnya. Sienna tidak suka itu, putri terbaik ayahnya itu hanya dirinya bukan putri yang lain. Pujian itu hanya untuk dirinya bukan putri yang lain.


"Tidak akan aku biarkan kau merebut kasih sayang ayah dari ku! Tidak akan!" Sienna mengepalkan tangannya erat.


Dengan senyum manisnya Sienna keluar dari kamarnya. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju taman seakan tidak terjadi apa-apa padahal baru beberapa detik yang lalu gadis itu mengamuk di kamarnya.


Setelah sampai Sienna menatap teh chamomile untuk yang sudah tersaji di meja kecil. Netranya kemudian menatap hamparan bunga mawar yang sangat cantik. Sienna sangat menyukai suasana ini, sangat tenang tapi ketenangan itu hancur saat teriakan salah satu pelayan pribadinya itu terdengar.


"Lady.. Jangan lakukan itu." ujar pelayan yang melihat Sienna dengan santainya menumpahkan teh yang masih panah ke kedua telapak tangannya secara bergantian.

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan? Aku tidak melakukan apa pun? Pergilah, panggil ayah ku. Katakan padanya, putri kesayangannya terluka." ucap Sienna seraya tersenyum.


"Ba-baik lady."


__ADS_2