
“Saya memang berniat mau malam ini, tapi kau keburu hadir di sini sehingga saya tidak perlu memanggil mu lagi.” Darjat mengarahkan tangan ke pipi Tiara yang putih mulus, hidung yang mancung dan bibir yang tipis warnanya ranum merah menggoda.
Kedua tangan Tiara merengkuh pundak pria yang sudah tampak terbakar dengan perasaannya sendiri.
Bila dalam kasat mata orang lain, tubuh Darjat yang polos itu sedang bermain dengan ulat berwarna emas yang membelit tubuhnya, sehingga yang terlihat hanya kepalanya saja yang sedang beradu mulut dengan ular tersebut.
Tapi tidak dengan Darjat, bagi dia saat ini dia sedang bercinta dengan gadis cantik nan menawan, permainan yang bikin dia melayang ke langit ketujuh.
Keduanya begitu menikmati, pertemuan yang penuh dengan gelora. Darjat maupun Tiara sama-sama saling melepas sesuatu yang sudah tidak terbendung lagi itu.
“Ooh, sayang ... kau begitu nikmat dan membuatku melayang." Gumamnya Darjat.
Sementara Tiara, tak henti-hentinya menunjukan senyumnya yang mengembang.
Darjat menghempaskan tubuhnya akibat kelelahan akibat seringnya ******* yang dia rasakan. Tiara duduk dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari bibirnya. Menatap ke arah Darjat yang tampak kelelahan dan memicingkan matanya. Bibirnya menyungging, merasakan puas dengan acara bersenang-senang yang tidak dia dapatkan setiap hari.
Darjat terduduk dengan bersandar ke tumpukan bantal, tatapannya begitu lekat pada gadis. "Aku membutuhkan uang untuk biaya menikahi kekasih ku.”
Tiara turun dari tempat tidur dan meraih pakaiannya yang berceceran di lantai. “Kau jadi menikahi kekasihmu itu? bukannya sudah ditolak mentah-mentah?”
“Itu kan dulu. Ratu ... bukan sekarang, sekarang aku sudah menjadi orang kaya. Orang terpandang di kampung ku ini dan aku tidak akan direndahkan lagi oleh orang lain.” Kata Darjat dengan senyum bangganya.
“Ingat, janganlah kau sombong. Jangan sampai kau merasakan sistem kekayaan saya hanya sekejap mata. Ingat larangan ku! jangan sombong dan kau harus mau berbagi atau menolong orang lain yang sedang membutuhkan bantuanmu." Tiara menjeda perkataannya.
"Karena jika tidak, saya akan mencabut sistem kekayaan mu itu dengan sekilat mata memandang, ingat lah?” ungkap Tiara sambil mendekati Darjat dan mengalungkan tangannya di leher pria yang baru saja memberikan kesenangan tersebut.
“Baiklah, akan selalu ku ingat pesan mu itu.” Darjat mengangguk pelan tanda setuju dengan yang dikatakan oleh Tiara.
“Baiklah. Saya harus pergi, kapan saya akan datang ke sini. Uang mu sudah ada di tempat nya, pergunakanlah dengan baik.” Tiara pergi dari kamar tersebut dengan menggunakan jendela yang mendadak terbuka.
__ADS_1
“Terima kasih Tiara? eh Ratu kau sudah memberikan semuanya yang ku mau.” Darjat tersenyum lebar dan langsung membuka berkas tempat uangnya yang ternyata memang benar terdapat uang yang berwarna merah dan biru gepokan, tertata rapi.
“Saya menjadi orang kaya… ha ha ha … tidak akan ada orang yang menghina ku lagi gara-gara aku miskin, Ha ha ha ... cangkir-cangkir, cangkir-cangkir. Darjat menciumi uang yang di tangan.
Sish ... Sish ... Sish ....
Tiara terus meninggalkan tempatnya Darjat yang sedang kegirangan dengan uang yang dia berikan.
...---...
Setelah beberapa waktu. Paijo menebus istri dan bayinya dari rumah sakit, Paijo kini kepikiran tentang Tiara dan penawaran yang dia berikan.
“Kemana harus aku mencari wanita tersebut? sementara tempat yang waktu itu saya datang pun, tidak ketemu. Di manakah tempat itu ya?” Paijo bermonolog dalam hati.
Mobilnya yang kosong, terus berjalan pelan dan sambil celingukan mencari jalan gang yang pernah dia lewati pada waktu itu.
“Tiara-Tiara, Tiara… dimana dirimu? apakah tawaran mu itu masih berlaku? setidaknya aku dapat berterima kasih padamu.” Gumamnya Paijo dengan mata yang terus mencari sesuatu yang dia cari.
Tiba-tiba ... mobil taksi yang di kemudian Paijo berhenti mendadak dan mati begitu saja. “Lho, kanapa nih? tiba-tiba mati, mana jauh dari pemukiman lagi,” gumamnya Paijo sambil membuka pintu mobil dan keluar untuk mengecek mesin.
Setelah beberapa kali menyalakan dan menyalakan tetap saja tidak mau menyala. Pada akhirnya Paijo membuka depan mobil dan mengecek segalanya.
“Hem, tidak ada masalah apapun.” Kata Paijo sambil kembali ke dalam dan menghidupkan kembali.
Namun tetap saja berkali-kali pun tidak mau hidup, bensin tarik sehingga Paijo kelimpungan. Masalahnya jauh dari pemukiman apalagi bengkel.
Paijo mengacak jenggot frustasi dibuanya. “Ya Tuha ... kenapa ini?sudah malam dan aku harus pulang!”
Tiara yang berdiri tidak jauh dari tempat dimana Paijo berdiri. Mengulas senyum yang manis dan merekah. “Ada apa kau memanggil ku? benar kan ... suatu saat kau akan membutuhkan ku, buktinya kau memanggil nama ku.”
__ADS_1
Langkah Tiara yang teratur mendekati Paijo yang tampak sangat kebingungan menatapi mesin mobil yang tidak mau menyala itu.
“Mas, kau memanggil ku?kenapa mobilnya, Mas?”
“Busyet, ujubuneng …” Paijo terkaget-kaget. Di malam-malam begini dan dihiasi lolongan suara an-jing. Serta suara-suara aneh yang entah suara apa aja itu.
Paijo melongo dan begitu Shock melihat kehadiran Tiara yang secara tiba-tiba berada di sana. Matanya sampai-sampai tidak berkedip melihat gadis itu yang menunjukan senyumnya.
“Kenapa Mas? melongo begitu, ini saya Mas. Tiara yang waktu itu Mas antar pulang,” ucap Tiara sambil semakin mendekat.
“Ti-Tiara? benar kah ini yang waktu itu bertemu dengan ku?” Paijo menatap penuh ragu ke arah Tiara yang semakin mendekat.
“Iya. Ini saya, Mas. Ini aku saat itu, apa kabar Mas? sedang apa di sini?” Tiara tetap menunjukan senyumnya yang manis.
“Em ... ini, taksi ku mogok secara tiba-tiba.” Paijo terlihat kikuk dan serba salah menerima tatapan lekat dari gadis manis tersebut.
“Oya, mobil mogok?Coba Mas nyalakan kembali,” titah Tiara menunjuk ke arah kunci mobil taksi tersebut.
“Sudah berkali-kali saya nyalakan dan hasilnya tetap sama,” sahut Paijo sambil menggeleng.
“Coba aja Mas … coba hidupkan kembali, siapa tahu saja hidup kembali!” Tiara kekeh menyuruh Paijo untuk menghidupkan mobilnya.
Dan pada akhirnya Paijo pun menuruti, menutupi bagian depan mobil lalu masuk dan duduk menyalakan kembali taksi tersebut.
Tiara menatap ke arah salah satu makhluk anah yang menghalangi mobil tersebut sehingga dengan tiba-tiba mobil mogok. Mahluk itu sangat menyeramkan bila dipandang dengan kasat mata, tubuhnya tinggi besar hitam dan berbulu lebat. Matanya besar dan merah, mulutnya lebar. Lidah panjang, telinga lebar serta kuku-kuku yang panjang dan runcing.
Kalau yang melihat makhluk tersebut orang biasa pasti sudah ngibrit kabur dengan melihatnya saja apalagi berhadapannya langsung. Pasti tidak akan kuat ....
.
__ADS_1
...Bersambung!...