Tiara Siluman Ular

Tiara Siluman Ular
Imbalan


__ADS_3

“Tapi, uang nya dari mana ya? toh rumahnya biasa saja dan tidak ada kendaraan sama sekali, terus uang itu dari mana? Iih ... jangan-jangan hasil merampok BANK,” batin Paijo sembari bergidik.


“Mas, kok melamun sih? bergidik segala lagi? aku itu bertanya mas dapat pinjaman nya dari mana? Dari perusahaan? Jangan terlalu besar! Bayarnya berat Mas,” ujar sang istri sambil memakan gorengan yang Paijo bawakan.


"Ha ... jangan terlalu di pikirkan, itu urusan ku dek, ya ganteng ayah ... ci guanteng nya ayah." Paijo mengajak baby nya berinteraksi.


Kemudian, Paijo memboyong istri dan baby nya pulang ke rumah, Paijo merasa tenang biaya rumah sakit lunas, dan hutang-hutang yang lain tektek bengkel pun hari ini Paijo lunasi.


Kontrakan pun sudah di bayar setahun ke depan. Istri nya pun di beri buat pegangan lima juta, sementara belanja beras dan keperluan lainnya Paijo sendiri yang belanjakan. Membuat sang istri merasa heran bukan kepalang dengan uang yang suaminya miliki.


"Mas, sebenarnya kau dapat uang dari mana? dan berapa? kok banyak dan gak habis-habis?" sang istri menatap sang suami dengan lekat sambil duduk di sofa ruang tengah.


Paijo yang sedang membereskan belanjaan menoleh. "Siapa bilang tidak habis-habis? habis kok, aku gak pegang lagi. Hutang-hutang kita sudah lunas semua bahkan kontrakan pun sudah mas bayar untuk setahun ke depan. Jadi jangan khawatir di tagih."


"Em ... iya, uangnya dari mana? wajar bila aku ingin tahu," ulang sang istri kembali, dia tetap penasaran dari mana sang suami mempunyai uang yang sepertinya bukan sedikit.


“Adek tidak usah tau dari mana, biar itu Mas saja yang tau dan memikirkannya.” Kata Paijo dengan dingin dan tidak ingin diketahui dari mana asal mu asal uangnya di dapat.


“Tapi, Mas ... aku ini istri mu lho, aku berhak tahu Mas ...” sang istri kekeh ingin mengetahui tentang uang itu.


“Adek memang istri Mas, tapi Mas tidak mau membebani pikiran kamu, Dek. Jadi kamu tidak usah tahu soal itu, kamu cukup urus rumah tangga kita saja. Anak-anak kita dengan baik. Sekarang Mas mau menjemput ibu dan si sulung.” Paijo ngeloyor dengan kunci mobil di tangan.


Sang istri hanya bisa mengusap dada dan menghela nafas panjang melihat kepergian sang suami lantas memasuki mobil taksi perusahaan.


...----...

__ADS_1


Suasana begitu riuh dan membuat geger setempat, atas kematian seorang warga yang meninggal dan diketahui dengan patokan ular di beberapa titik, di bagian tubuhnya.


Orang-orang berdatangan untuk melayat dan sekedar ingin tahu penyebabnya. Keluarga menangis histeris meratapi anggota keluarga nya mati mendadak tersebut.


“Mungkin dia memuja ke siluman ular kali ya? kan kekayaan nya juga termasuk instan, alias cepat. Lagian nih ya? dia awal aje dia baik dan dermawan. Eh ... ke sana-sini nye yeh? Pelit nye luar biase.”


“Iye bener tuh, kemarin si siape yeh nama nye? Lupa ane. Mau pinjem uang malah di usir dan boro-boro di kasih. Yang ada gigit jari. Padahal dia butuh banget buat makan hari itu juga.”


“Oh, iya si Muin juga ye? die mau pinjem buat beli obat emak nyeh. Gak dikasih, boro-boro ngasih Cuma-Cuma yeh pinjemin juga kagak, padahal die itu orang terkaya di desa kite.”


“Bener tuh, tapi pelitnya minta ampun. Kemarin aje yeh? anak gue nemu buah jeruk di halaman di marahin setengah mati. Di tunjuk-tunjuk pencuri sama die, kebangetan emang die etuh.”


“Emang nyeh berapa biji jeruk yang nemu itu?”


“Emak gue nemu pepaya di depan sono. Dimarahin habis-habisan sama die. Dasar orang kaya pelit nya setengah mati.”


“Sudah-sudah, jangan gunjingan orang meninggal. Pamali! yang sudah ya sudah aja. maafin, doain semoga diterima amal ibadahnya dan di ampuni dosa nyeh. Bukan di gunjingin yang tidak-tidak.”


“Tapi, kan itu kenyataan nye ... seperti itu, mau gimane lagi? tak bisa di elakan.”


“Ya sudah, maafin dan lupakan semuanya, jangan mengingat keburukan orang. Jangan menjadi amal buruk buat kita juga.”


Begitulah perbincangan warga tentang orang yang meninggal yang dipatok ular tersebut. Kemudian mereka pun tak luput mengiringi jenazah ke pemakaman dihiasi dengan cuaca nan mendung.


Dari dalam masih terdengar jeritan tangis dari keluarga korban, dokter pun memvonis kalau kematiannya murni karena gigitan ular. Sementara seluruh tempat tersebut sudah di sisir dengan baik dan tidak satu pun ditemukan seekor ular kecil pun.

__ADS_1


“Walau pun tidak ditemui satu pun. Tapi kita harus tetap waspada akan keberadaan mahluk tersebut di sekitar kita, jangan sampai ada lagi korban di antara kita semua.” Perhatian dari salah seorang warga yang di akui sebagai sesepuh. Sebelum membawa jenazah ke pemakaman.


Suara takbir dan tahlil mengiringi dibawanya jenazah tersebut ke tempat peraduannya yang terakhir.


“Ular-ular.” Orang-orang penggali kuburan melonjak naik, karena di dalam lobang terdapat beberapa ular, membuat mereka menjauh ketakutan.


Namun yang lainnya berusaha mengusir ular-ular tersebut agar menjauh dari lobang tersebut.


Beberapa meter dari liang lahat. Tidak satu pun orang melihat keberadaan ular besar yang berwarna emas, tengah memandangi ke arah jenazah yang baru saja datang dan orang-orang menjadi ribut gara-gara di lobang nya ada ular.


Setelah sesepuh di sana mengumandangkan adzan dan doa-doa lainnya, barulah binatang melata itu tiba-iba hilang begitu saja dan hilang sungguh tidak kasat mata. Membuat semua orang merasa heran bukan main.


“Hem, itulah imbalan atau hukuman bagi orang yang tidak mengikuti perintah ku! sebentar lagi kekayaan mu pun akan hancur wahai manusia tamak. Sudah ku perintahkan, jangan sombong dan harus berbagi dengan yang membutuhkan, tapi kau menyia-nyiakan kepercayaan ku. Sekarang kau harus merasakannya juga.” Ular itu yang tiada lain adalah Tiara, bergumam sendiri sambil melihat jasad orang tersebut dikebumikan.


Sementara roh nya berdiri dan terus berteriak. “Jangan? Jangan di kuburkan? Saya belum mati! Saya masih hidup. Jangan di kuburkan? Saya mohon? Pak ustadz saya belum mati, dengar saya, saya belum mati.”


Tiara tersenyum mengembang melihat orang tersebut terus berteriak seperti orang gila.


Roh orang tersebut menghampiri Tiara dan memohon-mohon agar di beri kesempatan satu kali lagi, dia ingin memperbaiki diri. Dia bersimpuh di hadapan Tiara sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada ....


.


...Bersambung!...


Jangan lupa juga ketuk tiga titik di bagian kanan dan klik subscribe nya ya?

__ADS_1


__ADS_2