Tiara Siluman Ular

Tiara Siluman Ular
Gubuk tua


__ADS_3

“Ya Tuhan ... nikmat sekali minum disaat sangat kehausan seperti ini,” gumamnya Dahlan sambil kembali meneguk air minumnya tersebut.


Hari sudah menunjukan sinar matahari yang kemerahan. Pertanda sebentar lagi matahari akan tenggelam berganti dengan malam.


Dahlan baru saj mendapat hasil dari memungut barang bekasnya dan hanya dapat dan menghasilkan uang sebesar Rp 15 cukup satu bungkus nasi padang saja.


Netra Dahlan membocorkan uang tersebut, bagaiman bisa dua nasi bungkus dengan uang hanya 15rb? tapi segini juga alhamdulillah tidak sama sekali, saat berebutan dengan orang lain atau pemulung lainya.


Langkah Dahlan yang tertatih dan gontai tampak lelah memasuki warung nasi padang. Dengan ragu, Dahlan mendekati penjaganya yang sudah tidak asing lagi pada pemuda tersebut.


“Mas, saya ada uang segini. Mau nasi satu bungkus, tidak apa lauknya sedikit juga.” Dahlan menunjukan uangnya yang lima belas ribu itu.


“Lima belas ribu Lan?” kata penjaga sambil membungkus nasi beserta lauknya.


“Tidak, Mas.Yang lima ribu buat beli obat bapak yang sakit batuk pilek, Mas.” Dahlan menggeleng kalau uang yang mau dia belikan nasi hanyalah sepuluh ibu saja.


“Baiklah, saya bersedekah sebagian pada kamu dan bapak mu, Lan.” Kata penjaga warung dan memberikan dua bungkus nasi pada Dahlan.


“Aduh, makasih ya Mas?semoga kebaikan Mas di gantikan sama yang maha kuasa,” ungkap Dahlan.


"Iya, bawalah da makan lah bersama bapak mu. Balas penjaga warung tersebut.


Dengan hati yang sedikit lega, Dahlan membawa langkahnya untuk pulang. Dan sebelumnya membeli dulu obat untuk sang ayah.


Setibanya di kediaman, Dahlan langsung mendekati sang ayah yang sedang berbaring tersebut dan sesekali batuknya begitu menyiksa.


“Pak. Saya bawakan makan dan obat diminum ya Pak?” Dahlan duduk di samping sang ayah sambil menyimpan nasi bungkus dan obatnya di samping ayahnya tersebut.


"Ohok. Ohok," sang ayah melirik yang Dahlan bawa dan dengan perlahan mengambil dan memakannya.


Currrrr ....


Tiba-tiba hujan turun begitu deras. Dan airnya pun bocor ke tempat tinggal nya Dahlan.


Dahlan yang sedang makan pun sibuk memasang wadah agar airnya tidak berceceran.


Sang ayah yang lagi sakit pun terpaksa harus bergeser ke tempat yang lebih aman dari bocoran air hujan yang begitu deras dan dibarengi angin juga petir.

__ADS_1


"Permisi ... boleh numpang berteduh?" suara lembut seorang wanita yang nyaris tidak terdengar.


Dahlan dan sang ayah celingukan dan bermain mata, berasa ada sayup-sayup suara dari luar. Keduanya menajamkan pendengaran nya, siapa tahu itu memang suara orang dari luar.


"Permisi? numpang berteduh, saya kehujanan!" suara perempuan yang yang terdengar lagi oleh Dahlan.


"Suara perempuan, Pak. Bapak dengar itu?" Dahlan menatap ke arah sang ayah yang memejamkan kedua matanya, merasakan pusing dan panas dingin tubuhnya.


"Pak, diminum obatnya. Aku lihat dulu siapa yang datang!" Dahlan berdiri dengan tongkatnya. Berjalan tertatih mendekati pintu.


"Permisi? apakah di dalam ada orang--"


Blak!


Dahlan membuka pintu dan kesan pertama begitu menggoda!


Bertemunya pasang mata gadis cantik dengan pemuda yang bernama Dahlan tersebut.


"Iya, ada apa ya Mbak? Mbak basah kuyup begitu. Kehujanan." suara Dahlan menatap gadis itu dengan intens.


"Ooh, tidak apa-apa, masuk saja? tapi. Gubuk ini begini adanya! banyak yang bocor juga." Dahlan menunjuk ke arah dalam gubuknya.


"Tidak apa-apa nih, Mas. Saya masuk?" Tiara ragu-ragu dengan manik mata yang mengamati bagian dalam bangunan tersebut.


"Nggak, pa-pa masuk saja. Mbak, cuman ada bapak saya yang sedang kurang sehat." Dahlan pun masuk lantas duduk di di bagian yang tidak kena bocor.


Tiara pun duduk dengan mata yang terus mengamati tempat tersebut. Bangunan tua yang terbuat dari bambu, atap pun bocor di mana-mana.


Ruangan yang hanya ada satu blok, tidak ada kasur ataupun kursi. Atupun lemari, yang ada baju yang lusuh yang tergantung di dinding.


"Eeh, Mas mau kemana?" tanya Tiara ketika melihat Dahlan mau berdiri.


"Saya kasihan sama, Mbak. Mau ngambil handuk bersih kok!" jawabnya Dahlan.


"Nggak usah, saya tidak apa-apa." Kemudian Dahlan mengarahkan pandangan ke arah bapaknya Dahlan yang berbaring lemah, di sampingnya bekas bungkusan makan.


"Bapaknya sakit apa, Mas?" tanya Tiara sambil terus menatap pria tua tersebut.

__ADS_1


"Bapak, biasa sudah tua, Mbak. Sakit meriang dan batuk," sahut Dahlan.


"Ooh," kemudian manik mata Tiara Menyisir ke dekat Dahlan yang masih ada bekas makan, mungkin barusan tertunda dengan kedatangannya itu.


"Mas, lanjutin saja makannya. Sayang kalau gak dihabiskan! mungkin Mas sudah susah payah, mencari untuk membeli sesuap nasi itu." Tiara menunjuk nasi Dahlan.


"Oh, iya Mbak." Dahlan mengangguk lalu memakan sisa makanannya itu. "Makan Mbak?"


"Iya, Mas. Silakan!" Tiara mengangguk sembari berjalan mendekati pintu yang terbuka.


Kemudian dia mengambil kantong besar dan tas punggung. Di bawanya ke dalam gubuk tersebut, yang pertama dia keluarkan adalah handuk untuk membungkus tubuhnya. Lalu dia membuka kantong besar.


Dan ternyata kantong besar itu beraneka makanan dan mie yang bisa di simpan dalam waktu jangka panjang. Beserta minuman kaleng dan juga air mineral.


Dahlan bengong melihat ke arah Tiara dengan bawaannya yang segitu banyaknya, bahkan lebih dari kantong sebagai wadahnya.


"Mas, ini semua buat Mas saja. Saya repot bila harus bawa pulang." Tiara menoleh pada Dahlan yang terbengong-bengong.


"Dan di kotak ini ada obat-obatan buat bapaknya dan Mas. Kalau boleh tahu ... Mas kenapa harus sampai pakai tongkat segala? tapi maaf, Mas. Kalau saya lancang bertanya." Tiara mengutarakan rasa penasarannya pada Dahlan.


Dahlan sejenak terdiam sambil menunduk dalam. "Saya, begini karena ..." Kemudian Dahlan bercerita kalau beberapa bulan lalu ya ... kurang lebih satu tahun lalu dia di tabrak oleh seseorang yang tidak suka pada dirinya.


Sehingga dia menjadi seperti ini. Dan sampai detik ini dia belum sembuh juga yang terbentur dengan biaya dalam pengobatannya. Dahlan menyudahi ceritanya dengan helaan nafas yang panjang.


Tiara merasa haru dan iba mendengarnya. Beberapa kali Tiara menelan saliva nya mendengarkan cerita dari Dahlan yang menyedihkan.


"Apakah orang yang menabrak, Mas. Tidak bertanggung jawab?" selidik Tiara menatap penasaran.


Dahlan menggeleng dan mengusap dua sudut matanya yang menetes air bening yang akhirnya membasahi pipi.


Tiara menunduk lalu mengalihkan pandangan ke lain arah. Tidak kuasa melihat kesedihan pemuda tersebut. Dari kondisi yang terlihat dengan kasar mata pun sudah bisa di duga gimana susahnya dan menderitanya pemuda dan ayahnya itu.


Kemudian Tiara memberikan obat yang dia bawa ke ayahnya Dahlan, dengan harapan dengan ijin sang maha pencipta beliau sembuh ....


.


Jangan lupa subscribe ya di tiga titik di bagian kanan. Mohon dukungannya agar aku semangat lagi dalam berkarya🙏

__ADS_1


__ADS_2