
Lanjut Paijo meneruskan keretanya melanjutkan tujuannya. Dia tidak hanya bisa mengandalkan yang Tiara berikan.
Dari pagi sampai malam, Paijo bekerja lalu pulang dengan membawa senyuman yang membuat mereka terhibur dengan berjalan penuh semangat memasuki rumahnya yang di sambut oleh sang istri yang sambil menggendong bayinya dan menuntun si cikal yang memegang mainan.
“Kakak. Papa bawa mainan nih suka gak?” Paijo memberikan sebuah mainan pada si cikal yang langsung di sambut dengan riang.
“Hoyee … mobil becar nih mobil becar banget,” anak itu memeluk mainan baru yang berbentuk bus-busan, sementara yang utama tadi dia kuat di jatuhkan begitu saja.
“Apa namanya, Nak?” tanya mamanya sambil menunduk melihat ke rah anak itu sambil tersenyum.
“Ini... Buss, bayus ya Mah. Buss nya bayus cekali,” anak itu berlari ke ruang mainan tengah membawanya itu.
“Eeh, jangan lari nanti jatuh cinta,” pekik mamanya.
Paijo berdiri dari berjongkoknya, lalu menoleh pada sang istri yang mengulas senyum dan mencium punggung tangannya.
“Mas. Aku sudah siapkan makan malam kesukaanmu,” ucap sang istri.
“Halo sayang … belum bobo nih, si cantik papa. Bobo dong …” sapa Paijo pada baby yang berada di gendongan sang istri.
“Balum, kan nunggu Papa ya? hari ini belum di gendong sebentar pun.” Jawab sang istri seolah menjawab kan putri kecilnya yang mengerakkan kedua tangan seolah ingin di gendong oleh sang ayah.
“Oya, baby cantik ini pengen digendong papa. Ayo ... boleh,” tangan Paijo di usap-usap pada bajunya takut kotor.
Dan bayi yang montok itu pun tertawa bahagia karena digendong papanya serta menggerakkan tangan dan kaki.
“Saya mau masak makan dulu, Mas?” istri Paijo ngeloyor ke belakang.
Paijo menggendong baby seraya menggoyangkan tubuhnya pelan biar baby nya tertidur, kemungkinan dia mempunyai rencana terhadap sang istri. Yang sudah beberapa bulan ini semenjak lahiran belum pernah datangi, lagian Paijo sering melampiaskan kehilangannya dengan Tiara.
__ADS_1
Tiara sering berpesan, jangan pernah sakiti istri mu. Bahagiakan dia dan perlakukan dengan baik, apalagi melakukan sesuatu yang sakitnya. Itu tidak boleh.
Setelah beberapa saat. Baby nya pun tertidur di tangan Paijo. “Dek. Aku sudah tidurkan baby kita, itu si cikal tidurkan dulu? biar tenang. Saya mau makan dulu sebentar, setelah itu kita istirahat.”
Sang istri mengerutkan keningnya. Namun di baliknya tertarik ke samping. Dia mengerti dengan masud suami nya tersebut. “Yo wes … aku nggak tidurkan dulu ya?”
Paijo menyunggingkan kedua bibir, lalu memasang bokong sang istri yang melewatinya.
Sang istri mesem sambil berjalan ke ruang tengah dimana jika cikal bermain. “Sayang, dah malam bobo dulu yo? besok main lagi Busnya di simpan dulu ya? bus nya juga capek kalau dimainkan mulu.Ya … bobo dulu ya?”
“Tapi Mama … au macih mau belmain.Ndak mau bobo,” nak itu menggeleng dan masin mau main, di gendong pun gak mau.
“Sudah malam sayang … besok main lagi, sekarang bobo dulu.Ya sudah, Mama dan papa mau bobo. Kakak utama sendirian dan nanti ada hantu iiy ... Mama takut,” mamanya bergidik ketakutan.
Dan anak itu bengong dan mulai mengucapkan omong kosong mamanya yang terus menakut-nakutinya dengan cekikikan suara hantu, membuat dia merangkak ke pelukan mamanya dan bersembunyi di dada mamanya yang langsung menggendong dan membawanya berdiri.
Sementara Paijo sudah menunggu di atas tempat tidur yang terpisah. Namun masih satu kamar. Dan dia sudah tampak gelisah menunggu istrinya yang masih menidurkan si cikal.
“Ahc lama, nanti keburu bangun lagi tuh sayang,” gumamnya Paijo sambil memeluk guling. Tatapannya menantang pada sang istri yang mulai beranjak dari tempat tidur anak.
Lalu mengambil baju dari lemari yang dibawanya ke kamar mandi. Baju tugas yang sudah lama tidak pernah dia pakai.
Tidak lama kemudian, Istri Paijo kembali dengan pakaian tugas yang sangat menerawang dan menggugah selera atau menggoda iman. Membuat bibir Paijo tertarik, Mata melotot dengan sangat sempurna. Terlihat dia menelan ludah beberapa kali, melihat pemandangan yang indah dan lama tidak ia jamah.
Kemudian tangan nya Paijo menyambut kedua tangan sang istri dan menariknya ke atas tempat tidur dan langsung mencumbunya dengan semangat.
Setelah lama melancarkan aksinya, Paijo merasakan yang berbeda dari Tiara. Tiara setiap pakai selalu sempit dan menggigit, tidak longgar seperti ini.
Paijo menarik ulurkan pinggangnya sembari memejamkan mata kedua netranya. “Kok beda ya? tiara setiap aku datangi selalu menggigit bikin gemas dan buat kasurku, tapi istriku sudah mulai longgar! tidak sekencang Tiara. Apa karena istriku sudah turun mesin kali ya?” gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Sang istri yang sedang menikmati tubuh sang suami, tiba-tiba dibuat kecewa, karena Paijo menyudahi begitu saja tanpa bertanya apakah lawan mainnya sudah puas apa belum? Padahal dia begitu sangat menginginkannya.
“Kenapa, Mas?” tanya sang istri sambil menoleh ke Paijo yang sudah berbaring di sampingnya.
“Sudah, saya sudah selesai dan takut anak-anak bangun,” ucap Paijo yang sambil melirik ke arah sang istri yang begitu tampak raut kecewa diwajahnya.
“Tapi, Mas … aku masih kangen, aku—“
“Sudah saja, lain kali lagi, Mas capek! lagian nanti sedang enak-enaknya baby bangun atau si cikal, kan kurang asyik.” Timpal Paijo memotong perkataan dari istri.
“Mereka masih terlihat Nyenyak kok,” bisiknya sang istri sambil merubah posisinya menjadi menyamping dan memeluk pinggang sang suami.
Cuph, Paijo mengecup kening sang istri lalu bergerak dan memunggunginya yang masih ketara menginginkan dirinya.
Manik mata istri Paijo bengong menatap punggung suaminya yang tiba-tiba dingin. Dia berpikir, apa yang salah? padahal dia selalu berusaha merawat diri paska melahirkan.
Sedih dan kecewa jadinya, istri Paijo pun merubah posisi dan memunggungi sang suami. Air matanya mengalir, jatuh ke bantal yang terasa panas di pipi.
Paijo pun sebenarnya masih menginginkan itu, tapi bukan dengan istrinya melainkan dengan Tiara yang selalu terasa kesat. Bikin dia candu selalu.
“Tiara-Tiara-Tiara ... andai kau mendengar ku, datanglah ke pelukan ku!saat ini juga. Aku merindukanmu.” Kemudian Paijo menoleh ke belakang sang istri lalu memutar badan mendekati sang istri dan memeluknya.
Sang istri yang merasakan pergerakkan dari suaminya itu, membuka mata. Melirik ke arah tangan yang melingkar di perutnya sangat erat.
Waktu terus berlalu dan membawa mereka ke alam mimpi yang indah. Namun tidur Paijo terganggu dengan adanya suara yang cukup keras di sebelah kamar yang cukup mengagetkannya ....
.
...Bersambung!...
__ADS_1