Tiara Siluman Ular

Tiara Siluman Ular
Berminggu-minggu


__ADS_3

Melihat Dahlan kebingungan. Tiara buru-buru berkat adan mengajak mereka pulang. “Em… sebaiknya kita segera pulang?”


“Iya, Pak. Kita pulang sekarang nanti terlalu malam. Ceritanya nanti saja di rumah biar leluasa,” tambah Dahlan yang belum ingin menceritakan siapa yang menyembuhkannya.


“Baiklah kalau begitu dan pokoknya kita harus bersyukur karena kamu dah sembuh,” bapaknya mengangguk.


Kemudian mereka pun pulang dan Dahlan membawa tongkatnya, namun bukan dipake melainkan di jinjing.


Setelah sepersekian waktu dalam perjalanan, akhirnya mobil yang mereka tumpangi itu dah sampai depan gubuknya Dahlan dan bapaknya.


Dan alangkah terkejutnya mereka. Karena yang kemarin berdiri gubuk tua itu, berubah seratus persen. Menjelma menjadi sebuah istana yang megah, berlantai dua bercat emas.


Membuat mulut mereka menganga dengan yang mereka lihat, yang jelas-jelas kalau tempat tersebut adalah tempat tinggalnya mereka berdua dan kenapa kini menjelma menjadi istana nan megah.


“Lan, kira-kira kita salah pulang. Tapi benar kok ini tempat kita. Tapi gubuk kita nya mana? Lan,” ucap bapaknya terheran-heran.


Dahlan menggeleng, dia juga kebingungan. “Entahlah, Pak. Terus ini rumah siapa? Kok berdiri di sini.”


Tiara menunjukan senyumnya kepada mereka berdua yang sedang kelimpungan memikirkan gubuknya yang hilang dan berganti dengan sebuah rumah mewah.


Dahlan menolah ke arah Tiara dengan wajah cemasnya Dahlan berkata. “Mbak, kita salah tempat. Ini bukan tempat kami berdua.”


“Masuklah?Ini benar-benar rumah kalian.” Tiara menunjuk pintu lalu dia buka.


Sejenak, Dahlan dan bapaknya saling bertukar pandangan. Dengan hati yang ragu mereka pun masuk serta menyisir pandangannya ke seluruh sudut rumah tersebut yang benar-benar asing bagi mereka.


Di dalamnya terlihat lengkap dengan barang-barang yang terbilang mewah, rumah yang benar-benar lengkap dengan isinya.


Di dalamnya terdapat beberapa kamar yang juga sudah lengkap dengan tempat tidur dan lemari.

__ADS_1


“Sekarang … kalian tinggal di sini!bukan di gubuk tua lagi. Gubuk itu sudah di lalap api, dan rumah ini juga milik kalian, semuanya.”Jelas Tiara sambil terus mengulas senyumnya kepada mereka berdua.


Dahlan serta bapaknya menatap heran dan penasaran, kenapa secepat ini berubahnya?


“Lan. Pak Jum? Kalian kemana saja berminggu-minggu? Kalian dicari-cari nggak ketemu, sampai rumah ini berdiri,” ucap salah satu tetangga yang datang menghampiri mereka ke dalam rumah tersebut.


Belum juga kebingungan Dahlan terjawab, sudah mendapat lagi pertanyaan dari yang lain.


“Kalian dari mana saja?lama gak kelihatan. Mengungsi karena sedang membangun rumah. Dan ... eeh kau tidak menggunakan tongkat lagi? kamu sudah sehat, Lan?”


“Wah … hebat kalian ini, Lan pak Jum. Bisakah harta karun dari mana sehingga bisa membangun rumah semegah ini? secara buat makan pun susah, asalnya gubuk tua dan reot berubah seratus persen.” Kata salah satu warga lagi.


Pak Jum, yang kebingungan menjawab. “Saya, Cuma sebentar kok pergi. Tidak sampai semalaman, ini kami pulang.”


“Apa yang sebentar, Pak Jum?Kalian itu menghilang berminggu-minggu. Setelah hujan angin waktu itu, dan ada kereta kencana melintas. Kalian menghilang tanpa jejak.”


Iya, kami curiga kalau kalian dibawa sama ratu laut kidul kali. Dan kami pikir kalian tidak balik lagi, tapi ternyata kalian balik juga.”


“Tapi benar kok, kalau kita ini Cuma sebentar perginya. Kami cuma makan malam dan berobat saja setelah itu kami pulang lagi ke sini dan berdiri sekarang di tempat ini.” Ungkap Dahlan merasa heran.


“Berapa minggu kalian tidak ada, bukan satu malam ataupun sebentar,” lanjut warga lainnya.


Pak Jum dan Dahlan tidak habis pikir dengan syarat ini, mereka berdua merasa paling lama semalam. Tapi kata mereka berminggu-minggu, kebalikannya dengan yang mereka rasakan.


“Jadi kamu pengobatan? Sehingga kamu sekarang ini sehat ya, Lan? kami senang melihat kau sehat.” Ungkap salah satu tetangganya.


“Iya, Alhamdulillah … saya sekarang dah sembuh, tapi gak habis pikir juga ya? apa kita ada di antara dua dunia yang berbeda?” Dahlan bengong memikirkan semuanya itu, lalu melihat ke arah Tiara yang diam diri dari tadi dan duduk di salah satu sofa antara warga. Dan anehnya warga pun seolah tidak mengetahui keberadaan Tiara di sana.


“Tapi apa benar ini rumah kita, Lan?” selidik pak Jum sambil melihat ke arah Dahlan.

__ADS_1


Dahlan melongo sambil melihat-lihat ruangan yang jauh berbeda dari asalnya. Kemudian Dahlan ke kamar yang dia pilih untuk dirinya sendiri dan Tiara pun mengikuti Dahlan.


“Mas. Aku pulang dulu ya?semoga, Mas betah dengan rumah baru nya dan ini buat. Mas. Gunakan dengan baik dan jangan sombong juga, bantu juga orang yang membutuhkan.” Tiara menyerahkan sebuah paper bag pada Dahlan yang bengong.


“Ta-tapi, beneran ini buat saya?Banyak sekali kebaikan Mbak pada saya. Dan saya tidak tahu harus membelanya dengan apa?” ucap Dahlan sambil menatap paper bag yang tidak tahu isinya apa?


“Mas. Gak perlu ngapa-ngapain buat saya, karena. Mas sudah memberikan yang saya mau dan kapan-kapan saya akan datang menemui, Mas. Kapan pun saya mau, oya Mas dan bapaknya tidak perlu bingung memikirkan tentang rumah ini atau apalah. Yang penting ... Mas dan bapaknya menjalani hidup ke depannya dengan baik,” ucap Tiara Sambil segera membawa langkahnya keluar dari ruang tersebut.


Dahlan terus melongo membocorkan paper bag yang kini di tangan. Lalu kemudian menyusul Tiara namun gadis itu sudah tiada.


“Mbak? Mbak? tunggu Mbak?” seru Dahlan sambil setengah berlari menuruni anak tangga.


“Mencari siapa, Lan?” selidik salah satu warga yang masih berada di sana bersama bapaknya.


“Pak, Mbak tadi mana?” Dahlan bertanya kepada bapaknya yang langsung menggeleng karena dia memang tidak melihat Tiara lewat ke sana.


“Tadi lewat ke sini, Pak. Masa gak lihat?” Dahlan kekeh lalu berlari ke pintu utama namun tidak ada.


“Si Dahlan mencari siapa? kan dari tadi juga kalian Cuma berdua saja, tidak ada orang lain lagi,” kata orang tersebut.


Pak Jum diam, kan jelas-jelas mereka itu datang ke rumah ini bersama mbak cantik yang sudah membawa mereka ke tempat pengobatan Dahlan.


“Tapi kenapa orang-orang tidak melihatnya, saya jadi bingung dengan kejadian-kejadian aneh yang sudah kami alami ini,” batinnya pak Jum.


Dahlan kembali dengan langkah yang teratur.Dan dapatkan pertanyaan dari bapaknya. “Ada gak, Lan?”


“Tidak.” Dahlan menggelengkan kepalanya.


Tiara merasa lega. Urusannya dengan Dahlan sudah selesai, dia dah sembuh. Rumah dah layak huni, modal pun sudah diberikan!dan tinggal lanjutkan saja kehidupan kedepannya gimana ....

__ADS_1


.


...Bersambung!...


__ADS_2