Tiara Siluman Ular

Tiara Siluman Ular
Kebingungan


__ADS_3

Darjat sangat bahagia dengan uang yang kini berserakan di tempat tidurnya. Bibirnya terus mengembang.


Darjat sangat bahagia dengan apa yang dia dapatkan malam ini. “Aku menjadi orang kaya, aku menjadi orang kaya,” gumamnya Darjat yang tengah dilanda rasa bahagia tersebut.


“Besok, aku bisa membayar tanah ini dan langsung bangun rumah, oya. Aku harus membuat kamar yang khusus buat aku dan Tiara. Sebuah kamar yang bernuansa emas, ya ... aku harus ingat itu dan ... aku harus banyak bersedekah juga jangan sombong. Aku ingat itu,” Darjat bermonolog sendiri sambil merapikan semua uang nya dan menyimpannya baik-baik.


Tiara sepulangnya dari tempat Darjat. Dia tengah bergerak melata di pinggir jalan dan menemukan sebuah mobil taksi terparkir dan di dalamnya ada pria yang tampak sangat kebingungan, bahkan sesekali memukul badan kemudi di depannya.


“Ya tuhan ... aku harus mencari pinjaman kemana lagi? buat biaya lahiran istri ku? Masa aku harus menjual taksi ini? kan milik perusaan! bukan milik ku. Terus aku kerja apa nantinya?” kata pria itu tampak sangat kelimpungan dengan masalah yang dia tengah dihadapi.


“Ha? orang-orang tidak percaya padaku dan takut aku gak bayar mungkin, aku harus gimana? gimana-gimana?” pria itu mengacak rambutnya frustasi dan berteriak-teriak.


“Uang lima puluh juta itu tidak sedikit ... dan aku harus mencari dimana?” teriak pria tersebut kembali.


Kebetulan tempat itu termasuk sepi dan yang lewat pun hanya beberapa kendaraan saja.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Kaca jendela di ketunya Tiara dari luar. “Permisi? Mas, boleh saya minta tolong?”


Pria tersebut menoleh dan menajamkan penglihatannya kepada seorang gadis yang berdiri di dekat pintu taksi tersebut.


Perlahan dia membuka pintu mobil nya dengan tatapan heran sambil celingukan juga. “Iya, ada apa Mbak? apa yang bisa saya bantu?”


“Mas, aku mau ke depan. Tapi aku tidak punya ongkos sama sekali. A-aku sudah berjalan dari sana sampai ke sini, sementara perjalanan saya masih jauh, Mas.” Tiara memelas berharap mendapat tumpangan.


Pria tersebut masih saja celingukan dan menatap lekat ke arah Tiara yang menjinjing sebuah paper bag hitam. “Mau kemana emang Mbak?”

__ADS_1


“I-itu, Mas. Saya mau ke jalan xx mau pulang kemalaman dari rumah teman. Mohon Mas memberi tumpangan, dan saya tidak punya uang buat ongkos Mas,” ucap kembali Tiara masih dengan nada memelas.


Tampak berpikir panjang dan merasa kasihan, pria itu menyuruh Tiara untuk masuk dan duduk di depan. Dia siap mengantarnya untuk pulang.


“Makasih ya Mas, makasih banyak?” Tiara bahagia dan dengan refleks mencium pipi pria tersebut yang sontak merasa kaget lalu mengusap pipinya.


“Sa-sama-sama Mbak,” pria itu tampak gugup menerima ciuman dari Tiara dan tatapan yang begitu lekat dari wanita tersebut.


Tiara tidak berhenti tersenyum, bibirnya terus mengembang dan pandangannya tidak beralih sedikitpun dari pria tersebut yang berwajah manis dan memiliki lesum pipi itu, membuat hati Tiara berbunga-bunga.


Taksi terus melaju dan si supir tampak serius dengan pandangan ke depan, Tiara sendiri begitu intens melihat ke arah si supir yang tidak berpaling barang sedikit pun.


“Mas, ini mobilnya, Mas bukan?” pada akhirnya Tiara mengajak pria itu mengobrol.


Pria itu melirik sekilas. Dia tidak mampu membalas tatapan Tiara yang tajam dan mengandung magnet. “Bukan. Mbak, ini mobil perusaan dan saya hanya bekerja saja.”


“Oh, terus. Saya kan gak ada uang buat bayar, gimana dong, Mas? boro-boro buat setor dong. Buat Mas saja tidak ada?” ucap Tiara sedikit menyelidik.


“Oh, beneran Mas ikhlas? tidak apa-apa saya tidak bayar?” selidik pria tersebut sembari mengangguk pelan.


“Sekali lagi makasih ya Mas? tapi bolehkah saya tahu nama Mas? karena nama Mas akan saya kenang atas kebaikan Mas pada saya.” Tiara menanyakan nama dengan dalih untuk dikenang segala.


Pria itu tersenyum manis menunjukan lesum pipinya. “Nama saya Paijo, Mbak. Nama Mbak sendiri siapa toh?” tanya balik sang supir taksi yang bernama Paijo tersebut.


“Nama ku ... Tiara, panggil saja Tiara. Paijo, nama yang lumayan unik,” ucap Tiara sambil tersenyum manis serta menyentuh tangannya Paijo yang bikin jantung Paijo berdegup sangat kencang.


“Bisa saja Mbak ... oya, sudah sampai di jalan xx nih. Ngomong-ngomong rumahnya mana ya? biar saya antar sampai tujuan.” Paijo menepikan taksinya.


“Em ... rumah saya masih jauh dan harus berjalan kaki.” Kata Tiara sambil menunjuk ke arah gang sempit.


“Oh, tidak apa. Biar saya antar!” paijo turun dan begitupun dengan Tiara.

__ADS_1


“Mas ... tadi saya membawa oleh-oleh dari teman, tapi ... buat Mas saja! semoga bermanfaat buat Mas dan keluarga, eh ... anggap saja sebagai tanda terima kasih saya, atas kebaikan Mas pada saya yang mau mengantar saya pulang dengan selamat.” Tiara menunjuk sebuah paper bag yang di simpan dekat bekasnya duduk tadi.


“Makasih juga Mbak Tiara, padahal saya ikhlas kok.” Paijo menunduk lalu berjalan mengikuti langkahnya Tiara untuk mengantarnya pulang.


“Mas, istrinya pasti cantik. Habis Masnya ganteng sih?” Tiara sok tahu.


“Em ... biasa saja, Mbak. Cantikan Mbak kok, apalagi sekarang dia sedang di rumah sakit. habis lahiran dan harus saya tebus.” Jawabnya Paijo.


“Apa, Mas? istrinya di rumah sakit? habis lahiran anak yang ke berapa?’’ selidik Tiara sambil hentikan langkahnya.


“Anak ke dua. Dan sebenarnya saya sedang kalut, Mbak. Lahirannya cesar dan saya belum menebusnya, mencari pinjaman belum dapat.” Paijo menjadi curhat kepada Tiara orang baru yang dia kenal.


“Kasihan sekali, semoga pulang dari sini ... Mas dapat jalan keluarnya untuk menyelesaikan masalahnya Mas ya?” Tiara menepuk bahu Paijo.


“Maaf, Mbak Tiara. Saya sudah curhat pada Mbak. Apakah rumahnya ini?” Paijo menunjuk sebuah rumah yang sederhana berada di depannya.


“Iya, Mas. Mampir dulu yo, mas? saya akan bikinkan teh hangat untuk membuang kebingungan Mas. Karena sebentar lagi juga Mas pasti akan keluar dari kebingungan yang saat ini merundung, Mas selama ini.” Tiara menarik tangan Paijo di ajaknya ke dalam rumah dan Paijo menurut saja.


Tiara pun membuat dua cangkir teh hangat untuk dirinya dan Paijo. “Mas diminum dulu ya? sebelum Mas pulang.”


Paijo mengangguk dan menyesap minumannya itu.


Tiara yang duduk tidak jauh dari Paijo tersenyum mengembang. Lalu dia pun menyesap minumannya. "Mas, saya tau. Kalau mas sedang bingung bukan?"


Paijo melonjak kaget dengan perkataan Tiara barusan. "Ta-tau dari mana, Mbak. Kalau saya sedang bingung?"


"Dari wajah. Mas yang mengatakan ... kalau Mas ini sedang kebingungan dan membutuhkan uang yang cukup banyak," ucap Tiara dengan ekspresi yang mulai aneh ....


.


Jangan lupa like komen dan lainnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2