Tiara Siluman Ular

Tiara Siluman Ular
Gugup


__ADS_3

Lama-lama, Paijo pun menyadari kalau dirinya dan Tiara berbeda alam, jadi wajar bila beda waktu. Setelah selesai makan, Paijo pun langsung pulang ke rumah sang istri.


Dan selang beberapa puluh menit kemudian, mobil Paijo tiba di kediamannya.


Setibanya di rumah, sang istri dan putranya menyambut hangat kepulangan Paijo yang sudah dua malam satu hari ini baru pulang.


"Mas, dari mana sih? kok baru pulang, mana nggak bisa dihubungi lagi ponselnya. Bikin cemas." sang istri memeluknya sangat erat. Bahagia akhirnya Paijo pulang juga.


"Papa. Mau punya mama balu ya? tidak puyang-puyang." Anaknya dengan suara cadelnya.


"Huus. Papa pasti pulang kerja bukan?" timpal istrinya.


Paijo mencium keningnya sang istri dan anaknya, lalu Paijo menanyakan anak bungsunya. "Baby kita mana?"


"Ada. Kan kamu mengirim asisten buat aku, makasih ya Mas?" istri Paijo sangat bahagia karena sekarang sudah ada yang membantunya.


"Ooh ... sudah ada ya. Mbak Nani namanya." Paijo masuk ke dalam rumah sambil memangku putranya.


“Iya, Mas …” balas sang istri.


...---...


Semenjak mendapatkan rumah dan uang yang lumayan banyak. Dahlan pun membuka usaha kecil-kecilan yaitu jualan mie ayam, dan Alhamdulillah usaha nya laku atau cepat habis. Sang ayah sesekali membantu. Dahlan pun banyak di dekati oleh gadis-gadis, namun selalu selalu Dahlan tolak.


Dia merasa mereka mendekat, karena penampilannya yang berubah lebih rapi, dan punya uang. Kalau saja tidak seperti itu ... dia tidak mungkin mengincarnya.


Saat ini. Dahlan sedang melayani pelanggan, dan muncullah seorang wanita cantik yang menunjukan senyumnya.


Dahlan menoleh, dan membalas senyumnya pada gadis tersebut. "Selamat datang di kedai saya!"


"Apa kabar? lama kita tidak bertemu." Tiara mendekati.


"Baik, Mbak." Dahlan mengangguk.


"Lanjutkan saja kerjaannya, Mas. Aku tunggu di sana." Tiara membawa langkahnya.


"Oh, iya. Mbak, maaf ya? saya masih sibuk. Tapi bentar lagi juga habis kok!" Dahlan merasa tidak enak adanya Tiara namun dia masih sibuk.

__ADS_1


"Nggak, pa-pa!" Tiara duduk di pojokan.


Kehadiran Tiara di tempat itu. Membuat kecemburuan beberapa gadis yang datang ke tempat itu yang memang bukan sekedar jajan, tetapi juga untuk memandang Dahlan, pria manis dan ramah.


"Siapa sih wanita itu? jajan nggak, duduk-duduk di situ memandangi ke arah Dahlan." Kata


"Iya. Siapa sih? baru lihat aku!" timpal salah satunya lagi.


"He'em. Siapa sih? sok cantik begitu." Beberapa gadis memandang sinis pada Tiara.


Tiara yang merasakan sikap beberapa gadis di sana hanya bersikap santai saja. Serta tidak lupa memberikan senyum ramahnya yang dia tebarkan pada semua orang yang sedang berkunjung ke sana.


Tidak lama kemudian Dahlan pun membereskan dagangannya. Dan Tiara pun menghampiri. "Habis Mas?"


"Alhamdulillah, habis. Mbak." Dahlan terlihat sangat happy dengan dagangannya hari ini yang tidak jauh dari sebelumnya. Cepat habis.


"Syukurlah, Mas. aku ikut senang." Tiara mengangguk pelan.


Kemudian Dahlan mengajak Tiara ke rumahnya dan sekalian bertemu bapaknya yang katanya ingin bertemu dengan Tiara untuk berterima kasih atas semua yang sudah Tiara berikan kepada mereka berdua.


Setibanya di rumah Dahlan. bapak nya Dahlan langsung menyambut hangat kehadiran Tiara.


Kini mereka duduk di sofa berhadapan dan Dahlan baru saja membawakan tiga gelas minuman dan sepiring kue lapis.


"Sama-sama, Bapak. Aku juga sangat senang bila kalian merasa bahagia. Dan sudah menjadi kesenangan ku bila membuat orang lain tersenyum bahagia dan juga dapat berbagi juga kebahagiaannya dengan sesama mahluk lainnya." Balas Tiara dengan ramah.


"Mbak, kenapa baru berkunjung? aku tidak tahu harus mencari Mbak di mana soalnya. Alamat Mbak aku tidak tahu dan bingung mau cari kemana?" Dahlan sedikit malu-malu mengatakan itu.


Dahlan sebenarnya ingin bertemu dengan Tiara dari lama, bukan sekedar ingin berterima kasih saja, namun dia pun merasa rindu. Apalagi dengan kejadian itu.


Dimana dia merasakan sesuatu yang baru dia rasakan seumur hidupnya, Sebagai lelaki normal dia baru kali itu melakukannya dengan seorang wanita yaitu Tiara.


Dahlan ingin merasakan lagi. Tetapi dia tidak punya keberanian untuk itu. Dan bertemu Tiara pun baru kali ini lagi setelah waktu itu.


Tiara memposisikan duduknya begitu menggoda Dahlan. Bikin Dahlan berusaha menelan Saliva nya berkali-kali.


"Oya, Bapak mau ke dalam dulu. Kalian ngobrol aja, silakan!" sang ayah beranjak dari duduknya, meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


"Em, aku mau numpang ke kamar mandi, boleh?" ucap Tiara pada Dahlan.


"Oh, iya. Boleh! ke atas saja." Dahlan menyilakan Tiara. Namun dia pun beranjak mengikuti langkahnya Tiara yang melenggok, berjalan ke atas.


Tiara langsung ke kamar mandi yang berada di kamar Dahlan. Sementara Dahlan setelah memencet saklar lampu. Duduk menunggui Tiara di tepi tempat tidur.


Hari beranjak malam, langit pun sudah mulai gelap karena matahari sudah tenggelam ke peraduannya yang lain.


Tiara keluar dari kamar mandi, tatapannya langsung ke arah Dahlan yang sepertinya sudah menunggu dengan tatapan yang tertuju ke arah pintu kamar yang dimana sekarang Tiara berpijak.


Dengan langkah yang gemulai. Tiara berjalan mendekati Dahlan yang melongo memandangi ke arah dirinya.


"Mas, kenapa kau memandangi ku seperti itu? apa ada yang ingin kau katakan padaku?" Tiara duduk di samping Dahlan dengan sedikit mepet.


Dahlan yang malu-malu, mengulum senyumnya, apalagi ketika Tiara memegangi tangan nya yang bergetar karena gugup.


"Sa-saya. Saya ..." Dahlan tampak gugup dan keringat dingin pun menghiasi pelipisnya.


"Jangan gugup begitu, Mas. santai saja dan Mas ini kaya ketemu presiden saja. Hi hi hi ..." Tiara tersenyum merekah.


"Iya, Sa-saya jadi gugup begini ya?" Dahlan tambah malu dengan tangan menggaruk tengkuknya.


"Biasa saja, Mas. Aku ke sini untuk Mas, kali saja Mas butuh apa gitu!" tambah Tiara sambil membelai pipi Dahlan yang semakin tegang dibuatnya.


"I-iya, aku--" suara Dahlan terpotong oleh mulut Tiara yang membungkam mulutnya dan mendorong tubuhnya ke belakang hingga terbaring.


Tiara menindih tubuh Dahlan dengan tidak sedikitpun melepaskan bibir pemuda itu dengan ganas.


"Emmmm ..." suara Dahlan terdekat di tenggorokan.


Mereka pun meluapkan rasa rindunya dan menyalurkan hasrat atau keinginan yang sudah naik ke ubun-ubun.


Percintaan yang sangat memanas. Pergulatan antara seorang manusia dan seekor ular pun semakin sengit. Namun bukan pertempuran yang membawa celaka! melainkan sebuah pertempuran yang membawa nikmat.


Sebelum pergi. Tiara meninggalkan gepokan uang di samping nya Dahlan yang terdiam dan belum bisa mengontrol nafasnya serta ada sedikit kecewa kalau dia masih ingin bersama Tiara yang kemudian pergi juga ....


.

__ADS_1


...Bersambung!...


__ADS_2