
Setelah memberikan bayaran kontrakan rumah, Tiara dan Dewi pun pergi dari kontrakan tersebut, yang sebelumnya berpamitan dulu pada tetangga.
“Dewi. Apa kau masih ada orang tua?” selidik Tiara sambil menoleh pada Dewi yang sedang menggendong baby nya.
Dewi terdiam sejenak melihat ke arah Tiara yang tengah menatap dirinya. “Ada. Tapi saya malu bila saya pulang di saat-saat ini.” Jawabnya Dewi lesu.
“Kenapa?” Tiara merasa penasaran.
“Saya menikah dengan dengan suami tidak direstui olah orang tua saya. Karena terlalu cinta. Saya tidak mendengarkan mereka, yang akhirnya ...” kenang Dewi.
“Oh. Jadi Dewi malu dengan keadaan ini begitu?” sambung Tiara.
“Iya, Mbak. Saya malu bila harus pulang dan semenjak menikah dan pergi dari rumah. Saya tidak pernah ketemu dengan mereka lagi. Saya tidak menyesali semuanya karena sudah lewat. Tapi saya menyesal sudah meninggalkan mereka.” Dewi mengusap sudut matanya yang basah.
Tiara mengusap bahu nya Dewi dengan lembut. “Suatu saat nanti kamu harus pulang dan temui mereka, dan mereka pun pasti merindukan Dewi.”
“Iya Mbak. Saya pasti pulang kok,” Dewi tersenyum getir.
“Ya,” Tiara merangkul bahunya dewi.
Selang beberapa lama mereka sampai di sebuah tempat yang cukup setrategis, di sana berjejer ruka. Dan Dewi di ajak Tiara ke suatu ruko.
__ADS_1
“Tempat apa ini Mbak?” tanya Dewi sambil celingukan.
“Ini ruka alias rumah dan toko. Di bawah toko dan di atas rumah, tempat tinggal. Mbak akan tinggal di sini. Bila Mbak gak betah di sini, nanti saja kalau sudah dapat tempat yang lebih layak. Pindah dari sini, tapi bila belum mendapatkan tempat tersebut. Mbak tinggal saja dulu di sini,” ucap Tiara.
“Ooh ... saya betah sekali di sini Mbak. Saya akan betah sekali Mbak.” Dewi tampak sumringah dan matanya berbinar.
“Syukurlah, saya akan pergi dulu untuk menemui dan membayar tempat ini. Dewi tidak perlu takut bayar ataupun di usir dari tempat ini, karena ini akan menjadi milik kamu. Di sini sambil jualan dan mau jualan apa kira-kira, mau makanan seperti kue. Atau pakaian atau lainnya gitu?” tanya Tiara sembari melihat ke arah Dewi yang melihat-lihat tempatnya dan sambil menyusui baby nya yang baru saja bangun.
“Saya mau ... makanan saja Mbak.” Jawabnya Dewi dengan cepat.
“Oke. Saya akan belanjakan semuanya, yo kita lihat-lihat ke atas dulu, rumahnya. Mbak bisa berjualan sambil menjaga anak juga kan di sini.” Tiara mengajak Dewi naik ke atas melihat rumahnya.
“Sama-sama Mbak.” Tiara menapakkan kakinya di lantai atas.
“Ya ampun ... bagus banget dan sudah ada barang-barangnya lengkap. Dapurnya juga sudah ada perabotnya.” Dewi begitu kagum dan bahagia lanjut ke kamarnya yang terdapat dua kamar.
Dewi mematung berdiri di depan pintu, dia shock melihat kamar yang bagus. Tempat tidur yang bagus dan besar sesuai dengan kamarnya yang memang besar.
“Kenapa Mbak?” tanya Tiara marasa heran pada Dewi yang mendadak terdiam.
“Bagus banget ...” manik mata Dewi berkaca-kaca. Tidak tidak menyangga sama sekali akan mendapat ini semua.
__ADS_1
“Maaf, Mbak di sini tidak boleh jorok dan harus menjaga kebersihan. Apalagi Mbak mau usaha makanan, jadi harus terlihat higienis. Nanti Mbak Dewi membeli semua keperluan seperti pakaian dan tek-tek bengek lainnya, juga keperluan si kecil.” Ucap Tiara kembali.
Brugh.
Dewi duduk bersimpuh dan memeluk kakinya Tiara dan menangis, membuat Tiara kaget.
“Mbak makasih, Mbak sudah banyak membantu saya padahal baru kenal. Makasih Mbak, makasih? Saya tidak akan pernah lupa kebaikan Mbak ini. Dan maaf juga bila saya tidak bisa membalas kebaikan Mbak,”
“Sudahlah, Dewi, Mbak Dewi jangan begitu?” Tiara mengangkat bahu Dewi agar berdiri.
Dewi memeluk Tiara. “Sekali lagi makasih ya Mbak?”
“Iya. Ya sudah saya mau keluar dulu, dan Mbak dewi bisa istirahat dulu, makanan masih ada di dalam tas saya yang saya simpan di bawah.” Tiara berpamitan dulu untuk mengurus pembayaran ruko tersebut.
“Iya, Mbak.” Dewi mengangguk pelan, kebetulan perutnya pun sudah keroncongan
minta makan ....
...🌼----🌼...
Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya.
__ADS_1