Tiara Siluman Ular

Tiara Siluman Ular
Rumput tetangga


__ADS_3

Tiara dan makhluk astral tersebut saling tatap, dengan tatapan yang teramat tajam dan seolah-olah memasang bendera perang bila makhluk astral itu tidak mau mengalah dan terus mengganggu makhluk lainnya terutama manusia.


Tiara menggerakan kedua manik matanya agar makhluk tersebut menjauh dan meninggalkan tempat tersebut. Menyingkir dari hadapan mobil taksi milik Tiara.


Paijo tampak bahagia dengan menyalanya mobil tersebut. Dan Tiara pun tersenyum ikut bahagia melihat Paijo yang sumringah lalu melihat ke arah Tiara.


“Ta-tapi, kenapa dengan tiba-tiba kau ada di sini?” tanyanya Paijo yang masih penasaran itu.


“Mas, tidak menyadari ya? kalau Mas sudah menyebut nama ku tiga kali dan itu membuatku segera datang padamu Mas.” Jawabnya Tiara sambil mendudukan dirinya di samping Paijo.


“Masa, saya menyebut nama mu lali aku.” Paijo berwarna tengkuknya yang tidak gatal tersebut.


“Mas kangen ya sama saya? Sehingga penyebutan nama segala,” ucap Tiara sambil mesem-mesem.


“Em, sa-saya ... hanya itu,” ucap Paijo dengan semakin menampakan rasa kikuknya berhadapan dengan Tiara.


Tiara semakin menunjukan senyum lebarnya. “Itu, apa Mas? jangan kikuk begitu lah Mas ... biasa saja, Mas ada perlu pada saya?”


“He he he … itu, saya itu …” Paijo masih tampak malu-malu.


“Kalau Mas butuh sesuatu bilang saja. Atau Mas mau terima tawaran dari waktu saya itu, saya akan dengan senang hati. Akan membantu Mas,” ucap Tiara sambil menatap ke arah Paijo.


Paijo menunduk malu di tatap seperti itu oleh Tiara Seraya berkata. “Saya ingin berterima kasih atas kebaikan Anda pada saya. Dan saya belum bisa membayarnya dalam waktu dekat ini.”


“Oh. Tidak apa-apa, Mas jangan pikirkan itu, Mas pasti membutuhkannya lagi kan?” tanya Tiara dengan tatapan yang tajam dan mengandung arti.

__ADS_1


“Saya malu bila terus menyusahkan anda—“


“Panggil saja aku Tiara.” Kata Tiara pada pria tampan yang berada di sampingnya tersebut.


“Oh ya, Tiara. Saya malu yang kemarin saja sungguh banyak dan belum tentu bisa saya kembalikan. Dan entah kapan bisa nya?” keluh Paijo.


“Mas, kalau mau ... saya bisa memberikan yang lebih banyak dari itu, asalkan Mas mau berjanji sama saya kalau Mas mau menjadi suami saya dan seminggu sekali saya akan datang ke Mas untuk bersenang-senang bersama, dan saya akan memberikan sistem kekayaan buat Mas dan keluarga.” Ujar Tiara sambil menyentuh tangan Paijo dengan lembut.


Tiara pun sewaktu-waktu menunjukkan wajah aslinya, yang membuat Paijo kaget dan beberapa kali menggosok matanya, menajamkan penglihatannya dengan apa yang dia lihat. “U-ular, ular ...” Paijo berusaha membuka pintu, namun kunci pintu mendadak.


Tiara, yang sewaktu-waktu saja menampakkan wajah aslinya tersenyum dengan wajah cantik dan manisnya. “Mas, itulah wujud asli saya. Tapi Mas tidak perlu takut! karena bila saya bersama Mas, wujud saya akan tetap menjadi manusia. Barusan hanya ingin menunjukan yang sesungguhnya saja.”


“Ja-jadi, Tia-Tiara ini u-ular?” suara Paijo terbata-bata dan ketakutan.


'Iya Mas, saya siluman ular, tapi saya tidak jahat pada orang baik dan membutuhkan bantuan saya. Namun saya tidak akan segan-segan untuk memberi tindakan pada orang yang kejam, sombong dan tidak mau membantu orang miskin. Orang yang saya berikan kekayaan itu harus baik hati dan mau membantu sesama dengan hartanya, karena bila tidak ... sistem kekayaan yang sudah saya berikan akan hilang juga dengan sekejap mata. Itu janji saya. ”Tiara menatap ke arah Paijo dengan tatapan mengandung arti yang dalam.


“Bagaimana Mas? tawaran saya, agar Mas dan keluarga memiliki hidup yang lebih terjamin. Karena kehidupan, Mas. Lebih berkecukupan.” Tawar Tiara.


Paijo masih terdiam dan tidak tau harus berkata apa? malahan hatinya merasa cemas, khawatir, takut akan sesuatu yang tidak ia harapkan terjadi suatu saat nanti.


Melihat Paijo terdiam dan seolah sedang memikirkan sesuatu, tampak ada kecemasan yang tersurat darinya dia. “Mas jangan khawatir saya tidak akan meminta tumbal apalagi orang yang Mas sayang. Saya hanya meminta Mas jadi suami saya dan kapan pun saya datang, Mas layani. Lantas waktu itu juga saya akan memberikan, Mas uang yang banyak." ucap Tiara sambil tersenyum ke arah Paijo.


Paijo mengerutkan keningnya. “Benar Cuma itu saja, syaratnya?bukan yang macam-macam, selain itu saja?”


Tiara mengangguk pelan. “Ya, itu saja. Saya tidak mau memberatkan manusia sehingga meminta tumbal segala macam. Saya Hanya meminta begitu saja, kalau saya hanya menginginkan dirimu saja.”

__ADS_1


Paijo diam dan memikirkan sesuatu, sebenarnya entah kenapa semenjak pertemuan itu, wajah Tiara menari-nari di pelupuk mata. Sehingga dia tertarik dengan tawaran Tiara bukan cuma kekayaan saja tetapi memang tertarik pada Tiara juga, gadis cantik yang merayu iman itu.


Benarkah hatinya mulai berpaling dari sang istri?


“Bagaimana Mas?” Tiara mendekat tubuh Paijo dan mendekatkan bibirnya yang ranum itu ke dekat wajah pria tersebut.


Paijo memicingkan matanya pada wajah Tiara yang begitu dekat itu. Memang benar kata pepatah yang mengatakan, kalau rumput tetangga itu lebih menggoda. Dibandingkan rumput miliknya sendiri.


Apalagi istrinya belum lama ini melahirkan, sehingga dia belum bisa mendekati atau. Dan dia harus menahannya karena kondisi, terpaksa harus memanjakan dengan cara lain.


Tiara tersenyum senang melihat ekspresi wajah pria yang bernama Paijo keturunan orang jawa tersebut. Wajah Tiara semakin menantang untuk Paijo sentuh.


Paijo semakin tertantang melihat gadis yang di depan matanya itu memejamkan kedua mata, serta mendekatkan bibir dengan bibir Paijo. Paijo yang haus dengan sentuhan sang istri, tentunya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga ini.


Dengan tangan yang bergetar, nafas yang mulai berubah bak habis lari maraton. Paijo menarik tengkuk Tiara agar lebih mendekat dan menyentuh bibir ranum bak merah jambu, dan terasa manis bagaikan madu itu, sehingga Paijo terus menyapu dan menye-sap habis semua permukaannya.


Tiara semakin kuat memejamkan kedua manik matanya dan menikmati sentuhan dari Paijo yang semakin panas. Kedua tangan Tiara memeluk erat pria bertubuh tegap tersebut, lantas dengan tak disadari Paijo.


Dengan sekejap mata. Ting! mereka berdua sudah berpindah tempat menjadi berada di istana yang indah.


Paijo sendiri tidak menyadari, kalau mereka sudah berada di sebuah peraduan yang indah. Berhias warna keemasan serta bermacam aneka bunga, tempat tidur pun bertabur dengan kelopak bunga yang berwarna warni.


Tiara menarik nafas dengan dalam-dalam, menghirup aroma wanginya nafas Paijo yang terasa sangat harum tersebut ....


.

__ADS_1


Jangan lupa subscribe di titik tiga bagian atas ya, komen like dan lainnya.


Terima kasih


__ADS_2