
Rasanya Paijo berat di tinggalkan oleh wanita yang baru saja menghabiskan tenaganya.
Tiara yang meninggalkan tempat Paijo langsung menyisir salah satu perkampungan di dalam kesunyian dan bayangan ini.
Dari dalam sebuah rumah. Terdengar suara tangisan anak kecil yang begitu melengking, kadang hilang suaranya, kadang timbul lagi terdengar begitu keras.
Tiara berdiri di depan sebuah rumah yang terdapat tangisan anak dan yang jelas sih ngamuk. Tatapannya yang tajam terus menatapi ke dalam rumah kecil tersebut.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
“Permisi …” suara Tiara dari depan pintu.
Namun lama ... tidak ada yang nyahut selain suara anak yang ngamuk dan suara ibu yang coba menenangkannya.
Orang-orang yang berada di dalam pasti meragukan kehadirannya Tiara, karena mana ada tamu tangah malam begini.
Kemudian, Tiara mengedarkan pandangannya ke sekitaran tempat tersebut dalam gelap dan di dekat pohon besar terdapat pasang mata yang merah. Membidik tajam ke arah rumah tersebut yang mungkin menjadi
penyebab anak itu ketakutan. Dan terus menangis.
“Sedang apa kau di sana?” tanya Tiara pada makhluk dengan rupa yang sangat menakutkan tersebut. Tubuhnya besar berbulu panjang dan lebat, putus mahar. Kupingnya lebar, matanya merah seperti api.
“Kamu nanya?Anda bertanya-tanya. Ha ha ha ... tempat ku memang di sini dan kenapa kau datang menggangguku?” hal tersebut balik bertanya pada Tiara yang berwujud ular.
“Saya ke sini karena mendengar suara anak kecil yang terus menangis dan saya tidak tega mendengarnya.” Jawabnya Tiara sambil menatap tajam ke arah makhluk itu.
“Ha ha ha ... dia sedang aku takut-takuti dan itu memang tugasku untuk mengganggu manusia,” jawabnya dengan suara tawa yang menakutkan.
“Pantas, apa kau tidak kasihan pada anak yang terus menangis. Kau menyiksanya, kasihan juga orang tuanya yang mendengar teriakannya di tengah malam.” Tiara melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Ha ha ha ... buat apa aku kasihan? itu sudah tugasku mengganggu mereka, lagian mereka itu main paku saja tempat ku ini. Aku marah pada mereka dan biar tahu rasa." Kata mahluk yang menakutkan tersebut.
"Kau jahat, kalau kau tidak tempat mu di paku. Tinggal lepas saja, gampang dan tidak perlu mengganggu manusia." Jelas Tiara dengan tatapan yang geram pada mahluk itu.
"Helo ... apa urusan mu? melarang mengganggu manusia. Terserah akulah mau mengganggu atau menakuti dan semacamnya juga pada manusia, apa hak mu." Tatapan nya yang merah seakan ingin menelan bulat-bulat kerah mahluk melata tersebut.
"Aku paling tidak suka mahluk seperti mu menganggu manusia. Kita sama mereka berbeda alam dan sudah sepantasnya hidup berdampingan dengan damai dan tentram, terkecuali manusia melakukan yang patal. Kau harus sadar itu dan mempunyai rasa kasihan pada manusia yang lemah itu." Tiar mulai memasang bendera perang pada sang mahluk menakutkan tersebut.
"Kau jangan coba-coba mengajari ku dan ataupun mengatur ku wahai mahluk melata, kau itu aku injak pun mati. Tubuhmu akan penyek, tak berkeping." Sergah mahluk menakutkan tersebut.
Mahluk itu mendekati ke arah Tiara dan hendak menginjakkan kakinya yang besar dan panjang tersebut ke tubuh Tiara yang langsung di belitnya.
Mahluk tersebut melonjak-lonjak dan menghentakkan kakinya ke bumi supaya belitan Tiara memudar. Namun bukannya memudar! melainkan semakin kuat dan.
Lalu tangan si mahluk tersebut menggenggam kepalanya Tiara di lepasnya dari kaki lalu di lemparnya tubuh Tiara sampai terperosok ke dalam semak-semak.
"Ha ha ha .... kau punya apa mahluk melata? sehingga kau ingin melawan ku? ternyata kau itu tidak ada apa-apanya. Ha ha ha ..." bahu mahluk menakutkan itu bergoyang dengan tawanya yang bikin bulu kuduk merinding.
Namun tiba-tiba, Tiara kembali muncul dihadapannya dengan wujud manusia yang cantik luar biasa.
Mahluk yang menyeramkan tersebut semakin dibuat marah oleh Tiara yang seakan mengejek dirinya. Lagi-lagi tangan besarnya menyambar tubuh Tiara lalu di banting-banting ke tanah sampai dia puas.
Tubuh Tiara bagai di ayun-ayun, tinggi. Rendah, tinggi dan rendah. Namun tidak sedikitpun dia merasa kesakitan yang ada dia tertawa mengejek mahluk seram pengganggu manusia tersebut.
Karena mahluk itu semakin geram dengan Tiara yang tetap terdengar tertawa. Kini beralih, bukan ke Tanak dia membanting tubuh nya Tiara melainkan ke pohon besar yang dia bilang tempat tinggal mahluk tersebut.
Bet-bet ....
Bet-bet ....
Namun di ular alias Tiara kini membelit tangan yang memeganginya itu. Sehingga tidak lagi bisa di banting-banting seperti tadi.
"Ayo, tunjukan lagi kekuatan mu di muka tebal. Wajah mu tidak ada ganteng-ganteng nya, tidak ada sedikitpun Handsome sedikit pun, ha ha ha ..." Ejek Tiara sambil tertawa.
__ADS_1
"Rrrrggh ..." mahluk menakutkan alias sangat menyeramkan tersebut bergelut dengan tangannya sendiri.
"Kau itu sudah jelek semakin jelek, Cemen sekali bila kau tidak bisa mengalahkan ku mahluk yang tidak berdaya ini. Bisanya hanya menakut-nakuti manusia apalagi anak-anak! sungguh Cemen sekali anda ha ha ha ...."
Tiara terus mengejek mahluk yang Tiara sebut si muka tebal itu. Dia tampak sangat marah dan ingin menelan bulat-bulat lawannya tersebut.
Kejadian ini, yang manusia rasakan adalah suasana yang mencekam. Teramat menakutkan menakutkan di tambah angin ribut yang bergelombang di satu titik saja, dan anak yang tadi terus menangis dan ngamuk pun reda. Anak itu terdengar tenang.
Jebettttttthhhh ....
Jebettttttthhhh ....
Jebettttttthhhh ....
Tiara menghantam kepala mahluk seram tersebut, dengan ekor ya dengan sekuat tenaga. Sehingga mahluk tersebut oleng dan menjungkal ke tanah, berasa ada gempa yang menimbulkan getaran.
"Auhhhhhh ...."
"Aduhhhhh ...."
Lenguhan panjang terdengar bergetar di telinga dan suaranya sangat menakutkan yang mendengar.
"Dengar ya? muka tebal. Bila kau mengganggu lagi manusia, berbuat jahat pada manusia. Aku tidak akan segan-segan menghajar mu dan mengirim mu ke alam bawah sadar atau ku terbangkan kau ke langit paling unung!" kata Tiara.
Tiara melotot dengan sangat sempurna kepada mahluk tersebut yang masih terjungkal memegangi kepalanya sambil terus merintih kesakitan.
"Aku paling tidak suka melihat mahluk alam ghaib mengganggu manusia yang tidak berdosa." jelas Tiara sambil bersiap menggerakkan ekornya yang ingin kembali menghantam kepala itu mahluk.
"Ampun-ampun. Jangan, aku janji tidak akan Lagi-lagi mengganggu orang yang tidak berdosa." Mahluk tersebut semakin menyembunyikan kepala besarnya dari hantaman Tiara.
"Hem, cemen!" lalu Tiara mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ternyata banyak mahluk-mahluk aneh yang menyaksikan kejadian tersebut, kemudian Tiara pun berlalu meninggalkan tempat yang barusan menjadi tempat pertarungan sengit ....
.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan subscribe ya?
Makasih