Tiara Siluman Ular

Tiara Siluman Ular
Semangat


__ADS_3

Paijo menatap heran ke arah Tiara yang tidak pernah memudarkan senyumnya. "Sa-saya. Memang sedang dalam kebingungan."


Tiara mendekati dan menempelkan telunjuknya di bibir Paijo. "Mas, tidak usah cerita! saya tahu yang menjadi kesusahan mu, Suatu saat. Saya akan datang untuk menemui mu."


"Ta-tapi, tau dari mana Mbak tempat tinggal ku?" suara Paijo sambil bergerak menjauhi Tiara yang begitu dekat dengan dirinya.


Namun kendati demikian Paijo menjauh. Tiara semakin mendekat dan perlihatkan lekuk tubuh nya yang menggoda iman. "Aku akan memberikan semua yang kau butuhkan, asalkan kau juga mau menjadi suami ku?"


"Ti-tidak mungkin, sa-saya mempunyai istri. Dan sekarang sedang di rumah sakit." Kata Paijo sambil mencoba beranjak dari duduknya. Namun jiwa lelaki nya tak dapat dipungkiri, sehingga kedu netra pria itu tidak berpaling akan keindahan yang nyata di depan mata.


“Justru, kau sedang kesepian bukan? aku akan memberi mu semua yang kau butuhkan! Percayalah janji ku ini.” Ungkap Tiara dengan tatapan bak singa lapar melihat mangsanya yang sangat menggiurkan, menatap intens ke arah pria yang berbadan tegap dan tinggi besar itu.


“Tidak-tidak, Mbak. Jangan bercanda! Saya mau pulang, lagian ... Mbak sudah sampai dengan selamat.” Paijo buru-buru keluar dari tempat tersebut.


“Tunggu?” suara Tiara menghentikan langkah nya Paijo namun tanpa menoleh.


“Mas, terima kasih sudah tulus ikhlas menolong ku? dan paper bag yang di mobil itu ... semoga bermanfaat untuk Mas dan keluarga. Satu saat nanti, kita pasti bertemu lagi dan Mas akan membutuhkan ku.” Tambahnya Tiara sambil menatap punggung pria tersebut dengan perasaan berat, karena tentunya dia belum mendapatkannya.


Tetapi dia yakin, kalau suatu saat nanti mereka berdua akan bertemu, bahkan siapa tahu pria itulah yang mencari keberadaan nya.


Tiara tersenyum mengembang. Mengiringi kepergian pria yang bernama Paijo tersebut, kemudian dengan cepat bak kilat. Tiara menghilang dan dalam hitungan detik saja Tiara sudah berpindah tempat dan kini sudah berada di istananya.


“Selamat datang, Ratu? apa ada yang bisa saya lakukan?” beberapa dayang mengangguk hormat dan setengah membungkuk di hadapan Ratunya tersebut.


“Siapkan air hangat untuk ku dan jangan lupa dengan kembang tujuh rupa nya juga?” pinta Tiara sambil terus berjalan ke tempat persinggahannya.

__ADS_1


Tiara senyum-senyum membayangkan sosok Paijo yang tinggi besar dan kekar. Beserta hati yang berbunga-bunga, bak taman berjuta bunga nan warna-warni yang bermekaran menunjukan keindahannya.


“Alangkah bahagianya hati ku, bila bisa bersanding dengannya. Oh ... aku mendambakannya. Aku tergila padamu wahai Paijo, bilakah kau menjadi milik ku!” Tiara berlanjut bermandikan air bunga tujuh rupa.


Pikirannya melayang ke awanan, kelopak mata terpejam sembari membayangkan pesona wajah Paijo yang menari-nari di ruang mata. Bibir Tiara terus membentuk sebuah senyuman yang mengembang.


“Aku harus mendapatkan mu mas, aku harus mendapatkan mu!” gumamnya Tiara sambil tersenyum-senyum sendiri.


...---...


Setibanya di mobil, Paijo langsung membawa mobilnya melaju dangan cepat dan memilih untuk pulang, kebetulan. Hari pun sudah semakin larut bahkan sudah dini hari.


Sepanjang perjalanan, Paijo melamun dengan segala masalahnya dan juga teringat gadis cantik yang menawarinya menjadi suami.


“Hem. Satu Istri saja pusingnya tujuh keliling, apalagi dalam masalah keuangan. Ini mau nambah, mau tak kasih makan apa dia? daun atau rumput?” Paijo menyunggingkan bibir dan menggelengkan kepala sambil tetap menyetir dengan tetap fokus.


Paijo melirik ke arah jok samping dan di sana memang ada sebuah paper bag berwarna hitam dan lantas tangan Paijo mengambil nya setelah menepikan mobil yang dibawa nya itu, lalu ia intip dan membuka isinya apa?


“Ha? uang? uang apa ini, sebanyak ini buat aku?” Paijo mematung dan melototi uang yang berada di dalam paper bag tersebut.


Sebelum turun. Dia menghitung terlebih dahulu dan semuanya senilai seratus juta, dengan hati yang bercabang.


“Apa benar ini uang untuk ku? buat bayar rumah sakit, cesar istri ku?” gumamnya bermonolog sendiri.


“Tapi ... bagaimana kalau uang ini adalah hasil curian? gimana kalau aku pake dan aku dimintai balik? Ahc masa bodo. Anggap saja pinjaman, oke. Yang penting anak dan istri ku biasa keluar dari rumah sakit dan aku bisa melunasi nya! urusan bayar nya itu belakangan saja.” Paijo keluar dari mobilnya dengan memeluk paper bag yang berisi uang tersebut.

__ADS_1


Hatinya merasa was-was, bukan apa? soal uang kan sensitif. Jadi jadi harus lebih waspada. Paijo buru-buru ke dalam rumahnya yang tampak sepi tersebut. Toh yang tinggal hanya dirinya sendiri, selama sang istri di rumah sakit, sementara putra nya, dia ungsikan ke tempat kakek dan neneknya.


Dan Paijo berniat untuk membayar rumah sakit itu pagi-pagi sekali, sekarang dia mau tidur dulu,.


Paijo menyimpan baik-baik uang tersebut, jangan sampai hilang satu lembar pun. Bila perlu ia peluk dalam tidurnya nanti.


Dengan hati dan bibir yang berbunga-bunga, Paijo bisa tidur dengan nyenyak dengan bibir yang tersenyum. Serta bisa sejenak menenangkan pikirannya tersebut.


Keesokan harinya, yaitu pagi-pagi sekali. Paijo sudah terbangun dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit mau menebus istri dan baby nya.


Dengan semangat 45 Paijo membawa dirinya ke rumah sakit dimana sang istri di rawat, tidak lupa membeli buat sarapan bersama.


Melihat sang suami tampak segar dan bahagia, sang istri merasa heran, namun dia tidak mau banyak bicara. Karena biarlah dia yang bercerita sendiri.


“Asslamu’alaikum, Dek. Gimana kabar pagi ini? Mas bawakan sarapan nih, dan sebentar lagi kita akan pulang. seneng nya Mas, akhirnya kita akan berkumpul lagi di rumah sayang,” cuph! Paijo mengecup keningnya sang istri.


“Wa’alaikum salam ... Mas sudah dapat pinjaman uang nya, Mas?” sang istri mantap penasaran.


“Sudah, Dek. Makanya Mas sudah luaskan semua pembayarannya, kita tinggal pulang saja dek,” ucap Paijo sembari menggendong baby nya yang masih merah itu dengan penuh rindu.


“Alhamdulillah ... berapa Mas dapat pinjem nya?” selidik sang istri sembari mengucap syukur.


Sejenak Paijo terdiam sambil menatap wajah baby nya itu, seraya berpikir, bicara ga ya? dari siapa? Sementara Tiara menawarinya menikah dan betapa akan hancurnya perasaan sang istri kalau mengetahui yang sebenarnya, karena kemungkinan besar Paijo dan Tiara pasti bertemu lagi.


Uang yang diberikan Tiara bukan lah uang yang sedikit, dan diberikan dengan Cuma-Cuma. Pasti satu hari akan ada timpal baliknya, apapun itu. Dan siapa sangka kalau bila bertemu lagi akan dia dapatkan sistem kekayaan yang luar biasa ....

__ADS_1


Jangan lupa budayakan like nya setelah membaca🙏


__ADS_2