Tiara Siluman Ular

Tiara Siluman Ular
Maaf


__ADS_3

"Apa yang kau inginkan hem?" tanya Tiara sambil menyandarkan kepalnya di bahu Paijo dan membelai rahang pria tersebut.


Paijo masih sibuk mengontrol nafasnya yang masih terengah-engah. Dengan dada yang naik turun. Dalam hati merasa cemas dan merasa berdosa pada istrinya. Namun apa daya hasratnya tidak bisa di bendung di hadapan Tiara yang begitu menggoda.


Maaf. aku sudah mengkhianati mu, aku gak tahan menahan gejolak ini pada gadis yang kini sedang bersama ku. Ditambah lagi kau belum bisa aku sentuh istri ku.


"Hi? kau tidak mendengar ku?" ucap Tiara sambil mengecup pipi Paijo dengan sangat mesra.


Membuat Paijo melirik dan tersadar dari lamunannya. "Hem apa gadis ku?"


"Kau inginkan apa! uang kes atau perhiasan?" tawar Tiara, seraya terus menggerakkan jemarinya di dada bidang Paijo dan menari-nari di sana.


"Aku tinggal di kontrakan, tapi kontrakan sudah dibayar setahun ke depan. Mobil ku taksi perusahaan." Paijo bergumam sembari mengecup bibir Tiara yang tampak selalu menggoda.


Tanpa di jelaskan, Tiara mengerti maksud dari Paijo barusan. "Aku akan memberikan mu sistem kekayaan. Kau harus mempunyai rumah sendiri, mobil pribadi. Dan kau harus mempunyai usaha sendiri apa pun itu."


"Bagaimana aku membayar kebaikan mu itu? yang kemarin saja aku gak tahu harus membayarnya gimana?" gumamnya Paijo sambil kembali memberi kecupan mesra di bibir Tiara.


"Kau tidak perlu membayar dengan apapun. Karena kau cukup menemani ku seperti ini," jelas Tiara sembari melakukan yang sama dengan Paijo.


"Begini saja? setiap hari atau--"


"Iya, tapi tidak setiap hari juga. minimal satu Minggu sekali. Dan Mas harus ingat juga, kau harus pandai berbagi atau membantu orang lain yang sedang kesusahan dan juga jangan menyakiti istri mu, sebab aku sangat tidak suka bila ada laki-laki yang menyakiti wanita." Tiara berpesan pada Paijo.


"Aku akan ingat itu, gadis ku ... jangan khawatir dan jangan bimbang! aku akan selalu ingat itu." Paijo mengangguk.


Tiara beranjak dan mengenakan semua pakaiannya. Dengan manik mata yang mengarah pada Paijo yang sepertinya masih menginginkan dirinya.


Paijo memang saat ini seperti bak singa yang lapar dan dia terbangun menyerang Tiara yang tersenyum menggoda padanya. Sehingga terjadi lagi penyatuan dua mahluk yang berbeda itu.


Waktu Terus berputar, mengiringi pasangan yang sedang di mabuk gelora dan hasrat yang kian mendera jiwa.

__ADS_1


Pagi-pagi Paijo baru pulang ke rumah dengan tubuh lelah sehabis bercinta dengan Tiara misterius dan memberi kekayaan yang instan pada dirinya.


Paijo menggendong uang yang berada di dalam tas punggungnya itu, ia langsung simpan di lemari dan crack, lemari di kunci.


Istrinya yang baru dari dapur, melihat suaminya yang baru dia lihat di tempat tersebut menyambut dengan senyuman.


"Mas, baru pulang?" Baby dari semalam rewel lho Mas, nomor mu tidak dapat ku hubungi." Keluh sang istri sembari momong baby di dalam gendongan kain.


Paijo mendekat lalu mengusap baby-nya yang tampak tenang dalam gendongan mamanya.


"Dia baru tidur, dari semalam gak tidur dan rewel terus. Aku pun lelah," ucap sang istri yang memang tampak lesu, wajahnya pucat akibat kurang tidur.


"Ya sudah, sebaiknya kau tidurkan dek, biar tidur! dan adek pun istirahat. Biar pekerjaan rumah Mas yang kerjakan, tapi Mas mau mandi dulu sebentar!" Paijo menyambar handuk nya lalu keluar dari kamar tersebut.


"Iya, Mas!" sang istri mengangguk.


Paijo memasuki kamar mandi dan sebelum memulai ritualnya. Paijo mencari shampo terlebih dahulu.


Sejenak dia terdiam dan mematung. Dia teringat pada sang istri. "Maafkan aku dek?" gumamnya. Lalu kembali meneruskan ritual mandi nya, mengguyurkan air ke tubuhnya dengan menggunakan gayung berwarna ijo.


Sang istri yang tengah berbaring bersama baby nya yang baru bisa nyenyak bobo nya stelah semalaman membuat drama yang membuat sang ibu merasa lelah dan sedih.


Semua ibu pasti mengalami Pusing, sedih pengen nangi, bahkan ingin teriak sekencangnya. Di saat menghadapi balita nya rewel dan tidak dapat di tenangkan. Kepala berasa mau pecah dibuatnya.


Paijo masuk kamar dengan segarnya dan menunjukan wajah penuh dengan kebahagiaan. Beda dengan sang istri yang tampak kusut dan pucat pasih.


...---...


Di sebuah tempat yang kumuh dan bangunan rumah yang terbuat dari bambu serta atapnya pun banyak yang bocor.


Terdapat seorang pemuda yang berwajah manis, menggunakan sebuah tongkat karena setelah beberapa waktu lalu mengalami patah tulang sehingga sampai saat ini jalan nya pemuda itu belum normal.

__ADS_1


"Yah, apa ada makanan di dapur? perut ku lapar sekali," tanya pemuda yang memiliki nama Dahlan tersebut. Usianya sekitar 25 tahun dan tinggal bersama seorang ayah yang kerjaannya hanya sebagai pemulung.


"Belum, Lan. Ayah belum punya apa-apa. Seperti yang kau tahu, ayah kurang enak badan di beberapa hari ini." Balas sang ayah sambil di balut sarung yang lusuh.


Dahlan menghela nafas dalam-dalam dengan perasaan yang lesu. Lalu dia bangkit meraih tongkatnya, berjalan tertatih-tatih keluar dari tempat tinggalnya tersebut.


"Mau kemana Lan?" tanya sang ayah yang kebetulan sedang kurang sehat dari beberapa hari ini dan dia pun tampak terbatuk-batuk.


Dahlan membawa langkahnya yang tertatih tersebut dan tangannya memikul karung kosong juga alat untuk mengambil barang bekas yang bis dia pungut.


Dengan hati yang sedih, bercampur lapar. Dia harus bisa mendapatkan untuk sesuap nasi untuknya dan sang ayah makan, Sekalipun luka di kakinya belum sembuh dan masih terasa nyeri. Apa lagi sang ayah sedang kurang sehat. Tidak ada tuk beli obat pun.


"Mau kemana Dahlan?" sapa seseorang sebagai tetangganya.


"Mau berikhtiar. Pak!" jawabnya Dahlan sambil mengait botol kosong di masukannya ke dalam karung.


"Kau itu masih sakit. Lihat! jalan mu saja masih seperti itu!" kata orang tersebut dengan pandangan iba.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya harus mengais rejeki untuk menyambung hidup." Jawabnya lagi sambil terus berjalan.


Orang-orang yang melihat Dahlan hanya bisa merasa iba. Pemuda itu memang terbilang rajin. Tapi sayangnya waktu itu dia mengalami insiden singa membuat kakinya mengalami patah tulang dan sampai saat ini belum normal.


Di bawah terik nya sinar matahari yang cukup menyengat. Dan panasnya sampai membakar tubuh, Dahlan terus mencari rongsokan demi sesuap nasi. Rasa lapar dan haus pun sudah tidak terbendung lagi menyiksa perut dan tenggorokannya.


Hingga saat dia menemukan sebuah botol bekas yang masih berisi air. Dengan tidak berpikir panjang ataupun jijik! Dahlan meneguknya dengan nikmat, berasa mendapat air dari surga yang menghilangkan dahaga yang sedang Dahlan rasakan ....


.


Jangan lupa subscribe ya agar dapat notif nya ketika ada bab baru.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2