Tiara Siluman Ular

Tiara Siluman Ular
Merepet


__ADS_3

Dalam kurun waktu sebulan, rumah-rumah yang terkena dampak gempa di perkampungan Wahab pun sudah kembali berdiri tegak dan kokoh. Begitupun rumahnya Wahab pribadi. Sudah bagus kembali.


Rumah itu lebih bagus dari sebelumnya dan isinya pun lebih komplit dan mewah juga barang mahal. Wahab yang tengah berdiri di atas balkon memandangi ke arah sekitar perkampungan yang kini sudah mulai tertata lagi seperti semula.


Pandangan Wahab bergerak melihat ke arah langit-langit yang begitu cerah, awan yang putih langit nan biru. Dia menghela nafas panjang dan lalu menutup kedua matanya, membayangkan wajah Tiara. “Tugas ku sudah selesai.”


...----...


“Tiara-Tiara. Nama itu terus yang kau sabut, sedang makan, dia terus yang kau sebut. Tidur juga dia yang kau sebut, sebenarnya siapa dia? sehingga bagai mendarah daging di tubuh mu. Kurang apa aku Mas ... sehingga punya wanita lain dan melupakan ku,” istrinya Marno terus merepet. Dia kesal sama suaminya yang juragan tanah itu.


Sang istri curiga kalau Marno mempunyai wanita lain, karena itu dia sebut selalu nama perempuan yang bernama Tiara.

__ADS_1


“Itu hanya sebutan ku saja sayang … kalau kita punya anak lagi nanti … beri nama Tiara.” Sanggah Marno sambil mengambil nasi dan lauknya ke dalam piring.


“Alah … itu alasannya saja, gak mungkin segitunya menjadi sebutan kalau itu Cuma untuk nama seorang anak, lagian aku ini sudah tua tidak mungkin lagi hamil. Berarti kau mau menikah lagi kan? siapa dan di mana wanita nya ha? akan aku datangi dia dan ku acak-acak wajahnya biar kapok, enak saja mau sama laki orang. Ketika kamu miskin, ada yang mau gak? engga….”


Marno tetap saja anteng, nikmati makannya. Dia memang mengakui kalau banyak wanita yang mendekatinya, tergoda iya, siapa sih laki-lakinya tidak tergoda bila banyak wanita yang merayu, tapi Marno ingat betul dengan pesan Tiara siluman ular yang memberinya sistem kekayaan, bahwa tidak boleh menyakiti hati istrinya. Menjadikan dia kuat dari godaan wanita lain selain Tiara dan istrinya tersebut.


“Tidak ada wanita lain Mah ... kamu saja, saya sudah pusing dan bikin habis nih daun telinga, di tambah lagi nanti wanita lain bikin hancurlah dunia pendengaran ku dengan ocehan kalian. Sudah lah jangan merepet terus kaya petasan saja itu mulut, mending nikmati saja hidup kita ini jangan berpikir jauh ke sana, saya aja berpikirnya gimana caranya untuk membahagiakan keluarga kita.”


Plak ... sang istri menepuk meja makan. “Kalau tidak ada wanita lain, kenapa kau pun sudah sering


Marno mengangkat wajahnya dan menatap ke arah sang istri yang tampak marah dan mengungkap soal selain itu. “Itu. Kan kamu sendiri yang bilang ... jangan sering-sering, capek dan biar ada kangennya.”

__ADS_1


“Tapi kan kenyataan nya kau malah semakin jarang menyentuh ku, aku pinta pun kau sering menolak dan memilih untuk tidur di kamar sebelah, apa yang kau lakukan di sana?” sang istri omongannya semakin melebar ke mana-mana.


“Kau tau kan aku sedang makan?jangan di ganggu. Biarkan saya makan dulu, setelah makan, barulah kau mau bicara apapun akan saya dengarkan.” Marno tetap dengan nada lembut agar tidak menyakiti hati istrinya tersebut.


Marno tetap hati-hati dalam berbicara, agar sang istri tetap merasa di hargai. Marno tidak mau kalau hati istrinya tersakiti ataupun kdrt, bisa-bisa di pecat jadi orang kaya.


Sang istri sudah siap lagi untuk melanjutkan mengeluarkan unek-uneknya pada suami. Namun jari Marno menempel di bibir, sehingga sang istri segera mengunci mulut agar diam sewaktu-waktu.


Pria yang sudah paruh baya itu tersenyum dan melanjutkan makannya sampai kenyang. Marno yang kini menjadi juragan tanah dulunya hanya tukang kuli panggul di pasar. Rumah ngontrak satu petak sementara anak sudah dua waktu itu.


Setelah bertemu dengan Tiara dan memberikan sistem kekayaan yang cukup instan, kehidupannya berubah drastis. Bisa beli rumah yang besar dan bagus ....

__ADS_1


...🌼----🌼...


Jangan lupa like komen dan lainnya.


__ADS_2