Tiara Siluman Ular

Tiara Siluman Ular
Linglung


__ADS_3

Seperti biasa, Tiara mewanti-wanti kalau uang tersebut harus digunakan dengan baik. Jangan dipergunakan pada yang salah.


Dan Wahab pun mengerti dengan yang Tiara maksudkan. Tiara memeluk Wahab sebelum pergi.


"Tapi, Neng. Neng itu kan sama kena musibah, kok malah dihambur-hamburkan uangnya?" Wahab merasa heran dan tidak mengerti dengan Tiara.


Tiara tersenyum dan memberi pengertian. Kalau sesungguhnya dia bukan manusia biasa dan dia sudah biasa memberikan sistem kekayaan kepada yang membutuhkan.


Jadi jangan heran dengan dirinya karena ini tugasnya. "Sekarang ... kau kerjakan saja tugas mu dan jangan lupa selalu ingat pesan ku."


"Jadi, Neng sekarang mau pergi? terus saya gimana?" tanya Wahab kebingungan.


"Mas, teruskan hidup Mas seperti biasanya, dan sewaktu-waktu aku akan datang untuk mu serta memberikan kamu uang lagi untuk membereskan semua kekurangan pembiayaan!" tambah Tiara sambil mengelus pipi Wahab.


"Aku tetap bingung. Harus gimana? mengurusnya semua." tambah Wahab lagi.


"Banyak orang-orang yang bisa kau ajak kerja sama untuk mengerjakan semua, kamu tidak perlu mengatakan uang itu dari mana atau tentang aku pada semua orang pada semua warga. Tentang kita berdua dan cukup kita saja!" Tiara menatap penuh harap pada pria itu yang tampak berat untuk melepaskannya.


Wahab kembali memeluk Tiara dengan sangat erat. Sebelum Tiara berlalu pergi dan berjanji akan kembali lagi di saat waktunya nanti.

__ADS_1


Setelah kepergian Tiara, Wahab berbaring di tempat semula.


Malam yang semakin larut dan membawanya alam ini ke sebuah pagi. Sang Surya dari ufuk timur menyinari dan menghangatkan kulit.


Dan sinarnya masuk ke celah-celah tenda yang sedang Wahab tempati dari semalam. Menyorot pas pada wajah Wahab yang masih tertidur lelap tersebut.


Perlahan Wahab membuka matanya dan memicing ke arah sekitar, berasa tidur di atas tempat tidur yang super empuk serta kamar yang bagus, tetapi ternyata hanya mimpi. Dia tidur beralaskan tikar dan dalam sebuah tenda.


Di selimuti dengan selimut tebal dan di temani wanita cantik itu cuma khayalan semata. Yang ada hanya berselimut jaket saja, dia pun bertelanjang dada.


"Aku cuma mimpi rupanya," gumamnya Wahab sambil mendudukan dirinya sambil mengetuk-ngetuk kepalanya. Mengingat kejadian semalam yang berada nyata dan bukan mimpi.


"Uang?" suara Wahab pelan, mengarahkan pandangan ke arah kantong yang memang benar adanya. Buru-baru Wahab mendekati dan mengecek isinya. Benar! tetap sama dengan semalam. Isinya uang asli.


"Kemana si eneng?" Wahab celingukan. Tidak ada tanda-tanda bekas keberadaan Tiara. Atau gadis cantik itu. Lalu pemuda itu ingin memastikan kalau kejadian semalam itu benar atau mimpi.


Tetapi sepertinya benar, dibuktikan dengan sesuatu yang berada aneh di rasakan oleh miliknya. Wahab semakin melongo, bingung. Heran dan sulit dimengerti, namun dia ingat betul dengan semua yang Tiara pesankan padanya waktu itu.


Diluar terdengar ribut, dengan keberadaan tenda yang semalam mereka rasa menghilang. Mereka tidak habis pikir kalau semalam itu tenda itu benar-benar menghilang. Dan sekarang muncul lagi, pas melihat ke dalamnya terdapat Wahab sedang melongo.

__ADS_1


Membuat warga semakin ribut, apalagi orang tua dari Wahab sendiri yang mengira Wahab itu pergi mengantarkan Tiara pulang ke kampungnya, namun ternyata putranya itu ada di sini juga.


Wahab yang masih seperti orang linglung, berdiri dan menyambar kresek yang ia bungkus dengan jaketnya.


Nanti setelah dia merasa tenang, baru akan menggunakan uang tersebut pada yang seharusnya. Jangankan warga yang bertanya kenapa dan gimana? orang tuanya saja belum dia gubris pertanyaannya.


Wahab memilih untuk menenangkan diri dulu dan memikirkan kedepannya untuk belanja semua bahan rumah.


Orang tua Wahab yang lebih mengerti putranya itu, memberikan ruang untuk putranya beristirahat. Walau hatinya tetap merasa khawatir pada putranya.


Di saat hari menjelang sore, barulah Wahab membersihkan diri dan makan, setelah itu mengajak salah satu warga dan adiknya untuk belanja bahan-bahan rumah untuk keluarganya dan sekalian buat rumah yang rusak-rusak sedikit agar segera di huni lagi.


Yang lain dan adiknya merasa heran, kok Wahab banyak duitnya? dia hanya bilang dapat harta Karun yang harus dia pergunakan dengan baik. Dan tidak seharusnya terlalu menggantungkan harapan pada pemerintah setempat.


Dan setelah rumahnya selesai, rumah yang lain pun akan dia bantu, sabar saja. Jangan khawatir nanti ada giliran ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like komen dan subscribe nya juga?

__ADS_1


Makasih ya.


__ADS_2