Tiara Siluman Ular

Tiara Siluman Ular
Bencana


__ADS_3

“Emang di situ banyak ikannya ya, Mas?” tanya Tiara sambil melirik ke arah Wahab yang melongo ke arah dirinya.


"Oh, i-iya, ada. Neng dari mana dan mau kemana? berada di pinggir sungai begini!" selidik Wahab dengan nada heran, menyembunyikan perasaannya yang langsung mengagumi sosok gadis ini.


"Em ... main-main saja buat buang penat, lelah dan sebagainya." Jawabnya Tiara sembari menunjukan senyumnya yang indah.


“Benarkah kau sedang jalan-jalan, seorang-seorang?” selidiki Wahab dan menatap dengan lekat ke arah Tiara yang dengan penampilan sederhana itu.


“Benar, Mas. Memang mau sama siapa? gak ada yang mau menemani aku,” kata Tiara dan menunduk ke arah dirinya, kali saja ada yang salah dalam penampilannya.


“Oh … ketuk, apa tidak takut jalan sendirian? Takut apa gitu?” Wahab sambil celingukan, maklum pinggir sungai yang agak sepi dan banyak semak-semak yang kalau ada ular itu gak akan terlihat.


“Takut apa, Mas? justru yang lain takut sama aku. Hi hi hi …” Tiara malah terkekeh sendiri sambil melihat ke arah ujung pancingan.


“Neng bisa saja, mana ada, yang lain takut sama Neng. Paling yang ada merasa suka dan tergoda sama, Neng. Secara Neng cantik dan ramah,” ucap Wahab.


'Mas, awas tuh kailnya kebawa ikan?” Tiara dengan antusias menunjuk ke arah pancingan Wahab yang bergerak.


Wahab berjingkrak, karena dapat ikan besar padahal biasanya paling ikan kecil saja, begitupun dengan adiknya yang dapat besar-besar juga.


“Dek rejeki kita hari ini, semoga banyak dan kita bisa jual sebagian dan sebagian kita goreng, kasian ibu gak punya uang kayanya, dek” teriak Wahab pada adiknya.


“Iya. Bang, ibu memang gak ada duit dan ibu malu kalau kita numpang terus di tempat tetangga, Bang.” Balas sang adik.


Tiara mendengarkan dialog kakak beradik tersebut. Yang menyimpulkan kalau kehidupan mereka sedang dalam kesulitan, membuat Tiara menajamkan pandangannya ke arah air yang tenang itu sambil berkomat kamit mengundang ikan-ikan agar tulus memberikan dirinya pada kedua orang itu, yang mereka perbincangkan itu terus menyebut nama ibu yang mereka rasakan kasian pada sang ibu yang begini dan begitu.


“Oh, maaf, Neng … ternyata masih betah duduk di sana.” Wahab menoleh ke arah Tiara yang tengah duduk di samping Wahab. Melihat ke arah sungai.


“Aku suka saja melihat ikan-ikan itu pada ikhlas diambil sama, Mas. Sehingga dalam sekejap pun sudah dapat banyak ya?” Tiara mengulas senyumnya pada air sungai tersebut.

__ADS_1


“Mungkin sudah rejeki kami Neng. Kasihan sama kami yang baru saja kena musibah, kami kena gempa dan rumah kami pun roboh sebagian dan belum bisa ditempati. Karena takut pas kami tempati roboh lagi.”


Tiara menatap tajam ke arah Wahab yang matanya tetap fokus ke ujung pancingan.


“Mas. Saya juga sebenarnya kena bencana, tempat tinggal ku rata dengan tanah karena getaran gempa yang cukup kuat.” Tiara tampak sangat sedih.


“Oh … jadi Neng korban juga?” Wahab memandangi ke arah Tiara dengan tatapan sedih.


“Iya Mas, sementara saya hidup sebatang kara, tidak berkeluarga.” Tiara semakin menunjukan rasa sedihnya.


“Ya ampun Neng … benarkah? Berarti masih beruntung saya yang masih punya orang tua yang lengkap,” kenangnya Wahab masih bisa bersyukur.


“Kasihan Mbak nya ya?” kita sih masih lengkap hanya harta saja yang hilang atau raib ya Bang?” kata sang adik melirik kakaknya itu.


“Iya benar, kita harus bersyukur kalau orang tua kita masih lengkap dan sehat.” Wahab membenarkan ucapan dari sang adik.


Setelah mendapatkan ikan yang cukup banyak. Wahab dan sang adik pun pulang dan mengajak Tiara untuk ikut pulang saja.


“Benar, Mas? mengajak ku untuk pulang ke tempat, Mas?” selidiki Tiara sambil menatap keduanya yang tampak tulus.


“Iya, ikut saja, nanti saya antar kamu pulang, kemana pulangnya?” Wahab merapikan pancingnya dan berpaling pada gadis cantik tersebut.


“Saya dikampung sebelah.” Lalu Tiara berdiri dan berjalan di depan mengikuti langkah adiknya Wahab. Dan Wahab berjalan di belakang nya Tiara.


“Iya nanti saya antar kamu pulang,” tambah wahab sambil sesekali melihat langkah Tiara yang gemulai bikin dia menelan Saliva nya yang terasa kering di tenggorokan.


Setibanya di perkampungan dan benar saja wahab menunjukkan rumahnya yang miring dan tinggal menunggu waktunya saja.


Tiara melihat dan mengamati rumah-rumah tersebut dan juga pemukiman lainnya. “Bantuan, apakah sampai ke sini mas?”

__ADS_1


“Tidak terlalu sampai tuh.” Kata Wahab sambil melihat banyak rumah-rumah yang pada rusak lainnya yang bikin hati miris. Bukan keluarganya saja yang kehilangan tempat tinggal, tapi masih banyak lagi.


“Ooh … begitu, terus mereka yang masih takut tinggal di rumahnya masing-masing karena masih trauma dan takut ada susulan, dimana mereka tinggalnya?” selidik Tiara.


“Sama lah, kalau tidak di tenda umum yaitu di rumah tetangga yang rumahnya tidak kena dampak.” Jawabnya Wahab, lalu mengajak Tiara untuk menemui orang tuanya, yang kebetulan sedang mengunjungi tenda. Lalu Tiara di sambut oleh orang tuanya Wahab dengan ramah dan hangat.


“Dari mana, Neng ini?” tanya bundanya Wahab.


Tiara menunduk sambil berkata. “Saya dari kampung sebelah, tempat tinggal saya juga sama rata dengan tanah malah, Bu... bapak-bapak.” Tiara mengedarkan pandangannya ke sekitar yang terdapat banyak warga yang terkena dampak dan musibah. Yang sedang berkumpul di sana termasuk anak-anak.


“Innalilahi …” kata mereka semua serempak.


“Ada kalanya kita merasa kitalah yang paling menderita, merasa kitalah yang paling kekurangan. Padahal di luar sana masih banyak yang lebih menderita dan kesusahan, apapun keadaannya tergantung kita menyikapi dan mensyukurinya. Bukan kah semua yang kita miliki itu adalah titipan dan suatu saat atau kapanpun di ambil lagi,” sambung Tiara memandangi ke arah orang-orang tersebut.


Semua mengangguk dan terdiam juga introspeksi diri. Dengan kejadian ini.


Wahab. Terus saja memperhatikan atau melihat ke arah Tiara yang seakan memberi semangat pada korban semua. Dan Tiara menggendong balita yang sedang menangis penuh kasih sayang.


“Dia juga korban, tapi begitu kuat dan tegar. Hebat gadis itu,” Batinnya Wahab sambil mencuri-curi pandang ke arah gadis tersebut.


Lalu Tiara menyuruh seseorang untuk belanja semua keperluan warga apapun itu. Tiara memberikan uang yang lumayan banyak untuk berbelanja keperluan warga.


"Apa yang warga perlu, bicara saja, bisa sama saya atau sama Mas Wahab.” Tiara menoleh pada Wahab yang melongo. “Mungkin butuh obat-obatan dan lainnya ....


...🌼----🌼...


Akan kah Tiara memberikan sistem kekayaan pada warga yang mengalami bencana?


Jangan lupa like komen dan vote nya. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2