
“Oh ... nama Mbak, Dewi ya? tinggal di sini berarti sendiri? Setelah suaminya meninggal.” Selidik Tiara.
“Iya Mbak. Dan aku juga gak tau harus kemana lagi sebelum mendapat kerjaan, karena kontrakan ini sudah habis. Dan aku tuh belum bayar,” keluhnya Dewi.
“Mbak biasanya kerja apa?” tanya Tiara kembali.
“Saya kemarin itu mengemis, Mbak. Di suruh suami saya, dan saya tidak mau lagi menjadi pengemis, saya ingin kerja yang lebih baik lagi saja. Mau nyari biarpun menjadi asisten rumah tangga dan tentunya bisa membawa putra ku,” ujarnya Dewi sambil menyudahi makannya.
“Mbak di sini apakah ada orang yang perduli sama Mbak?” Tiara menatap ke arah Dewi, wanita itu cantik bila bisa merawat diri.
“Sebenarnya tetangga di sini baik-baik, namun saya malu bila terus menerima kebaikan mereka terus menerus.” Akunya Dewi sambil menunduk.
“Mbak mau ikut sama saya? Saya akan menempatkan Mbak di tempat yang lebih layak dan Mbak bisa buka usaha kecil-kecilan agar bisa sambil menjaga anak.” Tawar nya Tiara penuh ketulusan.
Dewi begitu antusias mendengar tawaran dari Tiara. “Beneran Mbak, tapi ikut kemana?”
“Mbak ikut saja, kita cari tempat di sekitar sini atau kampung lain yang bisa bikin Mbak dan baby nya merasa nyaman.” Tambahnya Tiara sambil melirik ke arah baby yang tengah tertidur pulas.
“Mau Mbak, mau?” Dewi mengangguk, dia sangat bahagia ada orang yang mau menolong dia dan putranya.
__ADS_1
Sesuatu yang tidak dia duga sebelumnya, dia bermimpi pun tidak. Dengan tiba-tiba Tiara datang dan menawarkan kebaikannya.
“Oke, kalau begitu pagi-pagi kita pergi dari sini namun Mbak harus bersihkan ini lebih dulu agar lebih bersih dan ... saya akan bantu untuk membersihkannya.” Tiara mengedarkan pandangan ke arah sekitar.
“Iya, Mbak saya akan membersihkan nya sekarang juga.” Dewi pun setuju.
“Eh ... tapi Mbak, kenapa harus bersih kan dulu? biar saja berantakan, toh kita mau pergi dan pindah,” tanya Dewi.
“Seandainya Mbak punya tempat tinggal, terus orang lain yang tinggali pas dia pergi tempatnya kotor. Apakah Mbak mau? Tentunya tidak bukan? kita harus berusaha jangan merugikan orang lain dan kebersihan itu sehat dan nyaman.” Ujar Tiara sambil menatap ke arah Dewi yang nyengir.
“Baiklah kala kita mau bersihkan sekarang, saya bantu untuk membersihkannya.” Tiara langsung bersingkil untuk menyulap tempat ini biar bersih.
Baby yang tidurpun di geser ke tempat yang sudah bersih. Semua sampah pun dikumpulkan di luar lalu di bakar.
“Perabotan nya mau saya bawa Mbak.” Dewi melihat ke alat-alat masak.
“Nggak usah Mbak, Jangan di bawa repot. Biar nanti saja beli lagi dengan yang lebih bagus. Yang itu di kemas saja tapi jangan dia bawa juga.” Tiara tidak setuju bila dari sana membawa barang-barang.
“Ooh ... baiklah bila begitu.” Dewi pun setuju.
__ADS_1
“Begitu pun dengan pakaian Mbak. ambil yang masih layak saja, yang lain buang. Jangan tinggalkan sampah.” Tiara kembali memberi saran kepada Dewi.
Dewi bengong dengan saran Tiara, dan apa yang harus dia bawa? Orang baju pun lusuh semua bahkan rombeng. Namun dia tak ayal mengambil pakaian semua yang lusuh dan menyisakan dua saja buat dia ganti.
Begitupun dengan bajunya baby yang memang sudah jelek-jelek. Dan tinggal dua tiga saja. Dewi begitu percaya pada Tiara yang bersedia menolongnya biarpun baru saja kenal.
Kini rumah itu sudah bersih dan tinggal kasur yang lepet saja yang tergeletak di sana juga masih di pake oleh sang baby.
Tidak terasa suara tahrim pun terdengar dari dari kejauhan. Tiara menoleh Dewi yang tampak capek yang baru selesai membereskan perabotan yang tidak seberapa sih.”
“Mbak, sebaiknya ... Mbak sekarang mandi yang bersih dan ini pakai baju saya saja biar lebih cantik kamu nya.” Tiara memberikan sebuah baju pada Dewi.
Dewi pun langsung menyambut saran dari Tiara dan mengambil bajunya dan juga handuk. “Terima
kasih, Mbak?”
Tiara mengangguk sambil mengulas senyumnya. Lalu bernapas lega, tempat itu terlihat lebih luas sekarang setelah bersih dari kotoran apapun ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Tiara harus mampu mengubah kehidupan wanita yang bernama Dewi tersebut.