
“Mas, sebaiknya kamu tidak perlu berinvestasi di sana Mas, mereka itu mau menipu kamu,” cegah Tiara pada Paijo sambil menarik tangannya ke tempat yang lebih aman.
“Tapi dari mana kau tahu, kalau mereka mau menipu dan mereka meyakinkan kok.” Paijo mengerutkan keningnya. Di lupa kalau Tiara bukan bukan manusia.
“Kamu tidak perlu bertanya, tahu dari mana? yang jelas mereka mau menipu mu. Semua cabang yang mereka bilang itu omong kosong dan jangan percaya.” Tambahnya Tiara kembali sembari mendekat ke Paijo.
“Terus, saya harus bilang apa? kan saya sudah menyetujui?” Paijo kebingungan.
“Batalkan saja, gak jadi. Daripada kau kena tipu, mendingan, Mas sumbangkan pada yang membutuhkan, daripada kau berikan pada penipu,” jelas Tiara lagi yang tidak rela bila harta Paijo diberikan pada orang yang
jelas-jelas hanya menipu untuk kepentingan segelintir orang.
Paijo termenung sambil celingukan. “Baiklah, kalau begitu.” Paijo menatap ke arah Tiara dengan tatapan tajam lalu mendekat dan masih sempat tengok kanan dan kiri, sementara Tiara terdiam menatap laki-laki yang berada di hadapannya itu.
Paijo menempelkan kedua telapak tangan ke dinding, Mengunci tubuh Tiara yang bersandar di dinding. Lalu kemudian dia mendekatkan wajah dia ke wajah gadis itu, mendekati bibir yang merona tersebut. Sesaat, Paijo ******* bibir Tiara lalu berkata. “Aku mencintaimu.”
Tiara pun mengalungkan kedua tangan di pundak pria itu hingga akhirnya dia membalas perlakuan yang sama. Setelahnya bisik. “Ini bukanlah saat yang tepat untuk kita bercinta wahai suamiku.”
Selanjutnya Tiara menghilang begitu saja. Tinggallah Paijo yang mengusap bibir nya yang terasa lembab.
Paijo kembali ke ruang yang tadi di tempat tempat dengan tamunya tersebut.
“Ya, apa yang terjadi?” tanya istrinya yang memandangi dengan rasa penasaran.
“Em ... kucing. Itu kucing,” jawabnya Paijo sambil mendudukan dirinya di sofa tempat semula dia duduk.
“Gimana, Mas?” selidiki tamunya yang merasa tidak sabar lagi untuk menjalin kerja sama.
Paijo menetap ke arah kedua tamunya dengan tatapan diam dan tajam ke arah keduanya sehingga keduanya merasa aneh dengan tatapan dari Paijo.
“Maaf, saya urungkan niat saya untuk menjalin kerja sama dengan kalian. Saya batalkan,” jelas Paijo.
Membuat mereka kaget, begitupun istrinya yang memandangi suaminya dengan heran. “Kenapa, Mas?”
__ADS_1
“Kenapa Mas? tadi bukannya, Mas berminat dan mau tandatangani surat perjanjian. Tapi ... kenapa kau berubah pikiran?” orang itu tampak kecewa.
“Saya tidak berminat lagi. Maaf saya harus menjemput pribadinya,” ucap Paijo yang tidak ingin melanjutkan dialog lagi. Dia berdiri dan menarik tangan istrinya agar meninggalkan tempat tersebut.
Kedua tamunya mematung dan merasa sangat kecewa. Karena tidak jadi mendapatkan uang dari Paijo. Semuanya gagal total. Lalu mereka pun beranjak dari duduknya lalu pergi tanpa izin karena memang orang rumahnya tidak ada.
“Mas, aku tidak mengerti kenapa kamu berubah pikiran? tadi kamu mau dan tiba-tiba kamu membatalkannya.” Sang istri merasa heran.
“Itu hak saya, dan saya tidak yakin dengan bisnis mereka, saya rasa mereka mau menipu kita dan kita harus lebih berhati-hati. Mereka mendatangi kita karena mereka tahu kita ada uang,'' ungkapnya Paijo sambil mengambil jaketnya untuk jalan.
“Tapi, Mas ... kamu tidak boleh suudzon sama orang, pamali.” Kata istrinya sambil mengendong bayinya yang kini menangis.
“Mas. Pergi dulu,” Paijo tidak menanggapi omongan sang istri Cuph, kecupan hangat yang Paijo berikan kepada istrinya tersebut.
Paijo berjalan sambil memegang kunci mobil, berjalan cepat mendekati mobilnya dan bergegas masuk, lalu menyalakan mesin tersebut. Sang istri yang mengikuti dari belakang, berdiri di teras melambaikan tangan ke arah Paijo.
Kemudian Paijo pun melambaikan tangan dan setelah itu meluncurkan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi.
“Mas, saya sebenarnya sedang mencari pekerjaan dan kira-kira mas tau ada lowongan kerja, di rumah gak apa, Mas. ”Ungkap si penumpang perempuan yang usinya di atas sang istri.
“Em … benarkah Mbak mau bekerja di rumah?” tanya Paijo sambil fokus menyetir.
“Iya, Mas. Saya mau! dari pada menganggur, saya punya anak, yang harus saya hidupi, pokoknya untuk melanjutkan hidup,” ucapnya lagi.
“Emang anak Mbak ada berapa?” selidik Paijo sambil melirik sekilas ke kaca spion yang ada di atas kepalanya.
“Dua, keduanya sekolah SMP. Bapaknya sudah meninggal.” Kenang wanita tersebut.
“Ooh … yatim, jadi Mbak ditinggal mati?” tanya Paijo lagi.
“Iya, begitu lah,” jawab wanita itu sambil mengembuskan nafasnya yang tampak berat.
“Kalau saja, Mbak mau. Mbak bekerja saja di rumah saya. Membantu istri yang masih balita. Saya bayar Mbak 2,5 sebulan mau? makan minum dan tinggal pun gratis.” Tawar Paijo sekiranya wanita itu mau bekerja di rumahnya,
__ADS_1
“Benar, Mas? serius? Saya serius lho ... ingin pekerjaan. Bukan main-main.” Wanita yang bernama Nani itu sangat antusias menanggapi tawaran dari Paijo.
“Serius lah. Mbak ... saya serius dan saya memang membutuhkan pekerja, bila ada yang mau. Kasihan istri saya.” Balas Paijo meyakinkan.
“Mau, Mas mau. Saya mau bekerja di Mas, aduh ... terima asih ya Mas? terima kasih banyak dan kapan saya bisa mulai bekerja?” tanya mbak Nani.
“Besok boleh … hari ini juga boleh,” kata Paijo sambil mengulas senyumnya kepada mbak Nani yang tampak sangat bahagia.
"Alhamdulillah ... akhirnya dapat pekerjaan juga? mbak Nani mendongak dan mengusap wajahnya bersyukur penuh.
Mobil berhenti di tempat tujuan mbak Nani dan Paijo menurunkan wanita tersebut.
Lalu kemudian, Paijo meluncurkan kembali mobilnya untuk mencari penumpang lain lagi.
“Akhirnya aku dapat orang juga untuk membantu istriku di rumah. Kasihan dia tidak ada yang bantu,” gumamnya Paijo sambil tersenyum.
Paijo jalan sampai malam dan jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, Paijo juga belum pulang ke rumah. Dia memilih beristirahat di dalam mobil sebelum memutuskan untuk pulang.
Mobil Paijo terparkir di tempat yang agak sepi. Jauh dari keramaian. Paijo teringat pada Tiara dan dia ingin bertemu dengannya menghabiskan waktu bersama.
“Tiara, Tiara-Tiara …” sebut Paijo memanggil nama Tiara tiga kali.
Bibir Paijo tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman yang mengembang, dia yakin kalau Tiara akan datang saat ini juga.
Hembusan angin menyelusup ke dalam kulit, terasa segar, padahal ke adaan dingin. Lalu Paijo memejamkan mata serta bersandar ke jok belakang, seolah menunggu kehadiran seseorang.
Nyess ... Paijo merasakan dingin di pipinya dan lantas membuka kedua netranya, pas mendapati wajah cantik yang memberikan senyuman manisnya kepada dia yang sedang menunggu kehadiran gadis itu.
“Tiara, kamu juga datang?” Paijo tengok kanan dan kiri, depan dan belakang. Dia sama sekali tidak mengetahui kedatangan gadis itu di mobilnya. Tiba-tiba saja ada saja di samping ....
.
...Bersambung!...
__ADS_1